Ulang Tahun

2154 Kata
Hari ini Dewi begitu bersemangat. Sebelum berangkat kerja dia sempatkan dulu singgah ke mal untuk mencari hadiah. Dewi menyusuri area khusus laki-laki. Dia mengendap-ngendap seperti maling yang takut ketahuan. Menatap jejeran kotak-kotak kecil dengan gambar laki-laki berotot yang hampir telanjang. Mata Dewi memindai satu demi satu merek, model juga ukuran. "Dia suka pakai merek apa ya? Terus ukurannya apa?" gumamnya pada diri sendiri. "Kira-kira si Rena tau gak ya?" Dewi berpikir sejenak lalu dia ambil ponsel di sakunya. Dicarinya kontak Rena. [Ren, kamu tau gak Dokter Fredy suka pake merek apa? Ukurannya apa?] tanya Dewi di aplikasi chat. Tak lama dia mendapat balasan. [Wah, mana saya tau, Mbak. Lihat aja belum pernah.] (Bohong banget 'kan Rena?! Padahal sudah pernah merasakan. Author ngakak sendiri.) [Hmm, ya udah deh. Thank you ya, Ren. Sorry ganggu.] [Iya, Mbak. gak papa,] balas Rena. Dewi menekuri sebuah kotak di tangannya. Gambar laki-laki dengan roti sobek di perutnya membuat Dewi melotot. Ukuran XL tertera di sana. "Dokter Fredy begini kali ya kalau gak pake baju?!" gumamnya lirih, sambil membayangkan lelaki yang sudah beberapa tahun ini mengisi relung hatinya. Kemudian dia tersenyum malu-malu. "Seandainya aku berada di pelukannya ...," ucap Dewi seraya memeluk dirinya sendiri. "Siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu? Lagi nyari pakaian dalam buat suaminya?" tanya seorang gadis berseragam mengangetkannya. Kotak di tangannya hampir saja terlempar. "Eh, si-siang, Mbak. Iya saya nyari ini buat kado." Dewi terlihat gelagapan. "Biasanya pakai size apa?" "Size ya? Emh ... itu ... saya gak tau juga, Mbak. Kira-kira orangnya segini nih." Dewi menunjuk sebuah patung manekin yang tinggi besar. Pramuniaga itu manggut-manggut. "Persis segini? Barangkali lebih gemuk atau lebih kurus?" lanjut gadis berseragam itu. "Sedang sih, Mbak. Gak gemuk juga gak kurus. Eh, Mbak, apa ukuran 'itunya' juga pengaruh ke size?" bisik Dewi sambil memberikan tanda seperti tanda kutip dengan dua jarinya pada pramuniaga. Gadis berseragam biru muda itu melongo. "Maksudnya, ukuran 'itunya' apanya, Mbak?" Sang Pramuniaga kebingungan. Dia ikut-ikutan memeragakan tanda kutip dengan dua jarinya. "Ituuunyaaa, Mbaakkk!" Dewi gemas sendiri karena sang pramuniaga tidak mengerti yang dia maksud. Dia akhirnya menunjuk-nunjuk bagian intim pada gambar lelaki yang ada di kotak. Mulut pramuniaga itu langsung membulat. "Oooh, ituuu ... gak tau juga sih, Mbak," ucapnya sambil garuk-garuk tengkuknya dan nyengir kuda. Dewi cemberut. "Terus gimana dong? Size apa yang cukup buat orang segede ini?" lanjut Dewi. "Emh, XL kayanya cukup, Mbak. Mau warna apa?" Pramuniaga itu menawarkan beberapa warna. Dewi celingak-celinguk menatap setiap warna sambil ngebayangin jika Dokter Fredy memakainya. Lagi-lagi dia senyum sendiri. "Yang ini aja deh, Mbak." Dewi menunjuk warna biru tua. Pramuniaga itu mengangguk lalu membawa ke mejanya untuk dibuatkan nota. "Ini, Mbak. Langsung bayar di kasir aja." Secepat kilat Dewi menyambar nota itu lalu segera ke kasir. *** Tanpa sepengetahuan Rena, Dokter Fredy menyiapkan pesta ulang tahunnya sendiri. Dia booking sebuah restoran ternama untuk acaranya nanti malam. Hanya berkumpul dengan teman-temannya tanpa ada acara tiup lilin. Selesai mengecek persiapan semuanya, Dokter Fredy kembali ke rumah untuk berganti pakaian sekalin menjemput Rena. Tiba di rumahnya, lelaki itu langsung menuju kamarnya untuk mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian, dia menuju kamar Rena. Diketuknya perlahan. "Ren ... Rena." Tak ada jawaban. Diketuknya lebih keras. Tetap tak ada jawaban. Karena penasaran, dibukanya pintu itu. Tak ada siapa pun di sana. Dokter Fredy mengembuskan napas kasar, mencoba membuang rasa kecewa. Dia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Segera dihubungi nomor Rena. Berulang kali terdengar nada panggil, tapi tidak diangkat. Akhirnya dia pergi ke acara ulang tahun tanpa istrinya. Habis Magrib, para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Memberikan ucapan selamat juga hadiah. Tampak di sana Dewi hadir dengan gaun yang cantik. Membawa sebuah kado kecil dengan bungkus yang indah. Dewi menghampiri Dokter Fredy yang tampak sedang mengobrol dengan teman-temannya di sebuah meja bundar, dengan aneka makanan dan minuman tersaji di atasnya. Mereka sesekali terbahak menimpali candaan salah satu temannya. Dengan malu-malu Dewi mendekati kumpulan para lelaki itu. "Dokter, selamat ulang tahun ya. Semua doa terbaik untuk anda," ucap Dewi seraya memberikan hadiahnya. Dokter Fredy yang tengah asyik mengobrol, menoleh ke arah suara. "Hai, Dewi. Terima kasih banyak. Sama siapa ke sini?" Dokter Fredy celingak-celinguk melihat sekeliling. Berharap jika Rena datang bersamanya. Berharap jika Rena menghilang dan tidak mengangangkat ponselnya karena sedang menyiapkan sebuah kejutan dengan Dewi. Namun, harapan tinggal harapan saat tak dilihatnya sosok yang ditunggu. "Saya sendirian, Dok." Dewi tersenyum manis. "Oh iya, silakan kamu duduk di mana pun kamu mau. Ambil makanan sepuasnya." Dokter Fredy berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Dewi mengangguk kemudian berlalu ke meja di mana teman-temannya berkumpul. Ada beberapa orang bidan juga suster yang turut diundang. Sebuah langkah dengan high heels terdengar menggema. Semua sorot mata langsung tertuju pada sosok tinggi langsing dengan pakaian glamour yang baru saja memasuki restoran, lalu menghampiri meja di mana Dokter Fredy duduk. Lelaki itu terperangah kaget demi melihat pemandangan di depannya. "Selamat malam semua. Maaf aku ke sini hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada mantan suamiku ini," ucapnya dengan lemah gemulai. Dokter Fredy terlihat jengah. Berulang kali dia membuang muka. Jika saja tak ingat banyak orang, sudah pasti diusirnya wanita itu. Lelaki itu berdiri lalu memberi tanda pada sang wanita agar menjauhi para tamu. Dokter Fredy memilih sebuah ruangan kosong. Berdiri menghadap jendela sambil menunggu mantan istrinya tiba. Sebuah elusan lembut di punggung menyentakkannya. Dokter Fredy berbalik lalu menepis tangan yang mengelusnya. Terlihat wanita anggun dengan dandanan yang cukup mencolok. "Dari mana kau tahu aku di sini?" tanya lelaki itu. Yang ditanya hanya menyunggingkan sebuah senyuman menggoda. "Kau tidak perlu tau. Yang jelas, aku begitu merindukanmu, Sayang ...," godanya manja. Jari-jari berkutek merah itu menjelajahi d**a bidang sang dokter. "Kalau kau ke sini hanya untuk mengucapkan selamat, aku sudah mendengarnya. Silakan kamu pergi Amy!" Wanita itu menarik sebelah bibirnya ke atas. Sebuah senyum mengejek. "Bagaimana kabarmu sekarang, Sayang? Masih sakit atau sudah sembuh? Kalau sudah sembuh, mungkin kita bisa kembali bersama seperti dulu." Wanita itu mengedipkan sebelah matanya, membuat Dokter Fredy tersulut emosi. "Pergi sekarang juga! Aku tidak sudi bersama wanita sepertimu! Pergi atau kupanggilakn satpam?!" ancam Dokter Fredy. Wanita itu mengelus d**a lelaki di depannya untuk terakhir kalinya, sebelum dia berlalu. Napas Dokter Fredy tersengal menahan amarah. Wanita yang pernah menikah dengannya karena dijodohkan itu sungguh memuakan. Berulangkali kepergok tengah bermesraan dengan laki-laki lain di rumahnya. Walaupun dia tidak cinta, tapi perilaku Amy itu bagai menginjak harga dirinya. Pernikahan yang hanya berjalan satu tahun itu sungguh membuatnya tersiksa. *** Rena berangkat ke rumah Arya, hanya beberapa saat sebelum suaminya pulang. Rena tidak tahu jika malam ini suaminya juga mengadakan acara jamuan makan malam untuk memperingati hari lahirnya. Namun, sayang sang istri justru menghadiri ulang tahun orang lain. Dengan mengendarai taksi, Rena akhirnya sampai juga di alamat yang diberikan Arya padanya.Tak pernah Rena sangka jika Arya tinggal di rumah semegah itu. 'Untuk apa dia ngajar di tempat les kalau anak orang kaya?' batin Rena. Rena segera mengirimkan pesan pada Arya. Tak perlu waktu lama, Arya datang membukakan pintu gerbang. "Hai, Ren. Ayo masuk! Keluargaku udah kumpul." Arya dengan ramah mempersilakan tamunya. Rena tersenyum manis. Di sebuah ruang keluarga yang begitu luas, sudah berkumpul keluarga besar juga teman-teman Arya. Tanpa ragu Arya meraih tangan Rena lalu dituntunnya. Rena justru terlihat risih. Beberapa kali dia menatap tangan Arya yang menggenggam tangannya. "Ma, Pa, kenalin ini Rena teman Arya." Wajah pemuda itu tampak semringah. Seorang wanita paruh baya dengan dandanan sederhana tetapi elegan menoleh. "Hallo, Rena. Kamu cantik sekali. Kenalkan, saya Ratih mamanya Arya. Makasih sudah mau dateng ya," sapanya ramah. Rena menerima uluran tangan Ratih. "Nah, ini Om Wisnu papanya Arya." Wanita itu mengenalkan suaminya. Rena kembali tersenyum ramah dan menyambut uluran tangan Wisnu. Anggota keluarga yang lain pun ikut tersenyum ramah menyambut Rena. "Keluarga Bapak, baik semua ya?! Ramah-ramah," ujar Rena saat Arya mengajaknya ke sudut lain di mana teman-temannya berkumpul lalu mengenalkan Rena pada mereka. "Khusus hari ini, bisa gak kamu panggil saya abang?" pinta Arya. Belum sempat Rena menjawab, terdengar sebuah panggilan. "Arya, ayo kita mulai acaranya!" panggil Ratih. Pemuda itu menoleh dan mengacungkan jempolnya. Acara pun dimulai. Berbagai sambutan dari papanya Arya, keluarga juga teman. Hingga akhirnya sampai pada acara puncak, tiup lilin juga potong kue. Potongan pertama Arya berikan pada mamanya, lalu pada papanya. Sang MC lanjut menyuruh Arya memberikan potongan ketiga untuk seseorang yang spesial. Arya memotongnya dengan wajah semringah, lalu memberi tanda pada MC untuk memberikan microphone padanya. Dengan sepotong kue di tangan kanannya juga microphone di tangan kirinya, Arya menghampiri Rena. Gadis itu terperangah kaget saat tanpa ragu Arya memberikan padanya sambil berlutut. "Nona Rena, maukah kau menjadi kekasihku?" Riuh sorak sorai membahana seisi ruangan. Teriakan dari teman juga keluarganya terdengar riuh tiada henti. "Terima! Terima! Terima!" Sebuah genggaman lembut menyadarkan Rena. Saat menoleh terlihat Ratih tersenyum manis sambil mengangguk, seolah mengisyaratkan untuk menerima puteranya. Dalam kondisi bingung Rena hanya bisa tersenyum datar dan menerima sepotong kue tart dari Arya. Bukan karena tulus menerima orang yang dengan berani menembaknya di depan semua tamu, tapi Rena tak ingin mempermalukan Arya di depan banyak orang. Arya bangkit lalu meraih tangan kiri Rena. "Terima kasih," bisiknya lirih. Disambut tepuk tangan dari semua tamu yang hadir. Rena mengangguk pelan dan tersenyum hambar. 'Kenapa jadi begini?' pikirnya bingung. *** Hampir jam sepuluh Rena baru pulang diantar Arya. Mobil Dokter Fredy sudah terparkir di garasi. Rena masuk sesaat setelah Arya berlalu. Rena membuka pintunya perlahan. Dalam cahaya temaram suaminya duduk di sofa ruang keluarga. Tidak begitu jelas, hanya terlihat siluet badannya seperti tengah melamun. Rena jalan perlahan, takut mengganggu suaminya. Melewatinya yang seperti masih asyik melamun. "Dari mana kamu?" Suara bariton itu terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Rena menoleh. Dia berbalik menghadap suaminya. "Habis dari ulang tahun temen," jawabnya lirih hampir tak terdengar. Rena berdiri mematung. "Dokter udah makan?" tanya Rena menutupi rasa bersalahnya. "Apa pedulimu aku sudah makan atau belum?!" Rena tersentak saat mendengar penuturan lelaki itu. Dari nada bicaranya dia tahu jika suaminya sedang marah. Rena tertunduk. "Kamu tau ini hari apa?" tanya Dokter Fredy sedikit membentak. Badan Rena menyentak karena kaget. Tubuhnya sedikit gemetar. "Ha-hari Sabtu," jawab Rena gugup. "Bukan itu maksudku! Kau tau 'kan jika hari ini hari ulang tahunku?" bentaknya seraya bangkit dari tempat duduknya. "Kenapa kau tidak mengangkat telepon? Kenapa kau tidak memberi kabar?" bentaknya penuh emosi. Membuat tubuh Rena yang merapat ke tembok bergetar. Tangan kanan lelaki itu meninju tembok tepat di samping atas kepala Rena. Sesaat dia melirik wajah suaminya, terlihat penuh emosi. Rena kembali menunduk. Napas Dokter Fredy tersengal menahan amarah. Rena menggigil ketakutan. Entah kenapa dia kembali teringat kejadian sebulan yang lalu, saat dirinya berada dalam kekuasaan lelaki itu, yang dengan begitu beringas merampas harga dirinya. Hanya untuk satu tujuan, kesembuhan sang ibu. Rena mulai terisak. Tubuhnya bergetar karena tangis. Tubuhnya melorot hingga menelungkup memeluk lutut. Tangis Rena kembali pecah. Melihat istrinya menangis, Dokter Fredy menghela napas kasar lalu berlutut. Tangannya meraih tangan sang istri. Menariknya hingga tubuh mungil itu jatuh dalam dekapannya. "Maaf," bisiknya lirih. Rena bergeming tetap larut dalam tangisnya. Dokter Fredy membiarkan istrinya menangis sampai puas di dadanya. Mengusap punggungnya perlahan sampai tangisnya reda. "Aku begitu khawatir karena kamu nggak ngasih kabar. Tolong jangan diulangi," bisiknya lagi. Tangannya tetap mengusap punggung Rena dengan lembut. Gadis itu mengangguk pelan. "Kamu temenin aku buka kado, yuk!" Dokter Fredy coba membujuk. Rena keluar dari dekapan suaminya lalu tersenyum dan mengangguk. Mereka bangkit. Dokter Fredy menuntun Rena menuju kamarnya. Satu-satunya ruangan yang belum pernah Rena injak di rumah itu. Sebuah ruangan yang luas, di mana ada sebuah ranjang besar dengan kasur yang terlihat sangat empuk dilapisi sprei dan bedcover putih abu. Nakas kecil menghiasi di kiri kanannya. Sebuah lemari besar dengan cermin setinggi badan ada di sebelah kanan. Dokter Fredy meminta Rena untuk duduk di kasur, sementara dia mengambil tas kertas besar berisi kado lalu membawanya ke depan Rena. Mereka membuka satu demi satu hadiah itu. Ada yang berisi parfum, dasi, kemeja, bahkan jam yang berharga mahal. Rena asyik membuka sebuah kotak kecil, dibungkus kertas berwarna merah marun dan pita emas. Matanya langsung membulat saat dilihatnya gambar lelaki setengah telanjang yang memperlihatkan ototnya. "Apaan ini?" pekiknya lalu melempar kotak itu ke samping suaminya. Mata lelaki itu pun terperangah saat mengetahui isinya. Sekotak celana dalam lelaki. Tertempel sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun dari ... Dewi. Dokter Fredy melirik ke arah istrinya yang nyengir kuda. "Rennaaaa?" Dokter Fredy menghambur ke arah istrinya lalu menggelitiknya sampai terjungkal ke kasur. "Ampuuuuunn!" teriak Rena terkikik. "Kamu pasti bilang ke Dewi sambil bayangin isinya kan?!" ujar Dokter Fredy masih menggelitik pinggang Rena. "Kamu jail ya! Dewi ngasih aku bungkusnya. Sini aku kasih kamu isinya!" Dokter Fredy terus menggoda istrinya yang tertawa kegelian sambil berusaha menepis gelitikan tangan suaminya. "Cobain dulu!" Rena mencoba mengalihkan perhatian suaminya agar berhenti menggodanya. Berhasil. Dokter Fredy berhenti menggelitik pinggang Rena. Dia bangkit duduk. Namun, dengan posisi tangan hendak membuka celananya. "Buka berarti ya?" godanya lagi. Rena memukul lengan suaminya dengan bantal. *** Di kamar yang lain Dewi senyum-senyum sendiri menewarang langit-langit kamarnya. Membayangkan jika Dokter Fredy mengenakan hadiah darinya. Dewi menjerit kecil karena gemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN