Bab 5 : Debat Kusir

1675 Kata
Dia adalah bagian dari badan intelijen paling rahasia di dalam negeri. Berbahaya sekaligus bersih, sebab GPN45 tertaut kepada satu arah kiblat dalam beroperasi, yaitu bendera merah putih. Merah untuk pengorbanan darah dan putih untuk retaknya tulang-tulang akibat memikul tanggung jawab di pundak. Tujuannya satu, tak lain untuk menjaga kedaulatan serta keamanan negara sehingga jiwa dan raga rela dikorbankan. Khairul Azam, ialah salah satu anggota terbaik yang memiliki lisensi untuk membunuh. Saku celananya selalu berisi scalpel. Azam seperti psikopat paling sadis dengan membawa benda itu ke mana-mana. Seorang agen intelijen, mata-mata, detektif atau apapun itu sebutannya, bukan hanya dituntut mempunyai kesigapan dan stamina yang bagus, namun juga kapasitas otak mumpuni. IQ salah satunya, dijadikan patokan untuk mengukur kemampuan intelektual, analisis, logika dan rasio seseorang. Dan Faktanya, Azam menerima segala anugerah itu dengan tangan terbuka. ‘GPN45 melakukan penyelidikan secara menyeluruh atas kasus pengedaran narkoba terduga inisial YN, yang merupakan sulung dari Walikota Pasuruan, turunkan anak buahmu dan lakukan operasi sapu bersih.’ ‘Starbuck kawasan XII. YN melakukan transaksi terbuka pada pukul 16.20.’ Instruksi dari Komandan Besar dan informasi dari Alhakim membuatnya bergerak. Loyalitas untuk pekerjaan tak perlu diragukan. Ketika Kombes di markas memintanya menjalankan misi penggrebegan membawa dirinya dalam sebuah penyamaran, Azam melakukannya tanpa banyak keluh. Baginya, memberantas kejahatan adalah kewajiban. Meski dia tidak cukup puas dengan penampilannya itu. Karena kaos dan celana jeans yang disebut Hakim sebagai setelan paling manusiawi untuknya membuat Azam merasa tak nyaman. Dan, Samananjung ikut-ikutan. Lelaki tengik itu memaksanya untuk mengenakan sneakers supaya lebih meyakinkan penyamaran. Dan, dia tak ingin mengakui kebenaran rekannya kala mendorong pintu dengan bandrol open di pegangan baja. Sebabnya, tempat minum kopi populer itu didominasi oleh kalangan muda-mudi. Mereka semua duduk bergerombol, saling bercengkerama dengan berbagai guyonan khas ABG. Sementara Azam merasa nyasar ke tempat paling aneh di dunia. Dia berjalan kaku menuju tempat duduk kosong dekat jendela, sudut paling strategis untuk mengawasi seluruh ruangan. Ajaib sekali dunia masa kini, sehingga para penjahat bebas berkeliaran di mana pun. Tempat gelap dan kotor tidak lagi bisa diidentikkan dengan sarang para penyamun atau b******n, tetapi lihat faktanya sekarang, mereka tak segan-segan beroperasi di publik, mencoba mengelabui para penegak hukum. Cerdik sekaligus bodoh, karena pada akhirnya bau bangkai akan menyengat udara jua. Dan pada saat itu tiba, Azam pastikan tak akan ada satupun bangkai bisa lolos. Pemuda itu mengeluarkan notebook dari dalam ransel. Tiap bagian alat elektronik tersebut telah dipasangi kamera mata-mata yang berdiameter kecil dengan jangkauan luas. Empat grid berwarna kualitas HD tersedia dalam layar monitoring. Setelah memastikan alat-alat berjalan dengan semestinya, Azam memesan secangkir espresso dan sepiring muffin vanilla. Sembari menyesap aroma serta kepahitannya yang khas, pandangan pemuda itu jatuh pada gadis yang kelihatan sibuk dengan pekerjaannya. Berbeda dua meja dari tempat ia mengawasi. Phasmina motif bunga membingkai paras cantik itu dengan sempurna. Ujungnya yang menjuntai melewati pinggang berdesir halus menyentuh pinggiran meja tiap kali sosoknya bergerak luwes, entah untuk meraih obeng atau selotip. Bibir merah mudanya terbuka ketika meluncurkan gerutuan kecil, memberi celah. Mengundang untuk dikecup. Azam mengerjap, menyugar berulang-ulang tatanan rambut yang sengaja dibuat berantakan. Sial! Apa yang dia pikirkan tadi? Dengan marah Azam mengenakan topi sportnya, menariknya hingga menutupi mata. Harusnya dia fokus pada misi ini. Berkali-kali Azam memeriksa jam tangannya. Sudah lewat dari waktu yang diberitahukan Alhakim, namun masih tak ada tanda-tanda mencurigakan. Azam coba santai, lalu meraih ponselnya yang berdenting. Satu pesan membuat rahangnya mengeras. Azam mencoba menghubungi Zayanara, sementara jari-jari tangan kirinya sibuk membalas pesan Samananjung. Sialan! Mengapa Hakim harus salah memberi informasi sih? Dia telah membuang-buang waktu selama setengah jam di Starbuck. Minum dua cangkir kopi dan sibuk melotot pada beberapa pasangan kekasih yang malah mengamatinya. “Tidak, aku bawa jeep. Ya—tolong, kau dan Darris pergi ke sana dan awasi. Tunggu sampai aku datang ke lokasi.” Azam merapikan notebooknya dengan gesit. “Alhakim sudah turun ke lapangan untuk mengintai situasi, dia menempelkan penyadap di gelas minuman target. Coba sambungkan dengan GPS milikmu.” Ponsel pintar Azam berpendar, layarnya kelap-kelip menyambung alat penyadap Hakim. Handphone dengan merk paling terkenal di dunia itu telah berubah akibat bedah besar-besaran darinya dan Raihan Harahap. Beragam fungsi tersedia di sana, otak encer Azam dan ide gila Tulang Rai perpaduan menyesatkan di dunia teknologi dan informasi. Ketika ponselnya menerima gelombang, Azam menghidupkan aplikasi perekam. Satu ponsel lain mengedip cepat, panggilan masuk dari Hakim, Azam dengan cekatan memasang nut magnetik di belakang telinganya. “Dua belatung berkubang di dalam sagu busuk, lima di antaranya membusuk dalam arang. Satu tekukur hinggap di ranting ke dua, membawa ranting ingin mencungkil belatung. Cakarnya bukan lima, si busuk dalam arang terbengkalai. 05.” 05 untuk kode instruksi. Sial! Ternyata pengedar sabu membawa banyak konco-konconya, eh? Well, mereka telah memainkan permainan estafet yang menarik dan gerombolan belatung itu akan membayar mahal. Sekali dayung, dua pulau bakal terlampaui. Azam mengucapkan serangkaian sandi rumit yang juga dipahami Hakim. Pesan masuk Zayanara menginformasikan bahwa Kapolda berserta anak buahnya telah sampai di tempat. Azam merasakan benturan keras pada bahunya ketika hendak berjalan menuju kasir. Dibarengi dengan suara nyaring pecahan kaca dan balok kayu membentur lantai, memasuki indera pendengarannya. Azam menatap ke kakinya lalu mengusap wajah, mematikan ponselnya dengan geram. “Nona, apakah kau tidak bisa lebih berhati-hati?” Sosok yang tengah membungkuk untuk memisahkan serpihan kaca, kabel yang warna-warni, serta potongan kayu itu mendongak, menatapnya tak percaya. “Apa?” Tampangnya sedatar jalan tol ketika balas menatap sepasang mata bening berwarna cokelat madu itu. “Kau harusnya berjalan lebih hati-hati. Tindakanmu bisa mencelakakan orang lain, kau lihat? Kaca bohlam berserakan di mana-mana.” Kalimat paling panjang yang bisa diucapkannya terhadap orang asing. Azam sendiri heran mengapa dia begitu emosional. Gadis itu berdiri, membuat phasminanya terjatuh ringan. Dengus jengkel keluar dari hidungnya. “Hei! Kau memutarbalikkan keadaan. Kau yang harusnya minta maaf padaku.” Tak ada seorang pun pernah menodongkan telunjuk ke wajah Azam. Sederetan lawan-lawannya akan mundur teratur, mengkerut seperti cecurut jika Azam melayangkan tatapan berselimut salju. Dan apa sekarang yang coba gadis ini lakukan? Azam bahkan sanggup mematahkan jari-jari lentik itu dalam sekali tarik. Gadis itu melotot. “Lain kali kau harus melatih lagi kedua fungsi matamu supaya tidak buta arah, bukan hanya jari-jarimu saja yang kau gunakan dengan benar. Ingatlah baik-baik, matamu juga!” Azam mengetatkan rahang, gadis itu benar-benar memiliki lidah beracun. “Gadis bodoh! Kau seharusnya bisa mengambil jalan lain, bukan menabrakan diri padaku!” Mata itu cantik, akan lebih baik kalau amarah menghilang dari maniknya. “Kau lihat alatku setinggi itu? Mana aku tahu kalau ternyata menabrak lelaki angkuh seperti dirimu! Aku sudah cukup kesusahan, kau yang seharusnya bisa menoleransi kalau saja tidak terlalu sibuk dengan kegiatanmu.” “Berarti kau ceroboh, selain bodoh tentu saja. Kau seharusnya bawa trolley, otak troll.” Seharusnya Azam bisa menekan ego, minta maaf lalu selesailah masalah. Namun tak pernah ada gadis yang sebegitu berani menyinggungnya apalagi menantang matanya langsung. Mereka tak sadar menjadi bahan tontonan. Beberapa pengunjung menelan ludah ketika melihat Azam, beralih pada si gadis muda dan diam-diam mendoakan gadis malang itu supaya baik-baik saja. Si kasir diam melongo, takut isi Starbuck diacak-acak Azam kalau ikut-ikutan. “Otakmu yang harus ditaruh dalam trolley, atau toples sekalian supaya tidak bisa berpikir untuk menyakiti hati orang lain dengan kata-katamu yang kasar!” Hell, Azam merasa hal itu terbalik. Ditariknya napas kasar. “Sudahlah, toh kau bisa membuatnya lagi. Jangan mempersulit sesuatu, aku benci melihat wanita merengek.” Kalimat Azam seperti pisau, siapa yang tidak terluka mendengarnya? “Kau tak tahu seberapa lama aku harus membuat alat ini!” tiba-tiba gadis itu berteriak marah, suaranya yang nyaring kian menggelegar. “kau b******k! Minta maaf pun tidak! Dasar pria tidak punya hati!” Kebencian yang dikeluarkannya seperti muntahan lahar, gadis itu nampak menyedihkan dalam pandangan beberapa orang di sana. Hati Azam tak pernah bisa tersentuh. “Oke, semuanya—“ Azam melirik malas pada benda-benda bekas yang telah hancur, bahkan kubus kayu penyangganya menggelinding ke dekat meja pengunjung lain seperti seonggok rongsokan. “akan aku ganti dengan adil, berapa yang kau minta?” Alih-alih meredakan emosi, pernyataannya malah membuat gadis itu semakin tersinggung. Azam mendecak sebal, tak sabar. “Ayo katakan, aku tidak punya banyak waktu.” Kedua tangan gadis itu mengepal. Sepasang mata beningnya memerah, dan Azam tahu drama apa yang akan terjadi selanjutnya. “Simpan saja uangmu untuk mengobati kesombonganmu yang sudah stadium akhir itu!” Gadis itu menghempaskan tiga lembar uang ratus ribuan di atas meja kasir. Uang lebih yang cukup untuk membersihkan pecah belah di sana, karena sosoknya yang menangis terisak telah berlari melewati pintu utama. Azam mengerang frustasi. Dasar wanita. Mereka semua memang menjengkelkan dan tidak bisa ditebak apa maunya. Keras kepala dan merasa benar sendiri. Apakah semua permasalahan harus diselesaikan dengan air mata? Setelah membayar tagihan dengan terburu, Azam berlari untuk mengejar gadis itu. *** Asha telah mengajukan proposal kepada Profesor Bilal, dosen Ilmu Fisika murni yang mengajar di Universitas Indonesia untuk membuat rangkaian listrik statis sebagai mesin penggerak kincir-kincirnya. Yang mana menjadi pelengkap persyaratan untuk melanjutkan studi S2 di fakultas yang diminatinya itu. Tidak butuh waktu lama untuk membuat Profesor Bilal cepat menyetujuinya. Gadis itu bekerja siang malam, merancang serta merangkai, begitu memperhatikan detail kincirnya yang cantik penuh lampu-lampu. Berharap temuannya itu bisa menciptakan skor tinggi dalam pameran. Asha cukup optimis Tetapi, semuanya tiba-tiba hancur dalam satu hari. Ya Ilahi, satu minggu menuju acara yang paling ditunggu-tunggunya. Asha menangis terisak dibungkam selimut tebal, pintu kamarnya tertutup rapat. Gadis itu kecewa, sakit sampai rasanya susah buat bernapas. Alat ciptaannya, jerih payah dan kerja kerasnya seolah sia-sia, hanya dianggap sampah. Laki-laki berwajah datar itu cuma mengawasinya membersihkan pecahan kaca, persis seperti raja tertinggi Mesir tanpa ada niat ingin membantu. Manusia itu angkuh sekali, tidak bisa dipercaya. Apakah memang dunia ini telah merevolusi kepribadian seseorang untuk bersikap tak acuh? Apakah Allah memang telah merenggut rasa simpati dan empati dari hati manusia sebagai ganti atas perbuatan mereka yang menyebar kekejian di bumi? Asha mengelus d**a sambil mengucap kalimat Allah. Kemarahannya telah menimbulkan prasangka buruk pada Sang Pencipta. Ya Allah, betapa tidak bijaksananya ia menyikapi ujian ini. Tetapi, Asha memohon ampun untuk satu hal saja; bahwa dia diizinkan untuk membenci pemuda itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN