Bagian 10

1807 Kata
“Ibu perkenalkan ini Pak Reynart. Beliau adalah atasanku.” Cila memperkenalkan pria asing yang bersamanya itu kepada sang ibu. Cila baru bisa menemukan ibunya saat acara telah selesai. Sang ibu pun tampak bingung melihat sosok di sebelah putrinya. Terlebih lagi dia melihat jika ada aura berbeda yang keluar dari pria tubuh pria tersebut. Reynart menjabat tangan ibu dari Cila itu. “Perkenalkan, saya Reynart.” “Selamat siang, Tuan. Maaf jika anak saya mungkin merepotkan Anda.” Pria itu pun mengangguk. Cila kembali berbicara kepada ibunya, lebih tepatnya mencari keberadaan sang adik. Namun ada yang menarik di sini. Reynart juga tanpa sengaja melihat kalung yang sama di leher ibu Cila. Keduanya tampak tak ada bedanya. Kenapa mereka bisa memiliki kalung yang sama? Lalu Ajil datang kepada kakak serta ibunya dengan sedikit berlari kecil. “Kakak. Kakak. Bagaimana penampilanku tadi? Bagus, kan?” tanya bocah kecil itu dengan penuh bersemangat. Melihat bocah laki-laki ini membuat Reynart mengingat adiknya, yakni Vera. Dia merindukan adik cantiknya itu. Tanpa sadar Reynart pun tersenyum kecil. “Bagus banget, Jil. Kamu keren,” puji Cila di sana dengan suara tawanya. “Dia siapa, Kak?” tanya Ajil sembari menunjuk sosok Reynart. “Ini adalah atasan Kak Cila. Kamu salam dulu sana,” jawab wanita tersebut. “Halo, Om. Saya Ajil,” ucap bocah kecil itu dengan formal. Reynart pun menerima uluran tangan itu. “Reynart. Nama saya Reynart,” balas pria ini dengan sedikit kaku. Ajil pun mendekati sang kakak, lalu sedikit berbisik di telinganya. “Atasan Kak Cila kaku banget. Lihat juga pakaiannya, tampak seperti bapak-bapak.” Meskipun suara bocah ini kecil, tetapi Reynart masih bisa mendengar. Cila pun hanya tertawa kecil di sana. “Sudah, jangan bicara seperti itu,” tegur wanita ini. “Ibu mau pulang sekarang?” tanya Cila kemudian. “Ya. Ibu akan pulang bersama Ajil. Kamu masih harus pergi bekerja bukan?” Cila mengangguk, lalu menghadap kepada Reynart di sana. “Setelah ini Bapak ingin ke mana lagi?” tanya Cila yang malah salah fokus dengan perban di kepala pria itu. “Apa sebaiknya kita antar ibu dan adikmu?” tawar pria ini yang entah mengapa tiba-tiba bibirnya mengatakan demikian. “Eh? Tidak perlu, Pak. Terima kasih banyak. Ibu dan adik saya akan menggunakan transportasi umum. Lagi pula mobil tidak bisa masuk ke dalam gang rumah saya,” tolak Cila secara langsung, sang ibu juga mengangguk setuju. “Itu benar. Terima kasih banyak untuk kebaikan, Tuan. Tapi kami masih akan mampir ke tempat lain,” sambung ibu dari Cila. Reynart pun mengangguk paham dan tak memaksa. “Ya sudah, Bu. Aku dan Pak Rey pergi sekarang ya. Ibu dan Ajil hati-hati di jalan,” pamit wanita ini. Keduanya pun menuju ke mobil. Kali ini Reynart belum mendapat kejelasan tentang kalung yang dikenakan oleh mereka. Cila diam-diam melirik atasannya yang tampak memiliki banyak pikiran di sana. “Saya ingin bertanya,” celetuk pria ini tiba-tiba. Cila mencoba memasang telinganya baik-baik. “Mengenai kalung yang kau pakai … dari mana kau mendapat kalung itu?” Wanita ini langsung memegang liontin di kalungnya itu. “Ini … ini pemberian Ibu saya,” ungkap Cila di sana. Reynart mengangguk paham, pantas saja kalung mereka terlihat sama. “AWAS, PAK!!” CITTTT. Ban mobil bergesekan dengan aspal menimbulkan decitan yang cukup memekikkan. Kejadiannya begitu cepat. Reynart buru-buru menginjak rem mobilnya ketika mendengar teriakan wanita di sebelahnya ini. Cila yang tadinya terkejut pun buru-buru keluar dari mobil. Reynart di dalam mobil mengembuskan napas lega. Teriakan Cila benar-benar mengejutkan. Pria ini memutuskan untuk keluar mobil, untuk melihat apa yang sedang wanita aneh ini lakukan. Setelah di periksa, terlihat Cila yang menggendong seekor anak kucing. “Untung saja saya melihatnya dari jauh,” ujar wanita ini tanpa merasa bersalah sedikit pun karena dengan berani berteriak di dalam mobil. “Kau tau apa yang terjadi jika aku bukan menginjak rem tadi? Kita bisa terluka. Tidak bisakah kau lebih berhati-hati dalam bertindak?” sembur Reynart di sana. Untung saja dia tidak menabrak pengendara lain atau malah pohon di pinggir jalan. Dia tak ingin kecelakaan untuk kedua kalinya, apalagi membawa makhluk lemah seperti Cila. “Saya kan hanya mau menyelematkan anak kucing ini, Pak. Kenapa Bapak jadi marah-marah ke saya?” sahut Cila yang masih tetap mempertahankan jika dirinya di pihak yang benar. Malas berdebat dengan wanita itu, Reynart memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Cila meletakkan kucing itu di tempat yang aman, lalu dia menyusul Reynart ke dalam mobil. “Di mana rumahmu?” tanya Reynart dengan suara dingin. Cila menoleh. “Bapak mau antar saya pulang? Tidak usah, Pak. Ini sangatlah merepotkan,” tolak Cila lagi. Mobil pun berhenti dengan tiba-tiba. Wanita ini mengernyit ketika mereka berhenti di tempat yang tidak seharusnya. “Ap—” “Keluar,” perintah Reynart tanpa mau menoleh kepada wanita di sebelahnya itu. Cila pun mengembuskan napas berat. Apa dia melakukan kesalahan hingga membuat pria itu seperti ini? “Di depan ada halte, kau bisa langsung pulang hari ini. Jangan lupa besok mulai kembali bekerja di kantor,” ujar Reynart. Cila pun mengangguk paham. Wanita itu keluar dari mobil, lalu Reynart pun kembali menjalankan mobilnya ketika Cila sudah menutup pintu. Ini terlihat seperti wanita ini yang dicampakkan. Ditinggalkan di pinggir jalan. Sungguh menyesakkan. Reynart pastinya tidak berpikir dua kali untuk menurunkan Cila di sana. Dia sudah baik-baik menawarkan diri tadinya sebanyak dua kali untuk mengantar wanita itu pulang, namun dengan tegas Cila menolak, jadi bukan salah Reynart juga bila pada akhirnya pria ini menurunkan Cila di sana. Reynart langsung membelokkan mobilnya menuju ke kantor. Ya, dia memutuskan untuk pergi ke kantor hari ini. Kedatangan pemilik perusahaan di siang hari, lebih tepatnya di jam istirahat begini mengundang perhatian para pekerja yang kebetulan tanpa sengaja berpapasan dengan sosok Reynart di sana. Perban di kepala Reynart turut mengundang perhatian di sana. Pria ini tampak tak begitu peduli, dia memasuki lift untuk menuju ke ruangan Elijah. Flora baru saja akan menuju ke kantin, sebelum akhirnya dia memutuskan pergi karena mendengar bila Reynart datang ke kantor siang ini dengan kepala di perban. Memang sejak kecelakaan terjadi Flora sama sekali tidak bisa bertemu dengan pujaan hatinya itu. Lebih tepatnya Reynart sejak dulu tidak pernah mengijinkan karyawan datang ke rumahnya satu pun kecuali Elijah tentunya. Lalu kenapa Cila boleh datang? Setelah di persilakan masuk, Reynart pun langsung membuka pintu ruangan temannya itu. Melihat kedatangan temannya ke kantor seperti ini membuat Elijah mengernyit di kursi kerjanya. Reynart langsung mengambil duduk di depan Elijah. “Kau sudah sembuh?” tanya pria ini. Reynart tertawa di tempatnya. “Aku sudah sembuh. Untuk itu aku datang ke kantor menemuimu,” jawab pria ini. “Bantu aku membuka perban ini dan menggantinya dengan plester saja,” lanjut Reynart. Jadi kedatangan pria ini kepada Elijah adalah hanya karena perban itu? “Bukankah sudah ada Cila?” “Aku sudah menyuruhnya pulang tadi.” “Wow. Padahal ini masih siang, enak juga jadi Cila yang bisa pulang lebih awal ya,” celetuka Elijah yang bermaksud menggoda temannya. “Jangan konyol. Aku hanya terlalu malas berdekatan dengan wanita cerewet itu,” ungkap Reynart. “Jadi … apakah kau akan membantuku mengganti ini?” tanya Reynart lagi. “Baiklah. Sebentar, sepertinya aku memiliki persediaan plester di ruanganku,” kata Elijah yang langsung menuju ke salah satu lemari dengan laci kecil di dalam ruangan tersebut. Di saat Elijah tengah sibuk mencari plestenya, tiba-tiba saja Reynart kembali mendapat panggilan dari Wizard Berta. Pria ini pun segera berdiri dari duduknya dan langsung menuju ke pintu. Kepergian Reynart pun di sadari oleh Elijah. “Hei, kau mau ke mana? Aku masih mencarinya,” teriak pria ini. “Tunggu sebentar. Aku ada urusan mendadak. Nanti aku kembali ke sini,” jawab Reynart cepat sebelum akhirnya punggung pria itu menghilang di balik pintu. Reynart berjalan menuju ke ruangan kerja miliknya. Dia butuh privasi untuk bisa berkonsentrasi. Setelah memasuki ruangan, Reynart tak lupa mengunci pintu, lalu dia mulai duduk untuk bisa membuka pikiran agar bisa berkomunikasi dengan sang wizard. “Ada apa, Wizard?” tanya pria ini. Seharian ini terlihat mereka sering sekali berkomunikasi satu sama lain. “Kau bertanya tentang sebuah kalung kepadaku tadi bukan? Aku sudah menemukan jawaban itu.” Reynart mengangguk. Ternyata keputusannya untuk bertanya kepada Wizard Berta adalah pilihan yang tepat. “Lanjutkan,” perintah pria ini. “Baik. Kau masih ingat bukan dengan kalung yang pernah kau berikan kepada Pangeran Grover?” Reynart mengangguk. Dia tentu masih ingat dengan perjalananya untuk menemukan mate dari Agata. Agata merupakan keponakan Luc, putri dari raja werewolf. Dan Reynart sudah menganggap wanita itu seperti adiknya sendiri. Seorang werewolf memiliki mate yang berasal dari kaum raksasa merupakan suatu hal yang jarang terjadi. Dan mengenai kalung yang pernah dia berikan, itu adalah kalung yang bisa membuat ukuran tubuh Pangeran Grover mengecil seperti manusia normal pada umumnya. Bisa di bilang itu adalah kalung yang ajaib. “Kalung yang kau berikan kepada Pangeran berwarna sedikit merah bukan? Tadi kau bertanya perihal kalung berwarna biru. Bentuknya kurang lebih sama, hanya sedikit berbeda di beberapa bagian mungkin. Tapi, kalung yang kau maksud itu tidak digunakan untuk merubah bentuk seseorang seperti yang Pangeran miliki,” jelas sang wizard. “Ini berbeda, Reynart. Tapi … sebelum aku jelaskan lebih jauh, bisakah kau memberitahuku siapa yang memiliki kalung berwarna biru ini?” Reynart terdiam, antara ragu untuk mengatakan sejujurnya apa tidak. “Ada seseorang di sini yang aku curigai, Wizard. Jelaskan saja dulu kalung apa itu,” jawab pria ini. “Baiklah. Kalung ini sangatlah istimewa bagi kaum wizard. Dulunya kalung ini dimiliki oleh kaum dari Kerajaan Wizard saja, namun lambat laun para wizard lain mencoba untuk membuatnya sendiri, akan tetapi sepertinya kekuatannya tidak begitu sama. Yang jelas kalung ini mungkin sulit untuk ditemukan sekarang terlebih lagi di Kerajaan Wizard itu sendiri karena berjuta-juta tahun yang lalu pernah terjadi pencurian besar-besaran. Dan kalung-kalung berliontin biru itu diambil oleh pencuri-pencuri ini. Hingga sekarang pun kita belum tahu siapa yang mengambilnya.” Reynart tentu terkejut bukan main setelah mendengar penjelasan sang wizard. “Jadi … siapa orang yang kau curigai memiliki kalung ini? Apa kau yakin kalung itu berasal dari bangsa kita? Bagaimana jika kalung itu hanya buatan manusia saja?” tanya Wizard Berta. “Aku akan memastikan hal ini dulu, Wizard. Jika aku sudah menemukan jawaban pastinya, aku akan menghubungimu. Jika pada akhirnya itu adalah benar kalung yang berasal dari Kerajaan Wizard, aku akan berusaha untuk merebutnya dan mengembalikannya ke kerajaan.” “Baiklah. Berhati-hatilah, Rey. Entah mengapa aku merasakan akan ada bahaya datang di sekitarmu. Cobalah untuk waspada dengan sekitar.” “Terima kasih, Wizard. Aku akan mengingat kata-katamu ini.” Komunikasi pun tertutup. Reynart membuka matanya yang sedikit memerah di sana. Jika benar kalung yang Cila dan ibunya gunakan berasal dari kaum wizard, berarti bisa dikatakan wanita itu bukanlah manusia biasa. Lalu Cila dan ibunya berkemungkinan besar merupakan komplotan dari pencuri-pencuri itu. Reynart harus menyelidiki latar belakang Cila sekarang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN