Arsen duduk dengan santai di ruang kerja milik Aldrich. Beberapa kali, pria itu mendengus kesal karena sang iblis dingin yang di nanti tak kunjung datang. Meskipun hari ini libur, ia yakin kalau dia akan datang berkunjung. Tak banyak yang dilakukan Arsen ketika menunggu Aldrich. Seperti sekarang, ia bangkit dari sofa, berjalan mondar mandir gelisah, sesekali menengok ke arah pintu. Saat handle pintu terbuka dengan lebar, pria itu menoleh seketika. “Kenapa kau yang datang, Daren?” tanya Arsen dengan nada kecewa berat, dan langsung lesu begitu saja. “Yang Mulia tak datang,” jawab Daren dengan dingin. Meskipun ia sudah tahu bahwa kedua saudara itu sudah berbaikan, tapi tetap saja hatinya tak nyaman bila berbicara dengan Arsen yang jelas-jelas berseteru selama ratusan tahun dengan Aldric

