Bagian 14

1629 Kata
Fakta mengenai bila Reynart benar-benar mate nya pun tidak bisa membuat wanita ini tenang. Sepanjang hari selama di kantor, jika berkesempatan bertemu dengan mate nya itu, ada rasa kesal dalam diri Cila. Sedangkan Reynart tentu belum tau mengenai ini, tetapi dia ingin sekali lagi memastikan satu hal dalam dirinya. Cila menuju ke arah pantry sembari menghentakkan kakinya dengan begitu kesal. Hal tersebut mengundang perhatian salah satu temannya di sana. “Cila, are you okay?” Cila menoleh, dia mengangguk, lalu duduk dengan kasar di kursi yang tersedia. Temannya pun yang merasakan bila wanita ini tidak sedang dalam perasaan baik pun berinisiatif mengambilkan minum untuk Cila. “Ini. Minumlah dulu.” Kebetulan barusan dia selesai membuat the, dan masih ada sisanya, jadi dia buatkan segelas untuk Cila. Cila yang baru pertama kali mendapat hal seperti ini pun merasa terharu dan tak enak hati. Cila sadar bila seharusnya dia bersikap profesional dalam bekerja, bukannya malah melimpahkan masalah pribadi dalam pekerjaannya. “Terima kasih …” “Ele. Namaku Ele. Aku lupa memperkenalkan diriku saat hari pertama kamu bekerja,” ucap Ele dengan begitu bersemangat. Cila pun tersenyum, akhirnya dia memiliki teman baru. “Astaga aku lupa!” pekik wanita ini tiba-tiba. “Aku harus mengantar minuman ini ke ruang Pak Reynart dan Nona Flora,” ujar Ele sembari menuju ke arah nampan yang sudah dia sediakan sejak tadi. Cila mengernyit ketika kedua nama itu disebutkan. Kesempatan. Cila pun langsung berdiri. “Ele,” panggilnya yang berhasil membuat wanita tersebut menoleh sebelum sampai ke pintu. “Bolehkah jika aku yang mengantar minuman mereka?” tanyanya berhati-hati. Ele terdiam, dia masih mengingat pertanyaan Cila kemarin perihal sosok Reynart dan Flora. Lalu, wanita ini pun mengangguk dan memberikan nampannya kepada Cila. Tampak Cila yang begitu senang. “Baiklah. Kamu duduk manis saja di sini. Aku akan segera kembali,” tutur wanita ini. Ele mengangguk dan menuju kursi, sedangkan Cila beranjak pergi ke luar. “Apa ini, Flo? Tidak biasanya kamu bekerja seperti ini?” Nada suara Reynart naik satu tingkat. Wanita yang sedang ia omeli pun terlihat biasa dan tidak merasa terindimidasi sedikit pun. “Maaf, Pak. Kemarin saya kurang enak badan. Lalu kepala saya juga sedikit pusing,” jelas wanita ini. Reynart menutup map dan menatap sekretarisnya dengan penuh. “Aku rasa kamu tau cara kerjaku bagaimana, Flo,” katanya sedikit dingin di sini. Flora pun mengangguk. “Maafkan saya, Pak. Saya akan berhati-hati setelah ini,” balas Flora di sana. Reynart mengangguk. “Baiklah. Perbaiki ini,” perintahnya yang mengembalikan map tadi. Flora mengambil mapnya dan pamit undur diri. Cila baru saja keluar dari lift bertepatan dengan Flora yang berbelok menuju ke ruangannya sendiri. Wanita ini bisa menebak bila Flora selesai dari ruangan Reynart. Mengingat wanita itu membuat Cila jadi bimbang sendiri. Reynart adalah mate nya, dan sekarang dia memiliki pesaing ketat. Apa ini? Kenapa Cila jadi memikirkan hubungan mereka? Atau jangan-jangan dia berencana untuk menerima Reynart sebagai mate nya. “Masuk,” perintah pria tersebut dengan pandangan yang sama sekali tidak beralih dari laptopnya. Cila masuk dan berjalan pelan menuju ke meja Reynart. Dilihat dari jauh saja semuanya tampak sempurna di mata wanita ini. Menyadari pemikirannya tentang sosok Reynart membuat Cila langsung menggelengkan kepala. Ingat, dia masih dalam mode marah akibat perlakuan pria itu semalam. “Setelah ini tolong perintahkan salah satu office boy untuk membeli bunga mawar. Maksudnya satu bucket bunga mawar dan antar ke alamat ini,” perintah Reynart sembari menunjuk kertas yang sudah dia persiapkan tanpa menoleh sedikit pun. Cila mengernyit, lalu membaca alamat tersebut. Alamat siapa ini? Tak mendapatkan respon apa pun membuat Reynart mendongak. Pria itu mengernyit melihat Cila berada di ruangannya. “Apa kau mendengar perintahku?” ucap Reynart yang menyadarkan Cila. Wanita itu pun mengangguk dan pamit undur diri. Setelah kepergian Cila, pria di dalam ruangan itu pun hanya bisa mengembuskan napas sembari meringis seperti menahan sesuatu di sana. Cila menatap kerta di tangannya. Setelah mengantar minuman ke ruangan Flora, wanita ini segera kembali ke pantri. Dia penasaran siapa kira-kira yang mendapat kiriman bunga dari Reynart? Ah, kenapa dia jadi kepo dan merasa curiga begini? Cila pun menggelengkan kepalanya agar kembali normal. “Ada apa?” tanya Ele spontan tatkala melihat temannya yang bersikap aneh. “Ele … aku disuruh membeli bunga dan mengantarnya ke alamat ini. Bisakah kamu menemaniku?” Cila terpaksa berbohong kepada temannya sendiri. Padahal Reynart meminta office boy. Karena ingin mengetahui kebenarannya, jadi dia harus mengantar bunga tersebut sendiri. Ele mengangguk dan langsung meminta Cila bersiap pergi. “Ada pergerakan lagi?” tanya Reynart saat berkesempatan berbicara berdua dengan Elijah. Elijah mengangguk. “Ya. Semalam mendapat info lagi kalau mereka bergerak dan menyerang manusia untuk diambil ruh bayangannya. Itulah yang membuat mereka semua bertahan di sini,” jelas pria tersebut. Reynart pun mengangguk. “Haruskah kita memberitahu Wizard Berta?” “Menurutku kita tidak bisa mencampuri urusan dunia manusia dengan dunia lainnya. Selama dunia kita baik-baik saja, aku rasa kita tidak bisa bertindak lebih, Rey. Tapi, kalau mereka menyerang kelompok kita, barulah kita bisa menghubungi wizard tertua atau raja vampir sekalipun.” “Baiklah. Aku akan ikuti rencanamu, El. Tapi, pastikan dulu mereka tidak memusnahkan para manusia ini satu persatu. Meskipun dunia manusia tidak ada campur tangan kita, tetapi sebagai makhluk yang diciptakan dari kemurnian, kita harus paham perihal hak untuk bertahan hidup. Lagi pula dunia bayangan tidak ada dalam tatanan kehidupan kita. Mereka hanyalah benalu di sini.” “Kau benar, Rey. Aku akan meminta semua orang-orang kita bersiaga.” Reynart menuju ke kursinya, lalu mengambil secarik kertas yang mana itu adalah liontin yang pernah dirinya gambar. Elijah mempertahikannya dari jauh. “Apa Wizard Berta sudah memberitahumu tentang kalung liontin itu?” Reynart mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. “Itu bagus. Tapi, dilihat dari ekspresi wajahmu, sepertinya informasinya tidak begitu bagus bukan?” Sekali lagi pria ini pun mengangguk. “Kalung ini adalah peninggalan bangsa wizard yang sudah lama tak terlihat karena dicuri oleh sekelompok orang,” ungkap Reynart yang mengejutkan Elijah. “Lalu? Apa kau akan mengambil kalung itu lagi?” Reynart mengangguk. “Jadi … sebenarnya siapa orang yang memakai kalung itu?” tanya Elijah lebih lanjut. Reynart terdiam, dia belum mengungkapkan perihal sosok Cila. “El, aku lupa sesuatu. Bisakah kau menggantikanku meeting siang ini? Flora akan pergi bersamamu,” ucap Reynart yang mulai kembali mengalihkan pembicaraan. Elijah pun mengangguk di sana. Meninggalkan sosok Reynart yang masih bergelut dalam pikirannya, kini Cila dan Ele berdiri di sebuah rumah dengan taman kecil di depan rumah. Dan dari luar terlihat sepi, begitu juga dengan rumah-rumah lainnya. Ele menunggu di motor, sedangkan Cila mengantar langsung bunga yang berada di tangan. Cila memencet bel, menunggu beberapa saat hingga pintu pun terbuka dan menampilkan visual seorang pria. Cila mengernyit di tempatnya ketika mengenal pria tersebut. “Cila?” “Clif?” “Kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya pria itu dengan terkejut. Cila pun bingung sendiri ketika menemukan Clif di rumah tersebut. “Aku sedang mengantar bunga dari bos ku. Aku tidak tau untuk siapa bunganya, tetapi alamatnya benar di rumah ini,” jelas Cila yang memberikan bunga pemberian dari Reynart kepada pria itu. Clif pun melihat alamat yang diberikan oleh Cila, dan itu adalah benar. “Oh, mungkin ini untuk bibiku. Kebetulan ini adalah rumah bibiku,” jelas Clif di sana. Cila pun mengangguk paham. “Mau masuk dulu tidak?” tawar pria tersebut. Cila menggeleng. “Tidak usah, terima kasih banyak, Clif. Kebetulan aku bersama teman, dan kami harus kembali ke kantor secepatnya,” tolak Cila. “Baiklah. Terima kasih banyak, Cila.” “Sama-sama.” Cila pun berlalu pergi meninggalkan sosok Clif yang menatapnya dari jauh. Jadi rumah itu adalah rumah bibinya Clif. Sayang sekali Cila tidak bisa melihat langsung si pemilik rumah. Jadi saat kecelakaan terjadi apakah baik Reynart dan Clif tidak saling mengenali satu sama lain? Clif menutup pintu setelah memastikan Cila telah pergi. Dia membawa bucket bunga masuk ke dalam. “Siapa, Clif?” teriak seorang wanita yang berada di dapur. Bau harum dari kue pun tercium di sana. “Kiriman bunga, Bi. Dari siapa, Bi?” tanya Clif lebih lanjut. Ini adalah kali pertama dia tau sang bibi mendapat kiriman bunga. Terlebih lagi dari pria yang sempat dia bantu saat kecelakaan terjadi saat itu. Wanita yang tadinya sibuk dengan kue-kue pun mengambil alih bucket bunganya. Kemudian dia tersenyum lebar. Clif mengernyit tatkala melihat senyum di wajah sang bibi. “Dari siapa, Bi?” tanya Clif lagi. “Dari teman,” jawab wanita itu singkat. Clif pun menatap curiga. Sesampainya di kantor Cila masih memikirkan rumah bibi Clif tadi. Berkali-kali wanita ini mengembuskan napas beratnya. Cila menuju ke mesin air minum untuk membeli sekaleng minuman di kantin. Dia butuh yang dingin-dingin. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, wanita ini segera kembali ke arah pantri tempat biasa dia dan Ele berada. “Aww.” Cila memegangi bahunya karena tersenggol ketika berjalan. Dia menoleh dan seketika ekspresinya berubah menjadi masam. Itu Reynart, orang yang selalu membuat harinya menjadi buruk. Masih ingat perlakuan kasar pria yang merupakan mate nya itu, Cila pun mengabaikan Reynart. Pria tersebut pun mengernyit. “Hei!” panggil Reynart begitu saja. Langkah Cila terhenti, tetapi dia enggan berbalik. “Ke mari,” perintah pria ini kemudian. Cila berbalik dan berjalan lagi ke tempat Reynart berdiri. Dia sama sekali tak ingin menatap wajah pria itu. “Apa kau sudah mengatakan kepada office boy untuk membeli bunga?” tanyanya. “Ya. Saya sudah mengantarnya,” sahut Cila dengan sewot. Reynart mengernyit mendengar jawaban wanita ini. “Kau?” Seakan tersadar, Cila pun langsung meralat jawabannya. “Maksud saya adalah saya sudah meminta office boy untuk membeli dan mengirim bunga itu, Pak.” Reynart mengangguk. “Ya sudah. Kau bisa kembali bekerja.” Cila pun undur diri, sedangkan Reynart menuju ke arah parkiran, sepertinya hendak keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN