Melabrak Abel

1449 Kata
Pov Abel "Kamu yakin akan menjual rumahmu? kamu tak sayang, rumah itu kan satu-satunya kenanganmu bersama orangtuamu?" tanya Sisil ketika kami makan siang bersama di rumahnya. Sisil kurang setuju jika aku harus menjual rumah peninggalan orangtuaku. "Tidak ada cara lain untuk membuat para benalu itu keluar rumah, Sil. Meskipun nantinya aku berhasil mengusir mereka, mereka akan tetap kembali jika tahu aku yang masih memiliki rumah itu." jawabku frustasi. "Kamu tak perlu menjualnya, Bel. Kamu kontrakin saja rumah itu pada orang lain. Nanti para benalu itu pikir pasti kamu sudah menjualnya dan enggak akan pernah berani datang lagi ke rumah itu." Mas Heru ikut menyahut obrolan kami. "Tapi bagaimana caranya aku mengusir mereka. Mereka terlalu bandel dan keras kepala. Bukan sekali dua kali aku usir mereka, sudah puluhan kali. Tapi enggak mempan sama sekali." "Kamu percayakan saja semua urusan itu padaku kali ini, Bel. Aku akan menyewa pereman untuk mengusir para benalu itu." ucap Mas Heru kemudian. "Setuju! kita buat pelajaran para benalu itu. Nikah kok numpang di rumahmu. Apa mereka sama sekali enggak punya harga diri?" Sisil terlihat sangat geram. Dia sangat membenci Mas Putra sejak dulu. Kami berteman sebelum aku mengenal Mas Putra. Dia terkejut saat aku memutuskan menikah dengan seorang OB di perusahaan kami bekerja. Aku yang tak pernah pacaran sebelumnya langsung menerima pernyataan cinta Mas Putra karena hutang budi. Malam itu sepulang kerja ada pereman menggangguku, Mas Putra datang menolongku seperti pahlawan. Dia rela di pukuli oleh para pereman sampai babak belur demi menolongku. Sejak saat itulah aku mulai dekat dengannya. Beberapa bulan setelah pacaran kami memutuskan menikah. Aku tak menyangka setelah menikah denganku dia justru memilih keluar kerja dan menjadi pengangguran. Beberapa bulan pernikahan kami, ibu dan adiknya datang menambah lengkap penderitaanku. "Kamu ambilin ponsel Mas di kamar, aku hubungi pereman itu sekarang juga." perintah Mas Heru pada Sisil tak sabar. "Mas Punya kenalan pereman?" tanyaku heran. Karena ku pikir Mas Heru baik tidak punya kenalan orang-orang jahat. "Ya. Dari temanku. Kadang aku butuh juga bantuan mereka untuk menyelasaikan beberapa masalahku." Meski aku penasaran untuk apa Mas Heru sering membutuhkan bantuan para pereman tapi aku enggan menanyakan langsung padanya ataupun pada Sisil. Aku takut membuat mereka tersinggung. "Aku ambilin dulu ponselnya, Mas!" ucap Sisil meninggalkan makanannya karena terlalu bersemangat. "Kamu tenang saja, Bel. Selama kamu ada didekatku, enggak akan ku biarkan siapapun mengganggumu, termasuk suamimu sendiri." Degh! Apa yang barusan Mas Heru ucapkan? Apa aku salah dengar? apa maksudnya dia bicara seperti itu padaku? "Bel, kok diam saja?" Mas Heru menyentuh tanganku. Apa yang sedang dipikirkannya sekarang sebenaranya? aku menjadi sangat takut padanya. Bahkan aku rasa lebih takut menghadapinya dibanding menghadapi para benalu di dalam rumahku. Tanpa menunggu detik berganti, ku tarik langsung tanganku dari pegangannya. Jangan sampai Sisil melihat, bisa rusak persahabatan kami karena ini. "Ini, Mas. Ponselnya!" Sisil kembali datang membawa ponsel milik Mas Heru. Aku lega, untung saja dia tidak terlalu lama pergi sehingga Mas Heru tak berani makin kurangajar padaku. Mas Heru meninggalkan makanannya. Ia kemudian keluar untuk menghubungi pereman yang dia ceritakan tadi. Sekarang aku tak terlalu memikirkan rumah itu, aku akan fokus bagaimana caranya keluar dari rumah ini sebelum semua terlambat. Aku tak mau merusak persahabatanku dengan Sisil jika terus berada dirumah ini. ***** Pov Ibu mertua Enak saja, aku nggak kasih tahu Putra. Kamu itu sudah mempermalukanku didepan orang. Kamu siap-siap jadi janda setelah ini!" ancamku pada menantuku sambil terus menyeretnya pulang. Kurangajar dia berani mempermalukanku didepan orang. Akan ku suruh Putra menceraikannya hari ini juga. Setelah sampai didepan rumah, alangkah terkejutnya aku, juga Dita. Didepan rumah, kami melihat Putra sudah tergeletak tak berdaya. Citra adiknya menangis disampingnya. Barang-barang pribadiku seperti baju dan yang lainnya semua sudah berserakan di halaman rumah. Di sekitar Putra berdiri lima lelaki berbadan kekar yang sepertinya habis mengroyok anak lelakiku. Siapa mereka? Jujur aku gemetar melihat wajah sangar lima lelaki itu. "Ada apa ini? kenapa kalian menghajar anakku sampai bonyok begini?" Aku memberanikan diri maju ke depan, aku yakin lima lelaki itu tak mungkin menghajarku. Aku perempuan, mana tega dia berbuat kasar padaku. "Kalian harus keluar dari rumah ini sekarang juga. Rumah ini sudah dijual. Pemilik baru rumah ini menyuruh kami untuk mengusir kalian!" ucap salah satu pereman itu. Rumah ini dijual? tidak mungkin. Abel belum meminta izin dariku. Tidak mungkin dia menjual rumah ini tanpa izinku. "Jangan mengada-ngada kalian. Saya pemilik rumah ini. Saya tidak menjualnya. Kalian mabuk, sampai ngomongnya ngelantur seperti ini?" Satu pereman maju dan menamparku. Plak! Brengs*k! Tamparannya keras sekali. Dia bisa sekasar ini memperlakukan wanita. Apa dia enggak punya ibu? huft! "Sakit?" tanya pereman yang menamparku. Aku mengangguk sambil meringis kesakitan. "Kalau sakit diam makanya! enggak usah banyak omong jika enggak mau nasibmu seperti anakmu! cepat sekarang juga kalian pergi dari sini!" bentak para pereman itu. Aku mundur pelan-pelan tanda menyerah tak mau melawannya lagi. Pereman itu kemudian pergi mengunci semua pintu rumah dan meninggalkan kami dengan kondisi amat sangat menyedihkan. Dita dan Citra terlihat sedang mengemasi barang-barang mereka. Aku rasa nasibku sial sekali sekarang, aku mau tinggal dimana nanti. Aku tak mau jadi gelandangan lagi. Semua karena Abel. Menantu kurangajar itu, harus kuberi pelajaran. "Putra, kau tahu rumah Sisil?" tanyaku pada anakku. Dia mengangguk kemudian memberitahu alamatnya. "Dit, ikut ibu sekarang. Biar barang-barangmu Citra yang membereskan." ajakku pada Dita. "Memangnya mau kemana, Bu? ini sudah mau maghrib." Dita sepertinya enggan mengikuti perintahku. "Ibu mau melabrak Abel. Kurangajar banget dia menjual rumah ini tanpa izin ibu." "Betul, Bu. Labrak saja Mbak Abel. Enak saja dia jual rumah enggak bilang-bilang. Kalaupun dia jual rumah ini, harusnya dia bagi juga sedikit uang hasil penjualan rumah ini pada ibu." sahut Citra. Betul juga ucapannya, aku punya hak minta bagian uang dari hasil penjualan rumah ini. Rumah dia kan rumah anakku juga. Jadi ini alasan dia tak memberitahuku akan menjual rumah, dia takut aku minta jatah bagian Putra. "Sama Citra saja kenapa, Bu. Malas aku liat kalian ribut-ribut." Dita tetap menolak permintaanku. "Kamu mau jadi janda sekarang juga Dit?" Dita menggeleng. "Makanya, jangan bantah ibu. Sekarang ikut ibu melabrak Abel. Enak saja dia ambil keputusan sepihak. Selama ini ibu sabar menghadapi tingkahnya, tapi kali ini ibu enggak akan tinggal diam. Ibu akan perjuangkan hak ibu meski harus dengan cara kasar!" ucapku sambil menyemangati diri sendiri. "Semangat Ibu! Citra yakin ibu menang. Mbak Abel kan lembek, bisanya cuma nangis. Pasti nanti langsung nyerah sama Ibu." Aku makin bersemangat mendengar ucapan Citra. "Mau naik apa kita kesana, Bu?" tanya Dita. "Taksi lah. Masa mau ngelabrak orang naik angkot. Di ketawainlah kita nanti." jawabku dengan suara keras. "Kalau naik Taksi aku setuju, Bu. Ayo berangkat sekarang." ajak Dita. Kemudian kami meninggalkan Putra dan Citra menuju ke jalan depan, kebetulan kami lihat taksi lewat, jadi kami langsung memanggilnya. "Benar ini rumah sesuai alamat yang saya tunjukan tadi?" tanyaku pada sopir taksi, ku lihat rumah teman Abel besar sekali. Rumah itu dua lantai. Mereka kan satu tempat kerja, kok rumah mereka jauh beda. Rumah Abel jelek enggak ada perubahan sama sekali dari dulu, sedangkan rumah temannya sebagus ini. Dikemanakan gaji Abel selama ini, kok enggak bisa bangun rumah besar seperti temannya. Wah, Abel. Kamu ternyata selama ini nggak jujur betul-betul soal nominal gaji kamu pada ibu, ya! Awas kamu nanti. "Bu, kok bengong. Bayar dong ongkos taksinya." suara Dita membuyarkan lamunanku. "Owh, ya. Lupa. Sebentar." Aku terkejut saat merogoh saku bajuku. Uangku hilang. Kapan hilang dan dimana hilang aku tak perasan. Aduh gimana ini, dengan apa aku harus bayar taksi ini? "Dit, kamu lihat uang ibu nggak. Kok nggak ada di saku baju ibu?" tanyaku mulai panik. "Nggak lihat, bu. Terakhir lihat pas di warung Bu Rina tadi, Bu." jawabnya tak kalah panik. "Kamu bawa uang, Dit?" tanyaku pada Dita. Dita menggeleng. Mampus! Gimana caranya bayar uang taksi ini. "Kok lama banget, Bu. Saya mau cari penumpang lain. Cepetan dong!" ucap tak sabar sopir taksi itu. "Uang saya hilang, Pak. Menantu saya juga kebetulan tak membawa uang sama sekali." "Bilang saja kalian tak punya uang. Saya enggak mau tahu, cepat bayar sekarang juga!" desak sopir taksi itu. Bagaimana aku mau bayar, kalau aku tak punya uang sepeserpun. "Bentar pak, coba saya mau minta dulu sama menantu saya di dalam rumah itu." ucapku kemudian. Sopir taksi itu setuju menunggu. Harap-harap Abel mau memberikan uang padaku nanti. Aku melangkah sambil berteriak memanggil nama Abel di depan pagar. Sekurity di rumah mewah teman Abel akhirnya keluar juga. Awalnya sekurity itu tak memberiku izin bertemu Abel. Namun karena keributan yang ku buat, Abel dan temannya keluar dengan sendirinya. "Mas Heru?" "Dita?" Belum sempat ngajak ribut Abel, fokusku teralihkan pada Dita dan suami temannya. Bagaimana bisa Dita mengenal lelaki itu? Dita terlihat girang melihat lelaki itu, tapi sebaliknya. Lelaki itu justru terlihat gugup dan pucat ketika melihat Dita. Ada apa dengan mereka?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN