Hubungan yang Rumit

1383 Kata
"Yang barusan siapa, Dok? Cantik," tanya Dewi yang tengah menikmati sepiring kecil sushi di meja makan, sementara Dokter Fredy asyik dengan laptopnya di sofa ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang makan. Lelaki itu menoleh sekilas. "Oh, itu ... itu ... anaknya temenku," jawab Dokter Fredy gelagapan. "Dia sementara tinggal di sini, sampai nemuin tempat kost yang cocok," lanjutnya lagi. Dewi mengangguk, tangannya menyuap sepotong sushi dengan sumpit kayu. "Saya punya rekomendasi tempat kost yang bagus lho, Dok. Harganya emang agak mahal dikit, sih, tapi ... fasilitasnya oke banget. Kayanya cocok deh buat dia." Ucapan Dewi menghentikan jemari Dokter Fredy yang sedang fokus mengetik. "Ah, gak usah, Dew. Biar Rena di sini aja dulu. Emh, lagian orang tuanya udah nitipin dia sama saya. Biar Rena aja nanti yang mutusin mau kost di mana." Dokter Fredy terlihat gelagapan. Suara bell dari ruang klinik menyelamatkan kegugupan Dokter Fredy. Dewi segera beranjak untuk membuka pintu. *** Rena selesai privat menjelang Magrib. Dia segera turun dari lantai dua. Saat keluar gedung, ternyata hujan mulai turun. Sayang, Rena lupa membawa payung. "Ah, sial. Aku harus nunggu hujan berenti," gumamnya, lalu duduk di kursi yang ada di depan gedung. Rena berniat menghubungi suaminya, tetapi ragu. Dia yakin jika Dokter Fredy masih sibuk dengan pasien membuatnya mengurungkan niat minta dijemput. Sambil menunggu hujan reda, Rena berselancar di dunia maya. Dia membuka f*******: yang baru beberapa hari dibuatnya. Dia coba mencari nama suaminya, Frederick Abizard Ankarian. Dia mengingat nama itu saat akad nikah. Ternyata Fredy hanya sebuah nama panggilan. Ada beberapa akun yang muncul. Termasuk sebuah akun dengan foto suaminya muncul di sana. Lelaki tampan berpostur tinggi besar, berhidung mancung itu begitu mudah dikenali. Rena lalu mengklik akun itu. Beberapa postingan dari temannya menandai Dokter Fredy saat berlibur ke luar negri. Rena mengamantinya dengan saksama. Dia ingin mengetahui kehidupan suaminya yang baru dikenalnya tanpa sengaja. Dia asyik memandangi foto-foto suaminya di tengah hamparan salju, ketika sebuah suara menyadarkannya. "Rena, belum pulang?" Rena mendongak ke arah suara. Seorang lelaki tengah melihat ke arahnya. "Eh, Pak Arya. Iya, Pak. Saya lagi nunggu hujan reda, tadi lupa gak bawa payung," jawab Rena disertai senyuman manis. "Hujannya udah mulai berenti tuh, mau pulang bareng?" tanya lelaki yang dipanggil Arya. Dilihat dari jaket yang dikenakan, sepertinya dia memang sudah bersiap pulang. "Tapi aku naik motor, sih. Kamu pulang ke mana?" tanya lelaki itu lagi. "Emh, gak usah deh Pak, nanti ngerepotin," tolak Rena halus. "Ya, gak papa sih, kali aja kita sejalur." "Saya ke Jalan Venus, Pak," jawab Rena. "Oh, saya lewat ke daerah sana kok kalau kamu mau bareng," tawar Arya lagi. "Duh, saya gak enak, Pak. Saya naik angkot aja deh." "Nggak kok, sambil lewat aja 'kan? Saya beneran lewat sana. Ayo keburu hujan lagi nanti," ajak Arya. Rena akhirnya menerima tawaran itu. Bentuk jok yang tinggi ke belakang, membuat posisi Rena hampir menempel di punggung Arya. Walaupun dia sudah berusaha agak menjauh, tetapi tetap kembali ke posisi semula, hampir menempel. "Jalan Venus nomor berapa, Ren?" tanya Arya di tengah perjalanan. "Nomor tiga, Pak," jawab Rena. "Lho, nomor tiga 'kan kalau gak salah itu rumah seorang dokter?" "Emh, iya Pak. Saya tinggal di sana." "Oh, kamu saudaranya?" telisik Arya. Rena terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang pas. "Eh, iya, Pak." Akhirnya justru jawaban itu yang keluar dari mulutnya. Arya terlihat manggut-manggut. "Kamu gak usah manggil bapak kalau sedang di luar gini, gak apa-apa kok. Saya masih muda, belum bapak-bapak," ucap Arya terkekeh. "Ah, nanti gak sopan, Pak," sergah Rena. "Enggak kok, lagian usia kita kayanya gak beda jauh. Saya masih kuliah semester akhir. Saya sambil kuliah sambil ngajar juga," lanjut Arya. "Emh, gitu ya, Pak. Saya malah jadi bingung mau manggil apa." "Lho malah manggil bapak lagi. Panggil abang aja boleh. Saya dari Palembang, adik saya biasanya panggil saya abang." Arya menjelaskan. 'Komplit amat perkenalannya' pikir Rena. Dia teringat dengan suaminya yang juga senang dipanggil abang. "Gak kerasa udah nyampe lagi, nih. Sampe ketemu besok ya," ujar Arya seraya menghentikan motornya di depan rumah. Rena turun lalu melepas helm dari kepalanya. "Terima kasih ya, Pak," ucapnya. Tangannya menyerahkan helm pada pemiliknya. Arya tersenyum manis. "Masih manggil bapak aja," kekehnya. Tangannya menerima helm dari gadis itu. Rena hanya menjawab dengan senyuman. "Sampe besok, Rena," pamit Arya lalu segera meluncur. Rena pun melambaikan tangannya. Memandang punggung lelaki itu sampai hilang di persimpangan jalan. Rena memasuki rumah yang nampak lengang. Rupanya sudah tidak ada pasien yang berkunjung. Namun, motor matic milik Dewi masih terparkir di depan garasi. Rena tak hiraukan, dia masuk lewat pintu depan. Saat memasuki ruang tamu, terlihat jelas oleh Rena, Dewi dan suaminya sedang berada di meja makan berdua saja. Walaupun posisi mereka berjauhan, tetapi tetap saja terkesan sedang makan malam romantis. Rena melewati ruang tengah yang berdampingan dengan ruang makan. "Pulang sama siapa, Ren?" tanya Dokter Fredy. Rena menoleh sekilas. "Dianter sama Bang Arya," jawabnya sambil berlalu. Sengaja dia menekankan nama Bang Arya dengan keras. "Makan dulu, sini! Mumpung ada Dewi jug--" "Gak laper!" potong Rena tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar. Dewi terlihat heran melihat sikap Rena. Dia buru-buru menyelesaikan makan malamnya karena takut keburu hujan lagi. "Saya pamit dulu ya, Dok. Terima kasih untuk makan malamnya," ujar Dewi dan meraih piringnya yang telah kosong lalu membawanya ke tempat cuci piring. Dia segera mencucinya lalu berpamitan sekali lagi. Dokter Fredy hanya mengangguk. Setelah kepergian Dewi, Dokter Fredy bangkit dan beranjak menuju kamar Rena. Mengetuk pintunya perlahan. "Ren ... Rena, makan dulu," pinta Dokter Fredy halus. Tak ada jawaban. "Rena, tolong buka dulu pintunya." Suara lelaki itu agak meninggi. Walau malas akhirnya Rena membuka pintu itu setengah. "Ada apa? Aku cape, mau istirahat," ucap Rena ketus. "Kamu udah makan belum? Tadi kamu kehujanan? Ayo makan dulu, nanti kamu sakit," pinta Dokter Fredy. "Ngapain repot ngurusin aku sih? Sana urusin aja si Dewi itu!" Rena masih ketus. Dokter Fredy tersenyum tipis. "Kamu cemburu sama Dewi?" ucapnya seraya tertawa kecil. Mata Rena membulat, mulutnya maju tiga senti. "Apaan, sih? Pede banget!" Mata Rena berputar, jengah. "Ya udah kalau gak mau ngaku. Ayo kamu makan dulu. Aku gak mau kamu sampe sakit," bujuknya lagi seraya tangannya mendorong daun pintu agar terbuka lebih lebar. Rena akhirnya menurut, dan lagi perutnya memang sudah keroncongan dari tadi. Namun, karena melihat pemandangan tadi, nafsu makannya jadi hilang. Dokter Fredy menuntun Rena ke ruang makan. Di sana sudah tersaji udang asam manis, sup ikan, juga capcay. Membuat perut Rena makin keroncongan. Diambilnya sepiring nasi merah dari magic com lalu dia ambil beberapa udang juga capcay. Rena makan dengan lahap. Dokter Fredy memperhatikannya hampir tanpa berkedip. "Siapa Bang Arya?" tanya Dokter Fredy di saat suapan Rena yang terakhir. Rena mendongak sejenak lalu kembali menunduk dan mengunyah. "Guru di tempat kursus," jawab Rena singkat. "Kamu panggil dia Abang?" telisik lelaki berkemeja biru itu. Rena kembali mendongak. "Emh, dia minta dipanggil begitu, ya aku turuti saja," jawab Rena. Dokter Fredy menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. "Kenapa memangnya?" lanjut Rena. Dokter Fredy menggeleng. "Kamu gak usah mikirin aku, pikirin si Dewi aja, itu," ucap Rena ketus. "Lho, kok jadi ke Dewi sih? Dia itu pegawaiku, bukan siapa-siapa." "Bukan siapa-siapa kok sampe makan malam berdua. Romantis, lagi!" ketus Rena. "Makan malam romantis apanya? Tadi tuh aku pesen banyak makanan karena inget sekarang ada kamu di sini. Terus, daripada nanti gak abis aku tawarin dia makan juga tadi." Dokter Fredy berusaha menjelaskan. Rena hanya diam tak menjawab. Tangannya bersedekap di d**a. "Kamu cemburu?" tanya Dokter Fredy dengan sebuah senyuman. Rena menoleh sinis. "Apaan sih! Aku bilang, nggak!" ucap Rena ketus lalu bangkit dari tempat duduknya. Wajah Dokter Fredy terlihat menahan tawa. Rena beranjak membawa piring kotornya ke tempat cuci piring. Perasaannya sungguh tak keruan. Beres mencuci piring, dia segera kembali ke kamar. Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Rena segera membukanya. Dua buah nomor pin meminta untuk diterima. Dari namanya dia bisa lihat jika itu dari seseorang bernama Arya , Rena segera menerimanya. Dia ingat, jika tadi dia memberikan nomor pinnya pada pemuda itu. Lalu sebuah nomor pin yang lain bernama Dewi dengan huruf yang dimodifikasi sedemikian rupa. Beberapa saat Rena berpikir untuk menolaknya, tapi akhirnya dia terima juga. 'Aneh Dewi bisa sampai tau nomor pinku?' pikir Rena. Tak berapa lama sebuah pesan masuk dari akun yang bernama Dewi. [Hai Rena. Ini aku Dewi pegawainya Dokter Fredy. Lusa Dokter Fredy ulang tahun. Aku mau minta bantuanmu boleh?] Mata Rena melebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN