“Minggir Aelin! Seseorang harus mengulur waktu sampai Saga kembali!” seru Kuro seraya kembali maju beberapa langkah. Aura hitam dari kekuatan aslinya memancar lagi, namun kini tanpa aba-aba melesat cepat menyerang para kesatria.
Beberapa kesatria yang bersiaga di barisan paling depan pun terserang oleh kutukan Nekomata. Sama seperti tumbuhan sebelumnya, mereka meregang nyawa dalam sekejap. Tidak hanya meregang nyawa, tubuh mereka segera membusuk begitu saja. Para kesatria yang tersisa melotot menyaksikan rekan-rekan mereka tiada secepat kedipan mata tanpa bisa dicegah sedikit pun. Satuan kesatria yang dapat menggunakan sihir sekali pun tak dapat menangkal mantra gelap Kuro. Akibatnya, satu per satu kesatria mulai berjatuhan.
Aelin turut menyaksikan pemandangan mengerikan itu dengan tubuh gemetar ketakutan. Padahal dia seharusnya senang karena dapat melakukan pertahanan diri dan mencegah kesatria melancarkan serangan ke gua. Akan tetapi, hati nuraninya menjerit tak mampu menyaksikan satu per satu mayat berjatuhan lalu membusuk secepat kilat. Dia tidak menyangka kutukan Nekomata seberbahaya itu. Dia pikir, Kuro hanya mampu merenggut nyawa seseorang dalam jangka waktu tertentu, tidak secepat ini hingga menimbulkan kebusukan ekstrim.
“Corrupterbus Immoruro!” ujar Kuro lantang merapalkan mantra.
Asap-asap aura hitam pekat yang sedari tadi menyerang bergumul membentuk seekor kucing hitam raksasa. Sontak membuat suasana kian mencekam karena langit jingga berubah gelap diiringi angin kencang yang tak kalah mengerikan. Malam memang akan segera tiba sehingga tidak aneh melihat langit jingga berubah hitam pekat. Akan tetapi, itu berbeda dari langit malam yang normal membentang. Siapa pun tahu perubahan cuaca tersebut disebabkan oleh terdampak kekuatan kutukan Nekomata.
“Bentangkan mantra pelindung!” komando salah satu kesatria, memandu rekan-rekannya agar segera kembali fokus sebelum tim mereka semakin dihabisi oleh Kuro.
“Expelasis!”
Kubah pelindung segera menaungi para kesatria. Pancaran sihir hitam dari kucing raksasa milik Kuro pun sedikit terhalau. Akan tetapi, tiada satu pun kesatria yang merasa lebih lega melihatnya karena tahu itu tidak cukup untuk menghalau kutukan Nekomata. Terlebih lagi, mereka tidak tahu Kuro termasuk ke dalam tingkatan keberapa. Semakin tua seekor Nekomata maka semakin besar kekuatannya. Mereka berasumsi Kuro termasuk ke tingkat S atau SS akibat mantra berbahayanya, Corrupterbus Immoruro.
“Tersangka Putri Aelinna! Hentikan perlawanan Anda!!”
Aelin bangkit berdiri tepat saat beberapa kesatria meluncurkan bom sihir ke arah gua. Dentuman demi dentuman kembali menghantam atap serta dinding gua, bergemuruh hebat. Bom-bom sihir tersebut tidak dapat menembus mantra pelindung Saga, akan tetapi dentum dari tabrakannya mampu meluluhlantakkan gua jika itu tidak segera dihentikan.
Kuro memahami kekhawatiran Aelin sehingga dia memerintahkan kucing raksasanya untuk menerjang kesatria. Mematuhi perintah sang tuan, kucing raksasa tersebut berlari menerjang kesatria. Ekornya membelah menjadi sembilan dengan tombak di tiap ujungnya. Ekor-ekor itu menghantam kubah pelindung bersamaan dengan cakar depan melancarkan serangan cakaran. Para kesatria yang bertugas menanam pelindung pun ketar-ketir akibat serangan yang menghantam kubah terlampau dahsyat.
Tanah bergemuruh saat serangan Kuro berbenturan dengan kubah pelindung. Angin kencang tidak berhenti berhembus dan langit semakin mencekam oleh kegelapan. Aelin menyaksikan kekuatan besar Kuro dengan kengerian yang nyata. Gadis itu pernah mendengar kesatria kekaisaran terisi oleh orang-orang berbakat yang tidak sembarangan. Mereka dilatih sedemikian rupa untuk dapat menghadapi segala skenario terburuk demi kejayaan Neuchwachstein. Kini, melihat mereka mampu bertahan melawan seekor Nekomata menjadi bukti nyata bahwa kabar itu bukan isapan jempol belaka.
Sebab, di saat sedang berjuang mempertahankan kubah pelindung, beberapa kesatria mampu melancarkan serangan bom sihir ke gua. Masih terdapat celah bagi mereka untuk menyerang meski situasi sedang memojokkan mereka. Walau seluruh hati nurani Aelin merasa tidak tega melihat kesatria kekaisaran berjuang habis-habisan di tengah ancaman kutukan Nekomata, dia tetap tidak akan membiarkan dirinya ditangkap. Terlebih, Ares memintanya untuk pergi dan hidup bahagia di luar istana. Aelin tidak akan menghancurkan harapan sang ayah.
Namun kemudian, apa yang dapat Aelin lakukan sekarang? Dia belum mahir menggunakan kekuatan sihirnya, dia juga tidak memiliki kemampuan berpedang maupun bela diri. Tidak mungkin dia hanya mengandalkan Kuro. Walau kucing itu tidak mengatakan apa pun, ia pasti juga memiliki batasan dalam menggunakan kekuatannya. Belum tentu Saga akan kembali sebelum Kuro mencapai batasan tersebut.
Demi Tuhan, apa yang harus Aelin lakukan?
Tidak, fokus, Aelin. Kau mampu mengeluarkan Flareos dalam wujud kobaran besar. Maka, bukan hal mustahil untuk mengeluarkannya lagi. Fokus! batin Aelin seraya mulai memfokuskan diri pada aliran mana dalam dirinya.
Walau belum terlalu lama Saga melatih Aelin, setidaknya gadis itu telah memiliki pegangan teori. Dia hanya perlu mengulang segala hal yang Saga katakan, maka semuanya akan berjalan baik-baik saja. Sihir tidak sesulit itu. Kali ini, dia tidak akan hanya tinggal diam menerima perlindungan dari orang lain. Dia akan ikut berjuang.
“Incentus!” raung Kuro merapalkan serangan berikutnya. Kucing raksasa miliknya segera meluncurkan sengatan listrik melalui tombak dari sembilan ekornya ke arah kubah pelindung.
Dalam sekali kedipan, ledakan terjadi akibat beberapa sengatan berhasil dipantulkan oleh kubah. Pepohonan roboh dan tanah berlubang akibat menjadi sasaran pantulan. Sementara, sengatan yang berhasil menghantam menimbulkan keretakan pada kubah. Walau belum seberapa, itu memberikan dampak yang cukup besar karena akhirnya Kuro mengetahui serangan yang tepat untuk menghancurkan kubah.
“Incen—uhuk!”
Aelin yang sedang memejamkan mata karena berkonsentrasi pun sontak membuka mata dan menoleh ke arah Kuro yang barusan terbatuk. Kucing hitam itu terbatuk lagi beberapa kali sebelum tubuhnya mulai gemetar. Tidak dapat menyembunyikan kepanikannya, Aelin berjongkok di belakang Kuro kemudian meraih kucing itu. Gemetar di tubuh Kuro sangat terasa di tangan Aelin.
“Kuro, ada apa?!” tanya Aelin panik.
Kuro terbatuk lagi sebelum menjawab, “Sepertinya, aku mulai mencapai batasanku, ugh….”
“Apa…?”
Akhirnya, Kuro ambruk di tangan Aelin. Meski begitu, pancaran kekuatannya belum memudar. Kucing raksasa miliknya masih berdiri menyerang para kesatria. Akan tetapi, tidak sekuat sebelumnya. Hantaman ekornya pada kubah tidak menimbulkan getaran signifikan. Serangan-serangan listriknya pun demikian. Jika seperti ini, cepat atau lambat kesatria akan mendominasi pertarungan hingga berhasil menangkap Aelin.
Aelin menggeleng pelan, matanya membulat oleh kepanikan juga ketakutan. Otaknya kosong melompong tak menemukan jalan keluar. Seolah semesta ingin menghancurkan harapan Ares padanya, serangan bom sihir meluncur bertubi-tubi akibat kucing raksasa Kuro melemah. Perlahan, muncul suara retakan di atap dan dinding gua, membuat Aelin menoleh. Benar saja, ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan.
Gua akan runtuh.
Demi Tuhan, jika memang harus berakhir seperti ini, aku tidak menginginkannya…! batin Aelin seraya terduduk dan mendekap Kuro seerat mungkin. Air mata bergumul di ekor matanya, seketika matanya memanas.
KRAK!
“Imperfactum!!”
Seketika, gua luluh lantak oleh serangan kesatria. Dan tidak ada pergerakan Aelin keluar dari gua tersebut.
TO BE CONTINUED