Runaway

3064 Kata
Setelah tidak tidur semalaman, akhirnya Cello baru bisa tidur saat jam sudah menunjukkan pukul 4.45 pagi. Dan dia terbangun saat alarm jamnya sudah menunjukkan pukul sepuluh. “Oh tidak!”teriak Cello sambil melompat dari tempat tidurnya dan langsung berlari ke kamar mandi. Hari ini adalah hari dimana Cello berhasil memecahkan rekor mandi-nya sendiri yang selama ini selalu berkisar di atas 30 menit. Dengan cepat Cello langsung memakai setelan kerjanya dan hanya dengan meminum kopi yang dibuat oleh pembantunya, Cello langsung menaiki mobilnya. Dan 15 menit kemudian, Cello sudah tiba di tempat tujuannya, rumah Theo. Cello cemas menanti reaksi Rilla, tapi dia akan menerima apapun yang Rilla katakan asal bukan berpisah darinya. Cello menekan bel beberapa kali tapi tidak ada yang membuka pintu atau menjawab intercom. Cello menelpon ke ponsel Rilla dan ternyata ponselnya mati. Cello bahkan menelpon ke telpon rumah dan tetap saja tidak ada yang mengangkat telpon. Cello benar-benar cemas, dia takut sesuatu terjadi pada Rilla dan hal terakhir yang ingin dilihat Cello adalah melihat Rilla terluka_dalam bentuk apapun. Cello kembali menaiki mobilnya dan kemudian mengemudikannya menuju sebuah sekolah swasta terkenal di Manhattan. Cello sama sekali tidak memarkir mobilnya di tempat parkir sekolahan, dia malah memarkir mobilnya tepat di depan pintu lobby sekolah dan langsung turun untuk menemui kepala sekolah. Setelah menadapat izin untuk bertemu dengan kepala sekolah, Cello langsung masuk ke dalam ruangan besar itu tanpa membuang waktu sedikitpun. “Ada yang bisa saya bantu?”tanya seorang pria tua tapi masih jelas terlihat kalau pria itu sangat berkharisma. “Saya hanya ingin bertemu dengan Carilla Marlock-Houston. Bisakah anda memanggilkan dia?” Pria tua itu menatap Cello cukup lama sebelum kemudian bertanya,”Kalau saya boleh tahu, siapa anda hingga untuk bertemu dengannya anda sampai menemui saya?” “Saya kekasihnya. Dan ada hal penting yang harus saya katakan padanya. Saya mohon anda mau bekerja sama.”ujar Cello serius dan tanpa berniat ingin menyembunyikan hubungan mereka yang sebenarnya. Mr. Tamreo berjalan ke balik meja kerjanya dan kemudian duduk,”Bukan saya tidak ingin berkerja sama dengan anda. Tapi masalahnya adalah saya sama sekali tidak dapat membantu apa-apa dalam hal ini. Ms. Carilla Marlock-Houston sedang tidak berada di sekolah saat ini. Dan dia tidak akan masuk sampai minggu depan. Wali-nya yang menelpon dan meminta izin ke pihak sekolah.” Cello tanpa sadar langsung menggebrak meja di hadapan Mr. Tamreo,”Apa maksud anda!? Anda baru saja mengatakan kalau Rilla tidak akan masuk sampai minggu depan? Yang benar saja!? Sebenarnya kemana dia pergi?”tanya Cello cepat tanpa memperdulikan intonasi suaranya yang biasanya tenang kini mulai meninggi. “Saya tidak tahu kemana Ms. Houston pergi. Dan seharusnya sebagai kekasih_seperti yang anda akui_anda lebih tahu kemana kekasih anda pergi. Bukan marah-marah di sekolahnya seperti saat ini.”tegurnya. Cello sama sekali tidak memperdulikan ucapan Mr. Tamreo karena setelah menggebrak meja, Cello langsung pergi dari ruang kepala sekolah. Cello kembali mengemudikan mobilnya dan kali ini tujuannya adalah sebuah gedung pencakar langit yang begitu megah di Manhattan, dan sebenarnya, Cello sama sekali tidak ingin menginjakkan kaki di gedung tersebut kalau bukan ingin mencari Rilla, jadi dengan kesungguhan hati, Cello harus menginjakkan kakinya di kantor pusat Venatici Group, Silver Peak. “Ada yang bisa kami bantu?”tanya seorang wanita cantik yang berdiri di meja resepsionis begitu Cello sampai di depan mejanya. “Saya ingin bertemu dengan Matheo. Apa dia ada?”tanya Cello cepat. “Anda siapa?”ujar wanita itu balik bertanya. “Saya Marcello Seirios.” “Oh, maaf Mr. Seirios, anda tidak bisa menemui Mr. Venatici kalau anda belum membuat janji. Apa anda ingin membuat janji temu dengan Mr. Venatici sekarang?” “Yang benar saja! Aku benar-benar harus bertemu dengannya sekarang! Dengan janji ataupun tidak!”sergah Cello murka setelah semua yang dilaluinya hari ini. “Anda tidak bisa menemui Mr. Venatici!”balas wanita itu tidak kalah tegas sementara teman di sebelahnya baru saja menutup telpon. Tepat saat Cello hendak berjalan ke arah lift, sebuah tangan menahan bahunya,”Tunggu dulu.”ujar si pemilik tangan. Cello langsung membalik badannya,”Apa mau anda?”tanya Cello kesal. Pria berkulit gelap yang lebih tinggi dari Cello itu mengulurkan tangannya,”Saya wakil Presiden Direktur, Mark O’Neill. Saya harap anda mau bicara dengan saya di ruangan saya. Bagaimana?”tanya Mark ramah. “Saya ingin bertemu dengan Theo, apapun alasannya saya harus bertemu dengannya hari ini.” “Anda tidak akan bisa menemui Presdir hari ini. Jadi kalau anda memang punya masalah yang penting, anda bisa memberitahunya di ruangan saya. Saya berjanji akan segera memberitahukannya pada Presdir.” Cello sebenarnya hanya ingin bertemu dengan Theo, tapi dia merasa kalau dia akan bisa bertemu dengan Theo kalau mengikuti Mark, jadi walaupun dengan berat hati, Cello mengikuti Mark memasuki lift yang berlawanan dengan lift yang ingin dimasukinya tadi. Selama di dalam lift, mereka berdua sama sekali tidak ada saling bicara, sampai akhirnya lift berhenti di lantai 43. “Silakan.”ujar Mark sambil memberi jalan pada Cello untuk keluar dari lift terlebih dahulu. Cello dengan malas melangkahkan kakinya keluar dari lift yang otomatis langsung menginjakkan kakinya di sebuah ruangan besar berbentuk bulat dengan banyak sekali lukisan di sekelilingnya. “Mari…”ucap Mark tiba-tiba yang sudah berdiri di sisi Cello dan kemudian berjalan pelan ke sebuah ruangan di balik pintu kedua dari empat pintu yang ada disana. Ruang kerja Mark akan lebih tepat disebut dengan ‘kamar’ dari pada ruang kerja. Di sudut ruangan terdapat sebuah sofa panjang yang sebenarnya memang digunakan untuk tidur, selain itu juga ada satu set sofa besar, lemari berpintu enam di salah satu sisi ruangan, televisi ukuran besar lengkap dengan stereo set-nya, lemari arsip berpintu tiga dan sebuah lemari buku yang menutupi sisi dinding yang lain. Ruangan Mark bahkan bisa dibilang lebih mewah dari ruang kerja Cello sendiri. “Jadi, dimana Theo? Aku benar-benar harus bertemu dengannya.” Mark menghempaskan badannya di salah satu sofa tunggal disana,”Presdir sedang tidak ada di tempat. Beliau pergi dan baru akan kembali akhir minggu nanti.”jelas Mark. “Kenapa resepsionis itu tidak mengatakan apa-apa padaku!?”sergah Cello kesal. Mark tersenyum sehingga membuatnya terlihat begitu tampan,”Hanya orang di lantai ini yang tahu Presdir ada di tempat atau tidak. Presdir tidak pernah turun untuk menangani masalah perusahaan. Setiap klien kami akan diminta naik langsung ke lantai ini atau ke lantai pribadi Presdir di lantai 47 kalau itu yang diinginkannya.” “Bagaimana mungkin Theo bisa menangani perusahaan tapi dia sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan karyawannya?” “Presdir selalu berinteraksi dengan karyawannya setiap hari.” “Oke terserah dia mau berinteraksi dengan karyawannya atau tidak tapi yang jelas dimana dia sekarang?!” Mark menggeleng pelan lalu berdiri dan berjalan ke mejanya kemudian menelpon seseorang, setelah meletakkan telpon kembali ke tempatnya barulah Mark duduk lagi di tempatnya semula,”Tidak ada yang tahu kemana Presdir pergi. Dia memiliki orang kepercayaan sendiri yang mengatur segala sesuatunya.” “Kau wakilnya tapi kau tidak tahu kemana pimpinan kalian pergi!?” “Benar. Saya memang wakilnya disini, tapi itu bukan berarti saya harus mengetahui apapun yang beliau lakukan setiap harinya. Dan kali ini saya yang akan bertanya pada Anda, apa tujuan anda mencari Presdir?” “Aku ingin menanyakan keberadaan kekasihku padanya.”sahut Cello yang langsung berdiri,”Dan kalau ada kabar dari Theo aku minta kalian menghubungiku segera.”lanjut Cello sebelum keluar dari ruangan Mark. “Keras kepala…”gumam Mark sambil berpindah ke sofa panjang dan menaikkan kakinya hingga seluruh tubuhnya kini berada di atas sofa. Mark baru saja akan memejamkan matanya saat pintu ruangannya diketuk seseorang. “Masuk.”ujar Mark enggan karena dia benar-benar ingin beristirahat. Pintu terbuka dan seorang wanita berambut pendek dengan mengenakan blazer kuning gading masuk ke dalam ruangan Mark dengan anggun. “Ada masalah apa?”tanya wanita itu sambil duduk di tempat yang tadinya di duduki oleh Mark. Mark seketika langsung duduk dengan rapi,”Maaf sudah mengganggu Anda, Mrs. Wright. Tapi beberapa saat yang lalu Marcello Seirios berkeras ingin bertemu dengan Presdir.” “Lalu apa yang kau katakan?”tanya wanita bernama lengkap Anastasya Albight-Wright itu. “Saya hanya mengatakan apa yang biasanya saya katakana. Presdir sedang tidak ada di tempat dan tidak seorangpun yang mengetahui keberadaannya.”sahut Mark sopan. Ana tersenyum,”Bagus. Aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu kemana si biang repot itu pergi. Dia hanya menelpon dan meminta jadwalnya minggu ini di batalkan dan memesan 2 tiket perjalanan ke Italy.”jelas Ana,”Oh ya, Mark… Bisakah kau membuatkanku secangkir kopi kental?”tanya Anas kemudian. “Baiklah.”sahut Mark cepat sambil berjalan ke luar ruangannya. Walaupun Mark O’Neill adalah wakil Presiden Direktur, tapi sebenarnya Anastasya Albigt-Wright memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Mark, karena Ana adalah tangan kanan langsung dari Theo yang tidak memiliki jabatan tetap di perusahaan, Ana akan menjabat jadi wakil Theo kalau Theo menginginkannya, bahkan untuk saat-saat seperti ini, saat Theo meninggalkan perusahaan hanya untuk liburan atau tanpa alasan yang jelas, Ana-lah yang akan menggantikan posisi Theo sebagai Presiden Direktur. Anastasya Albigt-Wright sesungguhnya adalah anak perempuan yang pernah ditolong Theo saat Theo berumur 10 tahun di Washington dalam sebuah peristiwa kebakaran besar, saat itu Ana berumur 12 tahun, dan sejak saat itu Ana di rawat oleh sebuah keluarga yang kepala keluarganya pernah bekerja di bawah kepemimpinan ayah Theo. “Jadi Mrs. Wright, bisakah anda menghubungi Presdir dan mengatakan kalau Tuan Muda keluarga Seirios datang mencarinya?”tanya Mark sambil meletakkan secangkir kopi kental di meja di hadapan Ana. Ana mengambil kopi itu dan meniupnya pelan, ”Langsung menghubunginya mungkin tidak akan bisa karena setiap Theo memutuskan untuk pergi tanpa memberitahukan pada siapapun, itu tandanya dia memang tidak ingin diketahui oleh siapapun dan berhubungan dengan siapapun apapun alasannya. Tapi akan kuusahakan untuk menghubungi Caren, karena hanya Caren-lah yang tahu bagaimana cara menghubungi Theo kalau dia sedang menghilang seperti ini.”sahut Ana sebelum menyesap kopinya. Dan setelah menghabiskan kopinya, Ana kemudian pergi. Kembali ke lantai 45 ke ruangan pribadinya. Ana meraih telpon di atas meja kerjanya dan menekan nomor telpon seseorang. Panggilan Ana dijawab pada deringan ketiga. “Hallo Caren.”sapa Ana saat telpon di seberang di angkat. “Anastasya?”tanya suara itu tidak percaya. “Ya, ini aku, Ana. Apa kau tahu dimana Theo, Caren?”tanya Ana langsung tanpa merasa perlu untuk berbasa-basi. “Bukannya dia bekerja di Manhattan?” “Sayangnya tidak, dia kembali menghilang.”gumam Ana enggan. “Anak itu… Apa kau punya ide kemana dia akan pergi?” “Mungkin ke Italy, karena sebelumnya dia minta dua tiket untuk perjalanan ke Roma.” “Kapan berangkatnya?” “Tadi pagi.” Caren terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Mungkin aku baru bisa menghubunginya nanti malam, karena aku yakin sekarang dia sedang berada di dalam pesawat.” “Terima kasih sudah mau membantu, Caren.” “Bukan masalah. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku mohon kau tetap bersamanya dan menjaganya. Tidak ada seorangpun yang bisa membaca pikiran Theo dan tidak ada seorangpun yang bisa mengaturnya.” “Tapi kau bisa, Caren. Theo tidak pernah menolak melakukan sesuatu kalau kau yang memintanya.” “Kau salah. Bukan aku. Tapi gadis kecil itu, Ana. Hanya dia yang bisa mempengaruhi orang sekeras Theo. Hanya gadis kecil kesayanganku itu yang bisa melakukannya.” “Tunggu dulu! Kalau maksudmu itu Carilla Anabell, aku curiga jangan-jangan dia pergi bersama Theo?” “Mungkin saja kan? Theo selalu impulsif kalau menyangkut gadis kecilku itu.” “Dasar. Tapi ya sudahlah. Aku benar-benar berharap kau dapat mengetahui dimana Theo berada, dan kalau kau sudah tahu, tolong sampaikan padanya agar segera menghubungiku.” “Aku tidak yakin dia mau menghubungimu. Memangnya ada masalah apa?” “Tuan Muda keluarga Seirios datang mencari kekasihnya. Dan dia mencari Theo.” “Apa hubungannya dengan Theo? Apa dia merebut kekasih orang? Apa dia memilih menjadi pria jahat?”tanya Caren cepat. “Aku juga tidak tahu. Makanya itu yang ingin aku tanyakan pada Theo. Tapi kalau kau bersedia tolong tanyakan hal itu dan beritahu padaku agar aku bisa menjawab dengan tepat kalau anak muda itu datang lagi.” “Akan kuusahakan.”gumam Caren pelan. “Kita sama-sama tahu kalau Theo itu bisa menjadi orang yang sulit. Dia hanya akan diketahui keberadaannya kalau dia memang ingin ditemukan.” Ana mengangguk setuju. Terkadang dia sendiri juga berpikir jangan-jangan Theo itu makhluk gaib mengingat dia bisa menghilang tanpa jejak kapanpun dia inginkan. “Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu di Indonesia?” “Baik. Matahari selalu bersinar setiap hari. Tidak ada salju dan musim gugur. Hanya ada musim hujan dan musim kemarau. Aku sarankan agar kau juga mencoba untuk liburan kesini, kau pasti akan menyukainya.” “Suatu saat nanti. Kalau begitu maaf sudah mengganggumu. Selamat siang…” KLIK. Sementara itu Cello sudah sampai di kantornya dan duduk dengan termenung. Dia sudah tidak tahu harus mencari kemana lagi. Cello sudah mendatangi semua tempat yang mungkin didatangi Rilla namun hasilnya nihil. Rilla seolah lenyap ditelan bumi. Rilla belum pernah menghilang seperti ini. Apa yang harus aku lakukan?? Aku seharusnya tidak menjalin hubungan walau hanya rekan bisnis dengan Miranda. Yang aku cintai sekarang hanya Rilla, dan untuk selamanya. Aku harus mengatakan ini pada Dad agar dia yang menangani Miranda. Aku rela kalau harus memutuskan hubungan kerja dengan perusahaan sebesar perusahaan Miranda asal aku tidak kehilangan Rilla seperti ini. Kerugian itu bisa kuganti dengan mencari perusahaan lain, namun Rilla? Tidak ada satupun di dunia ini yang bisa menggantikannya. Aku tidak peduli kalau dia marah atau benci sekalipun padaku, tapi aku paling tidak tahan kalau tidak mengetahui keberadaannya seperti ini…bathin Cello sesaat sebelum pintu ruangannya terbuka. “Miranda! Apa yang kau lakukan?! Ini ruanganku dan seharusnya kau mengetuknya terlebih dahulu sebelum masuk begitu saja.”sergah Cello saat melihat Miranda melangkah masuk ke dalam ruangannya seolah ruangan itu miliknya. “Ayolah Cello… Jangan terlalu kasar seperti itu padaku. Padahal dulu kau sama sekali tidak pernah berkata dengan suara keras padaku apalagi sampai kasar seperti ini. Apa kita bisa jalan-jalan sekarang?”tanya Miranda santai sambil mendekati kursi Cello dan mencoba untuk menciumnya. “Jangan macam-macam! Dan jangan coba-coba mengungkit masa lalu. Itu semua sudah berakhir, kini kau tidak ada artinya dalam hidupku.”sergah Theo. “Ah sayang sekali… Padahal kau pernah mengatakan kalau aku cinta pertamamu bukan? Apa secepat itu kau melupakanku?”tanya Miranda. “Ya. Dan aku minta kau segera pergi dari ruanganku! Hari ini aku sama sekali tidak berniat pergi kemanapun denganmu!”tukas Cello. “Wah wah sayang sekali ya? Padahal aku berniat memberitahukanmu sebuah berita tentang kekasihmu kalau kau bersedia menemaniku menghabiskan hari ini. Tapi kalau kau memang menolaknya, ya apa boleh buat. Aku pergi du…” “Tunggu!”cegah Cello sambil menarik pergelangan tangan Miranda,”Berita apa yang kau maksud?”tanya Cello cepat. “Bersedia menemaniku atau tidak?”tanya Miranda. Cello terdiam sesaat sebelum berjalan ke tempat dia menggantung jas-nya,”Baiklah.”sahut Cello terpaksa. Mendengar jawaban Cello itu, Miranda tersenyum penuh kemenangan. Theo baru saja selesai melakukan pemeriksaan sebelum keluar dari bandara saat ponselnya berbunyi. Theo menatap Rilla dengan tatapan menyesal. “Theo… Kamu bilang tidak akan ada gangguan minggu ini. Lalu apa itu?”tanya Rilla kesal. Theo tersenyum lembut,”Ini ponsel yang nomornya hanya kamu dan Mommy yang tahu. Kalau kamu saat ini sedang bersamaku, berarti hanya tinggal satu orang yang bisa melakukan hal ini.”sahut Theo lembut,”Hallo Mom?” “Theo, sayangku… Kamu ada dimana, anakku?” “Di Italy bersama Carilla. Ada apa Mom?” “Ada Rilla disana?” “Ya. Mom mau bicara dengannya?” “Tentu saja, mana gadis kecilku itu?” “Mom… Carilla bukan gadis kecil lagi.”tegur Theo lembut,”Mom ingin bicara denganmu.”ujar Theo sambil menyerahkan ponselnya pada Rilla. “Hallo, Caren. Apa kabar?”sapa Rilla lembut. Bagi Rilla, Caren sudah seperti ibunya sendiri karena perhatian yang diberikan Caren sebelum dia menikah lagi dengan seorang pria keturunan Indonesia dan pindah kesana setahun yang lalu. Dan Rilla menyayangi ibu Theo itu. “Baik sekali. Bagaimana denganmu gadis kecilku?”tanya Caren bersemangat. “Baik. Tenang saja.” “Aku masih ingin bicara denganmu nanti, tapi sekarang bisakah kamu berikan telponnya pada Theo lagi, Sayang?” “Tentu saja.”sahut Rilla sesaat sebelum mengembalikan ponsel Theo. “Apa yang membuat Mom menghubungiku di nomor ini?”tanya Theo cepat dan cukup pelan hingga Rilla tidak bisa mendengarnya. “”Ana menghubungiku dan menanyakan dimana kamu berada. Apa karena Rilla makanya kamu menghilang seperti ini?” “Ya. Dia ingin liburan karena kemarin ada hal yang membuatnya benar-benar sedih…” “Oke, tidak masalah. Tapi apa hubunganmu dengan anak muda keluarga Seirios, Sayangku? Ana bilang kalau dia mencarimu untuk menanyakan kekasihnya. Jangan bilang kamu merebut kekasihnya…” “Bukan merebut, Mom. Hanya saja kekasihnya saat ini memang berada bersamaku di Italy.” “Apa maksudnya?” “Carilla adalah kekasih Seirios junior. Dan karena laki-laki itulah, Carilla memintaku untuk menemaninya liburan.” “Apa yang terjadi sebenarnya? Apa pemuda itu menyakitinya?”tanya Caren cemas. “Mom pasti tahu kalau James dan Caroline memutuskan untuk berkeliling dunia sampai penelitian mereka selesai kan?” “Ya. Mereka pernah mengatakannya saat berkunjung ke Indonesia sebulan yang lalu. Apa hubungannya dengan itu?” “Kemarin mereka berangkat, aku dan Carilla yang mengantar mereka, dan siangnya Rilla dikecewakan oleh Cello, Seirios junior itu membatalkan janjinya lagi setelah membatalkan janji untuk makan malam bersama James dan Caroline sehari sebelumnya, dan malamnya kami mendapati Seirios junior makan malam dengan wanita pimpinan perusahaan Volans.” “Kasihan sekali gadis kecilku. Mom tidak ingin kamu membuatnya teringat lagi dengan semua sakit hati itu, Theo! Kamu harus melakukan apapun yang diinginkannya selama liburan ini! Kau harus menghiburnya dan membuatnya tersenyum lagi. Mom bersumpah akan memukul kepalamu kalau kamu membuatnya bersedih, apalagi sampai menangis. Kamu mengerti?!” Theo tertawa pelan,”Tenang saja Mom. Itu adalah hal terakhir yang ingin kulakukan. Apa Mom masih ingin bicara dengan Carilla?” “Nanti saja. Mom akan menghubungimu lagi nanti. Selamat liburan, Sayangku.”ucap Caren sebelum memutuskan pembicaraan. Theo kembali ke tempat Rilla menunggunya dan menggandeng tangan kecil itu sebelum naik ke dalam mobil sewaan mereka menuju ke sebuah hotel bintang lima di Roma.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN