Hari ini hampir hari terakhir semester sebelum liburan musim dingin. Aku melingkar kan syal rajutan merah mahogany dua kali di leherku dan memastikan seluruh leherku dan bagian mulut dan hidungku. Dan berjalan cepat ke gerbang utama. Beberapa langkah setelah aku melalui pintu gerbang, sebuah suara parau familiar melengking dari belakangku. “Kinan!” Aku memutar bola mataku, mengetahui siapa lagi kalau bukan Rebecca. Benar saja. Tidak sampai seper-sedetik, gadis itu melompat ke arahku dan mengalungkan lengannya di leherku. “Kemana saja kamu semalam… Aku mencarimu ke mana-mana…” Cemberutnya. “Hah! Really? Aku kira kamu terlalu sibuk masuk ke dalam celananya Julian.” “Hey, mana mungkin… Aku benar-benar mencarimu tahu, Kay? Kamu bisa-bisanya meninggalkanku sendirian.” “Cih..., jangan

