Berita tentang kedekatan Ares dan Aelin telah sampai ke Istana Hampstead. Tak terelakkan, Arne mendengar bagaimana kabar itu berhembus perihal Ares minum teh bersama kakak yang selama ini dijauhkan darinya. Sama seperti pelayan lainnya, Arne bingung mendengar kabar tersebut. Dia tidak bisa berpikir mengapa sang ayah yang selama ini tidak mempedulikan Aelin tiba-tiba saja bersikap demikian. Terlebih lagi, beliau juga sangat jarang menyisihkan waktu untuknya yang notabene Putri Mahkota.
Arne bukan anak manja tetapi siapa yang tidak terkejut mendengar Ares dan Aelin tiba-tiba dekat. Jika benar sang ayah berubah pikiran mengenai putri sulungnya, maka itu perlu dipertanyakan alasannya. Ia telah mengangkat penyihir khusus untuk Aelin demi kesehatan sekaligus teman bermain gadis itu, lalu kini dilanjutkan dengan perubahan sikap padanya? Arne tidak bisa tinggal diam tanpa mengetahui alasan sebenarnya.
Alhasil, di sinilah Arne berada sekarang, belasan meter dari Istana Clementine, melanggar peraturan Ares.
Meski Istana Clementine tidak berdesain lebih mewah dari Istana Hampstead, Arne tetap merasa terpukau melihat arsitekturnya yang kental oleh seni. Kesederhanaannya tertutupi oleh gaya arsitektur tersebut sehingga orang awam tidak akan langsung menilai istana itu sebagai istana jelek. Arne tahu Istana Clementine adalah istana bekas selir dan dilarang bagi Pangeran serta Putri untuk menginjakkan kaki di sana. Tidak etis, alasannya.
Menggelengkan kepala, Arne memantapkan tekad untuk mencari tahu apa-apa yang sesungguhnya terjadi antara Ares dan Aelin. Langkah kecilnya tercipta menuju Istana Clementine yang tampak sepi namun satu-dua pelayan terlihat berlalu-lalang di koridornya. Arne berusaha melongok ke dalam istana dari balik semak dan pepohonan, mencari-cari sosok sang Putri Pertama yang notabene kakak kandung berbeda ibunya yang tak pernah bersitatap sama sekali.
“Makan siang untuk Putri sudah siap?”
Arne segera berjongkok di balik semak-semak saat beberapa pelayan melintasi koridor luar. Batinnya cukup ketakutan melakukan hal semacam ini karena tak dapat membayangkan bagaimana marahnya Ares jika pelanggarannya tercium. Ares tidak pernah memarahinya tetapi bukan berarti pria itu tidak akan pernah memarahinya, bukan?
“Sudah. Lady Sierra telah menyiapkannya terlebih dahulu bersama Freda.”
“Beliau sangat rajin, bukankah begitu? Padahal ada banyak pelayan di sini tetapi beliau selalu berusaha mengerjakan semuanya.”
“Mau bagaimana lagi? Beliau telah bertahan selama 8 tahun bekerja di antara pelayan-pelayan bebal sampai akhirnya terbiasa sampai sekarang.”
“Ya, untunglah itu semua sudah berakhir.”
Arne tahu kabar itu. Ares mengganti seluruh pelayan Istana Clementine kecuali tiga dayang Aelin usai mengetahui ketidakbecusan mereka dalam melayani Aelin. Bahkan ada satu pelayan yang berakhir dihukum mati karena digadang-gadang pelanggarannya sangatlah besar. Semua orang berkata itu bukanlah hal yang berlebihan karena mereka semua memang patut dihukum akibat mencela anggota kekaisaran, bukan karena akhirnya mempedulikan sang Putri Pertama. Namun, bagi Arne justru sebaliknya. Ares tidak akan bertindak sejauh itu jika tidak dilandaskan kepedulian.
Arne berdiri guna berpindah ke tempat berikutnya agar semakin dekat dengan taman Istana Clementine. Aelin pasti sedang berada di sana karena dia pernah mendengar bahwa gadis itu tidak pernah keluar dari Istana Clementine selain tempo hari sebelumnya dia tidak sengaja sampai ke Istana Kaisar dan bertemu Ares. Arne pun baru tahu betapa dekatnya jarak Istana Kaisar dan Istana Clementine dibandingkan dengan Istana Hampstead.
Gaun ungu Arne terayun diterpa angin kala Arne berlari kecil menuju area taman di belakang Istana Clementine. Peluh membasahi keningnya akibat berlarian dan rasa gugup yang membuncah. Batinnya tidak berhenti berdoa agar tiada satu pun yang memergoki dirinya sampai akhir. Akan tetapi, sepertinya Dewa dan semesta tidak berbaik hati padanya karena tiba-tiba saja langkah Arne dihalangi oleh seorang anak laki-laki bermata emas dan berjubah merah khas penyihir kekaisaran saat dirinya sudah sangat dekat dengan taman.
“Astaga!” ujar Arne tersentak bukan main, jantungnya seolah merosot jatuh begitu saja karena sosok Saga muncul tepat saat dirinya berbelok di tikungan bangunan.
Raut muka Saga tidak bersahabat sama sekali seolah-olah Arne adalah serangga pengganggu. Bahkan dirinya tidak segera memberikan salam hormat kepada Arne hingga akhirnya dia melakukannya dengan kesan terpaksa yang tidak berusaha ditutupi pula.
“Segala berkat dan kesejahteraan untuk Neuchwachstein dan Putri Mahkota, saya Saga, Penyihir Kekaisaran. Ada gerangan apa hingga Putri jauh-jauh ke Istana Clementine tanpa pengawal?”
Bahkan nada suaranya tidak diindahkan sama sekali.
Sesaat, Arne bingung memikirkan jawaban yang tepat. Dia tidak menyangka akan berpapasan dengan si Penyihir Kecil Jenius yang diangkat langsung oleh Ares untuk Aelin. Ini juga pertama kalinya Arne harus berhadapan dengan anggota Penyihir Kekaisaran. Tidak mungkin dia berkata jujur sedang mencari informasi tentang Aelin, bukan?
“Salam kenal, Tuan Penyihir. Saya mendengar bahwa kakak saya, Putri Aelinna, telah sembuh dari komanya sehingga saya ingin mengunjunginya,” jawab Arne kemudian, berbohong.
Saga menyunggingkan senyuman, sontak membuat bulu kuduk Arne merinding. “Ah, begitu. Terima kasih atas perhatian Putri tetapi sayang sekali, Putri Aelinna tidak dalam kondisi bagus untuk menerima tamu. Jadi, Putri harus segera kembali sebelum orang lain memergoki Anda.”
“Eh…?”
“Mari saya antar kembali.”
Barusan dia… menyindirku? batin Arne, tertegun. Manik peraknya menatap senyuman formal Saga yang masih terpasang dengan tatapan tak percaya sekaligus kebingungan. Tunggu, apakah dia tahu aku berbohong?
Sebelum Saga menegaskan bahwa Arne harus kembali, Arne bersuara, “Tunggu, Tuan Penyihir. Ti—tidak bisakah saya mengunjungi kakak saya? Apakah dia kembali sakit? Aku mengunjunginya karena mendengar Kakak telah bertemu dengan Ayah—”
“Tidak bisa,” sela Saga lugas tiada gentar menyela ucapan anggota kekaisaran. “Kondisi Putri Aelinna kembali lemah usai bertemu dengan Yang Mulia. Apakah itu cukup untuk menjadi jawaban Anda?”
Arne tidak pernah tahu bahwa si Penyihir Kecil Jenius berkarakter seperti ini. Saga tidak segan untuk bersikap tidak hormat padanya meski tahu dia adalah Putri Mahkota yang notabene paling dipedulikan oleh Ares. Saga terkesan lebih menghargai Aelin daripada Arne dan itu terlihat sangat jelas dari sikapnya. Mengapa seluruh keanehan ini tiba-tiba terjadi dalam waktu berdekatan?
“Baiklah, terima kasih, saya akan kembali.”
“Mari.”
Seluruh usahanya berujung sia-sia. Arne tidak mendapatkan satu pun informasi mengenai Aelin, melihat sosoknya pun tidak. Dia justru bertemu dengan penyihir jenius yang diagung-agungkan di Menara Penyihir Kekaisaran. Dan itu lebih mengejutkan karena Saga berani bersikap tak hormat padanya, entah apa alasannya. Lantas, bisa jadi ucapan Saga perihal Aelin hanyalah kebohongan agar dapat membuat Arne pergi. Dan sayangnya, Arne tidak memiliki pembelaan lain agar dapat memaksa bertemu dengan Aelin.
Tanpa diketahui oleh Arne, Saga menggumamkan, “Tidak mungkin aku akan membiarkanmu bertemu dengannya, Makhluk Aneh.”
TO BE CONTINUED