Malam itu, setelah menghabiskan waktu bertukar cerita, Zara merasa tidurnya begitu singkat. Setelah terbangun karena haus, nyatanya Tama tak membiarkan Zara melanjutkan tidurnya sampai subuh. Mereka kembali melakukan aktivitas panas. Malam itu Tama benar-benar melampiaskan hasratnya yang menggebu kepada Zara.
Dan entah kenapa, Zara mulai menerima setiap sentuhan dan pasrah terhadap semua yang dilakukan Tama kepadanya.
Pagi harinya, Zara disibukkan dengan membuat sarapan. Kali ini hanya menu simpel, karena dirinya kesiangan dan harus masuk kuliah pagi.
Dua buah sandwich dengan isian omelet, slice beef serta selada yang diolesi saus tomat dan mayonaise telah Zara buat. Di sampingnya ada segelas s**u dan secangkir kopi yang masih mengepul panas.
Keduanya melakukan sarapan bersama setelah berpakaian rapi.
Di meja sarapan, Tama menyantap sarapan dengan lahap. Hal yang jarang sekali ia lakukan mebgingat ia selalu melewatkan sarapannya. Namun kini, ada Zara yang selalu sedia menyiapkan sarapan serta keperluan yang lainnya.
"Weekend nanti kamu ada kegiatan?" tanya Tama setelah menghabiskan suapan terkahirnya. Tangannya mengambil lap tangan dan mengusap sisa saus di mulutnya.
Sementara Zara masih mengunyah roti isi yang masih banyak itu dengan lahap. Ia mengunyah dengan cepat karena tak mau Tama menunggunya lama.
"Aku ada jadwal ngajar les private." jawab Zara setelah berhenti mengunyah. Selain kerja paruh waktu, Zara juga mengambil kelas les untuk beberapa anak hasil dari rekomendasi atasannya di tempat kerja. Dengan les private tersebut ia bisa mengantungi uang yang lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya perawatan ibunya.
Tama mengernyit memandang Zara keberatan, "Kenapa masih bekerja? Uang yang kuberikan gak digunakan?"
"Sebenarnya aku dikontrak selama 3 bulan mengajar, dan masih ada 2x pertemuan lagi, kedepannya nanti dipastikan oleh orang tuanya mau lanjut les atau tidak."
"Berapa murid?"
Zara mengangkat ke lima jemarinya ke hadapan Tama, "Ada 5 om, itu pun Zara harus bisa nyesuain jadwal mereka semua." Beritahu Zara, mengingat beberapa anak ingin jadwal mereka diatur sendiri karena beberapa anak banyak mengikuti kegiatan les lainnya.
"Kalau begitu kamu berhenti buka les setelah pertemuan terakhir nanti." saran Tama yang mengandung makna perintah.
"Aku sudah menjamin hidup kamu. Jangan terlalu keras bekerja."
Mau tak mau Zara menganggukinya, meski dalam hati Zara masih menginginkan pekerjaan itu. Ia senang saat anak didiknya berhasil dalam mencapai target belajarnya dan memberitahukan hasilnya kepadanya dengan bangga.
"Sekarang saatnya giliran kamu hanya fokus kuliah dan belajar cara untuk memuaskanku." ujar Tama memberi petuah dengan tatapan lekat dengan seringai tipisnya.
"Aku suka kamu yang semalam."
****
Di kampus, Zara mengikuti kelas dengan baik. Ia memperhatikan dengan seksama dosen yang tengah menjelaskan materi di depan. Zara sendiri adalah mahasiswa manajemen yang cukup baik dalam mendapatkan nilai. Selain itu, sebelumnya ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan sebelum memutuskan untuk keluar dari organisasi tersebut.
Banyak orang yang mengenal Zara, baik karena namanya di dalam organisasi, maupun karena parasnya yang rupawan. Namun begitu, Zara sedikit tertutup hingga membuat sedikit orang yang mengenal pribadi Zara dengan baik.
Salah satunya Inara, mereka bertemu sejak masa ospek dulu. Inara adalah perempuan ekstrovert dengan penampilan tomboy. Ia berteman dengan siapapun dan menjadi mahasiswa aktif di beberapa organisasi.
Kepribadiannya yang supel dan penuh energik membuat orang-orang nyaman berteman dengannya. Salah satunya Zara yang sampai saat ini berteman dekat dengan Inara.
Namun sedekat apapun hubungan pertemanan, Zara tak mau hubungannya dengan Tama terendus orang lain, apalagi oleh orang terdekatnya. Biarlah hanya Zara yang menyimpan sendiri segala beban yang menyangkut erat benaknya.
Selesai mata kuliah hari ini selesai, Zara tak langsung pulang ke apartemennya. Ia akan pergi kost Inara untuk mengambil semua barang milik dirinya dan sang ibu untuk disimpan terlebih dahulu di apartemen Raffa. Zara tentu membutuhkan pakaian gantinya meskipun Tama sudah menawarkan beberapa potong pakaian baru. Namun Zara menolaknya secara percuma.
Setelah pulang dari kost-an Inara, Zara pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Namun sebelum itu, ia pergi ke sebuah bakery untuk membeli beberapa jenis roti yang disukai ibunya. Ia juga mengambil dua buah donat untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Zara memilih untuk memakan donatnya di tempat. Dengan berlatar pemandangan area outdoor yang asri, Zara dapat merasakan kenyamanan dalam memakan donatnya. Ia juga sempat mengambil sebuah foto dan tanpa sadar mengirimkannya kepada Tama.
Dan pesan tersebut dengan cepat dibalas dengan sebuah foto dimana Tama tengah selfie di kursi kebesarannya.
Hal itu memicu reaksi tawa Zara yang merasa lucu dengan ekspresi wajah Tama yang terlihat kaku dengan seulas senyuman.
Setelah selesai memandang, Zara menyimpan ponselnya tanpa bermaksud untuk membalas pesan tersebut. Ia tahu Tama sedang bekerja, dan ia tak ingin mengganggu konsentrasinya.
Tak lama kemudian, seseorang nampak menepuk pundak Zara yang tengah asik memakan donat. Zara begitu terkejut begitu melihat sosok yang menepuknya barusan.
"Kak Daniel?"
Dia adalah Daniel Santoso, kakak kelasnya sewaktu SMP. Dulu mereka begitu dekat dan akrab layaknya kakak beradik. Namun karena jarak memisahkan, perlahan hubungan mereka renggang dan berakhir hilang kabar disaat Zara mengalami keterpurukan terberat dalam hidupnya.
Meskipun begitu, Zara tidak benar-benar melupakan Daniel. Diam-diam ia masih memantau akun sosmed Daniel meskipun ia tak pernah mengirimnya pesan.
Bertahun-tahun Zara bersama ibunya hidup susah dan terlilit utang sepeninggal Chandra, sang ayah. Hal itu membuat Zara harus menanggung beban yang berat diusia remajanya.
"Aku pikir itu bukan kamu, Zara." gumam Daniel senang. Ia kembali menemukan sosok yang telah lama dicarinya.
Zara mengangguk senang diantara keterkejutannya, "Yeah, its me." Ia masih tak menyangka ditakdirkan bertemu lagi dengan orang yang paling berkesan di masa lalunya.
"Aku akan memilih roti dulu. Tunggu disini dan jangan kemana-mana!" ujar Daniel memaksa seraya meninggalkan Zara tanpa mengalihkan perhatian darinya.
Zara duduk menunggu seperti apa yang Daniel titah sebelumnya. Dua donat miliknya telah habis ia makan, lalu tak lama kemudian, Danie kembali menghampiri Zara dengan beberapa jenis roti dan dua cup kopi panas.
Zara menerimanya saat Daniel menyodorkan satu cup kopi ke arahnya. Daniel juga menawarkan roti miliknya namun ditolak Zara karena ia sudah kekenyangan.
"Gimana kabar kamu?" tanya Daniel sembari memakan rotinya.
"Cukup baik, kakak sendiri?" Zara balik bertanya.
"Sangat-sangat membosankan untuk seorang fresh graduated yang tengah kesulitan mendapatkan pekerjaan." jawab Daniel dengan keluhan yang jelas.
"Sangat mustahil!" gumam Zara tak percaya. Zara tahu kalau Daniel adalah lulusan universitas ternama di London. Sangat muatahil sarjana sepertinya kesulitan mencari pekerjaan.
Daniel hanya mengedikkan bahunya dan kembali memakan rotinya. "Yah... Mau bagaimana lagi."
"Jangan membual padaku, kak." sergah Zara tak ingin lelaki itu berbohong.
"Kalau begitu jangan percaya." ujar Daniel tak mau mengalah.
Keduanya sempat terdiam. Menikmati suasana toko yang sedikit ramai. Aroma dari panggangan tercium harum memenuhi ruangan membuat Zara semakin betah diam disana.
"Bagaimana, kuliahmu?" tanya Daniel kembali memecah kesunyian diantara mereka..
"Sejauh ini lancar."
"Kamu sekarang sudah gak tinggal di rumah yang dulu lagi?" tanya Daniel lagi seraya menyeruput kopi panasnya.
Zara menggelengkan kepalanya. Sejak sang ayah meninggal dan meninggalkan banyak utang, ia dan ibunya pergi berpindah-pindah tempat setelah menjual rumahnya. Tempat dimana semua kenangan manis dari keluarga kecil yang sederhana tercipta.
"Lalu, sekarang tinggal dimana?"
"Nomaden."
Daniel tertawa mendengar jawaban konyol itu. Namun Zara hanya menatapnya datar pertanda dirinya tidak sedang berkelakar.
"Serius..." gumam Daniel dengan tanda tanya diujung nadanya. Maniknya menatap lekat pada Zara yang menghembuskan nafas jengah.
"Dua rius."
"Butuh bantuanku? Aku bisa mencarikanmu hunian yang nyaman." ujar Daniel berbaik hati.
"Boleh, karena menyesuaikan budget, kayaknya aku butuh kontrakan aja."
Zara butuh tempat untuk ibunya tinggal setelah keluar dari rumah sakit nanti. Tak mungkin ia bawa ibunya tinggal di apartemen Tama dimana lelaki itu tinggal.
Bisa saja ia menyewa rumah, mengingat Tama memberinya uang yang begitu banyak semalam. Namun Zara merasa terlalu riskan dan bisa membuat ibunya menaruh curiga.
Daniel mengangguk mengerti, "Nanti aku tanya ke temanku." Ia mempunyai teman yang memiliki bisnis kontrakan dan ia bisa bernegosiasi dengannya.
"Nomormu masih sama kan?" tanya Daniel memastikan karena sudah begitu lama mereka tidak bertukar pesan.
Zara hanya mengangguk meng-iya kan.
"Aku sangat senang kita bisa kembali ketemu." Daniel tak henti memandang Zara yang sedikit bicara. Sedari tadi hanya dirinya yang kebanyakan bertanya mengenai dirinya. Sesuatu yang amat berbeda jika mengingat kepribadian Zara yang dulu. Dimana Zara belia selalu ceria dan banyak berbicara.
Sudut bibir Zara tersungging tipis dan berkata, "Yah... Kebetulan yang menyenangkan."
"Kamu terlihat sangat cantik, dan tentunya lebih dewasa." ujar Daniel jujur. Ia masih saja mengagumi kecantikan Zara yang bertambah beberapa kali lipat setelah seranjak dewasa.
"Kakak juga." ujar Zara sekenanya.
"Aku cantik?"
"Tidak, maksudku, kakak masih tampan seperti dulu, dan sudah terlihat seperti bapak-bapak."
"Jangan terlalu jujur, Zara." keluh Daniel yang saat ini merasa insecure dengan penampilannya. Rambutnya sedikit panjang dan acak-acakan, kemejanya kusut serta bulu-bulu halus yang memenuhi area sekitar dagu dan beberapa titik jerawat yang memerah.
Namun Zara masih melihat ketampanan Daniel seperti saat masih remaja dulu.
Zara memutar bola matanya malas, Daniel meremehkan ungkapan pikirannya akan penampilan lelaki itu sekarag. "Ok, kau terlihat lebih muda dibandingkan usiamu sekarang." ucap Zara meralat.
"Kau berbohong?" tanya Daniel dengan tatapan menuduh.
"Kau kan tidak mau terima kejujuranku!" sahut Zara dengan sedikit kekehan melihat wajah Daniel yang terlihat pasrah akan penilaiannya saat ini.
"Ah ya, terserah."
Mereka kembali terdiam, Zara menikmati minuman berkafein itu dengan khidmat. Mencium aroma kopi yang menguar kuat di indera penciumannya.
Laly, Daniel kembali berbicara, "Zara, apa kau masih mengingat janjiku?" Ia menatap lekat ke arah Zara yang terdiam membisu.
"Kau tahu, aku sudah lulus sekarang, dan sedikit punya power untuk mengungkap kasus itu. Meskipun kecil, kau tahu, aku bisa mengandalkan ayahku. Kalau kau mau, aku bisa membantumu saat ini."
Zara kemudian menoleh ke arah Daniel, ia menatap mata yang menatapnya dengan serius. "Aku mau kak, tapi... Aku masih ragu."
Daniel tertawa, menggenggam tangan Zara di atas meja seraya menyalurkan tekad dan kekuatan yang ada di dalam dirinya. "Jangan pikirkan soal uang. Aku hanya ingin mengabulkan janjiku padamu."
Zara terdiam menatap tangan kanannya yang dilingkupi lengan Daniel, lalu berkata, "Terima kasih kak. Akan kupikirkan lagi." ucapnya seraya melepaskan tangannya dari genggaman Daniel.