16 – Weakness

1767 Kata
16 – Weakness Mungkin kelemahan terbesar seseorang Adalah perasaannya   “Sebenarnya, berapa lama lagi kita harus seperti ini?” keluh Brianna dalam bisikan. Brian melirik gadis yang sedang memeluk lengannya dan bersandar di bahunya itu dengan geli. Sudah hampir dua jam mereka duduk di bangku dekat ferris wheel untuk mengawasi target mereka sambil menjalankan peran sebagai pasangan. Brian tidak akan mengelak bahwa ia menikmati ini. Namun, sepertinya Brianna sudah lelah. Tak heran, sedari tadi, dia berperan menjadi gadis cerewet yang selalu mengomentari siapa pun yang lewat di depannya. Brianna mengatakan apa pun yang bisa dikatakan tentang orang-orang di sekitar mereka sembari terus bersandar pada Brian. Tak jauh dari mereka, target mereka masih fokus pada ferris wheel di depannya, tak sedikit pun curiga dengan kehadiran Brian dan Brianna di sana. Tiger memberi perintah untuk menangkap target saat target menelepon pihak taman bermain. Meskipun tampaknya ia hanya sendiri, Tiger khawatir ada orang lain yang membantunya. Jika tuntutannya tidak dikabulkan, dia pasti akan menghubungi temannya itu. Namun, jika dia hanya bekerja sendiri, dia pasti akan langsung meledakkan bomnya. Karena itulah, mereka harus menunggu hingga waktu yang diberikan penjahat itu habis sebelum bisa menangkapnya. “Sepuluh menit lagi, dan tidak ada tanda-tanda dia menelepon,” Brian melaporkan. “Baik. Joe dan Rega dalam perjalanan ke sana,” balas Gading. “Tetap siaga untuk kemungkinan kemunculan temannya.” Brian mengamati sekeliling mereka, mencari tanda-tanda keberadaan orang lain yang mencurigakan. “Masih sepuluh menit, kan?” kata Brianna seraya duduk tegak. “Hm,” sahut Brian tanpa menatapnya. “Aku akan mencari makanan,” putusnya seraya bangkit dari duduknya. “Hati-hati,” pesan Brian, entah Brianna mendengarnya atau tidak karena gadis itu sudah berbalik dan berjalan pergi. Brian menatap kepergian gadis itu dengan senyum muram. Brianna masih marah pada Brian karena apa yang dikatakan Brian di atas ferris wheel tadi. Brianna tidak akan mengerti betapa mengerikannya kejadian tadi bagi Brian. Bahkan jika mengingatnya lagi, memikirkan kemungkinan bahwa bom itu meledak di atas sana, saat Brianna ada di sana, Brian masih bisa merasakan kengeriannya. Sejujurnya, saat ini Brian sedikit lega karena Brianna pergi. Sekarang ia hanya perlu fokus pada penjahat yang harus ia tangkap. Dan semakin jauh Brianna dari penjahat itu, semakin baik. Brian melirik jam tangannya. Brianna pasti harus antri panjang untuk makanannya. Itu berarti, dia tidak akan kembali dengan cepat. Brian tersenyum lega. Mendadak, ia menjadi terlalu bersemangat untuk menangkap targetnya. Semakin cepat ia menangkap penjahat itu, semakin baik. Brian bahkan nyaris melambai pada Joe saat melihat sahabatnya itu berjalan ke arah ferris wheel, saking bersemangatnya. Namun tetap saja, ia tak bisa menahan senyum lebarnya, membuat Joe mengangkat sebelah alisnya keheranan. “Kau baik-baik saja?” Suara Joe terdengar di headset-nya. Brian menyeringai. “Ayo kita segera akhiri ini.” Joe mendengus. “Apa kau baru memenangkan undian?” “Ini bahkan lebih baik dari itu,” Brian menggerakkan mulutnya nyaris tak kentara. Joe menunduk untuk menyembunyikan senyum gelinya. Ia melewati Brian dalam perjalanan menuju giant wheel. Di sebelahnya, Rega tampak sibuk mengawasi sekitar. Begitu Joe dan Rega sudah tiba di pos mereka, terdengar suara Gading berbicara, “Laporkan situasi.” “Siap, menunggu target bergerak,” lapor Brian. “Tidak ada tanda-tanda kemunculan penjahat lainnya,” Joe berkata. “Baik. Semua tim bersiap,” kali ini Tiger berbicara. Brian melirik jam. Sebentar lagi ini akan selesai. Brianna, di mana pun kau berada saat ini, tetaplah di sana sampai semua ini selesai. Hanya sebentar lagi. Brian terus berbicara pada dirinya sendiri dalam hati. “Ada telepon masuk,” Gading memberitahu. Brian mengamati target mereka yang juga tampak sedang menelepon. Ia mengatakan sesuatu di telepon, dan tampak marah. Ia menutup telepon, dan menyimpan ponsel. Dia tidak menelepon siapa pun, dan kemudian, dia mengeluarkan benda seperti remote, tapi hanya ada enam tombol di sana. Sekarang Brian yakin, itu adalah pengendali jarak jauh bomnya, dan ia yakin, pria itu bekerja sendiri. Brian berdiri dari duduknya dan berjalan ke tempat pria itu dengan langkah sesantai mungkin. Dilihatnya pria itu panik saat tak terjadi apa pun setelah ia menekan tombol pertama. Begitu pun ketika ia menekan tombol lainnya. Pria itu tiba-tiba menatap ke depan dan tatapannya bertemu dengan Brian. Brian berusaha tetap tenang, seperti pengunjung normal yang hanya akan berjalan melewati pria itu. Namun, pria itu tampak semakin panik ketika melihat ke belakang Brian. Brian mengintip ke belakang dan dilihatnya Rega dan Joe juga berjalan ke arah pria itu. Brian sudah hendak berlari dan menangkap pria itu, tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Brianna berhenti tepat di belakang pria itu. Ia tampak sibuk memegangi makanannya yang nyaris terjatuh karena tersenggol pengunjung lain. “Brianna!” seru Brian, membuat gadis itu mendongak dari makanannya dan menatapnya. Namun, ia terlambat untuk bergerak karena kemudian, penjahat yang berdiri di depan Brianna itu sudah bergerak lebih dulu. Suara teriakan panik memenuhi area itu ketika penjahat itu melingkarkan lengannya di leher Brianna, sementara tangannya yang lain mengarahkan pisau ke leher Brianna. Brian merasa jantungnya seolah jatuh ke perutnya saat melihat pisau itu menyentuh leher Brianna. Brianna menatap Brian dengan terkejut sementara semua makanan di tangannya terjatuh ke tanah. “Jangan mendekat!” teriak penjahat itu. Brian melirik ke samping, tempat Joe dan Rega sudah berdiri. Tampaknya penjahat itu memutuskan untuk mencari sandera ketika melihat Joe dan Rega berlari ke arahnya. “Lepaskan dia!” Brian berteriak pada penjahat itu. Penjahat itu akhirnya menatap Brian. “Jika kau ingin kekasihmu selamat, suruh petugas-petugas di sampingmu itu pergi!” perintahnya. Brian menoleh ke arah Joe dan Rega, lalu kembali menatap penjahat itu. “Lepaskan dulu kekasihku,” katanya. “Tidak!” balas pria itu keras seraya mengeratkan lengannya di leher Brianna, membuat gadis itu mengernyit menahan sakit. “Jika mereka tidak segera pergi, aku akan membunuh kekasihmu ini.” Brian mulai panik ketika pria itu menekan pisaunya ke leher Brianna. “Jika kau melukainya, aku akan membunuhmu,” ucap Brian, tidak terlalu keras, tapi begitu tajam dan penuh ancaman, membuat penjahat itu tampak panik. “Kau ... sebaiknya kau mundur ...” kata pria itu ketika Brian berjalan menghampirinya. “Atau aku akan ...” “Sudah kubilang, jika kau melukainya, aku akan membunuhmu,” ulang Brian. Penjahat itu mundur, menarik Brianna bersamanya. Dan ketika pria itu lengah karena terlalu panik, secepat itu pula Brianna bergerak. Ia menyikut perut pria itu, memukul tangan pria itu dengan keras, membuat pisaunya terjatuh, lalu dengan satu gerakan mulus, Brianna memegang lengan pria itu yang melingkar di lehernya, menariknya ke punggung pria itu saat ia bergerak ke belakangnya. Pria itu berteriak kesakitan. Namun, Brianna tidak berhenti sampai di situ. Ia memutar lengan pria itu, membuat pria itu kembali menghadap ke arahnya, lalu tendangan memutarnya mendarat tepat di wajah pria itu, berlanjut dengan dua tendangan beruntun yang keras ke perut pria itu, membuat pria itu jatuh tersungkur dengan wajah kesakitan dan tangan memegangi perutnya. Joe dan Rega bergegas meringkus pria itu, sementara Brian segera menghampiri Brianna dan memeriksa leher gadis itu. “Kau tidak apa-apa? Kau tidak terluka?” cemasnya. Brianna menepis tangan Brian dan mengambil jarak. “Aku tidak lemah,” ucapnya dengan suara bergetar. “Aku bisa melindungi diriku sendiri, dan aku tidak lemah!” teriaknya, campuran amarah dan keputusasaan. “Semua orang sudah berpikir bahwa aku ini lemah. Jadi, jangan membuatku tampak lebih lemah lagi,” ucapnya getir, sebelum dia berbalik. Brian sempat melihat luka di mata gadis itu. Brianna terluka karena dirinya. Ketika gadis itu berjalan menjauh, tubuh Brian seolah bergerak di luar kendalinya. Ia mengejar Brianna, dan ia bahkan tak tahu apa yang ia pikirkan ketika lengannya melingkari pinggang Brianna, menahan langkahnya. Saat ini, yang ada dalam kepala Brian adalah bagaimana caranya membuat gadis itu tinggal. Karena, entah kenapa, melihat gadis itu berjalan pergi meninggalkannya terasa menyakitkan. *** Brianna tertegun. Lagi, Brian memeluknya. “Maaf,” ucap pria itu. Brianna berusaha melepaskan diri, tapi Brian malah mengeratkan pelukannya. “Maafkan aku,” ucapnya lagi. Brianna tak tahu harus menanggapi bagaimana. Dan ia tak tahu maaf untuk apa yang diucapkan Brian saat ini. Kenyataannya, Brianna marah pada Brian karena banyak hal. Sikapnya, kata-katanya, dan anggapannya bahwa Brianna butuh dilindungi. Apakah dia benar-benar percaya pada Brianna sebagai rekannya? “Aku tidak lemah,” Brianna akhirnya berbicara. “Aku tidak mengatakan sebaliknya,” sahut Brian. “Aku bisa melindungi diriku sendiri,” ucap Brianna lagi. “Aku tahu,” balas Brian kalem. Brianna tak tahu kenapa, tapi kemudian, ia mendapati pandangannya buram. Brianna selalu benci jika ada yang menganggapnya lemah. Ia selalu benci jika ada orang yang merasa perlu melindunginya. Ia benci jika ada orang yang mengorbankan nyawa demi dirinya. Ia tidak lemah dan ia bisa melindungi dirinya sendiri. Namun, kenapa semua orang selalu berpikir bahwa ia butuh perlindungan? Brianna tidak lemah, ia tidak mau menjadi lemah. Hanya saja, entah kenapa, setiap kali berada di hadapan Brian, Brianna tak bisa mencegah dirinya sendiri berpikir bahwa dia lemah. “Kenapa kau selalu membuatku merasa lemah?” bisik Brianna sedih. Brian melepaskan pelukan, memutar tubuh Brianna dan menatap tepat ke mata Brianna. “Kau tidak lemah, Brianna. Dan aku tidak pernah berpikir kau begitu. Kau, adalah gadis yang paling tangguh dan keras kepala yang pernah kutemui. Tapi karena kau begitu keras kepala, aku mengkhawatirkanmu. Aku hanya mengkhawatirkanmu, dan bukan berarti aku menganggapmu lemah. Tapi, jika sikapku ini membuatmu marah, aku minta maaf. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Maafkan aku,” ucapnya tulus. Brianna tercekat. Ketika pria itu tersenyum kemudian, Brianna merasakan debaran tak menentu jantungnya. Dengan gugup, Brianna memalingkan wajah. “Dan kenapa kau selalu sembarangan memelukku?” ketusnya. Brian meringis. “Aku tak tahu cara lain untuk menghentikanmu selain itu,” ungkapnya. Brianna kembali menatap Brian, cukup terkejut dengan jawaban pria itu. “Hanya dengan memelukmu, aku bisa menahanmu,” lanjut Brian seraya mengusap tengkuknya dengan canggung. Brianna tertegun. Ia kembali memalingkan wajahnya yang terasa panas. “Lain kali, tidak perlu melakukannya,” ucapnya. “Meskipun kau hanya memanggil namaku, aku pasti akan berhenti.” “Benarkah?” Brian menatap Brianna ragu. “Tentu saja,” balas Brianna mantap. “Bahkan meskipun kau sedang marah, kau akan berhenti?” Brian memastikan. Brianna berpikir sebentar. Jika dalam situasi normal, dia akan menjawab tidak. Namun saat ini, ia hanya punya pilihan ‘iya’, atau pelukan lain lagi. “Ya, bahkan meskipun aku sedang sangat marah padamu, aku akan berhenti,” ucap Brianna akhirnya. Brian tersenyum lega mendengarnya. Yah, Brianna tak punya pilihan lain. Karena ia juga khawatir akan reaksinya sendiri setiap kali Brian memeluknya. Saat itu, meskipun jantungnya berdetak tak keruan, tapi ia tetap merasa nyaman. Dan Brianna khawatir, dia akan merasa terlalu nyaman sehingga tak mau pria itu melepaskan pelukannya. Ia khawatir, ia menjadi membutuhkan pelukan pria itu. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN