Moza masih menatap gulungan kertas undangan pernikahan Elardo yang di berikan oleh Mentari. Wanita bermulut bon cabe itu pun memberikan sedikit nasihat, yang mampu menjungkirbalikkan perasaan wanita keras kepala seperti Moza. "Apa kau tak bosan terus menatap kertas undangan yang sudah berbentuk seperti gulungan sampah itu?" Moza tersentak kaget. Ia mengira Sultan telah pergi bersama rombongan sang majikan, menuju gedung resepsi pernikahan sang mantan kekasih sekaligus mantan sahabat yang pernah ia sakiti. "Ku pikir aku hanya tinggal sendirian di rumah mewah ini," ucap Moza seraya mengusap pipinya dengan kasar. Wanita itu tak berani menatap ke arah Sultan yang tengah berdiri di hadapannya dengan melipat kedua tangannya. "Aku di minta untuk menemanimu, sungguh menyebalkan. Nyonya khawatir

