Semuanya bersemangat menyebutkan pesanannya masing-masing. Effendi sampai bingung dan kesal karena yang lain membuat keributan dan tidak bersabar. Setelah 30 menit, Effendi baru selesai mencatat semua pesanan. Ia mengeceknya terlebih dahulu, setelah dirasa benar. Barulah ia memberikan kertas tersebut kepada Aya yang sudah menunggu dengan raut wajah masam sambil bersadar pada dinding. "Lama amat!" maki Aya. "Ya sabar! Mereka itu emang gak bisa diatur, udah nie. Cepet pesen!" perintah Effendi sambil menyodorkan kertas tersebut. Aya merebut kertas tersebut dari tangan Effendi. Ia terbelalak membaca semua pesanan yang ada. "Ini mah nyebutin aja kagak bakal kelar 10 menit!" gerutu Aya. "Maklum, kita kan banyak, udah cepet!" ujar Effendi. Aya memutar bola matanya malas. Ia segera mem

