Perjodohan

1925 Kata

“Papa ayo pegi. Ayo, pa,” ujar anak perempuan itu terbata-bata. Tangan mungilnya menarik tangan Alex sekuat tenaga. Alex meraih tubuh kecil itu untuk digendongnya. Ia terlihat sangat menyayangi balita yang usianya kira-kira dua tahunan. “Kita jemput mama, ya,” ujar Alex masih bisa ditangkap oleh indra pendengaranku. Kami kembali bertatapan sebelum Alex kemudian pergi membawa serta anak itu. Hatiku benar-benar hancur. Selama tiga tahun aku masih mengharapkan cinta pria itu. Harusnya aku tahu Alex tidak akan menungguku. Mungkin hanya aku yang masih memiliki perasaan cinta untuknya. Kuhapus kasar air mataku. Kuputuskan untuk mengganti gaun pengantin ini. Rasa sakit yang kini kembali membuat aku tidak berhenti menangis. Beberapa kali pelayan butik mencoba menenangkan saat membantu melepas g

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN