Motif Si Pembunuh

2016 Kata
Daniel mengerjapkan matanya samar sembari meringis sakit di sekujur tubuhnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar membuat pemuda itu sontak menyipitkan mata saat sinar matahari langsung mengarah ke matanya. Ia beranjak duduk, memandangi tubuh polosnya yang hanya memakai boxer kini. Rahangnya digigit kuat karena tubuhnya seakan membeku. Apalagi sedari semalam dibiarkan berada sendirian di tempat yang tidak ada siapapun itu. Daniel pun berusaha berdiri walau ia merasa lututnya melemah. Luka lebam pada wajah dan tubuhnya masih membekas membuat langkahnya tertatih-tatih. Di hadapannya sudah disuguhi pemandangan semak-belukar yang tinggi dengan pepohonan lebat yang seakan ada seseorang yang mengintai di sana. Suara deburan ombak di pantai yang agak jauh dari tempatnya berada masih bisa didengarnya. Saking sunyinya tempat itu. Ia kembali melangkah pelan dengan tatapan sayunya. Suara krasak-krusuk di sekitarnya membuat Daniel berulang kali menoleh kanan kiri dengan takut. Apalagi seperti ada suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk meremang sendiri. Jalan setapak yang dilewatinya terlihat berbekas oleh beberapa sepatu dan juga telapak kaki. Alisnya bertautan saat melihat noda merah di bawah sana. Daniel merunduk, menyentuh titik-titik merah itu dengan telunjuk lalu ia cium sesaat membuat ia melebarkan mata kaget. "Da-darah?" Gagapnya sembari meneguk ludah kasar, kemudian berlari kecil segera meninggalkan tempat itu. Entah hanya perasaannya atau bagaimana. Bau darah terasa menyengat seakan mengikuti setiap langkahnya membuat Daniel berusaha menutup hidungnya kuat dan tidak ada pilihan selain bernapas dengan mulutnya. Setelah beberapa saat berjalan sendirian dengan diselimuti rasa takut. Akhirnya Daniel tiba di depan villa yang menyambutnya dengan segenap rasa yang menakutkan itu. Bayangan-bayangan hitam seakan bergerak ke sana kemari membuat ia lagi-lagi meneguk ludah takut. Ia makin merasa takut karena saat ini tidak mendengar suara teman-temannya. Benar-benar seperti hanya ia yang berada di dalam pulau itu. Dan berbagai macam pikiran anehnya berdatangan, mungkin saja orang-orang sudah pergi meninggalkannya sendirian di pulau menakutkan ini. "Daniel?" Daniel tersentak kaget saat mendengar seseorang memanggilnya dari arah samping. Seorang gadis yang kini menatapnya cemas. "Kau darimana? Kenapa hanya memakai boxer?" Tanya gadis itu membuat Daniel merunduk samar tidak bisa menjawab. "Ck, pasti Nicholas dan teman-temannya kan?" Lanjutnya lagi masih tidak habis pikir. "Semua orang sedang ke seberang sana, pergi menguburkan Beno." Jelas gadis itu lagi membuat Daniel menegakan tubuhnya kaget. "Sepertinya kau sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Tadi pagi ada anak kelas sebelah yang mendapati Beno digantung depan pintu masuk dengan tubuhnya yang sudah tidak bisa diselamatkan. Di keningnya pun sudah ditandai dengan angka satu. Tentu saja, ditulis menggunakan benda tajam mungkin?" Jelas gadis itu lagi dengan santainya membuat Daniel meneguk ludah pahit. "Sebaiknya kau segera mandi atau ganti baju. Sebentar lagi anak-anak akan segera kembali," kata gadis itu lagi dengan mengambil ikat rambutnya di pergelangan tangan, kemudian menyatukan rambutnya dan menguncirnya tinggi. "Kau tidak ke sana?" Tanya Daniel lirih dengan mata sayunya. "Tidak. Ngapain aku harus ke pemakaman orang seperti Beno? Baguslah kalau dia mati seperti itu. Berarti ada orang jahat yang sedang menghabisi orang jahat juga." Daniel mengernyitkan dahi bingung, tidak mengerti dengan perkataan gadis yang entah satu kelas atau tidak dengannya itu. "Sudahlah, buruan masuk sana." Usirnya sembari mengibaskan tangan membuat Daniel berbalik pergi menaiki tiga tanda di depan teras. Daniel sudah berada di dalam koridor, mencari ransel dan koper miliknya. Ia pun memasuki salah satu ruangan yang ada kamar mandinya di sana. Ia pun segera mandi dengan menyalakan shower yang besinya sudah berkarat itu. Tapi, air yang keluar masih jernih dan juga tidak berbau. Pemuda jangkung itu merunduk dalam, kedua tangannya memegang dinding tembok di depannya dengan kepalanya yang masih diguyur air. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sembari memikirkan apa yang baru saja terjadi. Beno meninggal dibunuh dan digantung dengan kening yang digores. Entah ini kabar baik atau buruk bagi Daniel. Yang jelas ia tidak bisa tenang. Karena bisa saja pembunuh itu akan mengincar semua orang yang berada di pulau ini termasuk dirinya. Apalagi mereka tanpa permisi masuk dan menempati villa yang katanya tidak berpenghuni ini. "Daniel," Daniel tersentak kaget dan menoleh kaget, kemudian mengedarkan pandangannya mendengar suara bisikan di samping telinganya barusan. Suara perempuan yang entah darimana. Saat pemuda itu melihat kanan-kiri tidak ada orang sama sekali. Dan hanya terdengar air yang jatuh ke tubuhnya dan merembes ke lantai. Daniel meneguk ludah pahit dengan segera meraih handuk yang ia sampirkan pada besi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah itu ia melangkah keluar dan buru-buru memakai bajunya. Ia memakai kaos lengan panjangnya dengan celana kainnya warna hitam. Rambut lembabnya masih belum ia keringkan sepenuhnya, handuk putih kecil masih tersampir pada lehernya. Pemuda itu duduk merunduk dalam dengan helaan napas kasar. Rasanya ia tidak ingin melangkah keluar dari kamarnya. Apalagi harus bertemu dengan Nicholas dan teman-temannya. Daniel terlalu lelah menjadi samsak mereka. Sebenarnya ia bisa membalas mereka dengan beberaa ilmu beladiri yang ia pelajari. Hanya saja yang menekannya untuk tidak melakukan itu adalah perasaan bersalah dan malunya. Semua berawal dari kedua orangtuanya. Orangtuanya yang menjadi sampah masyarakat. Dan membuat orang-orang di sekitar Daniel melampiaskan amarah mereka padanya yang tidak tahu apa-apa. Pintu kamarnya terbuka membuat Daniel tersentak kaget dan sontak berdiri. Ia menatap sosok jangkung yang baru saja masuk, sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Daniel masih berdiri kaku, tidak tenang kalau harus kembali duduk. Takut dimarahi atau dipukuli lagi. Daripada nanti harus memancing amarah pemuda yang ternyata satu kamar dengannya itu. Lebih baik Daniel berdiri saja sampai sosok dingin itu keluar dari kamar mandi. Beberapa saat kemudian, pemuda yang baru saja mencuci muka dan rambutnya itu keluar. Alis pemuda itu terangkat tinggi melihat Daniel yang nampak tidak nyaman berdiri di samping ranjangnya. "Ada yang mau kau katakan?" Tanya pemuda itu menatapnya bingung. "Tidak." Balas Daniel cepat. "Terus, kenapa kau berdiri? Jangan menghalangi jalan." Ketusnya membuat Daniel kembali duduk dengan menipiskan bibir. "Kau sepertinya tidak pergi ke pemakamannya Beno ya? Anak-anak yang selama ini menganggumu." Ujarnya sembari mengusap-ngusap rambutnya dengan handuk, Daniel diam saja tidak menanggapi. "Sampai akhir pun kau tetap menjadi pengecut." Lirih pemuda itu menggelengkan kepalanya heran. "Harusnya kau pergi dan mentertawakan Beno saat anak itu mati mengenaskan. Biar tidak ada lagi yang mengganggumu." Katanya dengan ekspresi datarnya membuat Daniel mengerjap-ngerjapkan matanya kaget. "Kalau masih punya otak. Pakai otakmu, jangan cuma dijadikan pajangan." Katanya lagi sembari berdiri menatap Daniel tajam. "Jangan cuma bisa diam disaat orang lain seenaknya sama kau. Karena ke depannya mereka akan makin menjadi," tambahnya melempar handuk kecilnya di atas kasur. Kemudian pemuda itu melangkah keluar meninggalkan Daniel yang merasa tertampar akan omongannya. ** Christ Allen, baru saja keluar dari kamar yang dimana teman satu kamarnya ternyata adalah Daniel. Anak malang yang selama ini menjadi sasaran empuk anak-anak manja seperti Nicholas. Selama ini Christ sudah mengamati kelakuan mereka yang bahkan sampai melewati batas. Rasa kemanusiaan pada diri Nicholas dan teman-temannya sudah lama mati. Ditekan oleh sikap jahat mereka yang selalu ingin melihat Daniel sengsara. Christ tidak ada keinginan untuk membantu karena itu bukan urusannya. Lagipula, Daniel terlalu besar untuk dibantu. Padahal dari fisiknya saja sudah bisa ditebak kalau pemuda itu bisa menghajar Nicholas sampai tidak bisa bangun lagi. Tapi, dia memilih untuk tidak melawan dan hanya pasrah saat diperlakukan seenaknya oleh anak-anak ingusan itu. "Christ," panggilan seseorang di belakangnya membuat pemuda itu menolehkan kepala lalu menaikan alis melihat teman kelasnya berlari mendekat ke arahnya. "Jadi, bagaimana? Sudah tahu siapa pembunuhnya atau jejaknya begitu?" Tanya gadis itu–– Laura namanya. Christ mengedikan bahu pelan sembari melangkah menyusuri koridor lalu keluar dari pintu masuk. Berdiri di teras sembari kembali memperhatikan pintu masuk dengan ekspresi seriusnya. "Guru-guru belum ada yang menjelaskan secara detail. Tapi, yang pasti pembunuhnya orang yang tinggal di pulau ini." Kata Christ yakin membuat Laura memicingkan mata. "Kalau begitu, di pulau ini ada penduduknya?" Christ menggeleng pelan. "Bukan penduduk, yang tinggal di pulau ini ... dalam artian, kita semua termasuk yang tinggal di pulau ini." Kata Christ lagi dengan ekspresi datarnya membuat Laura meneguk ludah kasar. "Tapi, kita kan pendatang bukan penduduk sebenarnya." Sahut Laura agak menentang perkataan Christ. "Entahlah, aku juga belum bisa memastikan. Karena belum menyusuri semua tempat di pulau ini. Saat gelap nanti, aku akan mulai mencari tahu." Laura melebarkan mata kaget sembari menggelengkan kepala tidak setuju, "kalau ketahuan guru kau bisa kena sanksi." Kata Laura berusaha menghentikan rencana Christ yang cukup berbahaya itu. "Gampang, jangan sampai ketahuan." Kata pemuda itu santai sembari mengambil alih senter pada tangan Laura dan beranjak pergi meninggalkan gadis itu sendirian di teras. Laura hanya memandangi punggung Christ yang perlahan menjauh dari area Villa. Langkahnya pasti seakan tidak peduli akan bahaya yang akan dihadapinya nanti. Christ masih melangkah santai dengan memasukan senter ke dalam saku hoodienya. Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, hanya ada semak-belukar di sana yang menyentuh lengannya yang mengayun pelan saat berjalan. Ia memicingkan matanya ke arah laut luas di hadapannya yang terlihat tidak berujung itu. Tidak ada gunung apalagi rumah penduduk. Hanya hamparan laut luas yang menyambutnya kini. Christ mendudukan diri di dekat pantai, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Saat dimana ia dan teman-temannya bisa terjebak di tempat aneh ini. Kalau saja ada insiden yang terjadi seperti tenggelamnya kapal atau hal lain sebagainya. Pastinya mereka akan mati tenggelam di dalam laut atau bisa saja mereka terdampar di pantai ini. Tapi, kalau semuanya ada di dalam pulau asing ini. Bahkan, sampai ada ransel mereka semua tanpa hilang satu pun membuat Christ makin merasa curiga. Kalau ada dalang dibalik ini semua. Seperti ada yang sengaja membuat ia dan semua orang di sana harus berakhir di pulau asing ini. Jejak kapten yang mengemudikan kapal pesiar pun tidak terlihat sama sekali. Staff, tukang bersih-bersih, dan semua yang berada di dalam pesiar tidak ada di sini. Hanya Christ dan semua teman sekolahnya, juga guru-gurunya. Kalau dipikirkan kembali, rasanya sulit untuk menerima semuanya dengan santai. Karena kejadian ini patut dicurigai. Apalagi tadi pagi ada yang meninggal karena dibunuh. Christ tersentak kaget saat merasa ada sesuatu bayangan yang melintas di belakangnya membuat pemuda itu sontak menolehkan kepala. Ia mengarahkan senternya karena hari sudah mulai gelap. Namun, tidak ada apapun di sana membuat ia mengeraskan rahangnya kuat. Di ujung pantai yang dekat dengan tanaman bakau terlihat ada seseorang yang mengintai. Bahkan, Christ bisa menangkap mata hitamnya yang bersembunyi di balik semak-semak. Tidak perlu menunggu lama, Christ pun mengambil kesempatan dan langsung mendekat dengan berlari kecil. Kembali mengarahkan senternya ke sana. Bayangan tadi sudah menghilang dan menyisakan bau darah yang menyengat di sana. Semakin ia melangkah masuk ke semak-semak tinggi itu, semakin menyengat pula bau darah di sana. Christ masih mengernyitkan dahi pelan, menghentikan langkahnya dan menemukan bekas-bekas darah di sana. Sudah dipastikan kalau tempat itu adalah tempat dimana Beno dibunuh. Terlihat dari bekas sepatu yang tanahnya nampak agak condong ke dalam menandakan kalau Beno sempat melawan. Berusaha melepaskan diri dari pembunuh itu. Christ sudah bisa membayangkan bagaimana Beno diseret sampai ke tempat ini. Lehernya dicekik dengan benang membuat Beno meronta-meronta sampai membuat semak-semak disekitarnya seperti terinjak dan ditarik oleh pemuda itu. Christ kembali melangkah maju, melangkahi bekas sepatu pada tanah basah itu. Alisnya terangkat tinggi saat menemukan asal mula darah berada. Pada sebuah pohon rindang yang dimana ada bau pesing di sana. Sekelebat skenario dan adegan bagai adegan kini terputar nyata dalam pandangan Christ. Seakan kejadian yang menimpa Beno bisa ia saksikan langsung kini. Sudah dipastikan saat Beno buang air kecil, pembunuh langsung datang dan menghantam kepala Beno. Karena dilihat dari bekas semak-semak itu masih seperti biasa. Tidak ada perlawanan, tandanya Beno tidak sadarkan diri selama beberapa saat. Yang membuat Christ bertanya-tanya adalah kenapa Beno sampai buang air ke tempat yang jauh dari villa. Padahal jelas di villa ada toilet yang bisa digunakan. "Ah, Daniel." Gumam Christ baru sadar. Beno, Nicholas dan teman-temannya memang memisahkan diri kemarin malam. Bahkan, Christ tidur sendirian di kamar karena Daniel tidak ada di sana. Sudah dipastikan Daniel ada bersama Beno dan anak-anak lain yang merisaknya. Sampai sekarang, Christ tidak mengerti apa motif si pembunuh ini. Kalau dia hanya mencari korban yang layak untuk dibunuh. Pastinya Daniel adalah orang pertama, karena pemuda itu tidak ada semangat untuk bertahan hidup. Sedangkan, kalau motifnya ingin menghabiskan nyawa orang jahat. Harusnya Nicholas orang yang pertama dihabisinya. "Aku harap, aku bisa bertemu dengan pembunuhnya." Gumam Christ penuh tekad sembari menajamkan pandangannya pada bekas-bekas darah yang sudah mengering di samping sepatunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN