Cinderella VS Papa Tiri

1019 Kata
*** Aku menatap Hiro dengan sebal. Malas sekali memiliki drama panjang bersama lelaki ini. "Makasih!" ujarku. Iya, seperti yang terlihat, setelah aku memohon dengan segala cara, dengan sangat terpaksa pula Hiro mengantarkan aku ke kantor untuk mengambil tas dan motor kesayanganku. "Hem." balasnya tanpa ekspresi. Aku ingin sekali memutar bola mataku, tapi sayang si minim ekspresi itu sudah pergi lebih dulu. Kuhentakan kaki karena kesal. Hiro benar-benar lelaki yang menyebalkan. Entah mimpi apa aku sampai bisa berurusan dengannya. Melupakan sejenak tentang si minim ekspresi, aku pun masuk ke kantor yang terlihat sepi itu. Ada sih pak Cecep, si penjaga kantor tapi sepertinya dia sedang ketiduran. Wajar, ini sudah pukul delapan malam. Semua karyawan pasti sudah pulang ke rumah masing-masing. Huh. Aku mengembuskan napas setelah sampai di kubikelku. "Nah ini dia tas yang hari ini bikin aku duduk berduaan sama Hiro," Aku mengangkat tas itu tinggi-tinggi tapi...astaga! Aku mengernyit jijik saat mengingat kembali perkataanku. Ngapain juga aku kesenangan duduk berdua sama Hiro? Duh amit-amit!!! Kayaknya aku harus cepat-cepat pulang sebelum aku semakin kerasukan jin centil yang ada di kantor ini. Mengerikan! Jangan sampai ada scene benci jadi cinta haha *** Weekend. Surganya para soulmate. Mereka yang punya pasangan pasti meramaikan sabtu sore di berbagai tempat romantis. Tapi aku? Terpaksa harus ke rumah lelaki hidung belang itu karena permintaan Mama. It's okay! Berhubung senin aku mau pergi, jadi nggak apa-apalah ditahan sedikit rasa mual ini saat bertemu Papa tiri yang kebetulan masih diluar Kota itu. Alah.. Alasan aja keluar Kota, paling juga ke rumah selingkuhannya. "Kenapa kamu Liti?" aku mengerjap, ternyata Mama melihatku yang sedang mencibir. Jawab nggak ya? Atau sekalian aku kasih lihat ke Mama hasil jepretanku dua hari yang lalu? Tapi membayangkan wajah Mama yang biasanya ceria itu jadi mendung, aku nggak tega. Mendadak semua makanan di atas meja ini terasa sepat. Mama nggak boleh sedih. Sebenarnya ini juga fakta yang buat aku nggak terlalu ambil pusing dengan kejadian lima tahun lalu. Papa tiriku itu mau nggak mau harus aku akui bisa memberi Mama warna baru dalam hidupnya. Sejak Papa kandungku meninggal, hidup kami melarat. Bertahun-tahun aku melihat Mama sering kali menangis diam-diam. Hingga akhirnya kami bertemu Papa tiriku yang adalah mantan pacar Mama sewaktu Mama SMA dulu. Mama menerima ajakan menikah dari Papa tiri dan kami sempat hidup bahagia seatap dengannya dan anak-anaknya sebelum kejadian itu membuat aku milih hidup diluar sendirian. "Nggak apa-apa, Ma," aku menghela napas. Ya, setelah ini pasti Mama makin penasaran. "Itu?" katanya sambil menunjukku dengan bibirnya. "Liti mau ngomong sesuatu sama Mama," jawabku ragu. Mama terlihat semakin penasaran. Aku jadi anak durhaka nggak ya kalau jujur ke Mama? Duh, bodoh amat lah yang penting Mama nggak dibohongi terus sama lelaki buaya itu. "Sebenar.." "Eh ada Liti ya, Ma?" Si Papa tiri datang. Udah, mingkem deh aku. Liat aja Mama udah senyum-senyum aja sama lakinya yang sayangnya tukang bohong. Ya Allah, Ma. Mau aja kena tipu sama buaya darat yang sayang banget nggak buntung. Atau aku buntungin aja kali ya? Biar dia jera gitu raba sana raba sini. "Liti!! Disapa Papa kamu tuh," tegur Mama. Aku hanya bisa senyum terpaksa. Ya, aku sama sekali nggak menutupi kalau aku nggak suka sama nih Papa tiri. Cukup senyum aja, udah nggak lebih. Apa lagi harus cium tangan ala anak baek gitu. Duh, ogah banget. "Untung papa cepat pulang dari luar kota ya, Ma," prettt luar kota? Luar rumah iya kali. Ketahuan banget dia ini dari rumah selingkuhanya. "Liti pasti senang lihat Papa di sini," What the hell?? Kayaknya si Papa mata-matain aku. Dia takut aku bocorin semua rahasianya. Enak aja!!! Aku nggak bisa biarin si b******k ini. Mama menanggapi semua itu dengan senyum riang. Dia menerima jaz yang diangsurkan si muka bertopeng dan meninggalkan kami berdua-aku-dan-Papa tiri di meja makan. Aku semakin memperlihatkan betapa aku nggak suka sama si Pak tukseling alias tukang selingkuh ini. Apa lagi sekarang si laknat sedang tersenyum miring ke aku. "Gimana? Puas kamu sama hasil jepretan di hotel waktu itu?" tanyanya sarkas. Oh astaga!!! Jadi Papa tiri tau kelakuan aku? Pantas aja aku nggak nemuin dia dimanapun waktu itu. "Tapi berkat saya, kamu bertemu dengan dua pangeran dari keluarga Admaja, kan?" katanya. Aku semakin kesal saja, serius. Maksudnya, dia tau gitu insiden salah rekam itu? Aku mendengus, "dengar ya suaminya Mama!! Aku pastikan kejadian hari itu terungkap. Anda harus siap-siap!" ancamku. Oke, setidaknya aku nggak boleh kalah sama Papa tiri. Dia boleh aja jadi Papa tiri yang jahat tapi aku nggak mau jadi cinderella yang teraniaya. Kalau dia mau macam-macam, kupastikan aku balas semua itu. Lagi pula Mama jelas tau kalau aku nggak suka sama suaminya ini. "Kalian ngomongin apa sih sampai tegang gitu muka Liti?" lah kok muka aku yang tegang? Ada juga suamimu Ma yang dari tadi udah tegang selangkangannya. Adegan selanjutnya bikin aku mau muntah. Gimana nggak coba? Papa tiri pinter banget ambil hati Mama, dia pake cium kening segala, mirip suami sayang istri. Padahal suami selingkuh di belakang istri. Haduh Mama, yang di selingkuhi itu Mama tapi yang sakit hatinya aku. "Papa cuma mau ajak Liti tinggal di sini lagi. Tapi sepertinya, Liti belum bisa maafin kesalahan Papa lima tahun lalu," Aku akui, dia pintar berakting. Tapi yang buat aku terkejut adalah dia berani membahas masa lalu menyakitkan itu. Mataku udah berkaca. Aku takut. Semua kilasan kejadian itu menyeruak begitu saja. "Liti, Papa kamu sudah minta maaf dan menyesal karena membuat kamu pergi dari rumah," itu suara Mama. Bolehkan aku nyesel datang ke sini? Mama nggak akan pernah ngerti perasaan aku. Andai aja Mama tau kejadian yang sebenarnya. Andai aja Mama tau perbuatan suaminya buat aku takut menjalani hubungan dengan laki-laki manapun. Andai Mama tau seperti apa bekas luka itu. "Ma, Liti mau istirahat dulu." tanpa mengindahkan tatapan terluka Mama, aku meninggalkan meja makan begitu saja. Aku berjanji, ini terakhir kalinya aku ke rumah ini. Kalau aku ke sini aku cuma bisa jadi Litia yang cengeng, yang takut sama masa lalunya sendiri. Aku tetap kalah sama Papa tiri. Meskipun aku nggak mau jadi cinderella yang lemah. Kenyataannya sama seperti cinderella dalam dongeng, aku teraniaya. Seorang Litia hanya bisa sembunyi dan menyesali masa lalu itu. . . TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN