Hello 16 - Pengumuman Kelompok Terbaik

1762 Kata
"Makasih banyak, ya, lo udah mau bantuin gue ngerjain semuanya!" ucap Siska tulus. Dia memberikan sekotak coklat pada Bianca yang terkejut melihatnya. Bianca menatap ke arah Siska tak mengerti. Coklat untuk apa ini? Dia tidak memesan coklat apa pun. Bianca ingat jika orang tua Siska juga menanam saham di perusahan yang memproduksi makanan berbahan dasar coklat, tetapi Bianca tak pernah membelinya. Jadi, milik siapa coklat ini? "Coklat apa ini? Gue enggak pesen coklat, kan?" tanya Bianca ragu. Apa ada dari anggota keluarganya yang memesannya? Ah, tidak mungkin. Hal itu tidak mungkin terjadi. Siska menggeleng dan tersenyum. Dia berbisik ke arah Bianca. "Buat lo. Makasih karena udah mau bantuin gue untuk menyelesaikan ini semua," ucap Siska sembari tersenyum lebar. Bianca terdiam sejenak dan mengangkat coklat itu. Dibukanya coklat tersebut dan terkejut setelahnya. Isi coklat ini sangat banyak dan beragam bentuknya. Belum lagi ada coklat yang bertuliskan namanya. Bianca jadi tak tega memakannya. Dia menutup kembali bungkusan coklat tersebut. Kemudian, Bianca pun memeluk Siska. "Makasih, ini bagus banget. Gue jadi enggak tega makan. Lo pasti bikin pesenan khusus, kan?" tebak Bianca tepat sasaran. Siska tertawa pelan karena Bianca mengetahui hal tersebut. Tentu saja itu pesanan. Meski keluarganya bisa memberikannya kapan saja, tetapi coklat dengan bentuk khusus seperti ini tidak dibuat di pabrik. "Bentuk kayak gini enggak ada di pabrik! Kalau di pabrik, kan, umum bentuknya. Jadi, gue pesen ke kakak gue yang paling tampan dan dikasih!" ucap Siska senang. Kakaknya memang baik dan selalu berusaha menuruti keinginannya. Dia tetap mengutamakan adiknya, padahal Siska sendiri tahu kakaknya sedang sibuk dengan bisnis dan skripsinya. Ah, tak masalah. Kakaknya rela mengorbankan apa saja untuknya. "Eh, ini coklat bukan cuma bentuknya aja yang cantik, tapi isinya istimewa! Ini edisi khusus yang menggunakan kekuatan kakak gue. Kalau lo enggak makan, sayang!" ucap Siska setengah sedih. Kakaknya sudah mengusahakannya dengan sangat dan rasanya sedih jika hasil kakaknya tidak dinikmati seperti yang seharusnya. Melihat hal itu, Bianca pun tak enak hati. Dia tersenyum karena Siska salah mengartikan maksudnya. "Kalau lo mau gue makan, akan gue makan. Tapi nanti, enggak sekarang. Gue mau makan bareng sama Fenia dan Tania. Mereka pasti seneng," putus Bianca membuat Siska menggeleng heboh. Siska lekas mengeluarkan dua kotak coklat lagi dari tasnya. Coklat tersebut nyaris sama seperti milik Bianca, tetapi ukurannya lebih kecil. Karena penasaran, Bianca pun memilih bertanya lebih dulu. "Coklat lagi?" tanya Bianca tak yakin. Coklat miliknya saja sepertinya tidak murah. Desain yang indah dan kualitas yang bagus tak bisa dibayar dengan murah. Itu berarti Siska merogoh banyak yang untuk membelinya. "Iya! Ini punya Fenia dan Tania. Gue ngasih lo, berarti harus ngasih mereka juga. Kita, kan, sahabat. Yaa, walau coklat lo lebih besar dari mereka, tapi isinya sama, kok!" jelas Siska pelan sembari menepuk dua bungkus coklat di depannya. Dia tersenyum senang saat berhasil membujuk kakaknya untuk menambah pesanan lagi. Meski nyaris dimarahi, tetapi hal itu tidak terjadi. Kakaknya tidak akan berani melakukan hal itu. "Lo pasti ngeluarin banyak uang," ucap Bianca kasihan. Siska suka sekali membeli makanan dan sangat sayang jika uang itu dipakai untuk membeli coklat miliknya. Siska menggeleng semangat mendengarnya. Tentu saja tidak. Hadiah ini sudah dia atur sedemikian rupa. "Tenang, duit gue aman. Gue bukan cuma pesen ke kakak gue, tapi gue juga pakai duit dia. Lo, kan, tahu kakak gue itu sayang banget sama gue. Yaa, walau harus gulet dulu, tapi tetep aja kalau gue mau sesuatu, dia pasti kasih yang gue mau!" ujar Siska bangga. Dia memuji kakaknya di depan orang lain, tetapi jika di depan kakaknya, mereka akan saling menghina. Ya, ini cukup wajar untuk kakak dan adik, bukan? Jika tak ada pertengkaran sehari saja, rasanya akan sangat kurang. "Mungkin selanjutnya kakak lo bakalan bangkrut punya adik kayak lo," ucap Bianca setengah tertawa. Siska bisa dibilang sedikit pelit, jadi wajar dia melakukan hal itu. Namun, jika dimintai bantuan, Siska akan dengan senang hati memberikannya. Siska ikut tertawa. Dia membenarkan ucapan Bianca. Meski sedikit mustahil itu terjadi. Uang bulanan yang kakaknya dapat pun jauh lebih besar dari harga coklat-coklat ini. "Udah, tenang aja pokoknya, mah!" ucap Siska tenang. Kemudian, Siska pun teringat sesuatu. "Gue baru dapat kabar, katanya video terbaik akan dipajang di akun gurunya. Selain itu, kelompok yang membuat video terbaik akan dibebastugaskan selama dua minggu!" ucap Siska membuka obrolan. Dia tampak senang dan menatap Bianca dengan yakin. "Dan menurut gue, kayaknya lo yang paling bagus, deh!" tambah Siska membuat Bianca menaikkan sebelah alisnya. Apa benar dia yang paling bagus? Jika memang iya, Bianca akan sangat senang. Itu berarti dia dan kelompoknya berhasil. "Lo serius?" tanya Bianca memastikan karena dia sendiri belum sempat melihat video kelompok yang lain. Siska mengangguk mantap sebagai jawabannya. Tentu saja dia serius. Dari semua video yang dia tonton, tak ada yang jauh lebih kreatif dan lengkap dibanding milik Bianca. "Dari semua kelompok, cuma kelompok lo yang pembahasannya paling lengkap. Bahkan sampai ke akar-akarnya!" lapor Siska semangat. Dia senang dan bangga sekali saat melihat hasil kerja keras kelompok Bianca. Karena di saat Bianca sibuk membantunya, Bianca tetap bisa menjalankan tugasnya. Itulah kelebihan Bianca yang luar biasa. "Gue enggak tahu yang lo katakan itu bener atau enggak, tapi kalau memang itu terjadi, gue bersyukur untuk itu." Bianca tersenyum manis. Setidaknya ini bisa menyenangkan hatinya dan menjadi tambahan daftar keberhasilannya. Namun, Bianca pun tidak bisa terlampau bahagia. Bisa saja dia dikalahkan oleh kelompok lain. "Kalau kelompok gue menang, gue akan traktir lo dan si kembar. Setelah itu gue akan kasih traktiran juga untuk anggota kelompok gue!" janji Bianca pada Siska yang langsung membulatkan matanya. Siska merasa sangat senang mendengarnya. Dia memang anak orang kaya, tetapi mendapat traktiran adalah kesukaannya. Menanggapi hal itu, Siska pun menepuk pundak Bianca sebagai tanda setuju. Tak lama kemudian, si kembar pun datang. Mereka tersenyum lebar saat melihat Bianca masih berada di kelas. Tumben sekali Bianca masih berada di sini. Pantas saja mereka tidak melihat Bianca saat masuk tadi. "Tumben masih di sini," ucap Fenia sembari menaruh tasnya. Dia melirik ke arah kotak coklat yang ada di atas meja. "Wih, bos coklat lagi bagi-bagi. Buat siapa, tuh?" tanya Fenia penasaran. Perlu diketahui, Fenia adalah maniak coklat. Di rumahnya dia selalu menyetok coklat khusus untuk dirinya sendiri. Tentu saja dia langsung tertarik dengan coklat yang dibawa Siska. Di dalam hatinya, Fenia berharap jika dia bisa merasakan coklat tersebut. Siska tersenyum dan memeluk kotak coklatnya. Dia menunjuk Fenia dan Tania bergantian. "Buat siapa lagi kalau bukan buat kalian?" tanya Siska balik. Dia tertawa kecil dan langsung memberikan coklat tersebut pada sahabatnya. Fenia dan Tania tampak kegirangan. Mereka menerimanya dengan cepat dan langsung membuka wadahnya. Tangan mereka dengan santai mengambil satu coklat dan memakannya dengan cepat. Mereka tidak peduli dengan tangan yang mungkin saja kotor. Atau dengan coklat yang bisa mengotori baju mereka. Merasa ketagihan, Fenia pun kembali memakan coklatnya. Raut wajahnya sangat girang dan antusias saat coklat yang dia makan meleleh di mulutnya. Apalagi dengan coklat yang bagian dalamnya terisi dengan kacang atau saus coklat. Fenia benar-benar senang pagi ini. "Anjir! Makannya kayak bocah!" ejek Siska pada Fenia. Fenia yang ingin menyuap lagi pun lekas memakannya dengan cepat dan langsung menutup kotaknya. Dia lupa jika dia berada di sekolah. "Diem! Ini enak!" ketus Fenia. Siska dan Bianca pun langsung tertawa, tak terkecuali dengan saudari kembar Fenia sendiri. Dia mengakui jika Fenia memiliki gengsi yang tinggi. Namun, dia terkadang melupakannya jika sudah bertemu dengan coklat. "Makasih, Sis! Ini enak banget, loh!" ucap Tania tulus. Dia mengaku bahwa dirinya menikmati coklat yang dia makan tadi. Coklat ini benar-benar enak dan rasanya bahkan masih terasa di lidahnya. Beruntungnya, Tania tidak semaniak Fenia dalam hal ini. Dia terkesan biasa saja pada coklat. Siska mengangguk sebagai balasannya. Dia pun melirik ke arah Fenia yang kini membuang wajah. "Lo enggak mau ngucapin makasih, gitu?" tanya Siska iseng. Fenia langsung memutar bola matanya malas. Ingin sekali dia mencekik Siska yang mulai semena-mena pada dirinya saat ini. Namun, coklat-coklat itu mencegahnya. "Makasih!" ucap Fenia jutek. Siska tertawa keras sembari memukul meja. Dia tampak sangat puas mendengarnya. "Eh, mau jaga dulu dan kalian lanjut aja ngobrol sama makan coklatnya!" ucap Bianca sembari berdiri. Ketiga sahabatnya langsung mengangguk dan memberi semangat. *** Bianca merasa jantungnya berdebar. Dia melirik berkali-kali pada jam dinding yang berada di depannya. Hari ini pemenang akan diumumkan. Ternyata benar berita yang Siska bawa. Kelompok terbaik akan mendapat hadiah khusus. Saat ini, semua ketua kelompok dikumpulkan pada satu tempat. Mereka yang akan menjadi jembatan bagi kelompok mereka. Maka dari itu, sekarang Bianca pun tak ada di kelas dan menyerahkan tanggung jawab kelasnya pada wakil ketua. Di samping kiri Bianca adalah Siska dan di samping kanannya adalah Nada. Jujur saja, sebenarnya Bianca risih berdekatan dengan Nada. Mulut ular gadis itu mengganggu kesehatan indera pendengarannya. Meski dari tadi mereka hanya saling diam, tetapi tak menampik ada pandangan iri yang dilayangkan Nada padanya. Guru mereka pun memasuki ruangan. Dia membawa laptop di tangannya dan tersenyum melihat murid-muridnya yang berhasil mengerjakan tugas hingga tuntas. Setelah guru itu menaruh laptopnya, dia pun lekas memulai pidatonya. "Anak-anakku yang tercinta, seperti yang kalian tahu. Kalian telah diberi tanggung jawab untuk mengemban sebuah tugas yang cukup rumit dan kompleks menjelang ujian tengah semester." "Ibu sengaja memberikan tugas tersebut untuk mengasah kemampuan kalian karena materi iki adalah materi yang cukup sulit. Dibutuhkan pemahaman, kelihaian berhitung, dan banyaknya hafalan rumus untuk membangun tugas tersebut." "Tugas tersebut akan menjadi soal yang paling sering keluar saat ujian nanti. Maka dari itu, Ibu berharap dengan kalian mengerjakan sendiri soal-soal tersebut dan mendiskusikannya dengan anggota kalian, kalian dapat memahaminya jauh lebih mudah." "Pengalaman mengatakan pada Ibu untuk tidak selalu berpatok pada guru. Dalam kata lain, ada beberapa orang yang mungkin tidak bisa memahaminya jika guru yang menjelaskan. Atau dia harus terjun langsung untuk memecahkan masalah tersebut." "Sekarang Ibu ingin bertanya, apakah kalian kesulitan mengerjakannya? Apakah ada dari anggota kalian yang tidak bisa diatur? Atau kalian justru memahaminya dengan mudah?" tanya guru tersebut pada setiap ketua. Mereka pun mulai berbisik-bisik memikirkan jawaban yang akan diberikan. Namun, tidak dengan Bianca dan Siska. Mereka tampak tenang. Guru itu pun berjalan mendekat dan bertanya secara acak. Orang yang pertama dia tanya adalah Nada yang berada di samping Bianca. "Nah, bagaimana jika kita mulai dari Nada?" usulnya yang langsung diangguki oleh seluruh ketua. Nada pun menunduk gugup. Jujur dia sendiri tidak mengerjakan tugas ini secara murni. Dia menggunakan jasa pembuat tugas. "Bagaimana menurutmu, Nada? Berikan pendapatmu berdasarkan pengalamanmu," tanya guru tersebut pada Nada yang tersenyum bingung. "Menurut saya tugas yang diberikan cukup sulit dan anggota saya pun tidak bisa diajak bekerja sama," jawab Nada pelan. Dia berusaha mengontrol dirinya agar jangan sampai kelepasan dan berujung membuka kebohongannya sendiri. Guru tersebut mengangguk dan beralih pada Bianca. "Nah, untuk kamu, Bianca?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN