5.

1100 Kata
Butuh waktu cukup lama untuk sampai ke rumah sakit tempat Nasya bekerja, karena jarak kantor dengan rumah sakit tempat Nasya bekerja memang cukup jauh. Akhirnya Nizar sampai di depan rumah sakit yang terlihat sangat besar dan megah. Nasya memang bekerja sebagai dokter spesialis bedah di rumah sakit yang bisa dibilang ternama ini. Dari balik kemudinya, Nizar bisa melihat gadis cantik itu dengan jelas. Dan sekarang jantungnya seperti tidak dapat kendalikan lagi. Detak jantungnya sudah mulai tidak beraturan, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Setelah mencoba menetralkan detak jantungnya walaupun jantungnya masih belum sepenuhnya berdetak dengan normal, Nizar segera membuka pintu mobilnya untuk segera menghampiri Nasya. "loh Mas Nizar? " ucap Nasya langsung berdiri dari tempat duduknya saat melihat kedatangan Nizar. "emm iya, saya disuruh Althaf buat jemput kamu. " jawab Nizar setia menundukkan kepalanya. "loh kok Mas Nizar? Emang Mas Althaf kemana Mas? " tanya Nasya dengan nada bicara normal seperti tidak pernah terjadi masalah apapun diantara mereka. Nasya memang orang yang mudah melupakan masalah yang sudah berlalu, itu sebabnya sekarang ini ia bisa bersikap biasa saja dengan Nizar, orang yang pernah membuatnya menangis beberapa waktu lalu. "Althaf harus jemput Zahra. " jawab Nizar singkat. "oh gitu? Emang gak pa-pa Mas kalo Nasya ikut Mas Nizar? " tanya Nasya. Namun Nizar hanya menganggukkan kepalanya sekali saja untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya. Sungguh saat ini rasanya ia ingin kembali ke waktu dimana Althaf menyuruhnya menjemput gadis yang mulai mengisi hatinya ini dan menolak permintaan sahabatnya itu. Jantungnya semakin tidak dapat dikendalikan lagi ketika mendengar suara Nasya. Setelah menjawab pertanyaan Nasya dengan sekali anggukan saja, Nizar kemudian mendahului Nasya berjalan ke arah mobil dan Nasya pun mulai mengikuti Nizar dari belakang. Sebenarnya Nasya agak canggung dengan situasi seperti ini. Biasanya ia bisa lebih banyak bicara walaupun dengan orang yang baru ia kenal. Namun bila lawan bicaranya macam ini, Nasya pikir ia tidak bisa terlalu banyak berbicara saat ini. Di dalam mobil pun mereka tidak ada yang membuka pembicaraan satu sama lain. Semuanya sama-sama diam. "Mas Nizar ikut acaranya Abi, Mas? " ucap Nasya akhirnya membuka pembicaraan. Sungguh ia tidak sanggup apabila harus diam saja sedangkan terlihat jelas bahwa di sampingnya ada orang yang bisa menjadi lawan bicara. "engga. " jawab Nizar singkat. "terus? " tanya Nasya lagi. "saya cuma antar kamu aja. " jawab Nizar. Dan tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Nasya bingung harus berbicara apa dengan lelaki di sampingnya ini. Akhirnya ia memutuskan untuk diam saja sampai akhirnya mereka sampai di halaman rumah orangtua Althaf. "Baba... " ucap Nasya terdengar senang sekali setelah membuka pintu mobil dan melihat seorang lelaki paruh baya di depan pintu masuk sambil tersenyum. "Baba.. " ucap Nasya lagi sekarang sudah berada dalam pelukan ayahnya. Ya, lelaki itu adalah Thabi, ayahnya Nasya. Beberapa hari yang lalu Thabi memang pergi ke luar kota. Dan otomatis anak dan ayah ini tidak bertemu untuk beberapa hari. "Baba kapan pulang? Baba kok pulang telat sih? Baba bohongin Nasya ya? " tanya Nasya setelah melerai pelukannya. "maaf ya sayang, sebenernya Baba kemaren udah mau pulang. Tapi karena cuacanya gak baik, jadi Baba gak jadi pulang deh. Maaf ya? " ucap Thabi kemudian mencium kening Nasya. Nasya pun kembali memeluk tubuh ayahnya. "eh ada Nizar. Kamu apa kabar Zar? " tanya Thabi pada Nizar. Thabi memang sudah mengenal Nizar karena Nizar sudah bekerja di kantor cukup lama bahkan jauh sebelum Althaf bekerja di perusahaan. Sebelumnya Nizar tidak tahu kalau perusahaan tempat ia bekerja saat itu adalah kantor cabang perusahaan dari keluarga Althaf. Dan setiap harinya Nizar hanya mengenal satu atasannya saja yaitu Thabi. Dan berhubung wajah Thabi dan Thaqi tidak terlalu mirip, Nizar tidak bisa mengenali bahwa ternyata Thabi adalah paman dari sahabatnya sendiri, Althaf. "emm saya... saya... baik Pak. " jawab Nizar sedikit gugup. Ia tidak menyangka bahwa Nasya adalah putri dari mantan atasannya dulu sebelum atasannya diganti dengan Althaf dan ia naik jabatan. Dia pikir Nasya adalah putri dari adik perempuan Thaqi. "alaahh kamu kok jadi gugup gitu Zar? Kayak sama siapa aja deh. " ucap Thabi menepuk pelan bahu Nizar. Thabi memang selalu berbicara santai pada banyak orang. Apalagi dengan Nizar, orang yang sudah lama ia kenal dan ditambah lagi saat Thabi tahu kalau Nizar ternyata sahabat dari keponakannya. "loh Baba kok kenal sama Mas Nizar? " tanya Nasya menyela. "iyalah kenal. Dulu kan Baba yang pegang perusahaan cabang yang sekarang dikelola sama Althaf. Nah Nizar nih udah lama kerja di sana, sebelum Althaf mulai ngelola perusahaan. Nizar tuh karyawan andalan Baba dulu. " jawab Thabi menjelaskan pada Nasya. Sedangkan Nasya hanya menganggukkan kepalanya saja. "eh yaudah Zar, masuk yuk. Ini kok bisa Nasya bareng sama kamu? Ayo cerita di dalem. " ajak Thabi. "emm maaf Pak, tapi saya harus pulang. Ibu saya hari ini sampai ke Jakarta. Jadi mungkin Ibu saya sudah menunggu di rumah sekarang. " jawab Nizar mencoba menolak ajakan mantan atasannya sehalus mungkin. Nasya yang mendengar jawaban dari Nizar itu sedikit kesal karena Nizar bisa berbicara sepanjang itu kepada ayahnya tapi tidak dengannya. "oh gitu? Yaudah kamu cepet pulang deh, kasihan nanti kalo ibu kamu nunggu lama. Makasih ya udah nganterin Nasya. " ucap Thabi akhirnya. Ia tidak bisa memaksa Nizar karena alasannya adalah ibu. "iya Pak, kalau begitu saya permisi. Salam buat Om Thaqi sama Tante Resya. Assalamualaikum. " ucap Nizar kemudian dijawab oleh Thabi dan Nasya. Setelah itu Thabi dan Nasya masuk ke dalam rumah. ***** "Assalamualaikum.. " salam Nizar saat masuk ke dalam rumah. "Wa'alaikumsalam, eehh Nizar udah pulang nak? " jawab Ratih, Ibunya Nizar. "Ibu sampe jam berapa Bu? Jadi dianter sama Mang Ujang kan Bu?" ucap Nizar sambil mencium tangan Ibunya. "jadi dong Zar, Bapakmu kan udah gak boleh kecapekan. " "Bapak mana Bu? " "udah tidur Zar, kamu kelamaan sih. " Setelah percakapan itu terjadi, Nizar menggiring ibunya untuk masuk ke dalam rumah. Dan melanjutkan pembicaraan di dalam rumah. Pagi harinya, mereka sarapan bersama. Dan saat itu pula, Nizar mengungkapkan niatnya untuk meminang seorang gadis yang tak lain adalah adik sepupu Althaf yaitu Nasya. "bener kamu mau nikah Zar? Alhamdulillah ya Allah Pak, akhirnya anak kita mau nikah juga. " ucap Ratih. "engga mau nikah Bu, dilamar aja belum. Udah nikah-nikah aja. " sahut Ayahnya Nizar, Ahmad. "iya Bu, ini juga baru mau nanya ke Althaf dulu Bu. " ucap Nizar. "eehh tapi kalo firasat Ibu nih ya Zar, sih neng yang kamu ceritain itu jodoh kamu. " Percakapan itu terus berlanjut dimana Ibunya Nizar mendominasi dan tetap bersikukuh bahwa gadis yang diceritakan oleh putranya itu memang gadis yang akan menjadi menantunya. Nizar? Dia hanya bisa menghembuskan nafas panjang menanggapi argumen Ibunya yang tidak bisa dipatahkan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN