Elang mengantuk-antukan belakang kepalanya di belakang pintu apartemen, di mana kekasihnya belum juga keluar dari dalam sana, setelah ia tunggu, nyaris dua jam lamanya. Seperti orang menyedihkan, Elang duduk melantai. Tak memedulikan tatapan penasaran beberapa orang yang berlalu lalang di depannya. Pria itu terkekeh muram. Apa yang ia harapkan pada kenyataan pahit yang harus diterimanya saat ini? Mempertahankan dan berpura-pura jika dia tak tau apa pun? Tidak. Tentu saja. Karena bagi Elang, pengkhianatan adalah sesuatu yang tak termaafkan. Kehidupannya dan sang Mama hancur di masa lalu karena hal itu. Jadi, kenapa dia harus merelakan harga dirinya demi mempertahankan hubungan yang sudah tercemar? Bangkit dari posisi duduknya, Elang menepuk-nepuk celananya. Dia nyaris mengayunkan lang

