Sesampainya Fahira di rumah, ia mendapat telepon dari Setiawan. Fahira menghela napas, baru saja masuk ke kamar, ia bahkan belum sempat minum. Fahira mengangkat telepon dengan malas. "Ya, bagaimana pengawasan kalian hari ini?" tanya Fahira. "Tidak ada yang spesial, Randika hanya di kantor dan pergi dengan klien setelah selesai beliau langsung pulang ke rumah, rincian waktunya nanti saya kirimkan." "Ya sudah, terima kasih atas informasinya," ucap Fahira. Ia langsung mematikan ponsel tersebut. "Huh, sabar Fah, baru hari pertama mungkin lu akan menemukan sesuatu besok atau lusa," Fahira memang tidak terlalu berharap banyak, ia yakin pria bernama Randika bukanlah tipe pria yang aneh-aneh dan kalem. Namun, Fahira berharap ia memiliki satu saja alasan untuk menyudutkan Randika dengan beg

