Check-In ke Neraka

1305 Kata
Mobil Rolls-Royce Phantom VIII obsidian black itu melaju tanpa suara, membelah jalanan kota seolah-olah dunia di luar sana hanya latar belakang semu. Sesuai dengan pesan email, pihak hotel benar-benar menjemputku tepat pukul satu. Aku duduk di kabin belakang, jemariku meraba jok kulit yang terasa terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Hanya butuh dua puluh menit hingga mobil itu berhenti di area drop-off Hotel Virelux. Begitu aku melangkah keluar, concierge dan satu bellman sigap menyambutku dengan seyuman lebar diwajah mereka, dan membantu membawa barangku. “Selamat datang, Nona Hayes,” sapanya. Aku membalas sapaannya, menyeret koper ku masuk melewati pintu utama. Begitu ambang pintu terlewati, udara di sekitarku mendadak berubah. Dingin, namun tenang—seperti masuk ke dalam lemari es raksasa— sejuk. Langkahku melambat. Kekaguman terpampang jelas di wajahku. Dihadapanku, lobi hotel terbentang luas— lebih mirip aula istana daripada tempat menginap. Langit-langitnya tinggi, menjulang dengan lengkungan halus berwarna gading pucat, dihiasi ukuran simetris yang begitu rapi… sampai terasa tidak manusiawi. Cahaya lampu gantung besar yang terletak di tengah ruangan, tampak jatuh seperti hujan emas. Bukan terang menyilaukan— melainkan hangat redup dan lembut… seperti ratusan cahaya lilin. Namun anehnya, tidak ada satupun pantulan bayangan dari lilin, baik di lantai maupun pilar hotel. Semua sudut hotel tetap terlihat jelas. Seolah tidak ada tempat untuk bersembunyi. Dindingnya dilapisi panel marmer putih dengan guratan abu-abu halus, membentuk pola alami yang jika dilihat sekilas tampak seperti wajah-wajah samar yang yang saling bertumpuk. Aku mengerjap, mencoba menepis bayangan itu. Diantara panel itu, terukir garis-garis emas tipis yang membentuk simbol-simbol aneh. Tidak mencolok, hampir seperti dekorasi biasa. Lantainya mengkilap seperti cermin. Pantulannya begitu jelas sampai aku bisa melihat diriku sendiri— sedikit pucat dari biasanya. Di Sepanjang sisi ruangan, berdiri patung kaca setinggi d**a orang dewasa. Semuanya berbentuk manusia. Ekspresi patung nampak tenang. Beberapa tersenyum tipis, ada yang menunduk dan beberapa juga terlihat sedang menatap lurus ke depan— ke arahku. Hmm? Pikirku. Ku palingkan wajahku tidak ingin bertatapan dengan patung itu. Di Meja resepsionis, para staff berdiri rapi. Seragam mereka sederhana, elegan dengan warna gelap yang kontras dengan terang ruangan. Senyum mereka ramah. “Selamat datang Nona Hayes. Kami sudah menunggu kedatangan anda.” sapa petugas itu. Aku tersenyum membalas sapaan mereka. Setelah mendaftar di resepsionis yang serba rapi dan misterius, aku diarahkan untuk menunggu Resident Manager di lobi tengah. Aku menghempaskan diri di sofa empuk, mencoba menyibukkan diri dengan pamflet hotel. Persis dengan pamflet yang ku temui 3 hari lalu. Merasa diperhatikan membuatku mendongak. Di seberang sofa, seorang pria duduk dengan pose bersedekap yang santai namun mengintimidasi. Dari perawakannya, ia tampak berada di pertengahan usia dua puluhan— sekitar dua puluh tujuh tahun. Kulitnya putih dengan semburat tan yang halus, seolah terbisa terpapar matahari. Wajahnya tegas, garis rahangnya tajam, menyisakan pesona yang sulit diabaikan. Rambut hitamnya sedikit berantakan, memberikan kesan liar di tengah kemewahan yang kaku ini. Pakaiannya sangat kontras dengan tamu lain. Tak ada jas mahal. Hanya kaos hitam polos yang membungkus otot-otot tubuhnya dengan pas, celana kargo gaya militer, dan sepatu boots kulit yang terlihat kokoh. Dia membawa aura kasar, seperti serigala yang tersesat di pesta dansa. Dia memperkenalkannya dirinya sebagai Alexei Volkov. Kami menghabiskan waktu beberapa menit untuk berbincang. Meskipun aku tidak ingat detail kata-katanya, aku bisa merasakan bagaimana suaranya yang berat dan aksen Rusia-nya yang tipis mulai mengikis kegugupanku. Kami bertukar tawa kecil—sebuah interaksi yang sedikit mencairkan kegugupanku di tengah hotel mewah ini. Ada binar menggoda dalam mata coklatnya saat ia menatapku, membuatku sesekali salah tingkah dan harus membuang muka. Obrolan kami terputus saat Madame Eirein, sang Resident Manager, datang menghampiri. Wanita itu sangat elegan, dengan senyum kaku menghiasi wajahnya, lebih terasa seperti topeng porselen. Ia menyapa Alexei dengan rasa hormat, seolah Alexei adalah tamu yang "istimewa" atau karena sering menginap. Saat Madame Eirein membawaku menuju lift, aku sempat menoleh ke belakang. Alexei masih di sana, duduk dengan satu kaki bertumpu di lutut. Ia mengangkat tangannya, memberikan lambaian pelan dengan senyum miring yang tertuju langsung padaku. Aku membalasnya dengan senyum samar sebelum pintu lift tertutup. Sepanjang perjalanan menuju lantai sembilan, Madame Eirein menjelaskan sejarah hotel, tentang pemiliknya yang mana cukup ambigu menurutku. Ting. Lantai sembilan. Kamar 904. Madame Eirein menyerahkan kartu akses berwarna emas padaku. "Sekali lagi, selamat datang, Nona Hayes. Kami berharap setiap pelayanan yang kami berikan akan menjadi pengalaman yang tak mudah dilupakan." Ia membungkuk kecil lalu pergi, meninggalkan aku sendirian, yang rasanya tidak terlalu sepi untuk hotel semewah ini. Suasana koridor yang sunyi membuatku kembali merinding. Aku menempelkan kartu akses itu, dan bunyi klik yang dalam menggema di lorong sepi. *** Pintu kamar menutup dengan dentum berat, seolah mencegah suara di luar masuk ke dalam. Hal pertama yang menyambutku adalah lampu otomatis yang menyala perlahan. Cahaya nya hangat, kekuningan seperti cahaya senja. Kamar ini terlalu luas untuk satu orang. Tempat tidur king size berdiri angkuh di tengah ruangan, dibalut sprei putih yang saking kencangnya tidak membiarkan satu kerutan pun muncul. Bantal-bantalnya tersusun dengan rapi, seolah-olah digunakan penggaris untuk menentukan posisinya. Di belakang tempat tidur, dinding dilapisi panel kayu gelap dengan ukiran yang rumit. Motifnya melengkung dan saling mengunci. Awalnya kupikir itu hanya ornamen klasik, namun saat mataku menyipit, aku menyadari pola itu menyerupai rangkaian cincin yang saling mengikat tanpa ujung. Sebuah simbol yang terasa… membelenggu? Seperti borgol. Aku mengalihkan pandangan, ke sisi lain kamar— mencoba fokus pada hal lain. Di sisi kanan, tirai beludru merah tua yang berat menutupi jendela setinggi langit-langit. Aku menyibaknya sedikit, berharap melihat jalanan kota Manhattan yang sibuk. Namun, yang menyambutku hanyalah taman hotel. Air mancur di tengahnya memancarkan cahaya redup, dikelilingi jalan setapak yang kosong tanpa satupun manusia. Di hotel sebesar ini, kesunyian ini terasa tidak wajar. Di sudut ruangan, sebuah kursi tunggal berdiri menghadap jendela, seolah-olah dipersiapkan bagi seseorang untuk duduk untuk sekedar menikmati taman. Disampingnya, terdapat meja rias dengan cermin bundar yang permukaannya begitu jernih. Aku menatap pantulanku. Wajahku terlihat sedikit lebih pucat, mataku tampak lebih cekung. Ada kilasan ingatan tentang mimpi buruk 2 hari lalu yang membuatku refleks meraba leher. Aku menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir sisa kengerian itu. Di atas meja, sekeping kartu kecil menarik perhatianku. Ditulis dengan tangan, rapi dan elegan: “Semoga Anda merasa seperti di rumah.” Tanpa nama pengirim. Hanya logo emas Virelux yang berkilau di bawah lampu. Kalimat itu seharusnya terasa hangat, tapi entah mengapa, kata "di rumah" terdengar seperti ejekan halus bagiku. Rumahku adalah apartemen sempit yang berantakan, tidak seperti kamar yang luas ini. Aku menarik nafas panjang, mencoba merasionalkan segalanya. Aku mulai memindahkan pakaian dari koper ke lemari besar di samping kamar mandi. Setelah semuanya rapi, aku menghempaskan tubuh ke atas kasur yang terasa terlalu empuk—seolah-olah kasur itu ingin menelanku bulat-bulat. Aku sesekali memeriksa ponselku, jika ada info terbaru mengenai tugasku. Karena posisiku dipindahkan, untuk sementara waktu perusahaan belum memberiku jobdesc terbaru. Itulah sebabnya aku bisa mendapatkan izin cuti. Saat sedang bersantai, kudengar suara bel pintu kamarku berbunyi. Ting…tong… Hanya sekali. Tidak ada bunyi lanjutan. Merasa tidak ada tanda akan berbunyi lagi, pelan-pelan aku mendekat dan mengintip dari lubang kecil di pintu— peephole. Kosong. Tidak ada siapapun di luar. Keningku berkerut. Aku membuka pintu sedikit, lalu melangkah keluar. Lorong hotel sunyi tanpa tanda-tanda kehadiran orang lain. Tidak ada langkah kaki maupun suara. Hanya deretan pintu yang tertutup rapi. Merasa mungkin hanya salah dengar, aku menghela napas dan berniat kembali masuk. Namun saat hendak menutup pintu— pandangan ku tertarik ke bawah. Ada secarik kertas tepat di bawah depan pintu. Aku menunduk mengambilnya. Peraturan Hotel. Alis ku terangkat sebelah. Aneh. Aku kembali masuk ke dalam kamar, menutup pintu, lalu mulai membaca. Terdapat sepuluh poin. Tiga poin pertama tampak normal. Tentang jam check in-out, fasilitas, dan tanda pengenal tamu. Tapi semakin ke bawah— isinya mulai terasa tidak masuk akal bagiku. Tidak ada nama pengirim maupun logo hotel. Merasa janggal, aku melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam kantung cardigan yang kukenakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN