“Aku tidak bisa berdiri.” Kaira menunjukkan luka di tumitnya yang terkena goresan ranting. Dengan keadaan seperti itu, siapapun tidak akan sanggup menegakkan diri apalagi dipaksa berlari. Adrian berinisiatif, membungkuk dan membelakangi Kaira. “Naiklah ke punggungku. Ayo, kita tidak punya banyak waktu.” Kaira patuh, mengalungkan kedua lengannya di leher Adrian. Nampak lemah dan pucat karena banyak mengeluarkan darah. Mereka meluncur pergi, Adrian yang memanggul Kaira berlari paling depan, Asha dan Azam mengikuti di belakangnya. “Nang turai dero monsit!” Teriakan itu menggema. Mereka dihadang oleh dua pria bersenjata badik yang muncul secara tiba-tiba, tangan kiri pria-pria kasar itu terkepal menggenggam batu yang hendak dihajarkan ke muka Adrian. Refleks Azam maju untuk menghalangi,

