Rilla tidak tahu lagi apa yang ia rasakan saat ini pada Theo. Kesal? Kecewa? Marah? Benci? Entahlah. Belum sempat Rilla meletakkan ponsel ke atas meja, kini telpon rumah yang berdering.
“Hallo?”
“Carilla? Benar itu kamu?”
“Theo? Ada apa?”tanya Rilla bingung karena Theo menelpon ke rumah.
“Aku yang harusnya bertanya ada apa? Tadi kau menelpon dan mengatakan akan pergi bersama Cello. Dan sekarang kamu sudah di rumah. Yang benar saja. Masa kalian hanya pergi setengah jam. Atau jangan-jangan...”ucapan Theo menggantung, namun sedetik kemudian Theo kembali bicara, “Kalian tidak jadi pergi?”
“Ya begitulah. Cello mendadak telpon dan mengatakan kalau dia tidak bisa datang. Kami tidak jadi pergi.”
“Kamu sudah ganti baju?”
“Ha?”ucap Rilla spontan. Dia benar-benar bingung bagaimana pembicaraan tentang jadi tidaknya Rilla pergi berubah menjadi apakah Rilla sudah ganti baju atau belum.
“Maksudnya kamu sudah mengganti bajumu dengan baju rumah atau belum?”ulang Theo.
“Belum. Kenapa?”
“Bagus! Tunggu aku, 10 menit lagi aku sampai di rumah.”ujar Theo cepat dan langsung memutuskan telpon.
Apalagi ini? Apa yang akan dilakukannya?? Pikir Rilla.
Rilla benar-benar bingung harus melakukan apa. Baik Cello maupun Theo keduanya benar-benar membingungkan Rilla. Akhirnya Rilla memutuskan untuk menunggu Theo pulang sambil memainkan gadget di tangannya hingga waktu berlalu dengan cepat.
Dan benar saja, kurang dari 10 menit, Theo sudah berlari-lari memasuki rumah dan langsung menuju ke kamar Rilla.
“Carilla?”panggilnya pelan.
“Ya.”sahut Rilla sambil keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka.
Theo memperhatikan Rilla dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Sial! Kalau bukan tadi ingin jalan dengan Cello, Rilla tidak mungkin berdandan secantik ini...bathin Theo dan langsung menata kembali perasaannya.
“Jadi... Kenapa kamu tidak pergi?”tanya Theo sambil menghempaskan badannya di sofa di kamar Rilla.
Rilla bersandar di lemari rendah dekat jendela,”Cello bilang dia ada pekerjaan mendadak jadi dia tidak bisa pergi. Itu intinya.”sahut Rilla singkat. Malas menjelaskan dengan lengkap apa yang terjadi pada dirinya. Bagaimana aku menjelaskannya pada Theo? Oh ya, Theo, tadi Cello melamarku, lho. Tapi kemudian dia membatalkan janji kencannya denganku. Tidak mungkin! Miris sekali, bukan?pikir Rilla tanpa berani mengatakannya.
“Kamu masih ingin pergi?”tanya Theo serius.
“Terus kenapa?”
“Kalau kamu masih ingin pergi jalan-jalan, kita bisa pergi. Tapi kalau tidak, ya apa boleh buat.”ujar Theo sambil mengeluarkan dua lembar tiket taman hiburan, ”Terpaksa tiketnya dibuang saja...”sambung Theo sambil berpura-pura membuang dua lembar tiket taman bermain itu ke luar jendela.
Rilla langsung merampas kedua tiket itu dari tangan Theo, ”Eh jangan! Sayang kan? Kita pergi saja. Tapi aku tidak mau naik mobil, Theo. Aku benar-benar menghabiskan seluruh daya tahanku tadi.”
Theo tersenyum penuh kemenangan,”Oke! Kita naik motor. Ayo, pakai jaketmu!”ujar Theo sambil menarik tangan Rilla untuk mengikutinya.
Ternyata di dalam garasi rumah Theo, selain Porsche hitam pernah dibawanya ke rumah Rilla, dan Lexus Hybrid yang dipakainya tadi untuk mengantar kedua orangtua Rilla ke bandara, di sana masih tersimpan sebuah Ferrari Modena dan sebuah motor besar buatan Ducati.
“Ini punya kamu semua?”tanya Rilla kagum. Rilla tidak asing dengan kemewahan, hanya saja terlalu berlebihan kalau satu orang memiliki apa yang berjejer rapi di dalam garasi rumah Theo saat ini.
“Ya begitulah.”jawab Theo singkat sambil mendorong motornya keluar dari garasi.
Rilla tadi pagi memang sempat kagum dengan gaya mengemudi Theo yang membuatnya hanya merasakan pusing ringan, bukan langsung muntah-muntah seperti biasa. Tapi kali ini Rilla lebih kagum dengan gaya Theo membawa motor. Dan mereka sampai di taman hiburan tepat saat jam menunjukkan pukul 1 siang.
“Mau makan dulu atau main dulu?”tawar Theo setelah mereka mendapatkan parkiran motor.
“Main!”sahut Rilla yakin dengan semangat menggebu.
Theo hanya bisa tersenyum. Dia sudah tahu dari dulu kalau Rilla paling suka bermain di taman hiburan. Sebenarnya itu lebih dikarenakan kedua orangtuanya tidak pernah sempat membawanya bermain disana, dan Theo-lah orang pertama yang membawa Rilla main kesana.
Theo dan Rilla benar-benar menghabiskan waktu dengan bermain. Mereka menaiki segala sarana hiburan yang ada. Dan untuk yang terakhir, mereka naik jet coaster.
“Huek!”Theo memuntahkan semua isi perutnya walaupun dia sama sekali belum makan siang hingga saat ini.
“Ha ha ha ha! Ya ampun Theo! Dari dulu penyakit kamu tidak pernah berubah ya? Naik ini saja sampai muntah.”ejek Rilla begitu mereka turun.
Theo membasuh mukanya dengan air mineral dan membasahi sedikit rambutnya, yang membuatnya terlihat begitu tampan,”Bagus! Tertawa saja terus. Sudah senang belum?”tanya Theo kesal.
“Tentu saja sudah! Ha ha ha ha...”Rilla sama sekali tidak bisa berhenti tertawa. Dan akhirnya Theo juga tertawa bersama Rilla.
“Oke, berhenti dulu mainnya ya? Aku benar-benar harus makan kali ini. Semua isi dalam perutku sudah aku keluarkan. Lagipula, ini bukan waktunya makan siang. Ini lebih cocok disebut dengan makan malam.”ujar Theo sambil melirik ke jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Rilla mengangguk pasrah,”Iya iya. Aku akan bersikap baik sama kamu. Kasihan kamu...”ledek Rilla.
“Berhenti menggodaku atau aku cium?!”ancam Theo sambil berdiri.
Rilla berdiri mengikuti Theo dan menjauh beberapa langkah,”Coba aja cium! Ha ha ha ha... Udah besar masih takut naik jet coaster.”ejek Rilla yang langsung berlari menjauhi Theo.
Theo mengejar Rilla dan dalam sekejap Rilla sudah tertangkap,”Ayo bilang lagi...”desak Theo sambil memeluk Rilla erat-erat.
“Peace... Damai ya?”bujuk Rilla sambil tersenyum manis.
“Tidak akan. Aku mau cium kamu. Siapa suruh mengejekku?”ucap Theo pelan sambil merendahkan kepalanya, bersiap untuk mencium Rilla.
Tepat saat Rilla menutup kedua matanya, Theo langsung tertawa terbahak-bahak,”Maaf deh. Tapi aku jadi tidak berniat untuk mencium kamu. Aku seperti pedofillia.”ucap Theo di sela-sela tawanya.
Rilla merasa kalau wajahnya memerah dan dia langsung melepaskan diri dari Theo, menjauh sambil setengah berlari.
“Carilla!!”panggil Theo bingung melihat reaksi Rilla,”Carilla, maaf! Aku sama sekali tidak berniat mempermainkanmu.”bujuk Theo sambil menarik pergelangan tangan Rilla.
“Puas balas dendamnya? Puas buat aku malu?”tanya Rilla kesal.
Theo menggeleng,”Aku sama sekali tidak berniat balas dendam.”
“Lalu yang tadi apa kalau bukan balas dendam? Kau sengaja menggodaku, bukan?”
Theo tersenyum, lalu dengan lembut mengecup dahi Rilla,”Ini maksudnya... Kamu-nya saja yang pakai tutup mata.”sahut Theo lalu tersenyum,”Mana bisa aku balas dendam sama kamu.”
Belum sempat Rilla membalas ucapan Theo, sebuah suara memanggil namanya,”Rilla? Kamu beneran Rilla kan?”tanya suara nyaring itu.
“Cecil?”ucap Rilla tidak percaya.
“Rilla!”seru si pemilik suara langsung memeluk Rilla tanpa memperdulikan Theo,”Aku rindu sekali sama kamu!”
Rilla membalas pelukan sahabat baiknya itu,”Aku juga. Aku juga rindu sekali padamu.”
“Dia siapa? Pacar kamu ya?”tanya si pemilik suara nyaring yang bernama Cecilia itu sambil memperhatikan Theo.
“Ya ampun! Masa kamu tidak ingat? Ini Theo! Matheo Venatici!”
Cecil menatap Theo baik-baik sehingga membuat Theo jengah,”Apa sih? Jangan sampai seperti itu melihatnya kenapa?”tegur Theo.
“Aku ingat! Cuma satu orang yang bisa memandang dengan tatapan merendahkan seperti itu! Jadi kamu pacaran sama Theo?”
“Bukan! Kami cuma jalan-jalan saja.”ralat Rilla.
“Dengar ya, pendek, aku sama Rilla itu tidak pacaran. Pacarnya Rilla itu namanya Cello.”sambung Theo sambil mengacak-acak rambut Cecil.
“Jangan_Panggil_Aku_Pendek!”sergah Cecil marah.
Rilla, Rissa, Theo, dan Cecil adalah teman masa kecil. Rissa, Theo, dan Cecil seusia, hanya Rilla yang lebih muda hampir 10 tahun dari mereka. Tapi itu bukan masalah. Bagi ketiganya, tanpa kehadiran Rilla, suasana akan terasa hampa. Walaupun begitu, sampai Mereka bertiga berumur 17 tahun dan Rilla baru 7 tahun, Cecil memiliki tinggi yang sama dengan Rilla, dan saat Rilla tamat SMP, dia sudah lebih tinggi dari Cecil. Karena itulah Cecil sering di ejek oleh Theo dengan sebutan ‘Pendek’, dan Rissa lebih sering dipanggil ‘Ibu Tiri’ karena sifatnya yang suka mengatur, sedangkan Rilla hanya diberi julukan ‘Princess’ oleh Cecil dan Rissa. Theo sendiri sama sekali tidak mempunyai julukan, karena semua yang dilakukannya dari dulu hingga sekarang selalu sempurna dan penampilan fisiknya juga mendukung. Dan walaupun ketiganya tahu kalau Theo takut ketinggian dan tidak bisa naik jet coaster, tidak ada seorangpun diantara mereka yang berani mengejek Theo saat itu, karena Theo akan mengumumkan ke seluruh penghuni kompleks semua kejelekan yang mereka miliki.
“Oke Oke… Maaf. Tapi aku ingin bertanya sesuatu pada kamu, Cil.”ujar Theo pelan.
Cecil menelengkan kepalanya,”Apa?”tanya-nya heran karena baru kali ini Theo meminta izin padanya untuk melakukan sesuatu.
“Apa kamu sama sekali tidak berniat memperkenalkan laki-laki ini pada kami??”tanya Theo sambil menuding seorang pria yang cukup tampan yang berdiri sambil tersenyum penuh kehangatan pada Cecil.
Cecil dengan cepat langsung berbalik dan menggandeng tangan pria itu dengan semangat,”Astaga, aku lupa”serunya cepat,”Ini Dennis, dia calon suamiku. Kami akan menikah seminggu lagi. Dan karena kita kebetulan bertemu disini, aku akan langsung mengundangmu. Akan terasa sangat tidak sopan kalau aku mengundangmu dengan memakai undangan sedangkan kita sudah seperti saudara. Kamu tidak keberatan, kan, sayang?”
Pria bernama Dennis itu tersenyum,”Tentu saja. Apapun yang bisa membahagiakanmu akan kulakukan. Dan aku juga berharap kamu mau mengundang tamu kehormatan kita yang satu ini. Dia rekan bisnisku yang sangat berharga.”ujar Dennis sambil melirik Theo.
“Kalian sudah saling kenal?”tanya Rilla dan Cecil serentak.
Theo meninju bahu Dennis pelan,”Sialan. Apa kau tidak bisa berakting lebih lama lagi, bodoh?”tegur Theo.
“Tidak kalau itu akan menyenangkanmu. Kau sudah membatalkan rapat dengan tiba-tiba hari ini. Walaupun aku juga harus berterima kasih karena dengan begitu aku bisa menghabiskan waktu dengan Cecil.”
“Kamu ada rapat hari ini?”tanya Rilla tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Bukan masalah. Itu masih bisa di tunda. Dan satu lagi, apa kalian semua akan terus berbicara sambil berdiri di tengah jalan seperti ini? Aku benar-benar sudah lapar. Aku bisa merasakan kalau lima menit lagi kalian masih ada disini, aku akan mati kelaparan.”sahut Theo ringan.
Dennis tertawa pelan,”Baiklah. Ayo kita makan bersama. Aku rasa dia benar-benar akan segera mati kalau kamu tidak segera memberinya makan, Rilla…”
Dengan segera keempat orang itu berjalan bersama ke restoran terdekat. Dan mereka memesan meja yang cukup VIP untuk sekedar makan malam biasa. Setelah memesan semua makanan yang ingin mereka makan, Cecil kembali membuka pembicaraan.
“Jadi, kalau kamu dan Theo tidak pacaran, dimana pacarmu yang sebenarnya?”tanya Cecil menyelidiki.
Rilla berusaha tersenyum,”Cello ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa ditinggalkannya.”sahut Rilla tenang.
“Cello? Maksudmu Marcello Seirios?”tanya Dennis tiba-tiba menyela tepat saat Cecil ingin memprotes.
“Kamu kenal Cello?”tanya Rilla agak kaget.
Dennis tersenyum,”Oh tentu! Dia hampir sama terkenalnya dengan pria di sampingmu itu. Aku rasa dia memang harus bekerja ekstra keras, karena kudengar perusahaannya sedang berusaha agar bisa menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan asing yang dipimpin seorang wanita. Dan kalau aku tidak salah, wanita itu sedang berkunjung ke sini, ke Manhattan.”jelas Dennis.
“Sayang… Darimana kamu tahu sebanyak itu? Jangan-jangan kau memiliki kerja sampingan sebagai penggosip, ya?”tanya Cecil penasaran.
Dennis hanya tersenyum penuh kasih pada Cecil. “Untuk menghindari persaingan tidak seimbang dengan perusahaan Seirios, makanya kami menjalin kerjasama dengan perusahaan Venatici.”
“Eghem eghem… Bisakah kita menghindari membicarakan masalah pekerjaan saat ini?”tanya Theo pelan,”Karena aku yakin kalau kalian membahas perusahaanku, itu artinya kalian akan membahas semua kehebatanku. Itu hanya akan membuatku teringat kembali dengan semua keberhasilan yang telah lama yang pernah kuraih.”lanjutnya percaya diri.
“AUW!!”teriak Theo tertahan saat kakinya dipijak oleh Rilla,”Sakit tahu…”
“Rasakan! Siapa yang suruh bersikap sombong di depanku.”ujar Rilla santai lalu tersenyum penuh kemenangan.
“Permisi…”sela sebuah suara yang ternyata milik pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
Dan dalam sekejap, tidak lagi terdengar suara dari meja Rilla dan yang lain. Keempatnya terlalu sibuk memanjakan diri mereka dengan makanan sampai tidak seorangpun yang menyadari kalau Cello baru saja datang dan duduk tepat di belakang Rilla.
“Dengar Miranda. Cukup semua keegoisanmu beberapa hari ini. Kau selalu mengatas namakan pekerjaan untuk menahanku. Aku juga punya kehidupan pribadi. Dan semua alasan yang kau katakan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.”tegur Cello pada seorang wanita cantik di hadapannya.
Wanita itu tersenyum anggun,”Aku tahu kalau kau punya kehidupan pribadi. Dan aku juga tahu kalau kau juga mempunyai kekasih. Tapi aku tidak menginginkan itu. Aku sama sekali tidak menyukai kenyataan kalau kau mempunyai kekasih selain aku.”ujar wanita bernama Miranda itu pelan tapi cukup tegas.
“Kau bukan kekasihku lagi saat kau pergi meninggalkanku 5 tahun yang lalu. Kau menghilang, Miranda. Dan Rilla hadir mengobati luka yang kau tinggalkan. Dan dia sama sekali tidak berhak untuk mendapatkan luka yang sama dengan yang kau berikan padaku.”desis Cello geram.
“Cukup, Cello sayang. Aku tahu kalau kau sebenarnya masih mencintai aku. Kau hanya tidak ingin menyakiti gadis itu. Tapi itu bukan masalah. Seiring berjalannya waktu, kau akan kembali padaku dan gadis itu tidak akan terluka saat kau tinggalkan.”tegas Miranda,”Aku ingin makan malam dengan tenang. Tidak ada lagi pembahasan tentang apapun.”lanjut Miranda angkuh.
Cello hanya dia memandang wanita yang lebih tua 3 tahun darinya ini. Wanita yang pernah dicintainya bertahun-tahun yang lalu, sebelum wanita itu meninggalkannya begitu saja tanpa berkata apapun dengan hati hancur.
Sementara itu di meja Rilla dan yang lain, Cecil kembali memulai pembicaraan.
“Dengar, Rilla. Aku sama sekali tidak mengenal siapa itu Cello. Jadi aku ingin mengetahui apa pendapat Rissa tentangnya?”
“Rissa menyukainya.”sahut Rilla yakin. Cukup menyukainya aku rasa,lanjut Rilla dalam hati.
“Bagaimana denganmu Theo?”tanya Cecil lagi.
Theo tersenyum,”No comment. Aku tidak akan memberikan komentar apapun. Ini hidup Rilla.”
“Aku hanya ingin yang terbaik untuknya dan tidak seorangpun yang mendukungku?”tanya Cecil sengit.
Rilla tertawa merdu,”Kamu tahu, sikapmu ini lebih parah dari sikap Rissa saat tahu kalau aku memiliki pacar, dan kamu lebih emosional dari Mom saat aku membawa Cello bertemu dengannya. Pokoknya semua orang bereaksi terlalu berlebihan saat aku menyatakan kalau aku punya pacar. Hanya Theo yang menghadapinya dengan tenang.”ujar Rilla geli sambil mengingat semua peristiwa yang terjadi 3 tahun yang lalu.
Cello benar-benar tidak bermimpi mendengar suara Rilla. Tadi dia memang meyakinkan dirinya kalau itu hanya ilusi, tapi saat ini itu tidak mungkin ilusi. Hanya Rilla yang mempunyai tawa semerdu itu. Hanya Rilla yang bisa membuat jantung Cello berdetak lebih cepat, dan Cello sangat merindukan suara tawanya setelah sekian lama.
Cello langsung memalingkan wajahnya ke belakang, dan dia langsung mengenali sosok belakang Rilla,”Rilla?”panggilnya pelan.
Rilla merasa sangat mengenal suara yang memanggil namanya, dengan cepat dia langsung berbalik ke belakang dan mendapati wajah Cello menatapnya bingung.
“Cello?”ucap Rilla tidak percaya.