10

1412 Kata
"Mbak Neta, aku takut, aku menyesal, tadi kami ..." "Menikahlah, aku melihat hubungan kalian semakin menakutkan, tiap bertemu seolah hanya itu dan itu lagi." "Yah kami akan menikah Mbak, Meski sejujurnya aku sungkan pada Ibu Re." "Nggak papa Sil, Mbak Re pasti setuju, dia loh maunya kamu nikah sama Rafli." Mata Silvi terbelalak tak percaya, selama ini ia benar-benar menjaga agar bosnya tak tahu hubungannya dengan Rafli, ia malu dan tak tahu harus bagaimana. "Beneran Mbak?" Neta mengangguk, ia mengusap lengan Silvi, Neta tak ingin gadis yatim piatu itu semakin bermasalah. "Segera setelah mereka pulang dari bulan madu katakan itu, kalian berdua sempatkan menemui Mbak Re, apalagi yang mau ditunda, kalian sudah cukup umur, sudah ada penghasilan, Rafli pasti mampu kalo cuman beli rumah kecil-kecilan." "Iya Mbak, akan aku lakukan semua saran Mbak Neta." "Jadi Rafli nginap di sini semalam? Dan kalian tidur bersama-sama? Sekamar kan?" Silvi mengangguk dengan ragu, Neta menghela napas berat. "Kalo gini terus aku nggak tahu harus ngomong apa Sil, kalian kayaknya menikmati sih, sekarang semuanya kembali pada kalian karena kalian yang menjalani." Obrolan keduanya terhenti saat ponsel Neta berbunyi, Silvi melihat Neta berbicara serius lalu menutup ponselnya. "Siapa Mbak Neta? Mas Lanang ya? Laki-laki yang masih berusaha memiliki Mbak Neta?" Neta hanya menggeleng sambil berusaha tersenyum. "Ibunya tak ingin punya menantu janda dan berusia tua sepertiku." "Nggak jauh beda kan umur Mbak sama Mas Lanang?" "Pokoknya ibunya gak mau punya mantu kayak aku, titik!" "Hmmmm .... Mau ke sini Mas Lanang ya Mbak?" "Yah, ada yang mau ia sampaikan, aku bilang di sini saja." "Iya nggak papa." . . . Tak lama Lanang muncul, setelah menyuguhkan minuman dan kudapan, Silvi segera masuk agar keduanya menyelesaikan masalah mereka yang cukup pelik. Silvi memutuskan akan di kamarnya saja. Silvi terpekik kaget saat melihat Rafli di kamarnya, tiduran dengan hanya memakai t-shirt tipis dan boxer. "Ngapain kamu di sini? Lewat mana? Tiba-tiba muncul, tiba-tiba ngilang." Silvi mengecilkan suaranya. "Selalu kangen sama kamu, ya lewat samping lah, kan kamu dah kasi aku kunci cadangan, masa lupa?" Rafli tersenyum menatap Silvi, bangkit dari tidurnya dan melangkah pelan ke arah Silvi yang merapat ke dinding. "Kamu jangan macem-macem, ada Mbak Neta sama Mas Lanang loh!" Dan ... "Aaah Raaafff." Rafli membungkam mulut Silvi dengan ciuman agar tak terdengar keluar kamar. Tak lama hanya suara cecapan penuh napsu yang terdengar. . . . Dua jam kemudian Lanang pulang, tak ada ujung juga pembicaraan mereka. Neta bangkit membenahi meja mengambil gelas kotor. Neta tertegun di balik pintu kamar Silvi yang tertutup, ia bukan bermaksud menguping, tapi saat ia hendak ke dapur membawa gelas kotor lalu langkahnya terhenti saat mendengar suara-suara aneh, desah yang saling bersahutan, jerit tertahan dan lenguhan panjang setelahnya, Neta pernah menikah, ia tahu apa yang terjadi di balik pintu itu. . . . Akhirnya selesai sudah bulan madu Abdi dan Redanti, keduanya tertidur di pesawat saat perjalanan pulang ke Surabaya. Kelelahan pasti, juga lega karena semuanya berakhir indah. Abdi yang terbangun terlebih dahulu, bergerak perlahan, lalu mengusap tangan Redanti. Redanti membuka matanya, rasa letih benar-benar ia rasakan. "Mas ini pulang ke aku dulu ya?" "Nggak lah, kita langsung menuju rumah kita, rumah yang aku belikan untukmu." Redanti kaget, ia menegakkan tubuhnya, menatap wajah Abdi yang tersenyum lembut padanya. "Aku belum nyiapkan apa-apa loh Mas." "Udah semua, aku minta tolong, Neta, Rafli dan Silvi untuk memilah barang-barangmu, kan kunci lemarimu ada di Silvi, tapi belum di bawa semua sih, hanya sebagian besar sudah di sana." Redanti tersenyum dan membalas pelukan Abdi dengan mencium pipi suaminya. . . . Neta menatap wajah Silvi yang berderai air mata. Ia menceritakan semuanya pada Neta, tentang apa saja yang telah ia lakukan bersama Rafli. "Nanti jangan tunda lagi, begitu Mbak Re datang, kau dan Rafli langsung utarakan niat kalian, jika kau sampai hamil, alangkah kecewanya Mbak Re sama kamu." Silvi mengangguk, ia usap air matanya yang terus berderai. Ia tak mau Redanti yang telah sangat baik padanya menjadi kecewa karena kecerobohannya. "Iya Mbak Neta makasih, aku tau aku salah tapi nggak tau kok ya tiap kali Rafli menjamah tubuhku rasanya aku jadi hilang akal." Neta mengusap bahu Silvi, ia tahu Silvi sejak dulu pacaran tak pernah aneh-aneh jadi saat sekali saja dikenalkan pada hal seperti itu oleh Rafli, ia akan terus ketagihan. "Makanya akhiri semuanya, menikah, maka selesailah sudah petualangan terlarang kamu sama Rafli." "Iya Mbak Neta, aku akan sudah memutuskan akan menikahi Silvi bulan depan." Tiba-tiba Rafli muncul, mereka bertiga baru saja selesai menata baju dan barang-barang Redanti di rumah megah ini. "Duduk sini Raf, aku nggak mau ikut campur urusan kalian, tapi akan lebih baik kalo kalian menikah, apa yang kalian tunggu, sudah sama-sama bekerja, usia cukup lalu apa lagi?" Rafli duduk di dekat Silvi, merengkuh bahu Silvi dan mencium rambut wanita yang ia cintai. "Dia ragu, sungkan sama kakak, kali ini nggak mau tahu lagi pokoknya harus nikah, aku nggak mau dia hamil di luar nikah, aku yang salah Mbak Neta, aku yang ngajarin dia hal yang belum waktunya." "Alhamdulillah kalo kamu sadar, jangan tunggu lama, segera urus semuanya, segerakan hal yang harusnya disegerakan." Neta mengembuskan napas lega. . . . Suara riuh di rumah besar itu menambah kebahagiaan Abdi, ia melihat wajah bahagia istrinya saat menginjakkan kaki di rumah yang ia persembahkan untuk dan istri, lalu berbaur dengan suara Neta dan Silvi. Setelah menurunkan semua barang bawaan Abdi, Redanti, Silvi, Neta dan Rafli duduk di ruang makan. Redanti takjub karena makanan telah tersedia lengkap. "Haduuuh makasih banget ya kalian bertiga, udah nyiapin semuanya, beresin semuanya, jangan khawatir, aku bawa banyak oleh-oleh untuk kalian." Suara Neta terdengar paling riuh, sementara Silvi hanya tersenyum. "Kak, ada yang mau aku omongin," ujar Rafli tiba-tiba. Redanti dan Abdi saling pandang, melihat wajah serius Rafli sepertinya ada hal penting yang akan dibicarakan. "Iya, ada apa Rafli?" "Bulan depan aku akan menikahi Silvi." "Halah serius?" Rafli mengangguk, sementara Silvi hanya menunduk memainkan jarinya. "Beneran ini Silvi?" "Iya Ibu." "Alhamdulillah ya Allaaah." Terdengar nada lega Redanti sambil mengelus dadanya. "Segera urus semuanya, nggak usah mikir macem-macem aku yang nanggung semuanya." Rafli dan Silvi mengangguk bersamaan. . . . "Astaghfirullah Rafliiii kamu kok bisa ngerusak gadis lugu kayak gitu, Ya Allah Rafliiii, kakak nggak ngajarin kamu kayak gituuu, kakak mana tau terlibat hal terlarang sama laki-laki saat jauh dari Mas Abdi." Rafli menunduk ia harus jujur pada kakaknya, sejak lama ingin menikahi Silvi selalu saja ada alasan macam-macam. "Dia aneh sih kak, masa nggak mau aku nikahi tapi mau aku apa-apain, makanya aku masukin aja sekalian biar dia takut dan mau nikah sama aku." Abdi menahan tawa saat Rafli dipukuli bahunya oleh Redanti. "Kamu ini yaaa, pake cara yang benar napa, masa nggak ada cara yang nggak bikin dosa? Masa harus dengan cara merusak, untung Mbak Neta yang menasehati kalian, kalo nggak duuuh nggak tau deh aku, cepet urus semuanya jangan sampe dia hamil baru kamu nikahi." "Ya ini mau segera diurus kak, bulan depan." "Nggak pake bulan depan, Minggu depan semua administrasi kelar kalian nikah, ngerti!" "Iya Kak, iya." . . . Redanti mengusap air matanya, penuh haru ia menyaksikan adiknya menikah dengan wanita yang ia cintai. Meski sederhana terlihat jika Rafli sangat bahagia. Silvi pun lebih sering menangis, ia tak punya sanak saudara hingga yang menjadi walinya adalah wali dari pihak KUA, sejak kecil Silvi tumbuh dan besar di panti asuhan. Silvi bahagia karena kini ia punya keluarga. Usai pernikahan Redanti, Abdi dan Neta mengantar Rafli dan Silvi ke rumah mereka. Rumah pemberian Redanti. Di dalam sudah siap barang-barang milik keduanya yang telah disiapkan seminggu lalu. "Sudah ya kami pamit, ingat saling mengalah dan saling menghormati, jangan tengkar terus kayak kucing sama tikus." Ucapan Neta membuat semuanya tertawa. "Assalamualaikum." Semua serentak menoleh saat suara Lanang mengagetkan mereka. "Maaf jika mengganggu, bisa bicara sama Mbak Neta?" Neta tak bicara sepatah katapun hanya memberi kode dengan matanya ia pamit pulang duluan. "Hati-hati Net, itu mau ngajak kamu kawin eh nikah!" Teriakan Abdi membuat Lanang tertawa. Lalu Redanti dan Abdi juga pamit pada pengantin baru yang masih menggunakan baju pengantin modern. Rafli masih mengunakan jas lengkap sedangkan Silvi menggunakan gaun pengantin. Setelah semua pulang, Rafli mengunci pintu, lalu membalikkan badannya menatap Silvi yang masih mematung. Berjalan pelan lalu melepaskan hiasan di kepala istrinya, membuka ikatan di rambut Silvi hingga rambut istrinya tergerai indah. "Sekarang kita mau ngapain aja gak papa, nggak takut kamu hamil ato yang lain." Ucapan Rafli membuat Silvi tersenyum. "Entah kenapa aku malah cuman ingin pelukan aja," ujar Silvi yang menahan tawa saat terlihat wajah kecewa Rafli. "Yaaaa ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN