BAB 1

2102 Kata
Claire menyukai serial Trash of The Imperial Family, namun tidak pernah berharap untuk mencoba hidup di dalamnya. Demi Tuhan, jika memang ucapan adalah doa, Claire ingin menarik kembali segala ucapannya. Mungkin, ini adalah karma dari seluruh umpatannya kepada penulis serial fenomenal tersebut atas akhir cerita yang tidak memuaskannya. Claire tidak terima akhir yang Aelin dapatkan, lalu secara otomatis mengumpati sang penulis yang tidak dia kenali. Ah, bahkan Claire masih mengingat segalanya dengan sangat jelas seolah itu baru terjadi kemarin sore. “Kau sudah membaca episode terakhirnya? Itu benar-benar sampah!” dumal Claire sesaat setelah menenggak soda kepada teman sekaligus rekan kerjanya, Leia Thomas. “Sudah,” sahut Leia kasual. “Arne menikah dengan Karl setelah sembuh dari keracunannya dan menyaksikan proses penghukuman penggal Aelin. Mereka hidup bahagia, dikaruniai dua anak, lalu Arne naik tahta setelah Kaisar meninggal dalam damai. Akhir yang bagus.” “Tidak!” tampik Claire mentah-mentah diiringi pelototan pada Leia, membuat Leia membelalak kaget. “Bisa-bisanya Aelin mendapatkan akhir semacam itu, itu tidak adil! Jelas-jelas dia sedang dijebak dan dikambinghitamkan, terlihat jelas dari si Duke sialan itu yang menyetir situasi untuk memojokkan Aelin! Aku tidak percaya ini, apa yang penulisnya pikirkan? Apa salah Aelin padanya, astaga?!” Leia manggut-manggut. “Ah, benar, kau menyukai Aelin.” Claire menidurkan kepala di meja, mulai merasa frustasi. “Padahal Aelin tidak pernah melakukan kejahatan. Dia hidup sendirian tanpa mengganggu Arne, hanya gadis malang yang mengharapkan kasih sayang ayahnya. Tapi, justru diperlakukan tak adil sampai akhir. Inilah jadinya jika seorang psikopat menulis novel. Serius, aku masih tidak mengerti mengapa semua orang juga menganggap Aelin sebagai tokoh antagonis. Lihatlah kolom komentarnya, mereka semua psikopat!” “Karena mereka semua menganggap Aelin sebagai pengganggu. Tokoh utamanya adalah Arne, sudah jelas pembaca memihak siapa, bukan?” Claire mendongak, memperlihatkan kekesalan yang menguasai wajahnya. “Mana ada pengganggu yang tidak pernah mengganggu?!” Leia melengos seraya menyandarkan punggung dan bersedekap. “Sudahlah, kau menghabiskan tenagamu untuk merengekkan hal yang tidak akan bisa diubah. Trash of The Imperial Family sudah tamat, mau bagaimana lagi? Segala rengekan dari orang-orang yang tidak terima tidak akan pernah digubris.” “Kau benar-benar tidak membantu. Berhenti menabur garam pada lukaku.” Leia mengedikkan bahu, secara acuh menyedot frappenya. “Lagipula, kau tidak benar-benar bisa mengklaim Aelin tidak pernah mengganggu. Dia berulang kali mencoba menarik perhatian Kaisar. Jadi, dalam sudut pandang Arne dan pembaca, Aelin termasuk antagonis yang berusaha merebut ayahnya.” “Hei, hei, dia tidak berniat seperti itu. Dia hanya ingin diperlakukan sama seperti Arne, itu wajar, dia juga putrinya. Bagaimana bisa kalian semua… aish.” Leia mengulurkan tangan untuk menepuk pundak kiri Claire. “Sudahlah, terima apa yang sudah terjadi. Jangan memikirkannya berlarut-larut.” Claire menopeng wajahnya menggunakan kedua tangannya, kian frustasi. “Benar-benar gila. Apa yang akan penulis itu lakukan jika dirinya menjalani hidup sebagai Aelin, dasar psikopat. Sekarang aku semakin tidak mengerti mengapa dia perlu menciptakan Aelin selain untuk menumbalkannya demi menyempurnakan citra Arne. Jika aku bertemu dengannya, kupastikan untuk mengguncang otaknya.” “Tidak akan bisa kecuali jika kau nekad pergi ke Korea Selatan.” Claire manggut-manggut usai berhenti menutup wajahnya. “Ya, mungkin aku harus melakukannya. Harus ada seseorang yang mengembalikan kewarasan ke dalam kepalanya.” “Jujur saja, setinggi apa kau menyukai Aelin? Kau mulai terlihat seperti penggemar yang terobsesi.” “Aku benar-benar menyukainya karena… merasa memiliki keterkaitan dengannya,” Claire mengembuskan napas lelah, “aku bisa memahami apa yang dia rasakan, tidak mendapatkan kasih sayang orang tua—contohnya. Jadi, aku juga merasa sakit hati dan putus asa saat dia dijatuhi hukuman mati secara tidak adil. Ayolah, bahkan penulis itu juga menunjukkan secara jelas siapa yang lebih pantas untuk mewarisi tahta Kaisar Ares. Tapi, orang-orang masih memihak Arne yang lugu dan naif.” Leia diam sejenak, meresapi setiap kalimat Claire dengan baik hingga keningnya sedikit mengerut. Claire memiliki poin yang sama dengan Leia, hanya saja Leia tidak mengutarakannya karena itu sia-sia. Akhir cerita tidak akan berubah meski ribuan penggemar memprotes. Tetapi, ini Claire Ohara, wanita itu tidak akan diam setiap kali merasa frustasi. Jadi, Leia terpaksa memihaknya. “Aku lebih merasa Trash of The Imperial Family itu memiliki banyak lubang dalam plotnya,” cetus Leia membuat Claire sedikit mendelik padanya. “Kau tahu, semacam plot yang tak sempurna yang membuat alurnya bercelah. Ada beberapa poin yang tidak dijelaskan dengan benar. Contohnya, siapa ibu kandung Aelin dan mengapa kaisar mencampakkan putri pertamanya itu.” Claire mendengus pelan. “Benar. Hanya dijelaskan dirinya bukan putri Permaisuri. Dia dan Arne saudara berbeda ibu. Akhirnya, semua orang berteori dan menyimpulkan Aelin adalah anak haram dari wanita yang tidak kaisar cintai alias berhasil menjebaknya untuk b******a satu malam. Makanya Aelin ditelantarkan sesudah lahir.” “Lalu berlanjut ke mengapa Aelin tidak bisa menggunakan sihir meskipun dia darah daging kaisar, yang notabene darah Sinclair mengalir dalam tubuhnya, keluarga kekaisaran yang selalu mewarisi kekuatan mana yang hebat. Hanya Arne, dan itu aneh.” “Akhirnya kau mulai memahami poinku, huh?” Claire mengibaskan lengan. “Sudahlah, jika aku bertemu dengan penulisnya, kupastikan untuk memasukkan kewarasan ke dalam kepalanya.”      Timbal dari sumpah serapahnya adalah musibah ini, Claire merasuki raga Aelin. Dia tidak tahu mengapa Tuhan melakukan hal semacam ini padanya. Tidak tahu pula mengapa ini harus terjadi padanya. Namun kemudian, Claire sadar bahwa tidak ada gunanya untuk terus-terusan frustasi. Ini semua sudah terjadi, dia harus menerimanya, mau tidak mau. *** “Sungguh? Anda sudah baik-baik saja? Tidak ada yang sakit?” Claire menggeleng diiringi senyuman. “Sungguh, maafkan aku karena telah membuat kalian khawatir. Aku benar-benar… syok kemarin.” Sierra, kepala pelayan di Istana Clementine sekaligus dayang dan ibu asuh Aelin, mengembuskan napas lega. “Tidak perlu, Putri. Kami bersyukur Anda sudah merasa lebih baik sekarang.” Inilah langkah pertama yang Claire mulai sebagai Aelin, beradaptasi. Dirinya harus mengenal para pelayan dan situasi yang terjadi sekarang. Jadi, sesudah memantapkan tekad, Claire memulai kehidupannya sebagai Aelin. Walau sedikit terasa berat dan menakutkan, dia tidak memiliki pilihan selain terus maju. “Jadi, Sierra, bagaimana bisa aku pingsan? Aku tidak begitu mengingat apa pun sebelum itu terjadi,” cetus Aelin berusaha bersikap senormal mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan dari Sierra. “Anda kelelahan dan sedikit dehidrasi akibat dari berdiri terlalu lama,” jeda, Sierra tampak enggan untuk melanjutkan. Namun karena binar polos Aelin, wanita itu menambahkannya, “di depan Istana Kaisar.” Huh? Aelin, apa yang kau lakukan? rutuk Claire tak habis pikir sekaligus bersimpati. “Ah, begitu—” “Yang Mulia Putri, mungkin ini terdengar lancang bagi Anda, tetapi saya memohon agar Anda tidak mengulanginya lagi,” sela Sierra seraya membungkuk hormat, mengejutkan Aelin. “Saya tidak bermaksud egois terhadap keinginan Anda, tentu saya juga menginginkan Anda memiliki kehidupan yang bahagia. Tetapi… saya mohon untuk tidak mengorbankan diri Anda demi mendapat perhatian Yang Mulia Kaisar dengan cara seperti itu lagi. Saya mohon… Anda bersabar, suatu saat Yang Mulia Kaisar pasti akan menghampiri dan menyayangi Anda.” Claire tidak bisa berkata-kata. Ada campuran pedih dan senang dalam dadanya atas perhatian hangat Sierra. Pedih karena kalimat terakhir Sierra tidak akan pernah terjadi dan senang karena kehangatan yang wanita itu berikan tanpa pamrih. Sierra adalah orang yang tetap memihaknya sampai akhir, jadi Claire harus menjaga Sierra sebaik mungkin. “Terima kasih, Sierra. Aku mengerti, maafkan aku. Tegaklah, tidak perlu seperti itu. Sekarang yang lebih penting adalah… aku lapar.” Sierra menegakkan punggung, tersenyum hangat. “Apakah Anda ingin kukis? Pagi ini, Freda baru saja selesai membuatnya.” Claire berusaha mengangguk seriang anak kecil pada umumnya. “Jika aku sudah kembali sehat, apakah aku boleh bermain keluar?” “Tentu saja, Putri. Anda selalu suka bermain di padang bunga dan air mancur, tetaplah berhati-hati selama bermain.” “Terima kasih, Sierra!” Tentu saja, Aelin selalu identik dengan padang bunga dan air mancur di Istana Clementine. Hanya dua tempat itulah yang bisa Aelin gunakan sebebasnya selagi tempat-tempat lain terlarang untuknya. Tidak ada larangan langsung dari kaisar, hanya saja tatapan cemooh dari para pelayan membuatnya menjadi seperti itu; seolah-olah terlarang. Karena tidak tahan menerima tatapan itu, Aelin tidak pernah berani menginjakkan kaki di luar Istana Clementine. Claire pikir, itu lebih baik. Rencananya adalah menghindar dari kaisar dan Arne, begitu juga Duke Morrison dan Dion. Selama dirinya tidak berpapasan mau pun bersinggungan dengan mereka, hidupnya terjamin aman. Claire harus mengamankan posisi Aelin sampai berusia 17 tahun dan melarikan diri dengan tenang. Ya, lebih baik untuk tetap melanjutkan kebiasaan Aelin, mengurung diri di Istana Clementine. Dan, catatan tambahan: jangan mengemis perhatian kaisar lagi. Ditemani kukis cokelat, Claire membaca buku tentang sejarah Kekaisaran Neuchwachstein. Ada pula buku biografi keluarga kekaisaran. Sebagai bentuk upaya beradaptasi, tidak ada yang lebih baik dari mengais informasi melalui buku, bukan? Melalui informasi Sierra, Claire memastikan situasi yang sedang terjadi. Saat ini, Aelin berusia delapan tahun. Artinya, empat tahun sebelum alur novel dimulai. Empat tahun sebelum Aelin bertemu dengan Ares, sang Kaisar Neuchwachstein. Pada saat momen itu terjadi, pintu neraka telah terbuka untuk Aelin. Hidupnya yang penuh kehampaan dan ketidakadilan akan dimulai tanpa henti. Sisanya, segalanya berjalan sesuai aturan novel. Putri Mahkotanya adalah Arnemesia Feria Hyperion von Sinclair, adik seayahnya Aelin. Oleh karena gadis itu dilahirkan dari rahim permaisuri, secara otomatis membuatnya mendapatkan gelar Putri Mahkota. Terlebih, Ares hanya memiliki dua putri; Aelin dan Arne. Pria itu tidak mencari wanita lagi usai permaisuri tiada sesaat setelah melahirkan Arne. Sesuai novel, Arne hidup dalam limpahan kebahagiaan di Istana Elverstone, istana yang menaungi pangeran dan putri kekaisaran. Sementara, Aelin ditelantarkan di Istana Clementine, istana yang menaungi selir kekaisaran. Istana itu terbengkalai sejak delapan tahun yang lalu sesudah Ares menghabisi seluruh selirnya. Sebuah insiden berdarah yang tidak dibicarakan secara sembarangan. Claire menghela napas panjang di sela membaca sejarah kekaisaran. Hatinya masih diberatkan oleh rasa tak percaya. Berharap ini semua hanya mimpi buruk yang akan berakhir saat membuka mata. Tetapi mimpi tidak akan senyata ini. “Putri? Anda baik-baik saja?” Teguran Sierra membuyarkan lamunan Claire. Gawat, dia tidak boleh bersikap mencurigakan di hadapan ibu asuh Aelin tersebut. Telah merawat Aelin sejak bayi membuat Sierra mengenal Aelin bak seorang ibu ke buah hatinya. Alhasil, Claire harus menjaga topengnya baik-baik selagi berusaha beradaptasi pada kehidupan barunya sebagai Aelin. “Aku baik-baik saja, hanya sedikit mengantuk,” jawab Claire kemudian, sedikit kikuk. Raut khawatir spontan terpasang di wajah Sierra. “Apakah ada yang sakit? Kalau begitu, lebih baik untuk segera beristirahat, Putri.” Dada Claire terasa dihujam oleh selusin pisau tak kasat mata. Tepat menusuk jantung, menimbulkan nyeri yang mengerikan. Claire tahu apa maksud dari perasaan itu. Bersalah. “Tidak, aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir.” “Tapi, Anda baru saja siuman setelah tertidur cukup lama. Tubuh Anda masih lemah, Putri.” “Tidak, tidak, aku baik-baik saja.” Salah satu fakta yang Claire lupakan sesaat setelah menjadi Aelin; ketulusan hati dan kasih sayang Sierra kepada sosok Aelin. Sekarang, Sierra tidak tahu bahwa Aelin yang ia rawat sedari bayi telah menghilang, tergantikan oleh orang asing dari dunia lain. Aelin yang ia jaga baik-baik seperti putrinya sendiri telah pergi tanpa ia sadari. Dan, tidak mungkin bagi Claire untuk memberitahunya secara terang-terangan. “Jika merasa kesakitan atau butuh apa pun, segera beritahu saya, Putri.” Untuk sesaat, Claire tidak sanggup menatap wajah tulus Sierra. Kepala pelayan itu ditakdirkan tewas oleh kaisar karena membela Aelin habis-habisan sampai akhir. Salah satu tokoh dalam novel yang juga dicintai oleh Claire, berikut juga Freda dan Leah—dua dayang Aelin lainnya. Tidak jauh berbeda, mereka memiliki akhir yang sama seperti Aelin dan Sierra. Sebuah akhir mengerikan yang tidak pantas diterima oleh mereka. Claire mendongak, menoleh ke Sierra seraya merenggangkan kedua lengan lebar-lebar. Sukses membingungkan sang ibu asuh. “Kalau begitu, aku ingin pelukan.” “Eh?” sahut Sierra sedikit terkejut dan melongo, tidak menduga sama sekali. “Pelukan,” pinta Claire lengkap dengan wajah memelas khas anak kecil. “Aku ingin memeluk Sierra.” Walau dilanda bingung, Sierra memenuhi permintaan sang putri. Sedikit kikuk, ia merengkuh Claire. Tubuhnya cukup kaku hingga sedikit terasa tidak nyaman untuk dipeluk. Akan tetapi, kehangatan yang nyaman dan menenangkan terpancar dari tubuh Sierra, membuat Claire tak mau melepas. Gadis itu mengeratkan pelukannya seraya menyembunyikan wajah di lekuk leher Sierra. Benaknya kembali memikirkan sesuatu untuk memantapkan tekadnya. Demi Aelin, Sierra, Freda dan Leah, aku akan menyelamatkan kita semua, batin Claire. Apa pun rencanamu, Tuhan, tolong jangan mempersulit keadaan kami. Ya, Claire harus mengingat baik-baik inilah kehidupan yang harus dia jalani sekarang. Kehidupan sebagai sang Putri Terlantar di Kekaisaran Neuchwachstein, Aelinna Eunice von Sinclair, yang ditakdirkan tewas di bawah perintah ayahnya sendiri atas tuduhan serta fitnah dari semua orang. Dia bukan lagi Claire Ohara, dia adalah Aelinna Eunice von Sinclair. Dan, inilah kisahnya.     TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN