Dion Ollivander, ajudan Kaisar Neuchwachstein yang sepak terjangnya begitu panjang sewajarnya kesatria pahlawan pada umumnya. Seseorang yang mungkin menjadi satu-satunya saksi atas perjalanan hidup sang kaisar dari masih tidak bisa apa-apa sampai dijuluki Kaisar Berdarah Dingin. Lebih tua lima tahun, Dion telah mengawal Ares begitu lama hingga hubungan mereka sedekat nadi saudara kandung dalam sudut pandang Dion. Ares tidak pernah mengutarakan apa pun mengenai hubungan mereka tetapi Dion tahu Ares mempercayainya dalam hidup dan mati.
Sebagai ajudan Ares, Dion telah menyaksikan beragam peristiwa di Neuchwachstein dalam sepanjang ingatan selama hidupnya. Salah satu yang paling membekas adalah tentang kedua putri Ares; Aelinna dan Arnemesia. Tidak banyak yang dapat Dion utarakan selain ketimpangan perlakuan antar keduanya. Aelinna, si Putri Clementine Terlantar dan Arnemesia, si Putri Mahkota bergelimang kemakmuran. Dion tidak dapat berkomentar, namun dia memiliki banyak pemikiran tersendiri yang jika diutarakan mungkin akan membuat kepalanya terlepas dari lehernya.
Kepala Dion menoleh saat terdengar gemerisik kertas beradu dengan kayu jati meja di hadapan sang Kaisar Neuchwachstein. Kaisar berambut pirang emas dan bermata perak itu tampak bersiap menyingkir dari tempat yang paling ia benci sehingga Dion bersuara, “Perlu dipersiapkan bak mandi atau anggur Anda, Yang Mulia?”
Mandi pada tengah malam akan selalu menjadi hal yang aneh dalam kepala Dion. Ares tidak memiliki waktu sebebas itu di sepanjang hidupnya untuk memilih kapan waktu yang cocok untuk mandi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengurus kekaisaran. Kekosongan kursi Permaisuri menjadi alasan utamanya, namun sebagian kecil lainnya ialah kepribadian Ares yang terlalu independen. Dia tidak mempercayai ada seseorang yang memiliki keahlian bekerja dapat memenuhi ekspektasinya. Lantas, hampir seluruh urusan kekaisaran dilimpahkan pada pundak Ares. Memakan waktunya.
“Aku akan mandi besok, siapkan anggur,” jawab Ares seraya menjatuhkan diri di sofa panjang putih hingga menimbulkan bunyi yang sedikit menggema di seisi ruang kerja, “dan beberapa alkohol.”
Alkohol sudah seperti teman setia selain Dion dalam hidup Ares. Entah dulu maupun saat ini, Ares tidak akan pernah memisahkan diri dari alkohol meski dokter kekaisaran berkata itu tidak baik bagi tubuhnya. Kekhawatiran dokter dianggap konyol oleh Ares berhubung usia Ares masih terlampau muda untuk mengkhawatirkan penyakit para lansia. Namun, bagi seluruh instansi pemerintah, itu bukan hal yang konyol, kaisar harus hidup panjang selagi keturunannya masih terlalu muda untuk menjadi penerus.
Tidak ada yang ingin mengulang masa pemerintahan Permaisuri Savvina, satu-satunya pemimpin Neuchwachstein yang tercatat sebagai pemimpin termuda karena naik takhta di usia sepuluh tahun akibat ketiadaan Kaisar Herakles yang terlalu cepat.
Meski tidak ada satu pun yang terlihat membenci Arne, itu tidak akan berlangsung lama. Sesempurna apa pun Arne saat ini bukan berarti itu dapat menyelamatkannya dari manusia yang selalu berubah-ubah. Dan Dion lebih setuju Ares harus hidup lama, setidaknya sampai Arne cukup berkualifikasi untuk meneruskan takhta.
Denting dari peraduan botol kaca anggur dan meja marmer tidak membuat Ares membuka mata. Seperti biasa, mengistirahatkan diri sejenak usai bergelut terlalu lama dengan urusan kekaisaran yang memuakkan. Jika boleh jujur, Dion tidak ingin Ares berlarut kian dalam pada alkohol, meski itu sudah sangat terlambat, karena memulai pagi bersama pening akibat alkohol setiap hari bukanlah kebiasaan bagus. Apa daya? Dion tidak memiliki kuasa untuk melarang kaisar.
“Putri Arne mengajukan pertemuan dengan Anda untuk minum teh bersama-sama, Yang Mulia,” ujar Dion usai menata botol-botol alkohol siap minum di meja marmer depan sofa panjang yang ditiduri oleh Ares. “Putri berharap Anda dapat menyisihkan waktu sejenak pada akhir pekan esok.”
Kening Ares segera mengerut seolah baru saja mendengar fakta teraneh di dunia. Kemudian, tanpa peduli menekuk lengan kanannya dan meletakkannya di atas keningnya. Tampak tak begitu tertarik. “Aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main,” jawabnya dengan suara serak seolah ada sesuatu yang mengganjal kerongkongannya.
“Duke Morrison juga akan hadir dalam undangan teh tersebut.”
Ares mendecak keras, merapalkan sumpah serapah dalam batinnya, Dion tahu itu tanpa Ares perlu membuka bibirnya. Menjadi ajudan kaisar membuat Dion juga tahu siapa saja orang yang dibenci sang kaisar. Duke Morrison salah satunya, dan mungkin menduduki peringkat pertama meski Ares tidak pernah mengutarakannya. Lalu dilanjutkan oleh seluruh aristokrat Neuchwachstein karena mereka selalu memberikan sakit kepala di sepanjang hidup Ares.
“Aku tidak peduli. Biarkan anak itu bermain dengan kakeknya,” tandas Ares kemudian, bangkit duduk bersiap menenggak alkohol di hadapannya. “Tampaknya pria tua itu memiliki terlalu banyak waktu senggang hingga bisa meluangkan diri untuk menginjakkan kaki di istana. Osharia sangat damai, huh?”
Derak percikan alkohol mengisi gelas kaca menjadi saksi bisu atas ketidakpedulian Ares pada putrinya sendiri. “Saya mengerti, akan saya sampaikan penolakan Anda,” tanggap Dion selagi memenuhi gelas tersebut.
Tiada keanggunan, Ares menenggak isi gelas terkesan serakah. Kepalanya berdenyut dalam sekejap akibat benturan kelelahan dan serangan kuat alkohol bercampur aduk. Meski begitu, dia tidak bergeming karena telah terbiasa. Dalam pikiran Ares, entah sadar atau digantung-gantung antara kewarasan dan tidak, alkohol akan selalu menjadi penenang di hidupnya. Sensasi pening yang menusuk-nusuk itu sebanding dengan obat penenang mana pun. Tentunya, Ares tidak memedulikan larangan dokter terkait bahaya menenggak alkohol dalam takaran berlebihan setiap hari. Katakan saja, Ares telah menenggelamkan diri seutuhnya pada alkohol.
“Osharia masih bergelut dengan ketidakstabilan perekonomian akibat banyaknya pengusaha bodoh yang terjebak informasi palsu terkait peluang Citrumene, berani-beraninya dia menginjakkan kaki di istanaku,” desis Ares di sela menenggak gelas-gelas berikutnya.
Osharia adalah salah satu kadipaten di Kerajaan Deltora di bawah pimpinan Duke Morrison, ayah mertua Ares dan kakek Arne. Reputasinya cemerlang sebagai pemimpin turun-temurun Osharia sekaligus salah satu tiang penyokong Kerajaan Deltora. Tidak terbantahkan lagi, reputasi kental keluarga Morrison tidak perlu dipertanyakan sebagai salah satu aristokrat tinggi Neuchwachstein. Sayangnya, dalam sudut pandang Ares, keluarga itu tercela dan busuk.
Kebusukannya terlalu menyengat meski ditutupi oleh segudang reputasi cermatnya selama bertahun-tahun. Alasan lain dari mengapa daftar insan yang Ares benci diisi oleh aristokrat; mereka adalah seburuk-buruknya manusia. Hidup di dunia atas selayaknya hidup di hutan rantai makanan. Yang kuat semakin kuat dan yang lemah tidak memiliki pilihan selain tunduk dan bertahan sekeras mungkin.
“Duke Morrison sangat menyayangi Putri Arne, maka wajar untuk melihatnya selalu berusaha meluangkan waktu demi Putri,” tanggap Dion hati-hati. “Terkait Citrumene, sempat terdengar kabar burung bahwa itu telah ditemukan di utara Landover. Apakah Anda ingin memastikannya?”
“Landover, huh?” mata perak Ares mengamati putaran alkohol dalam gelas kaca genggamannya secara tak minat. “Wanita itu pasti akan menyuarakan sesuatu jika memang mineral sihir itu ditemukan di wilayahnya. Dia suka pamer.”
“Ratu Rasha selalu menjadi pengikut setia Neuchwachstein.”
“Tentu saja, sangat setia hingga memiliki nyali untuk menyembunyikan tambang Kerosum dariku.”
Suara Dion hampir tercekat untuk sesaat karena Ares mengungkit perseteruan beberapa tahun silam dengan Kerajaan Landover yang berujung perang dingin sampai saat ini. Landover telah lama menjadi salah satu kerajaan yang dinaungi kekaisaran, namun pemimpinnya saat ini, Ratu Rasha Agriwulf, memiliki kepribadian keras yang seringkali berujung perselisihan dengan siapa pun—termasuk Ares.
“Aku tidak akan pernah bisa mempercayai aristokrat busuk ini,” tukas Ares seraya meletakkan gelas dengan tempo sedikit keras, hampir mengkhawatirkan Dion karena gelas itu bisa pecah dalam sekejap akibat benturan kasar Ares.
Dion berdeham sekilas, mengabaikan kekhawatirannya. “Namun, Anda bisa mempercayai Kerajaan Deltora. Keluarga Zacharias telah lama menjalin persahabatan dengan keluarga Anda; keluarga Sinclair. Hingga menghasilkan rencana terkait pertunangan Putri Arne dengan Pangeran Karl.”
Ares mendengus, manik peraknya menyorot Dion dengan tajam. “Aku tidak menyuarakan apa pun terkait pertunangan bodoh itu.”
“Ya, tapi itu telah direncanakan oleh Raja Hilderic dan Duke Morrison.”
“Terkesan sangat berambisi untuk masuk ke dalam silsilah keluargaku.”
Dion tidak akan merasa heran terhadap kebencian Ares kepada Sighard Morrison, sang Duke. Kisah kelam penuh muram durja itu sudah ditutup. Cukup mengerikan untuk diceritakan, tidak pantas pula untuk diungkit-ungkit lagi. Selama Sighard tidak melakukan apa pun pada keluarga kekaisaran, Dion akan tetap diam.
TO BE CONTINUED