Pada akhirnya, Aelin diantarkan ke Desa Orc. Harus dia akui, desanya sangat kecil dan jelek. Luasnya tidak begitu lebar dengan hanya menampung sepuluh gubuk rapuh. Sekali bersinnya kucing raksasa milik Kuro bisa menghempas desa itu. Atau mungkin jika suatu hari tiba-tiba saja angin kencang berhembus di kala musim dingin maka tamatlah riwayat desa tersebut.
Aelin dijamu di rumah Kepala Desa, kakek Orc yang sebelumnya dihajar bersama cucunya oleh pemimpin Werewolf. Melihatnya lagi dari dekat membuat Aelin ingin menangis, saking ibanya. Kakek dan cucu tersebut duduk di hadapan Aelin dengan tubuh sedikit gemetar seolah berpikir Aelin seberbahaya pemimpin Werewolf.
“Selamat datang, Tamu Terhormat. Saya adalah Kepala Desa di sini,” sapa si kakek.
Aelin mengangguk. “Hai, salam kenal. Jadi, permintaan apa yang ingin Anda sampaikan padaku?”
Sesaat, kakek itu bertukar tatap dengan cucunya lantas mereka mengangguk serempak seolah telah melakukan kesepakatan melalui telepati. Kemudian, mereka kembali menatap Aelin seraya memberikan jawaban, “Akhir-akhir ini, apakah Anda menyadari adanya pergerakan yang tidak wajar dari para monster?” tanya si kakek.
“Tidak…,” jawab Aelin seadanya berbalut bingung.
“Dewa kami telah menghilang sejak beberapa hari yang lalu. Jadinya, para monster di sekitar sini terus-menerus mengusik kami.”
“Dewa?”
Si cucu mengangguk tegas namun wajahnya penuh sorot duka. “Benar. Seekor naga bernama Numiar berjulukan sang Pelindung Langit. Dahulu, Hutan Leigami dikuasai oleh Numiar, beliau memberlakukan aturan untuk tidak saling bentrok antar monster. Namun, kini sejak beliau tiba-tiba menghilang, aturan itu dilupakan dalam sekejap oleh para monster yang haus kekuasaan seperti Werewolf.”
Ah, benar, Aelin pernah membacanya di buku. Di zona The Eternity Forest, The Aquatic Haven dan The Darkened Realm yang dihuni oleh para monster memiliki pola aturan sejenis hukum rimba. Yang terkuatlah yang berkuasa. Para monster yang tinggal di luar area kerajaan memilih tempat tinggal dan memperluasnya dengan cara bertarung melawan monster lain. Saga juga memberi tahu bahwa cara cepat untuk mengetahui seorang monster kuat atau tidak adalah mengetahui apakah ia memiliki nama atau tidak. Sebab, pada dasarnya monster lahir tanpa nama. Bagi mereka yang telah memiliki nama akan berevolusi menjadi lebih kuat tergantung kadar kekuatan yang ia dapatkan dari si pemberi nama.
Oleh karena Naga Pelindung Langit tersebut memiliki nama, kekuatannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Masalah yang perlu dipikirkan adalah, ke mana perginya naga itu? Berpindah tempat tinggal? Tidak mungkin, ia telah menguasai Hutan Leigami. Mencari tempat tinggal baru sama saja terlibat pertarungan merepotkan lagi. Namun kemudian, tidak ada yang benar-benar tahu. Dan Aelin memilih tidak ingin tahu.
“Kami berusaha melawan mereka, tetapi jumlah kami terlalu sedikit…,” ujar si kepala desa.
“K—Karena itu kami ingin….” sambung si cucu.
Meminta bantuanku, huh? simpul Aelin dalam batinnya. “Tetapi, aku ini hanya manusia biasa. Aku tidak akan bisa memenuhi harapan kalian.”
Sepasang kakek dan cucu itu tersenyum teduh.
“Harap jangan merendah,” tukas si kakek.
“Jangan merendah,” timpal cucunya.
Aelin mengerjap bingung dengan mata memicing. Sesungguhnya, sedari awal dia heran mengapa para Orc menyebutnya sebagai orang kuat hingga meminta bantuannya untuk melawan Werewolf. Dia tidak berbohong maupun merendah, toh dia belum mahir menggunakan kekuatan sihirnya dan kekuatan itu sendiri pun berkata bahwa ia belum sepenuhnya bangkit. Jadi, secara simpel Aelin menyimpulkan bahwa para Orc sudah terlalu putus asa hingga meminta bantuan kepada siapa pun yang lewat di desa mereka.
Akan tetapi, mereka tidak mungkin sebodoh itu untuk meminta bantuan kepada sembarang orang, bukan? Tempat tinggal mereka dipertaruhkan. Mereka pasti sangat ingin mempertahankan desa sehingga tidak mungkin kian menambah luka dengan meminta bantuan orang lemah.
Aelin sungguh tidak bisa mengerti.
“Orang biasa tidak akan memancarkan aura yang sangat luar biasa. Anda pasti penyihir terkenal, bukan?” tukas Kepala Desa diiringi anggukan cucunya.
“Aura?” beo Aelin heran. Dia menunduk, berpikir, Apaan? Aku tidak ingat bahwa aku pernah memancarkan hal seperti itu.
“Master.”
Aelin hampir tersungkur ke belakang kala tiba-tiba saja terdengar suara di dalam kepalanya.
“Master, ini saya. Tidak perlu khawatir.”
H—Huh? Apa-apaan…, bagaimana bisa? batin Aelin seraya membuang muka ke kiri agar tidak diperhatikan oleh kedua Orc di hadapannya.
“Senang bertemu dengan Anda kembali, Master. Saya belum bangkit sepenuhnya, namun setidaknya saya telah dapat tampil dalam wujud seperti ini di dalam diri Anda. Saya dapat berkomunikasi dengan Anda tanpa kendala dan mulai membimbing aliran kekuatan Anda.”
Aelin mendelik kaget. Sungguh?!
“Ya, Master. Mohon bantuan Anda untuk ke depannya, Master.”
Kukira aku akan mati kebingungan akibat permintaan para Orc. Bisakah kau menjelaskan padaku tentang “Aura” yang mereka bicarakan? Aku tidak ingat pernah memancarkan hal seperti itu.
“Baik. Ubah perspektif Indra Sihir.”
Berikutnya, sudut pandang Aelin diubah. Dia dapat melihat dirinya sendiri bak menjadi orang ketiga di gubuk Kepala Desa. Sontak, mata peraknya membulat melihat aura merah pekat memancar dari tubuhnya. Begitu pekat dan tersebar kemana-mana, membuatnya berkeringat dingin.
Astaga! Selama ini, tubuhku memancarkan hal seperti ini? Itu apa?!
“Setiap manusia, iblis dan monster memiliki aura yang merupakan pancaran yang menggambarkan tingkat kekuatan mereka. Semakin pekat sebuah aura, maka semakin tinggi kekuatan yang terkandung, Master.”
Rasa-rasanya seperti aku sedang jalan di keramaian dalam keadaan gaunku terbuka! Bukankah ini gawat?! Jadi, inilah sebabnya para Orc sebelumnya takut padaku!
Aelin terkekeh kecil seraya kembali menatap Kepala Desa beserta cucunya. “Haha, Tuan Kepala Desa memang hebat sampai bisa menyadarinya.”
“Tentu saja. Anda tidak bisa menutupi hawa di sekitar Anda.”
“Begitu, ya. Jadi, kau sudah tahu, hmm. Kalian ini terlihat sangat berpotensi.”
Di saat yang sama, Aelin berbicara dengan sihir kuno miliknya. Serap semua auraku.
Dalam sekejap, aura merah pekat itu berhenti terpancar, membuat Aelin bernapas lega. Kali ini, dia kembali bersyukur karena para Werewolf tidak menyadari kehadirannya meski auranya terpancar kemana-mana. Mungkin saja saat itu belum terpancar sehingga dia dapat bersembunyi dengan aman di balik semak-semak. Dia menyimpulkan auranya terpancar karena sihir kuno miliknya sedikit demi sedikit mulai bangkit berhubung tiba-tiba saja ia dapat hadir di otaknya secara permanen sekarang.
“Ah…, ternyata Anda menguji kami? Memang banyak kaum kami yang takut akan aura Anda,” simpul Kepala Desa seraya sedikit menoleh ke belakang, melirik beberapa Orc yang sedari tadi mengintip di balik pintu tirai daun.
“Be—benar! Kau sangat berpotensi karena bisa bicara denganku tanpa rasa takut!” puji Aelin, berusaha bersikap senormal mungkin agar kebodohannya tidak disadari oleh mereka. Potensi apanya?! Pokoknya, aku sungguh bersyukur karena para Werewolf tidak memergokiku!
“Terima kasih banyak. Lalu, soal permintaan itu…,” ujar si kakek, mulai menjelaskan permasalahan.
Menurut kisah pemimpin Orc, monster serigala, Werewolf, menyerang mereka dari Timur dan banyak prajurit Orc tewas dalam pertarungan tersebut. Tentu saja, Werewolf menduduki dua tingkat di atas Orc dalam strata kekuatan. Butuh sepuluh Orc untuk bisa mengalahkan satu Werewolf. Di antara para Orc ada satu prajurit bernama yang menjadi penjaga mereka. Namun, prajurit itu terbunuh hingga desa semakin terancam ke dalam bahaya.
“Totalnya ada 160 Werewolf,” ujar Kepala Desa, mengakhiri kesaksian.
“Jumlah kekuatan tempur di sini?” tanya Aelin.
“Termasuk dengan para wanita, ada sekitar 60 Orc yang dapat bertarung.”
Perbedaan kekuatan yang bikin putus asa, huh. Seperti game yang mustahil, rutuk Aelin.
“Jadi, prajurit Orc bernama itu melawan mereka meski tahu tidak bisa menang?” tanya Aelin.
Kakek pun kian tertunduk sedih. “Tidak…, Prajurit itu mengorbankan nyawanya untuk bisa memberikan informasi tentang para Werewolf itu kepada kami,” ia bersujud. “Prajurit itu adalah putra saya sekaligus ayah dari cucu saya.”
Ucapannya membuat si Orc kecil gemetar oleh tangisan.
“Begitu…, maaf karena menanyakannya,” tukas Aelin sendu lalu menoleh ke para Orc yang mengintip di balik pintu tirai gubuk. Wajah mereka dipenuhi oleh harapan sekaligus kekhawatiran, sedikit menusuk hati Aelin. “Kepala Desa, aku ingin memastikan satu hal.”
Kakek pun kembali menegakkan punggung. “Ya?”
“Apa yang akan kudapat bila menyelamatkan desa ini? Apa yang bisa kalian persembahkan padaku?”
Kakek dan para Orc tidak bisa menjawab, terdiam dalam gemetar kecemasan dan keputusasaan. Apa mau dikata? Sesungguhnya pun Aelin tidak terlalu mempedulikan imbalan, dia hanya ingin sedikit bernegosiasi.
“Ka—kami persembahkan kesetiaan kami!” jawab si kakek akhirnya, ia kembali bersujud. “Harap beri kami perlindungan Anda! Bila Anda melindungi kami, kami akan bersumpah selalu setia kepada Anda!”
Gelagat memohonnya diikuti pula oleh cucunya. “Kami bersumpah!”
Sebuah pemandangan yang membawa nostalgia pada kehidupan pertamanya di Bumi. Ketika dirinya seorang Claire Ohara, wanita karier kantoran biasa yang perfeksionis namun selalu ada saja perselisihan di dunia kerja. Dia sangat paham apa yang para Orc rasakan dalam sujud permohonan mereka.
Dengan begitu, Aelin menerima permintaan mereka.
AUW!!
Para Orc terlonjak kaget mendengar raungan serigala Werewolf. Didapati oleh mereka seekor serigala mengaum di ujung tebing dekat desa mereka. Tak dapat dikendalikan, mereka berteriak dirundung rasa frustasi dan putus asa akibat hidup dalam ancaman para Werewolf bengis selama berhari-hari.
“Habislah kita!”
“Werewolf!”
“Ayo kabur!”
“Tapi, ke mana?!”
Kakek beserta cucunya yang telah berjalan keluar dari gubuk pun berusaha menenangkan meski dirinya dalam ketakutan yang sama. “Semuanya, tolong tenanglah.”
“Kalian tidak perlu takut.”
Kebisingan mereka pun terhenti, serempak menoleh pada Aelin yang melangkah keluar dari gubuk.
“Kita akan mengalahkan mereka,” sambung Aelin tegas.
Kakek pun mengerjap kaget. “M—Maksud Anda….”
Aelin menoleh ke sekitar, menatap warga Orc sekilas sebelum menatap tegak ke depan pada sang pemimpin Orc. “Sebagai pengganti Naga Pelindung Langit, Numiar, aku, Aena Voldigoad, akan mengabulkan permintaan kalian!”
Serempak para Orc bersujud padanya dalam suka cita dan syukur tiada tara.
“Terima kasih banyak! Kami akan menjadi pelayan setia Anda, Baginda Aena!” ujar Kepala Desa sungguh bersukacita.
“Serahkan saja padaku.”
Mungkin, setelah ini Saga dan Kuro akan memarahinya habis-habisan karena memutuskan melibatkan diri dengan para monster secara sepihak. Mungkin saja Kuro akan langsung mengutuk nyawanya sesaat setelah mendengar kabar ini. Mungkin saja Saga akan mengomel dan menjewer telinganya tanpa ampun. Tetapi, mau bagaimana lagi? Aelin tidak bisa meninggalkan para Orc yang tertindas dan terancam begitu saja. Setidaknya, sihir kuno telah bangkit secara permanen di kepalanya sehingga dia pasti dapat melakukan sesuatu untuk menengahi Orc dan Werewolf.
Yah, aku harus segera memberimu nama agar mudah memanggilmu, batin Aelin.
“Silakan panggil saya sesuka hati Anda, Master. Saya akan menerima nama pemberian Anda dengan suka cita.”
Sebelum itu, Aelin harus memikirkan cara tepat dalam menghadapi kemurkaan Saga dan Kuro.
TO BE CONTINUED