Gara-gara Hiro nggak mau lepasin cekalannya, aku terpaksa mengikutinya. Sial! Kenapa juga aku nggak bawa motor. Makin susah kabur kalau gini. "Lepasin!" aku melotot ke punggung Hiro. "Nggak akan!" balasnya. Aku mendesis. Hiro nyebelin! Minta di gampar kali, ya?! "Aku mau pulang!" "Pulang bareng. Tapi sebelum itu, kita makan dulu. Banyak yang harus kita bicarakan!" katanya. Duh, emang apaan sih yang harus dibicarakan? Kayak kita ini punya hubungan serius aja. Mau gimana lagi, terpaksa aku ikut dengan Hiro. Dia membawaku ke sebuah restoran. Menunya terlihat menarik tapi aku sama sekali nggak tertarik. "Pilih yang kamu suka!" perintah si Hiro. Aku mencebikan bibir. Ogah! Ngapain sok maksa? Emang dia pikir dia siapa? Teman bukan, sahabat bukan, pacar bukan, apalagi suami. Jauh kali! Tapi

