18 – Pengelakan

2091 Kata
18 – Pengelakan Terkadang kau tak sadar Sudah sejauh mana perasaanmu berjalan   “Kau menyiapkan semua ini tanpa memberitahuku, dan bahkan tidak membiarkanku membantumu,” ucap Brian, terdengar sedikit kesal, ketika ia kembali dengan sekantong es krim di tangannya. Brianna tersenyum. “Aku khawatir kau tidak akan setuju.” Brian mendengus. Ia lantas membagikan es krim pada anak-anak itu, membuat wajah anak-anak itu bersinar gembira. Gilang yang terakhir menerima es krimnya, tapi setelah menerima es krimnya, ia masih belum pergi, membuat Brian menatapnya penasaran. “Apa ada yang ingin kau katakan?” tanya Brian. Gilang menatap Brian dan Brianna bergantian. “Terima kasih,” ucapnya tulus. Brian tercekat. Sementara Brianna sudah membalas riang, “Sama-sama.” “Tapi, Kak ... setelah ini ... kami harus pergi ke mana? Apa tidak apa-apa jika kami kembali ke rumah kami tadi?” tanya Gilang takut-takut. “Tidak, kalian tidak akan kembali ke sana,” ucap Brianna. Ia lalu mengeluarkan kertas dari saku celana, lalu menyerahkannya pada Gilang. “Itu adalah alamat yang harus kalian tuju. Itu adalah rumah baru kalian. Di sana, kalian akan punya teman lebih banyak lagi. Kalian bisa pergi ke sana naik bus dari halte di depan sana. Lalu, kalian hanya harus berjalan sedikit dan kalian akan sampai di sana. Kau bisa menjaga adik dan teman-temanmu sampai kalian tiba di sana, kan?” Gilang mengangguk. “Tapi ... tempat apa itu?” Gilang tampak khawatir. Brianna tersenyum untuk menenangkan anak itu. “Jangan khawatir. Itu rumah teman Kakak. Di sana, kalian aman. Kalian bahkan akan belajar, dan sekolah. Dan nanti, kalian juga bisa bekerja di kantor-kantor besar saat sudah besar. Lalu, kalian bisa membeli rumah yang besar, pakaian yang bagus, dan makanan yang enak.” Gilang tersenyum lebar mendengarnya. “Benarkah?” Brianna mengangguk mantap. “Katakan pada Kakak yang punya rumah itu, Kak Brianna yang mengirim kalian ke sana. Dan, sampaikan juga salamku untuknya.” Gilang mengangguk bersemangat. Brianna lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya pada Gilang. “Ini untuk bekal kalian selama perjalanan ke sana,” ucapnya. “Tapi, kami masih punya uang yang tadi,” ucap Gilang. Brianna tersenyum. “Ini untuk kau simpan, untuk tambahan membeli rumah.” Gilang tersenyum senang dan mengangguk-angguk. “Terima kasih, Kak.” Brianna mengangguk. Ketika Gilang sudah hendak berbalik, tiba-tiba Brian mengulurkan setumpuk uang ke arahnya. Gilang menatap uang itu dengan kaget, lalu menatap Brian dengan bingung. “Ini, bukankah kau butuh uang untuk membeli rumah?” Brian mengguncangkan uang itu. “Tapi tadi Kak Brianna ...” “Yang ini dariku,” sela Brian ketus. Brianna tersenyum geli. “Jika kau memberinya uang sebanyak itu, dia bisa terancam bahaya saat di jalan nanti.” “Dia kan, tidak perlu memamerkan uangnya. Dia hanya harus menyimpannya, kan?” balas Brian keras kepala. Brianna memutar mata. Seharusnya dia ingat, Brian memang selalu keras kepala, kan? “Jika dia membawa uang sebanyak itu di tangannya ...” Kalimat Brianna terhenti ketika tiba-tiba Brian mengulurkan dompetnya. “Kau bisa memakai dompet ini untuk menyimpan uangmu,” kata Brian seraya mengosongkan dompetnya, mengeluarkan kartu identitas dan kartu lainnya, lalu mengisinya dengan uang yang hendak diberikannya pada Gilang tadi. Kemudian, dia meminta selembar kertas dan bolpoin pada Brianna. Meski bingung, Brianna masuk ke mobil dan mengambil dua benda itu dari dashboard. Setelah menerimanya, Brian menuliskan sesuatu di atas kertas itu dan menyerahkannya pada Gilang. “Simpan dompet dan kertas ini baik-baik. Jika ada apa-apa, hubungi nomor yang ada di kertas ini,” kata Brian seraya mengulurkan dompet dan kertas itu pada Gilang. Gilang tampak lebih terkejut lagi, tapi kemudian dia tersenyum dan menerima dompet dan kertas itu. “Terima kasih, Kak,” ucapnya tulus. Brian tak menjawab dan malah memalingkan wajahnya. Di sebelahnya, Brianna mendengus geli melihat tingkahnya. *** Brianna melirik Brian yang masih mengawasi rumah besar di depan mereka dengan seksama. Brian benar-benar keras kepala. Segera setelah mereka mengantarkan anak-anak itu naik bus, Brian meminta Brianna mengikuti mereka untuk memastikan mereka selamat sampai tujuan. Namun kini, bahkan setelah mereka melihat anak-anak itu disambut dengan baik oleh pemilik rumah itu, Brian masih juga belum mau pergi. “Kau yakin kau mengenal pemilik rumah itu dengan baik?” Brian curiga. “Tentu saja,” sahut Brianna santai. “Ana adalah teman kuliahku, dan dia adalah orang yang sangat peka dengan masalah sosial. Dia tidak bisa tinggal diam jika melihat anak-anak jalanan yang telantar. Sejak dua tahun terakhir ini, dia mencari dan menampung anak-anak jalanan. Memberikan mereka rumah, pakaian, makanan dan pendidikan.” Brian menyipitkan mata, masih tampak tak percaya. “Aku pernah hidup di jalanan dan aku tahu tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya. Entah itu pemerintah, atau orang-orang lainnya. Mereka bisa saja membawamu ke tempat yang lebih buruk dari jalanan,” sinisnya. “Saat itu, aku bertahan hidup dengan bekerja membantu orang di pasar. Bahkan setelahnya aku akan dihajar para preman dan anak-anak jalanan lainnya. Tapi, meskipun aku hidup seperti itu, rasanya lebih baik daripada dibawa ke tempat asing, di mana aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menjaga diriku sendiri.” Brianna menatap Brian dengan sedih. “Selama ini, aku selalu berpikir mereka bukan tanggung jawabku,” ucap Brianna. “Kupikir, sudah ada pemerintah yang akan mengirimkan para petugas dan membawa mereka ke rumah penampungan. Juga, sudah ada orang-orang seperti Ana, yang dengan tulus membantu anak-anak jalanan itu. “Tapi sekarang aku sadar, mereka mungkin juga kesulitan menemukan anak-anak itu. Dan anak-anak itu mungkin juga tidak percaya pada mereka dan melarikan diri dari mereka, berpikir bahwa tinggal di jalanan akan lebih baik. Dan sekarang aku mengerti, bahkan meskipun itu bukan tanggung jawabku, bukan berarti aku tidak boleh peduli. “Anak-anak itu mungkin sama sepertimu. Mereka juga tidak tahu ke mana mereka harus pergi. Dan yang perlu kulakukan hanyalah mengantarkan mereka dan menunjukkan jalan pada mereka, tapi aku tidak melakukannya lebih awal. Selama ini aku selalu berkata bahwa negara ini tidak adil pada rakyatnya. Tapi, aku sendiri tidak pernah berusaha membuat kehidupan orang-orang itu lebih baik. Mungkin aku tidak bisa mengubah hidup mereka menjadi lebih baik, tapi setidaknya, aku bisa membantu mereka dan membuat mereka percaya bahwa mereka tidak sendiri, bahwa masih ada yang peduli pada mereka. “Maaf, karena aku telah mengabaikan mereka, bahkan meskipun aku telah mendengar sendiri darimu betapa beratnya hidup di jalanan. Maaf, karena aku telah membiarkan mereka menunggu lebih lama, ketika kau yang meskipun membenci negara ini, masih mau membela negara ini demi orang-orang itu.” Brian tertegun menatap Brianna yang kemudian tersenyum dan mencondongkan tubuh, memeluk Brian. “Kau sudah pernah hidup menderita, tapi sekarang kau tumbuh menjadi orang yang baik. Anak-anak itu, kelak mereka juga akan tumbuh sepertimu, menjadi orang-orang yang baik,” ucap Brianna tulus. “Brianna, aku ...” Kata-kata Brian terputus ketika ponselnya berbunyi. Brianna melepaskan pelukan dan menatap ke arah saku celana Brian. Pria itu mengambil ponselnya, mengerutkan kening ketika menatap nomor tak dikenal yang muncul di layarnya, tapi kemudian ia mengangkat telepon itu. “Brianna?” Suara di seberang terdengar begitu ceria, samar Brianna bisa mendengarnya karena ia berada begitu dekat dari Brian. Brian melirik Brianna sebelum menjawab, “Maaf, aku bukan Brianna. Aku temannya.” “Oh? Jadi kau yang mengantarkan anak-anak ini kemari bersama Brianna?” tanya penelepon itu lagi. “Aku akan memberikan teleponnya pada Brianna jadi kau bisa berbicara dengannya.” Brian lantas menyodorkan ponselnya ke arah Brianna. Brianna menatap Brian dan tersenyum geli sebelum menerima ponselnya dan berbicara, “Ya?” “Brianna, astaga ... ini benar-benar kau?” pekik suara di seberang. Brianna sedikit menjauhkan ponsel Brian seraya tersenyum geli. “Iya, ini aku. Jangan berteriak-teriak seperti itu. Kau bisa membuatku tuli, An.” Ana tertawa di seberang. “Anak-anak ini bilang, kau dan temanmu itu menyelamatkan mereka, memberi mereka makanan, es krim dan uang, lalu menyuruh mereka kemari.” Brianna melirik Brian yang sudah kembali sibuk mengawasi rumah Ana. “Sebenarnya, dia yang membuatku melakukannya,” ucap Brianna pelan. “Dia? Temanmu itu? Gilang bilang, temanmu itu laki-laki. Apakah dia tampan? Rekan kerjamu?” berondong Ana. “Ana, jangan berpikir macam-macam,” erang Brianna, membuat Ana tertawa lagi. “Kau urusi saja anak-anak itu.” “Wah, aku tidak pernah tahu kau ternyata peduli juga pada anak-anak ini,” goda Ana. “Sudah kubilang, ini karena dia,” geram Brianna. “Sudah kuduga. Dia itu pasti ...” “Akan kututup teleponnya,” sela Brianna kesal. “Tunggu, tunggu ...” cegah Ana. “Gilang ingin berbicara pada temanmu itu.” “Benarkah?” kaget Brianna. “Ya. Tolong berikan teleponnya pada temanmu itu agar Gilang bisa bicara padanya, oke?” Ana berkata. Brianna menatap ponsel itu dengan heran, tapi ia kembali mengangsurkan benda itu pada pemiliknya. “Gilang ingin bicara padamu,” katanya ketika Brian menatapnya dengan tatapan tak mengerti. “Oh,” sahut Brian pendek seraya menerima ponselnya. “Ya, Gilang?” Brianna yang penasaran, mencondongkan tubuh untuk ikut mendengarkan. “Kakak ... siapa nama Kakak?” tanya Gilang di telepon. Brian mengangkat alis heran. “Kenapa kau mendadak ingin tahu namaku?” “Karena Kakak juga sudah tahu namaku, jadi aku harus tahu nama Kakak, agar kita impas,” katanya. Brianna tersenyum geli sementara Brian mendengus tak percaya. “Anak ini benar-benar ... akan kututup teleponnya.” “Jangan, Kak!” panik Gilang. “Katakan dulu nama Kakak,” desaknya. Brian menghela napas berat. “Brian,” sebutnya. Brianna bisa membayangkan Gilang tersenyum lebar di seberang. “Kak Brian,” panggil anak itu. “Hm?” sahut Brian malas-malasan. “Terima kasih, Kak Brian,” ucap Gilang tulus. Brian tertegun. “Aku akan menyimpan dompet Kakak dengan baik, dan aku akan tumbuh menjadi orang yang hebat seperti Kakak,” Gilang berkata penuh tekad. Brian tersenyum mendengarnya. “Ya. Kau harus belajar dengan giat. Jangan mudah menyerah dan jadilah anak yang baik. Kelak, jadilah orang yang hebat. Kau mengerti?” “Ya, Kak!” sahut Gilang bersemangat. Brian mendengus geli. “Jangan membuat masalah di rumah barumu. Kututup teleponnya,” kata Brian, lalu ia benar-benar menutup teleponnya. Brianna segera menarik diri ketika Brian menurunkan ponsel. “Apakah Gilang mengatakan sesuatu?” tanya Brianna basa-basi. “Bukan hal penting,” sahut Brian seraya menyimpan ponselnya. “Ayo pergi. Aku lapar.” Brianna menatap Brian sejenak, dan kini ia bisa melihat kelegaan di mata pria itu. Brianna tak dapat menahan senyumnya ketika menyalakan mesin mobil. “Kau harus mentraktirku makan malam,” kata Brianna kemudian. “Hei, mana bisa begitu? Kau yang menculikku, kenapa aku yang harus mentraktirmu?” Brian tak terima. “Karena kau sudah membuatku menjadi sopirmu, mengikuti anak-anak itu sampai ke rumah Ana, dan bahkan masih harus menunggu di sana selama hampir satu jam,” sebut Brianna. Brian mendecih. “Kau tidak bisa menyalahkan orang lain jika mereka mencurigaimu.” Brianna menatap pria itu dengan kesal, lalu ketika mereka tiba di tikungan, Brianna sengaja menikung tajam, membuat Brian berteriak marah karena kepalanya terbentur jendela. “Apa kau sudah gila?!” amuk Brian. “Katakan satu kata lagi dan aku akan melemparmu keluar dari mobil,” ancam Brianna. Brian melotot kesal ke arahnya. “Kau ini benar-benar ...” “Ya?” Brianna melirik Brian tajam. Brian berdehem, lalu membuang tatapan keluar jendela tanpa mengatakan apa pun. Namun kemudian, Brianna melihat bayangan senyum Brian dari kaca jendela mobil. Senyum lega, karena kini anak-anak itu akan baik-baik saja. *** “Kau membeli dompet baru?” Joe menatap dompet yang sedari tadi dipandangi Brian. Brian menggeleng. “Brianna yang membelikannya untukku.” Joe mengangkat alis keheranan. “Untuk itu dia menculikmu?” Brian menggeleng lagi. Ia lalu mulai menceritakan kejadian tadi, hingga akhirnya ia makan bersama Brianna, lalu gadis itu mengajaknya mampir ke toko dan membelikannya dompet yang kini dipandanginya itu. “Ah ... jadi seperti itu ...” gumam Joe seraya mengangguk-angguk. “Apakah ini berarti, taruhan kita tentang Brianna itu batal?” Brian mengalihkan tatapan dari dompetnya dan menatap Joe. “Taruhan apa?” Joe melongo sesaat. “Taruhan jika kau bisa mendapatkan kepercayaan gadis itu, aku tidak akan menerima misi ke negara ini lagi.” “Oh.” Brian baru ingat. Ia mengangguk-angguk. “Tentu saja itu berlaku. Dan karena aku sudah mendapat kepercayaan gadis itu sepenuhnya, itu berarti, kita tidak akan menerima misi ke negara ini lagi.” Joe mendengus tak percaya. “Apa kau yakin, tujuanmu mendekati Brianna hanya untuk taruhan itu?” Brian tampak berpikir. “Tentu saja,” katanya kemudian. “Memangnya untuk apa lagi?” Joe meringis. Seharusnya ia ingat, Brian bukan hanya keras kepala, tapi juga bisa sangat bodoh dan tidak peka. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN