Azam bersembunyi di balik semak-semak yang meninggi, menjalankan komunikasi di walkie talkie sembari menjaga Asha lewat pagar yang diciptakannya. Yaitu tubuhnya sendiri. Asha menyipit di antara cahaya yang masuk ke celah-celah daun. “Apa perlu begini? Berarti kau dan Darris, dengan Hakim, Zayanara dan rekan-rekanmu yang lain sering berpelukan di balik semak saat bertugas?” Hampir saja walkie talkienya tergelincir, “Tentu saja tidak, kau pikir aku gila melakukan itu.” Bantah Azam. Asha melirik ke bagian pinggangnya yang direngkuh Azam. Tatapan Azam mengikuti gerakan mata Asha, “Salah satu misi dalam setiap tugas adalah melindungi wanita cantik dari serangan. Satu luka kecil saja akibat kelalaian bakal membuat kami dipecat kesatuan. Tak usah banyak bertanya Asy, semua ini demi kebaikanmu.

