Setelah semua rangkaian acara nggak penting itu berakhir, aku memutuskan untuk menemui si Papa tiri. Niatku tentu saja mau menanyakan maksud dan tujuannya melakukan semua ini. Sudahlah.. Nggak perlu mikir seribu kali tentang siapa dalang dibalik acara tunangan dadakan itu kalau bukan suami Mama yang suka tebar s****a ke sana ke sini. MasyaAllah.. Aku beneran nggak habis pikir kenapa si Papa tiri tega menjebakku dalam pesta nggak penting ini. "Apa yang anda mau sebenarnya?" sekuat tenaga aku menahan diri agar hanya jari telunjukku saja yang sampai di ujung hidung suami Mama ini. Dan dengan cara paling menyebalkan, Papa tiriku itu tersenyum miring. Meremehkan. "Harusnya kamu bersyukur Litia. Adnan menawarkan diri untuk nikah sama kamu." Katanya. Aku mendengus. Hellooo aku punya Hiro kal

