Chapter 32: Ketika Cinta bertemu Cinta

577 Kata

Sinar matahari sore yang hangat menyelinap melalui sela-sela tirai tebal. Menerangi lantai kayu ek berlapis permadani mewah, dengan pakaian dan pakaian dalam, berserakan tidak beraturan di atasnya. Seperti di lemparkan dengan terburu-buru. Tidak ada suara lain di dalam ruangan temaram itu, selain suara desahan berat, nafas yang terengah-engah dan suara daging menampar daging yang mengisi setiap sudut ruangan. Kinan, menggigit bibir bawahnya dan melengkungkan punggungnya. Menahan suara erangan yang, justru, membangkitkan birahi laki-laki dewasa yang sibuk menjilat, menghisap dan menggigit lehernya. Meninggalkan jejak-jejak merah tua kecil di atas kulit kecokelatan yang tercium matahari. Tangan-tangan nakal laki-laki itu turun dari leher gadis it uke tulang selangka, lalu buah d**a yang meng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN