David mengerjap, ia mencoba membuka mata sambil meraba Bianca yang tengah di samping. Menyadari jika wanita yang dicarinya tidak ada, ia segera membuka mata dengan paksa. Pergerakan matanya menyapu bersih seluruh area kamar. Ia bangun dan melihat beberapa barang bergeser. Ia segera beranjak dari tempat tidur dan memeriksa laci tempat dia menyimpan flashdisk, dan ternyata sudah tidak ada di sana. Dia tahu bahwa Bianca pasti yang mengambilnya. “Renata, kau–” David bermonolog sendiri, sesaat senyum tipis terbit di bibirnya. “Sepertinya kau ingin bermain-main denganku,” monolognya. Suara tawa kemudian menggema. Dia sama sekali tidak khawatir jika Bianca mengambil flashdisk itu. Walaupun wanita itu menghilangkan bukti mengenai pembunuhannya, tapi dia adalah saksi kejadian. David tersenyum k

