LIMA

803 Kata
Dua pria bersetelan formal tengah duduk berhadap-hadapan, salah satunya memancarkan kilatan tajam dan satunya menampakkan ekspresi tenang. Dari tatapan salah satu diantaranya, sudah dipastikan suasana ini akan berubah panas dan canggung. "Bagaimana? Kau menerima tawaranku Adeks?" Cih "Menerima? Aku rasa tidak! Tawaran mu sangat merugikan diriku dan sama sekali tak memberikan sedikit keuntungan. Apa gunanya?" Pria yang tengah berhadapan dengan Adeks pun tertawa kecil, ia sudah menebak apa yang akan diputuskan oleh Adeks. Mana mungkin seorang Adeks mau menerima tawaran yang bahkan tidak menguntungkan untuk dirinya sendiri, mustahil! Tapi disini ia akan mencoba membujuk Adeks agar mau menerima tawarannya dengan suka rela. "Bagaimana juga imbalannya, perusahaan milik ku yang berada di Argentina." Adeks terdiam sesaat, ia bukan orang bodoh yang mudah terbujuk dengan bualan pria tua didepannya ini. Lagipula, pembisnis mana yang dengan suka rela menyerahkan 'pabrik uangnya' sendiri hanya untuk bayaran bantuan menghancurkan orang lain? Jika pria tua ini ingin bermain licik dengan dirinya, maka Adeks akan lebih melicik untuk membuatnya menyesal, telah melibatkan seorang Adeks dalam urusan pribadinya. "Baiklah, aku menyepakatinya." °•°•°•°•°•° Seharusnya semua ini tidak terjadi dalam kehidupan Vaniesya. Sudah cukup ia menderita akan kematian sang ayah dan komanya sang ibu. Sembilan tahun lamanya koma, membuat kehidupan Vaniesya tidak jelas tujuan, meskipun ada paman dan bibi disampingnya. Rasanya semua kurang, kehidupan sehari-harinya selalu monoton tanpa perubahan. Bahkan jika teringat akan ketakutan yang selalu dialaminya, membuat kehidupannya tidak seluasa dahulu. Dimana pun berada selalu saja merasa terancam, baik ditempat umum ataupun tidak, banyak sekali pria yang mencoba mendekatinya dengan cara yang--menjijikkan. Tak usah jauh-jauh, kemarin saja waktu di cafe. Sungguh saat itu Vaniesya teramat sangat ketakutan. Ditambah ia bertemu pria pemilik mobil yang sempat ditabraknya. Ternyata pria itu sedikit menjengkelkan dan menyeramkan, bagi Vaniesya. "Bagaimana keadaan mommy paman?" hal itulah yang pertama kali Vaniesya pertanyaan. Akshein hanya tersenyum tipis dan mengambil duduk disamping Vaniesya. Matanya menatap lurus kearah kamar tempat Dharina--ibu Vaniesya terbaring koma. Ya, mereka berdua langsung menuju ke rumah sakit ketika Amelyus menelfon dan mengatakan kondisi Dharina kritis. Saat itu juga pikiran buruk memenuhi isi kepala Vaniesya. Gadis cantik itu sibuk dengan ketakutannya tanpa memperdulikan sekitarnya. "Keadaannya sudah kembali normal. Dokter masih ada didalam, dokter mengatakan mungkin secepatnya kakak akan bangun dari koma." jelas Akhsein. Tak lama mereka mendengar suara derap langkah kaki, dan mendapati Amelyus sedang menghampiri mereka dengan dua kantong plastik ditangannya. "Sayang makanlah." ucap Amelyus seraya menyodorkan satu kantong plastik kearah Vaniesya. Tak banyak bicara, Vaniesya mengambilnya namun tidak segara membukanya. Ia malah meletakkan kantong tersebut diatas pangkuannya. "Nanti akan aku makan bibi." Amelyus tidak bisa memaksa, "Baiklah, tapi jangan sampai lupa ya. Dan ingat, nanti kau harus pulang bersama paman mu. Besok ada jam kuliah bukan? Biar bibi saja yang menjaga mommy mu disini." Berat rasanya untuk meninggalkan rumah sakit, tapi mengingat esok hari jadwalnya begitu padat, rela tak rela Vaniesya harus rela. Jika tidak, bisa-bisa semua jadwal dan ketentuan untuk besok hancur dan terbengkalai. "Baiklah, sekarang saja aku pulang bibi." Vaniesya beranjak dengan memegang kantong plastik berisi makanan tersebut. Ia menatap paman dan bibinya sesat, sebelum berjalan mendekati kamar rawat sang ibu. Dari luar, melihat dari balik jendela kecil seorang dokter laki-laki tengah mengganti cairan infus dan memeriksa alat-alat, yang menjadi penunjang kehidupan seorang wanita yang tengah terbaring koma diatas bankar. Sedikit nyeri dihati Vaniesya rasakan. Melihat orang tua satu-satunya tengah berbaring tak berdaya, dan hanya menggantungkan Tuhan serta alat penunjang kehidupan. "Ayo paman antar." suara Akshein membuat Vaniesya berbalik dan memberikan senyuman tipis. "Iya." °•°•°•°•° 22 jam kemudian Apa yang diinginkan seorang Adeks harus dipenuhi, bisa atau tidaknya. Seperti sekarang, saat ini Amer tengah berhadapan dengan Adeks,  untuk memberi informasi mengenai gadis yang membuat tuannya itu penasaran. Satu map kuning terletak diatas meja, map kuning tersebut berisi data-data dan informasi mengenai kehidupan gadis yang tengah Adeks incar. Mungkin benar, Adeks mengincarnya. "Sesuai yang saya lihat dari cctv cafe, pertemuan Anda dan perempuan tersebut. Saya menghafalkan wajahnya dan menggali informasi dari universitas terdekat dari Cafe tersebut." Amer menarik nafas dan kembali melanjutkan penjelasannya. "Namanya Vaniesya, dia keponakan dari pembisnis besar di Turki, Akshein Yourkhan. Dan dari cerita  para pembimbing disana, 9 tahun lalu kedua orangtuanya mengalami kecelakaan mobil. Ayahnya meninggal dunia, serta ibunya yang sampai saat ini masih koma. Perempuan itu tinggal bersama paman dan bibinya." Adeks tersenyum samar mendengar penjelasan Amer. Sekarang ia tahu sedikit tentang kehidupan gadis itu. "Bagus Amer, kau memberikan informasi bahkan belum genap 24 jam." puji Adeks. "Tapi ada informasi yang lebih penting mengenai perempuan tersebut tuan." Hal itu sedikit membuat Adeks tertarik. Ia mengkode Amer untuk segara menjelaskan. "Dia adalah orang yang anti berdekatan dengan pria." What the hell "Aku tidak percaya, kemarin aku melihat dia duduk berdua dengan kekasihnya." "Tidak tuan, dari informasi yang saya dapat dia itu perempuan introvert." 'Lalu pria kemarin? Siapa dia?' - batin Adeks.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN