Sudah seminggu Venatici senior berada di Manhattan. Dan hari ini dia harus kembali ke Singapura untuk menjalankan perusahaan yang ada di sana. Rilla dan Theo mengantar Venatici senior ke bandara sesudah Theo hampir meledakkan kantor hanya gara-gara rapat di tunda sehingga Theo sama sekali terlambat untuk makan siang bersama Rilla.
“Aku harus menelpon klien sebentar. Dad, aku titip Carilla.”pamit Theo saat mendapat telpon dari Anas.
“Paman… Aku sudah memikirkan semuanya. Aku sudah membuat keputusan.”ucap Rilla begitu Theo menghilang dari pandangan mereka.
***
Theo dan Rilla langsung pulang ke rumah Theo begitu mengantar Venatici senior. Mereka sepakat untuk tidak tinggal di Silver Peak kalau Theo tidak sedang di luar negeri. “Apa setelah ini kamu ada acara?”tanya Rilla pelan saat Theo baru membukakan pintu untuk Rilla setelah sampai di rumah Theo.
Theo menatap Rilla dalam, dan kemudian tersenyum. “Tidak ada. Kenapa?”tanya Theo sambil menyesuaikan langkah dengan langkah Rilla saat masuk ke dalam rumah.
“Kencan yuk?”ajak Rilla yang langsung membuat Theo kaget.
Ada apa dengannya??bathin Theo bingung tapi masih sempat tersenyum lembut sambil mengangguk pelan. “Boleh.”sahut Theo cepat, “Dan ada hal penting yang ingin aku katakan sebelum semuanya terlambat.”
Rilla tersenyum, ”Kalau gitu, aku ganti baju dulu. Dan kamu gak mungkin kan ke taman hiburan pakai jas?”ujar Rilla riang lalu berlari menuju kamarnya.
Setengah jam kemudian kedua orang itu sudah sampai di taman hiburan yang dulu pernah mereka datangi saat Rilla sedang galau karena masalahnya dengan Cello. Lagi-lagi Rilla nyaris membuat Theo pingsan dengan terus-terusan mengajak Theo naik wahana yang ekstrim. Mereka baru keluar dari taman hiburan saat jam sudah menunjukkan jam makan malam. Theo membawa Rilla ke sebuah restoran Italy yang cukup mewah.
“Ada yang ingin aku katakan…”ujar Theo saat mereka sudah selesai memesan makanan.
“Apa?”tanya Rilla santai.
“Aku sudah lama menyuruh banyak orang untuk menyelidiki masalah ini. Bahkan sejak masalah ini mulai kudengar. Dan hasilnya tepat seperti yang aku perkirakan.”
“Theo… Tolong langsung aja. Aku sama sekali gak ngerti kalau kamu banyak basa basi seperti ini…”ujar Rilla pelan.
“Anak yang dikandung Miranda bukan anak Cello. Itu adalah anak Alex, dokter yang pernah merawatmu sekaligus yang menyebabkan kamu masuk rumah sakit.”ujar Theo pelan, cemas menunggu reaksi Rilla.
Rilla tersenyum lembut,”Aku sudah tahu. Lalu?”
Kali ini Theo yang terkejut. Dia memang tidak menyangka kalau Rilla sudah tau, tapi yang lebih tidak terduga adalah reaksi Rilla yang malah bertanya balik apa maksud Theo. “Kamu sudah tahu? Dari siapa?”
“Dee, dan itu sudah seminggu yang lalu.”
“Apa ini bukan masalah untukmu?”tanya Theo semakin cemas.
Rilla menggeleng pelan,”Tentu saja bukan masalah. Untuk apa aku mempermasalahkannya? Toh mereka sudah menikah. Pernikahan itu suci, Theo. Pernikahan bukan hal yang bisa dilakukan dengan kesepakatan dan kemudian dengan mudah dibatalkan.”
“Bukankah kamu masih mencintainya?”
Rilla menatap langsung mata Theo, ”Dulu aku selalu merasa kalau aku mencintainya. Aku selalu merasa kalau aku tidak dapat hidup tanpa Cello. Aku selalu meyakini kalau aku akan sedih tanpa Cello disisiku. Tapi aku sadar. Itu semua hanya ilusi. Aku sama sekali tidak mencintai Cello. Aku hanya terlalu bergantung akan keberadaannya di sisiku. Aku sadar kalau yang aku butuhkan dalam hidupku bukan Cello. Tapi kamu… Aku sadar kalau aku tidak bisa bertahan selama ini tanpa kamu yang selalu ada disisiku. Karena kamu selalu ada, makanya aku tidak pernah menyadari betapa pentingnya arti dirimu bagiku.”
Berkali-kali Theo mengerjapkan matanya dan menatap Rilla seolah gadis itu sudah gila. Namun telinga Theo masih bisa mendengar ucapan cinta Rilla. “Kamu bercanda kan?”tanya Theo shock.
Theo memang sangat memuja Rilla dan berharap mendapatkan cinta Rilla. Tapi Theo gak menyangka kalau semua itu bisa menjadi kenyataan.
“Aku gak pernah bercanda untuk masalah ini, Theo. Aku mencintaimu. Dan aku harap, walaupun hanya sedikit, masih ada sisa cintamu untukku.”
Theo langsung berdiri dan memeluk Rilla, ”Jangan bercanda, Carilla! Aku akan selalu mencintaimu walau sampai kiamat kamu tidak akan mencintaiku. Dan cinta yang akan aku berikan bukan sisa perasaanku. Tapi utuh dari awal hingga akhir.”serbu Theo.
Untuk merayakan itu semua, Theo langsung membuat pengumuman akan menanggung semua biaya makanan orang-orang yang sedang makan disana. Tentu saja itu menjadi berkah tersendiri bagi mereka yang sedang makan disana. Dan malamnya, Theo dan Rilla langsung pulang ke rumah.
Theo sudah bersiap untuk tidur saat dia mendengar teriakan Rilla tepat sesudah bunyi petir. Theo lupa kalau Rilla sangat takut dengan petir, pria itu langsung berlari ke kamar Rilla dan mendapati Rilla sedang meringkuk memeluk lututnya di bawah meja belajar.
“Carilla?”panggil Theo lembut, ”Kamu baik-baik saja?”tanya Theo lagi sambil menghampiri Rilla.
Gadis itu langsung memeluk Theo dan langsung melepaskan tangisnya,”Temani aku…”
“Iya. Sudah, jangan menangis lagi.”bujuk Theo lembut sambil menggendong Rilla dan menidurkannya di tempat tidur, tapi Rilla sama sekali tidak melepaskan pelukannya pada leher Theo. “Rilla?”
“Temani aku…”
“Iya. Tapi tolong lepaskan. Kamu harus tidur. Aku tidak akan kemana-mana.”
Rilla menatap Theo tanpa melepaskan tangannya, ”Kalau aku lepas, apa kamu akan tetap disini?”
“Iya. Sampai kamu tidur. Oke?”
Rilla terdiam, banyak hal yang dipikirkannya. “Cium aku.”ujar Rilla tenang.
“Apa?”tanya Theo tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Cium aku.”ulang Rilla lagi.
Ada apa dengannya?bathin Theo benar-benar bingung.
Melihat Theo yang tetap tidak menciumnya, Rilla langsung menarik kepala Theo mendekati wajahnya dan kemudian mencium Theo lama. Theo yang dari awal mencoba menahan diri, sekarang benar-benar kehilangan kendali dirinya. Semua control dirinya lepas kalau menyangkut Rilla. Theo membalas ciuman Rilla, dan memeluk gadis itu erat.
“Kau tahu? Aku tidak akan bisa berhenti walau kau memintanya.”gumam Theo di bibir Rilla.
“Aku tidak ingin kau berhenti…”balas Rilla serak.
***
Rilla terbangun pagi-pagi sekali. Dan saat menoleh ke samping, Rilla mendapati Theo masih tertidur lelap setelah semua yang terjadi tadi malam. Rilla sama sekali tidak menyesal dengan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Theo. Bahkan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya tidak terlalu penting lagi saat ini. Bagi Rilla ini adalah saat terakhirnya untuk menyimpan memori tentang Theo dalam ingatannya.
Rilla meraih bajunya yang berserakan di lantai dan kemudian mengenakan kaos longgar yang tadi malam digunakannya sebelum pergi ke kamar mandi. Rilla hanya sempat mencuci muka dan menggosok gigi. Dia harus pergi sebelum Theo bangun. Setelah selesai berpakaian, Rilla mengemas semua barang-barang yang menurutnya penting dan kemudian menulis sepucuk surat yang dia letakkan di atas bantal di sebelah Theo. Rilla mencium dahi Theo lembut sambil membisikkan betapa dia mencintai Theo.
***
Theo… Saat kamu membaca surat ini, aku mungkin sudah tidak berada di Manhattan lagi… Maaf kalau ini semua menyakitkan bagimu… Tapi aku harus melakukan ini semua… Jangan pernah berpikir kalau aku meninggalkanmu untuk kembali pada Cello… Aku tidak akan pernah kembali padanya… Aku pergi karena aku mencintaimu… Aku pergi untuk kebaikan kita bersama… Jangan pernah mencariku apapun alasannya… Kalau kamu mencariku, aku akan membencimu… Tolong, jangan buat rasa cinta ini menjadi benci… Selamat tinggal, Theo sayang… Aku akan selalu mencintaimu…
Carilla
Theo bersyukur saat itu dia hanya sendiri. Karena kalau saja ada seseorang saat itu bersamanya, Theo berani menjamin dia akan membunuh orang disampingnya itu. Theo sama sekali tidak percaya kalau semua keanehan tingkah laku Rilla kemarin karena gadis itu ingin meninggalkan Theo.
Theo langsung bergegas ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Dia langsung menelpon Ana, Matt, Stefan, Dee, atau siapapun yang memungkinkan mengetahui keberadaan Rilla. Tapi tidak satupun dari mereka yang mengetahui dimana Rilla atau sempat dihubungi oleh Rilla sebelum kepergiannya. Akhirnya dengan tekad penuh, Theo menghubungi Rissa, tapi jawaban yang sama juga keluar dari mulut Rissa.
BRUAK!!
Dengan kesal Theo menghempaskan ponselnya ke dinding. Theo langsung mandi dan bersiap mencari Rilla kemanapun yang dia bisa saat sebuah Mercy F400 Carving silver menghalangi jalan keluar mobilnya. Theo kenal siapa pemiliknya. Karena mobil itu adalah hadiah dari Theo saat sang pemilik berulang tahun. Matt turun dari mobilnya dan menyeret Theo keluar dari Ferrari Modena-nya.
“Jelaskan padaku apa yang terjadi!”bentak Matt yang sangat menyayangi Rilla.
“Aku sama sekali tidak tahu, Matt…”bisik Theo lirih.
BUG!!
“Bagaimana mungkin kau bisa tidak tahu, Matheo!”
“Pukul aku! Tinju aku! Bunuh aku! Kalau dengan begitu aku bisa bertemu Carilla! Lakukan Matt! Lakukan, Matthew Jonathan! Kalau Rilla tidak ada dalam hidupku, aku lebih baik mati!”
Matt benar-benar akan meninju Theo saat sebuah tangan menangkap tinju Matt. “Kalau kau lakukan itu, Matt… Aku bersumpah akan membalasnya berkali-kali lipat.”ujar Ana tegas.
“Bagaimana mungkin kau masih bisa membelanya, Ana!? Rilla tidak mungkin pergi begitu saja kalau dia tidak melakukan sesuatu! Rilla tidak punya tempat yang akan ditujunya!”bentak Matt kesal.
“Aku menyayangi Rilla juga Matt! Tapi lebih dari itu, aku menyayangi Theo! Jangan pernah melukainya dalam bentuk apapun kalau kau tidak ingin menjadi musuhku!”kecam Ana serius.
Matt menghempaskan tangan Anas, dan kemudian tetap mendekati Theo. Tapi tiba-tiba Matt berlutut di depan Theo sambil meninju lantai di bawahnya. “Aku menghormatimu! Aku memujamu! Aku mengidolakanmu! Bahkan aku lebih menyayangimu daripada Stefan! Tapi aku membenci semua yang mungkin telah kau lakukan hingga membuat Rilla pergi! Apa yang sudah kau lakukan padanya, Kak!?”ujar Matt setengah teriak.
Theo shock dengan semua kejadian yang menimpanya. Laki-laki itu berjalan mundur hingga menabrak mobilnya dan kemudian jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya. “Aku bahkan tidak bisa memikirkan apa yang sudah kulakukan hingga membuat Rilla pergi dariku! Semua orang menyayanginya! Tapi aku mencintainya! Semua orang menyukainya! Dan aku memujanya! Dia hidupku, Matthew Jonathan Venatici!”teriak Theo frustasi.
Ana memang baru sekali melihat Theo kehilangan kendalinya, tapi melihat Theo yang frustasi membuat Ana menyadari kalau Theo sang pangeran es juga seorang manusia. “Theo… Dengarkan aku. Masalah ini tidak akan pernah selesai kalau kamu hanya frustasi dan memikirkan semuanya saat dirimu dikendalikan oleh emosi. Lebih baik hari ini kamu tidak usah masuk kerja dan tenangkan diri dulu di rumah. Aku yakin kamu akan menemukan solusinya. Kami akan mencari Rilla sebisanya.”bujuk Anas sambil membantu Theo berdiri dan menggiringnya masuk ke rumah.