Mayra, Tari, Lenay dan kedua anak mereka, sampai di rumah Arinda, rumah yang sederhana, namun banyak kebahagiaan didalamnya, itu terlihat bagaimana Arinda merawat dirinya, dan senyum suaminya yang tidak pernah berhenti. “Kalian udah datang, ayo masuk,” ajak Arinda. “Ya ampun, Arin, kamu tinggal disekitaran sini?” tanya Tari. “Iya, Tar. Kamu kabarnya gimana nih? Ini anak kamu?” tanya Arinda, mencubit hidung kecil Elena. “Iya. Dia anakku,” jawab Tari. “Papanya mana, Tar?” tanya Arinda. Membuat Tari sejenak menoleh menatap Mayra yang kini memberinya kode. “Suamiku nggak ikut, Arin. Suamiku ‘kan pekerjaannya adalah asisten suaminya Mayra, jadi dia nggak ikut karena sibuk.” “Itu sudah nasib kalian karena nikah terlalu jauh,” canda Arinda. “Ha ha. Kamu bisa aja,” kekeh Tari. “Rumahku se

