Mobil yang dikendarai Burhan berhenti di depan rumah Nazar. Dia sengaja datang bersama istrinya untuk menjemput Marsha yang kemarin berencana kawin lari dengan Barry. Dia memang sengaja tidak mencari Marsha, dan malah bersyukur kalau anaknya berniat kawin lari.
Namun, rasa syukurnya dengan cepat berganti terkejut saat Nazar menelepon dan mengatakan Marsha berada di rumahnya sejak kemarin sore.
Tanpa mengucapkan salam, Burhan merangsek masuk ke rumah mantan sopirnya tersebut.
"Eh...eh pada mau ngapain? Yang sopan dong kalau ke rumah orang!" Seru Martini yang kaget melihat kedatangan Burhan dan Dini.
"Jelaskan sama saya, apa tujuan kalian berbuat seperti ini? Main bawa pulang anak gadis orang sembarangan aja! Sekarang dimana Marsha?" Burhan melipat tangannya dengan raut muka yang menyebalkan.
Martini melotot, hampir saja dia melempar sutil yang ia pegang ke kepala Burhan, si BURuk ciptaan TuHAN. Tapi tangan Ubay menahannya, mengisyaratkan istrinya agar tetap tenang.
Sebenarnya Ubay dari dulu tidak menyukai Burhan yang sering membullynya sejak jaman sekolah. Namun, dia tetap menghormati laki-laki itu.
"Sampeyan jangan ngomong seperti itu tho. Marsha sendiri kok yang datang kesini, cari bapak saya."
"Hooo gak mungkin! Bisa gatal-gatal dia dateng ke rumah kumuh kaya gini!"
"Waduhh! Situ udah kere masih aja sombong. Rumah kumuh...noh sana tanyain ke anaknya seneng gak dia di rumah kumuh!" Jerit Martini kesal.
Burhan menyomot gorengan yang dibuat Martini, dia meniup-niup mulutnya ketika memasukkan gorengan yang masih panas tersebut ke dalam mulutnya.
"Makan tuh panas! Sekate-kate nih orang, bapak sama anak kelakuan sama aja...rakus!" Gerutu Martini.
"Bawel banget berapa sih harga gorengan. Saya borong semua!' Burhan mengeluarkan dompet, wajahnya pias karena dalam dompetnya hanya tinggal selembar sepuluh ribuan.
"Mah, buruan panggil Marsha. Abis itu kita pulang!" Seru Burhan mengalihkan pembicaraan untuk mengatasi rasa malunya.
Ubay mengantarkan Dini ke kamar Marsha. Sekarang wajahnya yang pias karena tidak menemukan Marsha di dalam. Keempat orang itu menjadi ribut mencari keberadaan Marsha. Burhan dan Dini terus-terusan menyalahkan pasangan Ubay dan Martini yang tidak becus menjaga anak gadisnya.
"Ini kenapa pada ribut?" Tanya Nazar yang heran dengan keributan ke empat orang itu.
"Marsha ngilang, Yah." Sahut Ubay
"Ngilang gimana? Coba cari yang bener!"
"Kami udah cari, Pak Nazar. Tapi gak ada, gimana nih tanggung jawab kalian?" Tanya Dini yang sudah menangis.
"Panggil Arsjad. Suruh dia yang cari."
Mendengar perintah mertuanya, Martini bergegas ke kamar Arsjad yang letaknya di belakang.
"Arsjad juga gak ada, Yah!" Martini yang tidak menemukan sang putra di kamarnya melapor kepada mertuanya.
"Nahh gak salah lagi. Pasti anak kamu yang bawa kabur Marsha!" Burhan mulai mengeluarkan tuduhannya.
Martini yang tidak terima tuduhan Burhan melotot dan berkacak pinggang di depan laki-laki itu.
"Kalau ngomong jangan asal jeplak yaa! Mana mau anak saya sama anak situ!" Ucap Martini dengan cibiran keras.
"Kalau sampai anak kamu berbuat tak senonoh sama Marsha, bakalan tak potong burungnya buat umpan lele." Dini mengancam sambil menirukan gerakan memotong yang membuat Ubay menggigil.
"Sembarangan aja...," ucapan Martini terpotong oleh teriakan Nazar.
"STOP!!! KALIAN INI APA-APAAN SIH! BUKAN MIKIR KEMANA ANAKNYA MALAH BERANTEM. NAMBAH MASALAH AJA!!"
"Martini, cepet angkat telepon!" Perintah Nazar ketika telepon rumah berbunyi.
****
Marsha membuka matanya, napas gadis itu terasa sesak karena tangan Arsjad yang melingkar di lehernya. Kakinya yang berbulu manja nangkring cantik di pinggul Marsha yang mengenakan celana pendek ketat.
"Ya amplop airmail!!.. nih orang, gue yang minum dia yang teler. Mana tangannya berat banget lagi," Marsha berusaha menyingkirkan tangan Arsjad dari tubuhnya.
Gadis itu memperhatikan wajah Arsjad yang sedang tertidur di sampingnya, sambil memberi nilai untuk wajah pria itu.
"Nih orang kalau kalau tidur cubanget yess. Mana tangan sama kakinya berbulu gitu. Kok bisa yess, cowok kulitnya so pektay kaya gini?"
Marsha membandingkan kulitnya dengan kulit Arsjad yang bersih dan putih.
"Eh anying, apaan nih?" Marsha menyingkap selimut yang
menutupi mereka berdua.
"WOYYY banguuun!!!" Marsha berteriak ketika merasakan tubuh bagian bawah Arsjad yang mengeras.
"Apaan sih, Ca. Berisik banget." Gumam Arsjad yang masih mengantuk sambil mengetatkan pelukannya.
"Minggir...Coeg! Emang gak Nyadar apa , itu pegangan hidup dari tadi nunyuk-nunyuk p****t gue. Geli tau!!" Marsha mendorong tubuh Arsjad sampai terjengkang.
"Astagfirullah...Subhanallah.... Arsjad, itu punya lo kok warnanya eksotis gitu? 'kan kulit lo putih. Makanya dirawat pake sabun yang mencerahkan area V dong!!"
Marsha melompat, kemudian berlutut sambil bertumpu di depan Arsjad yang kakinya terbuka lebar memperlihatkan area pribadinya.
Derap langkah terdengar dari luar. Dengan tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka. Marsha berusaha mencari apapun yang dapat menutupi tubuhnya yang hanya memaki BH dan celana pendek ketat.
"Maaf menganggu kegiatan paginya. Bisa kami lihat tanda pengenal atau surat nikah?" Seorang SATPOL PP berkumis tebal berbicara dengan Arsjad yang terlihat seperti tuyul dengan tubuh telanjang dan k****t warna hijau.
Beberapa kamera bergantian menyorot kedua orang tersebut, dengan polosnya Arsjad bertanya...
"Eh ini syuting apaan?"
Arsjad bukannya menutupi wajahnya seperti Marsha, dia malah melongok-longok penasaran. Membuat Marsha kesal dan melemparnya dengan selimut. Arsjad memungut selimut itu untuk digunakan sebagai penutup tubuh.
"Dir, bawa pasangan m***m ini ke markas. Kawal terus jangan sampe kendorr!"
"Siap, Boss!"
****
Burhan berjalan memasuki kantor SATPOL PP bekasi dengan wajah merah padam. Dini mengikuti di belakangnya bersama Nazar, Ubay dan Martini. Mereka berlima datang ke sini, setelah mendapatkan telepon perihal anak mereka yang kedapatan berbuat m***m di sebuah hotel kelas melati.
"Papa gak gak habis pikir sama kamu, Marsha. Bukannya usaha dapetin Barry lagi, malah di grebek lagi berbuat m***m sama laki-laki gak jelas ini!" Burhan memelototi Marsha yang hanya menutupi tubuhnya dengan seprai.
Marsha mendesah berat. Cobaan apalagi ini.
Sementara Burhan menanyai Marsha. Martini sibuk memukuli Arsjad dengan gulungan koran.
"Lo kemana aja semaleman, tidur di mana. Hah!? Ngapain bisa di grebek sama anak gadis orang. Mau bikin kakek kamu mati jantungan? Iya?!"
Arsjad menutupi kepala dan wajahnya dari serangan ibunya dengan tangan.
"Aduhh!...Ampunn, Bu. Maafin Arsjad...tapi berenti dulu kenapa, biar Arsjad bisa jelasin!"
"Mau jelasin apa. Hah? Kurang jelas gimana, kamu ngapain semaleman sama turunan jurig?!" Martini yang masih kesal terus memukuli putranya. Ubay dan Nazar hanya bisa lihat tanpa bisa membantu.
"Apa ibu bilang? Turunan jurig? Terus kalau anak saya turunan jurig, anak situ turunan siapa? Setan?!" Sahut Dini yang sebal dengan ucapan Martini.
"Ya anak saya turunan saya. Saya sih ogah ngakuin turunan setan. Emang situ, barusan ngakuin anaknya turunan jurig!" Bibir Martini merot-merot dengan tangan di pinggang menantang Dini.
"Pantesan kelakuan anaknya begitu, berani-beraninya bawa kabur anak gadis orang, gak di ajarin yang bener sih sama ibunya!"
"Waduhh!!! Ada orang yang gak ngaca sama kelakuannya. Eh ibu, coba tanya anak ibu kenapa bisa tidur sama laki-laki di hotel!"
"Bu, udah bu. Jangan teriak-teriak, gak malu apa?" Bujuk Ubay ketika Martini hendak menyemprot Dini dengan omelannya.
"Maaa..."
"Kami tuh gak ngapa-ngapain," Marsha dan Arsjad bicara berbarengan.
"Enggak ngapa-ngapain, tapi bajunya gak pantes kaya gini! Duuhh biyuuung, untung ini jantung buatan Tuhan, kalau buatan Cina udah matiii kami gara-gara kelakuan kamu!" Sekarang Dini yang ambil alih memarahi putrinya.
"Bapak...Ibu. Bisakan dibicaraka baik-baik? Dengan kepala dingin. Saya jadi pusing nih kalau pada ribut seperti ini. Mereka seharusnya kasih nasehat bukan dimarahin. Kalau perlu dikawinin!" Nasehat kepala SATPOL PP yang berkumis tebal dan berbadan cungkring hanya dibalas dengan delikan jahat oleh Dini dan Martini
Kepala satpol pp tersebut hanya mengelus d**a sambil mengingatkan ke diri sendiri, besok-besok kalau mau kasih kritik dan saran lebih baik dikirim lewat sms.
"Kalian berhenti ribut. Kita dengarkan alasan anak-anak ini dulu. Baru ambil keputusan."
Nazar yang sejak tadi diam, mulai angkat bicara. Wibawa pria tua itu membuat semua orang yang berada di ruangan kecil tersebut diam.
Marsha menggerak-gerakkan kakinya sambil berpikir bagaimana caranya keluar dari situasi ini. "Srikintiiill" mata gadis itu berbinar setelah mendapatkan alasan.
"Sumpah, Kek. Caca sama Arsjad gak ngapa-ngapain."
"Arsjad...Arsjad. Dasar songong, dia udah dua puluh delapan. Tuh!" Gerutu Martini yang langsung diberi pelototan mertuanya.
Ketika Nazar menoleh ke arah Martini, bibir Marsha mencebik kemudian memelatkan lidahnya ke arah Martini membuat wanita paruh baya itu geram.
"Jadi yaa...Kek. Arsjad eh Bang Arsjad nolongin Caca yang muntah-muntah keracunan teh botol..."
"Kamu yakin keracunan, bukan hamil anak.Barry?" Burhan memotong perkataan putrinya. Dia benar-benar berharap kalau Marsha benar hamil dan mantan calon besannya menerima keluarga mereka.
"Papa... apaan sih? Orang bener keracunan juga." Gerutu Marsha sebal.
"Terus kenapa kalian malah nginep di hotel, bukannya pulang ke rumah?"
Mendengar pertanyaan Ubay, Marsha menjadi gelagapan. Namun, dengan cepat Marsha menguasai keadaan.
"Gimana mau pulang coba? Caca teler, Bang Arsjad hanya butiran debu yang gak tau jalan pulang. Akhirnya kita nginep di hotel. Intinya, semua cuma salah paham. Bener 'kan, Bang?"
Arsjad menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dasar cewek gila.
Nazar dan kedua orangtua mereka hanya menganggukkan kepala. Marsha tersenyum penuh kemenangan, Arsjad hanya hanya diam kebingungan.
"Karena muka kalian berdua sudah muncul di patroli, untuk mencegah omongan orang. Kakek memutuskan supaya kalian menikah!"
"GAKK!!" Seru Burhan dan Martini yang kali ini terdengar kompak.
Senyum di wajah Marsha seketika luntur, Arsjad mengacak-ngacak rambutnya. Seketika mereka saling berpandangan.
Marsha menangkup pipi dengan kedua tangan, dan memekik..
"GAjah bercaWAT... gawaaaaattt!!!"
****
Tbc