"Grup apa, nih?" tanya Jerry terkejut saat melihat notifikasi masuk ke ponselnya.
Tubuhnya yang semula berbaring di atas kasur pun terduduk seketika. Notifikasi itu benar-benar mengejutkannya.
Merasa penasaran, Jerry pun membuka notifikasi itu dan terdiam sejenak. Wajahnya terlihat bingung saat mendapati dirinya ditambahkan ke sebuah grup tanpa sepengetahuannya.
"Emang di sekolah ada grup kayak gini, ya? Kok, gue baru masuk sekarang, sih!" gumam Jerry bingung. Dia memeriksa satu persatu anggota grup tersebut dan menaikkan sebelah alisnya saat mendapati username Bianca di dalamnya.
"Ouh, dia yang masukin gue?" ucap Jerry tengil dengan alis yang terangkat sebelah.
"Dia masukin gue dengan diam-diam, gue jadi penasaran sama, nih, cewek. Ambisius banget," ucap Jerry sembari mengetuk profil Bianca.
Diperhatikannya profil tersebut dengan teliti dan menghembuskan napas bosan saat tak menemukan hal yang menarik di sana.
Jerry hanya menemukan sebuah foto berlatar pantai dan tulisan untuk tidak menyerah di dalamnya. Kemudian, bio gadis itu pun kosong. Benar-benar gadis yang aneh.
"Sepi banget profilnya, enggak kayak cewek normal!" komentar Jerry setelah dia menutup ponselnya.
Kemudian, Jerry pun berlalu pergi dan meninggalkan ponselnya begitu saja tanpa tahu jika Bianca meneleponnya.
Di sisi lain, Bianca menunggu dengan sabar. Dia telah memasukkan Jerry ke dalam grup, tetapi tak ada respon apa pun dari lelaki itu.
Hal itu membuat Bianca khawatir. Dia takut Jerry tak bisa diajak bekerja sama. Dia tidak mau kelompoknya berujung tak karuan nanti.
Menanggapi pertanyaan Tania tadi, Bianca sadar bahwasanya dia harus mempersiapkan kelompoknya dari jauh-jauh hari.
"Kenapa dia enggak kasih respon, sih?" kesal Bianca saat panggilannya tak kunjung dijawab. Bianca menghubungi Jerry dengan internet hingga pulsa, tetapi tak kunjung membuahkan hasil.
"Baru dimasukin grup aja gue udah emosi sama dia. Gimana kalau udah diskusi nanti?" tukas Bianca membanting ponselnya ke atas kasur.
Dia mengalihkan pandangannya dan langsung berjalan menuju balkon. Sepertinya dia harus menghirup udara segar sekarang.
"Tenang banget," gumam Bianca dengan mata yang terpejam. Dia tampak begitu menikmati angin sore yang berhembus.
Saat sedang sibuk dengan dirinya sendiri, suara mobil tiba-tiba saja terdengar. Langsung saja Bianca melihat ke bawah dan membelalakkan matanya seketika.
"Papa pulang!"
***
"Eh, siapa ini yang telepon, Jerr? Lo enggak buka HP dari kapan? Ini banyak, loh, riwayat panggilannya!" tanya seorang lelaki pada Jerry yang tengah sibuk bermain game. Matanya menyipit saat mendapati nomor tak dikenal berada dalam riwayat panggilan di ponsel sahabatnya.
Jerry yang tengah fokus itu pun sama sekali tak merespon. Dia justru semakin larut ke dalam game yang dia mainkan. Terbukti dari teriakan kesalnya saat nyaris saja kalah di pertarungan.
Merasa tak diperhatikan, lelaki itu pun menepuk pundak Jerry kencang. "Pengen banget gue ngomong kasar sama lo! Jerry!" teriaknya sembari menunjukkan layar ponsel Jerry.
Jerry berusaha mengabaikannya, tetapi hancur juga pada akhirnya. Dia langsung membanting stick game-nya kesal saat kalah dari permainan.
"Lo kenapa, sih?" semprot Jerry kesal. Dia menatap marah pada sahabatnya.
"Lo tahu, kan, gue ini lagi main?" tanya Jerry menuntut. Wajahnya cukup untuk dibilang mengerikan saat ini. Namun, tak membuat lelaki di sampingnya takut. Dia justru memukul kasar kepala temannya.
"Iya! Mata gue enggak buta! Tapi lo lihat, dong, ini HP lo isinya riwayat panggilan semua. Lo jawab, lah, walau sebentar. Barangkali itu penting!" geramnya sembari menunjuk wajah Jerry.
Jerry yang malas berdebat pun mengalah. Dia membuka ponselnya dan membulatkan mata saat mendapati nomor Bianca meneleponnya.
Dengan wajah yang sedikit linglung, Jerry pun berjalan pergi. Bodoh! Dia tidak mengecek ponselnya sejak tadi. Dia hanya membawanya asal untuk pergi main bersama teman-temannya.
"Bodoh banget gue. Ini pasti mau ngomongin tugas!" maki Jerry pada dirinya sendiri. Dia lekas mengirim pesan pada Bianca, tetapi Bianca sudah menghilang. Sepertinya Bianca sudah mematikan data selulernya.
"Gue tungguin aja, deh! Semoga dia balesnya cepet. Kalau enggak, bisa mati gue dihabisi sama, tuh, cewek!" putus Jerry dan kembali bergabung bersama teman-temannya.
Saat Jerry mendekat, temannya pun lekas menanyakan apa yang terjadi. Kalau orang jahil, tidak mungkin sampai berkali-kali menelepon, buka?
"Kenapa, Jerr? Muka lo kusut amat," tanya salah seorang dari mereka yang tengah memegang rokok.
Jerry menghela napasnya dan langsung duduk dengan kasar. "Gue itu ada kerja kelompok dan gue satu kelompok sama anak ambisius!" buka Jerry dengan lesu.
Demi apa pun, Jerry tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi pada dirinya. Anak pemalas seperti dirinya, dipersatukan dengan si ambisius seperti Bianca? Baiklah, Jerry akui dirinya memang pintar, tapi dia tidak suka menghabiskan waktunya untuk belajar.
"Wah, karma buat lo, tuh! Biar lo rajin belajar. Punya otak pinter itu kalau diasah bisa makin pinter!" ejek temannya menertawai Jerry.
Jerry adalah tipe orang yang sesuka hati. Sangat tidak cocok dia bersatu dengan orang yang bersifat ambisius. Mereka memiliki sifat yang saling melatarbelakangi.
"Udah, lo terima aja!" saran lelaki yang tadi menegur Jerry.
Jerry meraup wajahnya kasar. Dalam hati dia membenarkan ucapan sahabatnya. Karena dia tidak memiliki pilihan lain. Hari itu dia benar-benar tidak beruntung.
***
Jerry ingin berjalan masuk ke kelas, tetapi dia bertemu Bianca yang baru saja keluar kelas. Karena teringat kejadian kemarin, Jerry pun memutuskan untuk menghampiri Bianca.
Setidaknya, dia harus bertanggungjawab atas ulahnya itu. "Bi—" ucapan Jerry terputus dengan Bianca yang lebih dulu menyelanya.
Wajah Bianca sangat datar dan dingin saat ini. Hal ini tentunya menimbulkan perbedaan drastis dari Bianca yang kemarin dan sekarang. Jerry merasa gadis yang berada di depannya saat ini bahkan orang yang berbeda.
"Kemarin gue udah masukin lo ke grup dan lo sama sekali enggak ada respon. Gue juga udah coba menghubungi lo, tapi lo enggak ada respon juga. Gue enggak tahu lo itu sesibuk apa sampai lupa kalau kita ada tugas kelompok," ucap Bianca pada Jerry dengan tegas.
Dia menatap Jerry dengan matanya yang tajam dan berkilat penuh amarah. Mungkin sebagian orang tidak menyadari hal itu, tetapi Jerry yang menatap tepat di mata Bianca dapat menyadarinya.
Selain itu, ucapan Bianca pun terasa sangat menusuk menurut Jerry. "Gue minta maaf ka—" ucap Jerry menggantung saat Bianca mengangkat tangannya.
Gadis itu lekas berbalik karena tidak ingin lagi melihat wajah Jerry yang telah membuatnya menunggu semalaman.
"Gue enggak butuh maaf lo. Gue cuma butuh kerja sama lo. Kalau semalam lo bisa dihubungi, mungkin siang ini kita bisa mulai kerja kelompoknya!" ujar Bianca dan langsung berlalu pergi meninggalkan Jerry yang terpaku mendengarnya.
Jerry menunjuk dirinya sendiri dan keheranan setelahnya. "Perasaan dia yang minta maaf kemarin, seharusnya dia yang memperlakukan gue dengan baik. Terus kenapa sekarang gue yang disalahin?" tanya Jerry pelan karena sikap Bianca yang berubah sangat cepat.
Bukankah baru saja kemarin mereka akur dan saling memaafkan. Lantas kenapa sekarang Bianca ingin memulai permusuhan lagi dengannya? Jerry merasa sifat Siska berpindah pada Bianca. Namun, kali ini lebih menyeramkan lagi.
Dia tidak boleh tinggal diam! Jerry tidak boleh kalah dan diinjak seperti ini. Apalagi setelah dia merendah dengan meminta maaf terlebih dahulu. Itu sudah menjadi kerendahan hati Jerry yang paling rendah.
"Gue merendah, lo malah nginjek gue. Lo akan merasakan pembalasan gue!" desis Jerry tak suka dan masuk ke kelas dengan membanting pintu.
Saat Jerry membanting pintu, rupanya Bianca mendengar hal itu. Dia bersembunyi di balik dinding dan tersenyum sinis mendengar kemarahan Jerry.
"Gue adalah ketua dan lo berada dalam genggaman gue, Jerry!" balas Bianca senang.
Dia merasa bisa membuat Jerry melakukan apa pun sesukanya nanti. Terserah Jerry terima atau tidak, yang jelas hanya perintahnya yang bisa dipatuhi.
"Enggak akan gue biarin mimpi gue hancur hanya karena orang seperti lo masuk ke dalam kelompok gue. Gue akan buktikan kalau gue akan menjadi yang terbaik!" ucap Bianca penuh tekad.
Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memberikan tempat bagi siapa pun yang ingin menggantikan dirinya.
Bianca harus menjadi yang tak terkalahkan karena dengan seperti itulah dia bisa hidup dengan bahagia.
***
"Kalian pulang duluan aja. Gue mau ngobrol dulu sama kelompok gue," ujar Bianca mengusir ketiga temannya.
Fenia, Siska, dan Tania saling menatap satu sama lain dan mengangguk setelahnya. Dilihat dari wajahnya, Bianca terlihat sedang lelah. Dia sejak pagi sibuk dengan OSIS, ditambah lagi dia harus mengurus kelompoknya.
Mereka jadi kasihan melihat Bianca. Tenaga dan otaknya pasti terkuras habis karena menangani semua itu sendirian.
Memang benar Bianca memilih anggota, tetapi mereka tidak bisa diandalkan dengan baik. Mereka lebih cocok disebut sebagai pajangan.
"Lo hati-hati pulangnya nanti, Bianca!" pesan Siska sembari menepuk pundak sahabatnya.
Kemudian, dia menggendong tasnya dan berjalan keluar kelas bersamaan dengan Tania dan Fenia. Mereka memang terlihat santai karena bukan ketua, tidak seperti Bianca yang terlihat sangat sibuk.
Setelah ketiga temannya pergi, Bianca pun langsung mendekat kepada dua orang anggotanya yang sudah menunggu.
"Katanya kemarin mau diskusi online, Bianca. Kok, enggak jadi? Gue nungguin padahal," tanya seorang gadis yang tengah berdiri di dekat jendela.
Bianca tersenyum kikuk mendengarnya. Dia lekas menjawab sejujur-jujurnya. "Aduh, maaf. Harusnya kita memang diskusi, tapi Jerry enggak bisa dihubungi. Dia malah ngilang dan gue enggak bisa mulai diskusi kalau anggotanya belum lengkap," jelas Bianca tak enak hati.
Gadis itu berbalik dan mendengus kesal. Bisa dibilang dia adalah tim netral. Tidak memihak Bianca ataupun Jerry. Namun, jika Jerry membuat masalah seperti ini dan mengganggu kinerja kerja mereka, dia tak bisa diam saja.
Tidak memihak siapa pun bukan berarti diam ketika ada hal yang salah. "Ngeselin! Dia bikin waktu gue terbuang sia-sia. Gue udah persiapan mau diskusi, eh, dia malah bikin kacau!" ucapnya kesal.
Matanya menatap ke arah Bianca yang setengah terkejut mendengarnya. Menyadari hal itu, ia pun kembali melanjutkan ucapannya.
"Jangan kaget gitu. Gue memang netral, tapi kalau salah satunya salah, masa gue harus diem?" ujarnya saat melihat reaksi Bianca yang aneh.
Setelah mengetahui yang sebenarnya, Bianca justru tersenyum senang. Dia suka pemikiran seperti ini dan sudah seharusnya dilestarikan.
"Nah, sekarang Jerry mana?" tanya seorang gadis lagi yang sibuk memperhatikan kukunya. Dia tampak tak peduli dengan pembicaraan kedua temannya. Yang ada di pikirannya hanyalah menjadi cantik dan cantik.
"Gue udah pengen melihat wajah tampannya," sambungnya sembari terkekeh malu.
Ayunda-si gadis netral-itu memutar bola matanya malas. Dia memang tidak pintar, tetapi akalnya masih bekerja dengan sehat.
Jangan bilang gadis dengan riasan tebal itu sibuk membayangkan visualisasi Jerry sejak tadi. Buktinya dia diam saja, seolah tak tertarik dengan kelompok mereka.
Sepertinya bergabung dengan Jerry menjadi keberuntungan sendiri baginya. "Jangan ngaco, lo! Kita di sini untuk ngomongin kelompok, bukan ngomongin mukanya si Jerry!" sembur Ayunda sinis. Dia menatap tidak suka pada Karin yang membalasnya dengan senyuman manja gadis itu.
"Lo tahu peribahasa menyelam sambil minum air? Gue berusaha mengamalkan itu," balasnya santai.
Ayunda tampak geram mendengarnya. Dia ingin membalas Karin, tetapi dicegah oleh Bianca.
Melihat kedua temannya mulai bertengkar, Bianca pun lekas mengambil tindakan. Tidak Siska dan tidak Karin, mereka sama-sama tidak bisa mengenali keadaan.
"Jangan ribut. Gue mau cari Jerry dulu. Semoga dia ada di kantin sama anak-anak yang lain!" ujar Bianca menengahi dan langsung berjalan keluar kelas.
Bianca berjalan cepat menuju kantin. Dia melangkah dengan terburu-buru karena takut Jerry pulang seperti yang lain. Dia sudah memperingatkan Jerry untuk tidak pulang, tetapi entah bagaimana lelaki itu menghilang.
Baru saja dia sampai di kantin, Jerry sudah terlihat. Dia tampak meminum kopi dengan santai. Sikapnya seolah dia tidak memiliki beban apa pun di pundaknya.
Lekas saja Bianca menghampirinya. Dia menepuk keras pundak Jerry hingga sang empu terkejut.
"Lo!" marah Jerry karena sebagian kopinya tumpah ke baju. Dia menatap Bianca murka, sementara yang ditatap biasa saja.
Salah sendiri, siapa yang menyuruhnya minum kopi di sini? Bianca, kan, sudah memperingatkan Jerry sebelumnya.
"Kenapa?" tanya Bianca dengan pelan. Dia menatap Jerry yang kini sibuk mengelap bajunya dengan tisu. Tak ada niat untuk membantu Jerry yang tampak kepanasan.
Bianca justru mengalihkan pandangannya agar tak perlu prihatin pada lelaki sejenis Jerry. Sedetik kemudian, Bianca teringat sesuatu. Dia melirik sekitar dan menyadari jika ada beberapa orang murid yang melihatnya.
Lekas saja Bianca mengambil tisu dan meminta maaf pada Jerry. "Aduh, Jerry! Maaf, ya. Gara-gara aku kopi lo jadi tumpah!" ucapnya tak enak hati.
Lebih tepatnya, terpaksa karena dia harus menjaga image-nya. Walau Bianca sangat ingin menumpahkan kopi ke wajah Jerry, tetapi dia harus bisa menahannya.
"Diem lo!" bentak Jerry saat Bianca berusaha menyentuh bajunya.
Dia mundur beberapa langkah dan langsung melepas seragam sekolahnya. Gila! Perut dan dadanya terasa sangat panas sekarang. Kalau dia meneruskan memakai seragamnya, kulitnya bisa melepuh.
Melihat kejadian gila di depannya, Bianca pun membeku. Dia tidak menyangka jika Jerry bertelanjang d**a di sekolah saat ini. Meski hal itu hanya sekejap, tetapi berhasil membuat pandangan Bianca ternodai.
"Kenapa lo buka baju di sini?" teriak Bianca nyaris histeris. Demi apa pun, dia tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini. Jerry sudah benar-benar gila!
"Banyak tanya lo! Ini gara-gara lo ngagetin gue tahu enggak!" marah Jerry sembari memakai jaketnya. Dia langsung membuang kopinya ke sampah dan memasukkan asal baju seragamnya ke dalam tas.
Setelah itu, Jerry pun berlalu pergi meninggalkan Bianca yang mengikutinya. Diam-diam Bianca tersenyum senang. Dia bisa membuat Jerry mengikuti kemauannya tanpa ada perdebatan.
"Nah, itu anaknya!" ucap Ayunda bersyukur saat melihat Jerry. Dia senang Jerry sudah bergabung bersama mereka. Namun, kenapa wajah lelaki itu terlihat sangat asam? Apa dia tidak mau berkumpul bersama mereka?
"Jerry, lo—"
"Diem! Gue tahu ada kerja kelompok, kok! Enggak usah sok-sokan mengatur hidup gue!" bentak Jerry pada Ayunda yang baru membuka mulutnya.
Mendengar bentakan itu, Ayunda pun langsung terdiam. Dia merasa sedikit sakit hati dengan perilaku Jerry. Orang tuanya saja tak pernah membentaknya, tetapi teman sekelasnya sendiri berani melakukan hal itu.
"Kenapa, tuh?" tanya Ayunda penasaran saat Bianca memasuki kelas. Dia tahu ada sesuatu yang terjadi hingga membuat Jerry murka.
"Bajunya ketumpahan kopi, jadi d**a sama perutnya panas sekarang. Makanya dia marah-marah," jawab Bianca tenang. Dia biasa saja kendati dirinya sendiri penyebab Jerry mengalaminya.
Mendengar penuturan Bianca, Jerry pun hanya bisa mendesis sinis. Dia mengusap-isap perutnya, dibantu dengan Karin yang sibuk mengipasinya.
"Mau mulai sekarang?" tanya Ayunda pada Bianca yang mendekat ke arah Jerry. Jerry mendelik tak suka dan langsung membuang wajahnya.
"Nanti. Biarin Jerry merasa baikan dulu," jawab Bianca pelan.
Mereka pun memutuskan untuk menunggu selama beberapa saat. Kasihan juga Jerry. Namun, tak apalah.
Beberapa saat kemudian.
"Jadi, mau ngomongin apa?" tanya Jerry membuka pembicaraan. Dia sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Ngomongin tugas!" jawab Bianca tegas.
Kenapa dengan lelaki ini, sih? Dia sudah tahu tujuan mereka berkumpul, lantas kenapa masih bertanya? Aneh!
"Kalau itu juga gue tahu! Maksudnya kita mau mulai dari mana?" balas Jerry ketus.
Bianca memutar bola matanya malas. Dia menunjukkan beberapa contoh data pada teman-temannya. "Kita, kan, disuruh pilih objek penelitian, tuh. Nah, gue ini ada beberapa saran. Ya buat referensi aja, sih," ucap Bianca membuka diskusi mereka.
"Kita ambil data pakai nilai aja gimana?" usul Bianca setelah berpikir cukup lama.
"Kan, kita ada hitung-hitungannya juga, tuh. Nah, menurut gue kalau pilih nilai, bisa lebih mudah ngerjainnya, tuh!" sambungnya cepat.
Anggukan kepala langsung Bianca dapatkan dari Ayunda dan Karin, tetapi tidak dengan Jerry.
"Pasaran! Ganti!" tolak Jerry cepat. Nilai terlalu sering dijadikan objek untuk penelitian dan itu membosankan.
"Terus lo maunya apa?" tanya Ayunda setengah jengah. Apa lelaki ini tidak mau tugas mereka menjadi mudah, ya?
Jerry terdiam sejenak, dia berusaha memilih objek terbaik dan jarang digunakan kelompok lain.
"Pakai jarak aja, jarak rumah ke sekolah. Itu lebih keren daripada nilai yang istilahnya bisa ditiru kelompok lain!" saran Jerry setelah memikirkannya dengan matang.
Ayunda dan Karin saling tatap. Mereka merasa saran Jerry unik dan bisa dicoba. Tak ada salahnya mereka menggunakan jarak. Karena dengan begitu, data yang mereka dapat akan beragam, bukan?
"Bagus. Kalau pakai jarak, datanya bisa beragam!" ujar Ayunda setuju. Karin mengangguk semangat.
"Pakai jarak aja, Bianca. Bagus, loh. Kelompok lain enggak akan mikir gini!" ucap Ayunda meminta persetujuan Bianca.
Bianca terdiam sejenak karena Ayunda dan Karin sudah memihak Jerry. Dia tidak bisa membuat dua gadis itu berubah pilihan. Tampaknya mereka sangat menyukai saran yang Jerry berikan.
"Ya udah!"