16. Bertemu Dosen Pembimbing

1230 Kata
Seketika suasana menjadi hening, Pak Andi tidak lagi mengajak Zakia mengobrol. Agaknya lelaki itu fokus menatap jalanan yang mulai ramai. Tentu saja, ia tak ingin sampai hal buruk terjadi karena hilang kendali. Keselamatan penumpang istimewanya itu adalah yang utama. Kendaraan besi berlogo banteng emas melaju dengan kecepatan standar membelah jalanan beraspal. Menjaga dan mengawasi gadis yang duduk di jok belakang kini adalah prioritas utama. Pak Andi tidak akan membiarkan kulit Zakia tergores sedikit pun. Karena misinya kali ini bergantung pada, bagaimana ia membawa pulang kembali Macan Kecil sang majikan dalam keadaan sehat wal'afiat dan tidak ada satu hal pun yang berkurang. "Pak, saya minta maaf karena telah membawa Anda ke dalam masalah keluarga saya. Padahal kita tidak saling mengenal sebelumnya," ucap Zakia dengan wajah tertunduk. "Saya juga tidak bisa berbuat banyak untuk membela Anda," keluh Zakia lagi. Pak Andi memperlambat laju kendaraan yang ia kemudikan, kemudian menatap Zakia melalui spion dalam. "Tidak apa-apa, Non. Saya percaya Anda tidak akan mengingkari janji." "Terima kasih, Pak. Saya akan selalu mengingat kebaikan Anda. Akhir-akhir ini banyak sekali tekanan yang datang menghampiri. Apakah Anda mempunyai solusinya?" tanya Zakia mengawali kembali pembicaraan. Entah mengapa, Zakia merasa benar memilih Pak Andi sebagai media bertukar pikiran. Sikap bawaan yang kritis menjadikan gadis itu terus menyimpan berbagai pertanyaan yang tak kunjung terjawab, sehingga kapasitas dalam otaknya membeludak dan berasap. "Kalau saya pribadi tawakal dan berdoa. Kembali pada Sang Pencipta yang maha membolak-balikkan hati," jawab Pak Andi gamblang. Zakia mengangguk setuju, bukan berarti dirinya harus berpangku tangan. Saat ini bahkan dirinya telah berusaha untuk menyelamatkan sang papa. Mau tak mau ia harus tetap mengikuti aturan main sang cassanova. "Selain itu apa, Pak?" tanya Zakia lagi. "Banyak bersyukur, Non. Terkadang kehidupan yang kita rasa tidak sesuai ini banyak diidamkan oleh orang lain." Wejangan Pak Andi kali ini bagaikan sebuah tamparan keras untuk Zakia. Ya, gadis itu hanya sibuk dengan tekanan yang ia alami tanpa memikirkan untuk bersyukur. Berterima kasih kepada Tuhan karena masih diberi kehidupan layak, meskipun berada di bawah kungkungan iblis berwujud manusi. "Hmm, iya, Pak." Zakia tak mampu lagi melanjutkan pembicaraan. Dirinya merasa malu, dan tak ingin membahas apapun lagi. Namun, jalanan yang mulai macet membuat Zakia jenuh. Gadis itu memutar otak, ia memikirkan topik pembahasan yang akan dipilih selanjutnya. Hitung-hitung sebagai pengusir kebosanan dan juga latihan sebelum ia bertemu dosen pembimbing lagi. "Oh, iya, Pak. Nanti Anda boleh pergi setelah saya tiba di kampus, kemudian saya akan menghubungi Anda untuk menjemput." "Boleh saya minta nomor ponsel Anda, Pak Andi?" tanya Zakia tanpa basa-basi lagi. Zakia mengetikkan nomor ponsel Pak Andi pada layar ponsel. Lelaki itu dengan jelas mengucapkan tiap digit nomor pribadinya. Untuk memastikan apa yang ia katakan tidak keliru, sopir itu kembali mengulang nomor telepon miliknya. "Oke, Pak. Sudah saya catat," ucap Zakia bersemangat. "Baik, Non. Boleh saya meminta sesuatu?" ujar Pak Andi lirih, nyaris tak terdengar. Anak gadis Pak Sandy tersebut mengernyitkan alis dan menatap punggung Pak Andi lekat. Aneh, apa yang ingin sopir ini minta dari dirinya? Bahkan lelaki itu pun tahu, Zakia tidak memiliki apapun untuk saat ini. "Apa, Pak?" tanya Zakia penuh curiga. "Tolong jangan kabur ya, Non. Saya menaruh harapan penuh pada pekerjaan ini." Mendengar ucapan sang sopir, Zakia memalingkan wajah dari spion bagian dalam. Ia menatap ke jajaran ruko yang mereka lalui. Berulang kali Pak Andi mengatakan hal yang sama, apa ini untuk mengujinya? Atau memang lelaki itu sedang dalam posisi waspada dan cemas, jika anak gadis Pak Sandy itu melarikan diri. "Maaf, Non. Saya begini karena membutuhkan banyak biaya. Keluarga kecil kami telah ditimpa musibah, kami bergantung pada gaji di tempat Tuan Brian untuk pengobatan putra bungsu kami." Pak Andi melanjutkan pembicaraan, meski tak ada respon dari Zakia. "Astaga." Zakia menutup mulut dengan kedua telapaknya. "Sakit apa, Pak?" "Pneumonia, Non. Awalnya kami mengira itu hanya batuk biasa." Wajah Pak Andi berubah muram. Zakia tertunduk dan turut merasakan kesedihan sopir tersebut. Pneumonia merupakan penyakit infeksi paru-paru yang bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. "Lantas, mulai memburuk kapan, Pak?" tanya Zakia lagi. "Dua pekan yang lalu, Non. Itu merupakan pukulan yang telak bagi keluarga kami," beo Pak Andi dengan suara parau. Lelaki itu masih teringat jelas, ketika dokter memastikan penyakit apa yang menyebabkan demam dan tidak nafsu makan pada anaknya. Petugas medis tersebut memeriksa pola pernapasan, denyut jantung, tekanan darah, suhu tubuh, dan mendengarkan apakah ada suara napas abnormal dari paru-paru. Ternyata benar, suara napas si bungsu seperti gesekkan biola. Berbunyi dan terdengar berat. "Dibutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan jenis penyakit ini, Pak." Perkataan sang dokter ini selalu terniang di gendang telinga Pak Andi. "Lantas, apa yang harus kami lakukan?" tanya Pak Andi yang mulai cemas. "Kami akan mengambil tindakan foto Rontgen pada bagian d**a anak dan tes darah, serta pemeriksaan sampel dahak untuk memastikan jenis kumannya. Diagnosa awal, putra Anda mengidap pneumonia," ucap dokter muda itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil uang tabungan, meski berat ini adalah pilihan yang terbaik. Kondisi ekonomi mereka memang sedang berada di titik hampir krisis, himpitan kebutuhan yang kian banyak memaksa Pak Andi bekerja sepanjang waktu. Memang itu sebuah realita kehidupan yang harus Pak Andi lalui. Mereka tengah berjuang untuk menyembuhkan anaknya yang memiliki penyakit bawaan pernapasan. Betapa malang nasib bocah kecil itu, jika ia tidak mendapatkan perawatan. "Saya ... semoga si bungsu lekas sembuh, Pak." Zakia dengan cepat meralat ucapannya. Awalmya ia ingin mengatakan hal lain, tetapi tampaknya kurang pantas. Sehingga ia memilih jalur aman, seandainya saja keadaan masih seperti dahulu. Zakia tidak akan sungkan merogoh kocek untuk membantu pengobatan. Namun, jika dirinya tidak ditawan Brian, mungkin gadis itu tidak akan pernah bertemu dengan Pak Andi, bukan? Ya, terkadang kita harus belajar dari pengalaman orang lain untuk lebih mensyukuri hidup dan inilah yang sedang Zakia pelajari. "Sudah sampai, Non. Jangan lupa memberi kabar saya." Pak Andi menghentikan kendaraan besinya tepat di depan universitas tempat Zakia menimba ilmu. Zakia menghela napas lega. "Terima kasih, Pak." Putri kebanggan Pak Sandy tersebut turun dari mobil. Kakinya terasa begitu ringan melangkah, setelah beberapa jam yang lalu terkungkung dalam sangkar emas. Akhirnya ia dapat menghirup oksigen dengan leluasa, tanpa me "Pagi, Zakia," sapa seorang mahasiswi ketika melintasinya. "Pagi, Monic," jawab Zakia tak kalah bersemangat. Tiap koridor kampus memberinya energi yang baru. Atmosfir para pelajar membangkitkan keberanian gadis itu. Jiwa pemberontaknya kembali bergelora, strategi nakal mulai bergerilya. Ia menoleh ke arah di mana mobil yang dikemudikan Pak Andi terparkir, kendaraan besi itu sudah tak terlihat. "Yes, ini kesempatan yang bagus!" seru Zakia sambari mempercepat langkahnya. Zakia berpikir dalam perjalanannya ke ruangan sang dosen, haruskah Zakia melarikan diri sekarang? Tapi bagaimana dengan kelangsungan hidup Pak Andi dan keluarganya? Tidak, dia tidak akan mengingkari janji. Mungkin keberuntungan tidak berpihak padanya hari ini. Seketika api yang berkobar itu kembali meredup, ia mengingat bagaimana raut wajah Pak Andi yang muram. "Baiklah, Zakia. Kali ini kau harus mengkesampingkan ego. Lihat, ada pihak lain yang menjadi tumbal. Tunggu sampai semua selesai dengan sempurna," cicit Zakia mensusgesti dirinya sendiri. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, ia memasuki ruangan dosen dan menghilang di balik pintu. Ya, sebagai mahasiswi tingkat akhir pasti banyak hal yang harus ia urus. Semoga saja segalanya berjalan dengan lancar dan tidak menembah tekanan batin. "Selamat pagi, Pak," sapa Zakia pada dosen pembimbing yang tengah duduk di meja kekuasaannya. Manik mata seperti elang itu menatap tajam Zakia. Entah mengapa, dosen yang biasanya terlihat lemah lembut tersebut menjadi garang menjelang akhir. Astaga, betapa killernya maha guru itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN