Bab 6

1536 Kata
Edgar menyentuh tulang pipi Yasmin, menyisir rahang hingga kedua jari tangannya bertemu di ujung dagu. Ia sedikit mengangkat wajah Yasmin, mengamati setiap inci kulit wajah wanita itu dengan seksama. Selesai dengan rahang dan dagu, Edgar beralih ke bagian mata dan hidung. Sama seperti sebelumnya, ia menyisir dan sedikit memberikan tekanan pada tulang hidung. "Apa yang Kau rasakan di bagian ini? sakit?" Edgar menekan pada pangkal hidung. Yasmin menggeleng. "Hanya sedikit kebas." Edgar mengangguk. Ia sedikit memundurkan kursi, kembali pada posisinya. "Oke. Sekarang Kau boleh membuka mata." Yasmin membuka kedua matanya. Ia menatap mata Edgar dengan seksama. "Dua bulan berlalu. Tapi tak ada seorangpun yang mencariku, Dok," katanya. "Aku sering bertanya-tanya siapa aku ini sebenarnya? Kau bilang aku memintamu menyembunyikan ku karena ada seseorang yang mengejar, bahkan berniat untuk-- membunuhku. Aku berfikir.... Apakah mungkin aku ini seorang penjahat??!" lanjut Yasmin. Ekspresi nya tampak sedih setiap kali membahas hal ini. "Orang yang mengejarmu tidak tampak seperti seorang yang baik-baik dan aku yakin dia bukan seorang polisi. Kau bukan penjahat, Yasmin," terang Edgar. Yasmin membuang muka, ia berdiri, berjalan mondar-mandir sambil menggigit ujung jarinya. "Kalau bukan penjahat, lalu siapa aku, Dok? apakah aku sebatang kara? sudah dua bulan aku menghilang, tapi tak ada seorangpun yang mencari keberadaan ku??" Yasmin meraih ponsel di atas meja. "Dan lagi... tak ada informasi apapun disini. Bahkan aku tak bisa melihat seperti apa wajahku sebelumnya!!!" sergahnya. Edgar terdiam. Ia hanya mendengar setiap perkataan Yasmin tanpa menjawab. Ia pun tak bisa memberikan informasi apapun yang dapat membantu. "Satu-satunya yang aku miliki hanya kalung ini. Kalung inisial AG yang sama sekali tak kuingat apa artinya?" Yasmin menyentuh liontin kalung berbentuk huruf yang menggantung di lehernya. "Sangat tidak masuk akal. Berkali-kali aku mencoba mencari identitas ku di internet pun tetap tak ada jejak. Aku bahkan tak yakin apakah namaku benar-benar Yasmin?!" Edgar mengusap bahu Yasmin, mencoba untuk menenangkan gadis di hadapannya. "Apa yang harus kulakukan, Dok? aku tak punya keluarga ataupun teman. Sampai saat ini aku tak memiliki satu memori pun yang bisa kuingat. Bahkan wajah pun--- wajah ini pun bukanlah milikku." Yasmin mengakhiri kalimatnya dengan sendu. "Tak ada lagi yang tersisa dariku, Dok..." "Ada," jawab Edgar. Yasmin mendongak, menatapnya penuh tanya. "Wajahmu memang berubah, tapi Kau memiliki mata yang sama. Seseorang yang mengenalmu akan menyadari persamaan itu." Yasmin terdiam. Ada secercah cahaya yang tiba-tiba muncul di dalam kegelapan hatinya. Keputusasaannya memudar berganti sedikit harapan untuk tetap bertahan. "Baiklah, Dok. Jika benar begitu, maka aku akan mencarinya." Mata Yasmin berbinar cerah. "Kemana Kau akan mencarinya?" tanya Edgar tanpa berpaling dari mata indah itu. "Berjalan-jalan mungkin? siapa tahu aku bisa mengingat sesuatu saat melihat-lihat keadaan di luar sana." Edgar tersenyum, ia bangkit dari duduknya. "Oke. Kalau begitu aku akan bersiap-siap," ucapnya. Yasmin mengerutkan dahi. "Bersiap-siap? memangnya dokter mau kemana?" Edgar berhenti di ambang pintu, ia menoleh ke arah Yasmin. "Kau pikir aku akan meninggalkan pasien hilang ingatanku berkeliaran di tengah jalan?" Yasmin mengulas senyum. Yasmin terus menatap Edgar hingga pria itu hilang di balik pintu. Yasmin menghembuskan nafas berat, ia tak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Edgar. Menyelamatkan nyawanya dari kematian mungkin sudah naluri seorang dokter, tetapi rela menampung bahkan merawatnya selama dua bulan tanpa meminta bayaran sungguh sesuatu yang luar biasa. "Aku tak akan melupakan semua ini, Dokter. Saat ingatanku kembali, aku pasti akan membalas semua kebaikanmu.." *** Edgar terkesima melihat Yasmin berjalan ke arahnya. Ia mengenakan tanktop putih tertutup kemeja berwarna peach dipadukan dengan jeans berwarna biru. "Hannah meminjamkan pakaian ini padaku. Sedikit ketat disini." Yasmin menyentuh kedua pahanya dengan canggung. Ia terlihat tidak percaya diri. Edgar menggandeng tangan Yasmin menuju sepeda motor sportnya. Ia mengambil helm kemudian memakaikannya pada kepala Yasmin. "Kamu terlihat cantik, kok. Nanti kita ke butik untuk membeli beberapa pakaian yang nyaman untukmu," ucapnya. Yasmin tersenyum. Ia naik ke atas motor, tepat di belakang Edgar. Kedua telapak tangannya berpegangan pada pundak Edgar. Edgar diam sejenak, sedikit menoleh kemudian menyentuh tangan Yasmin dan memindahkan tangan ramping itu ke pinggangnya. Yasmin merasakan desiran halus di dadanya. Apalagi kali ini Edgar menarik tangan Yasmin agar berpegangan lebih erat. Hal ini membuat tubuh Yasmin menempel rapat ke punggung Edgar. Motor Edgar melaju dengan kecepatan sedang. Sepoi angin memainkan rambut Yasmin. Udara dingin terasa segar menerpa wajahnya. Mata Yasmin terpejam meresapi suasana di sekelilingnya. Dari spion Edgar tersenyum melihat kebahagiaan Yasmin. Wanita itu seperti seorang petapa yang baru saja keluar dari goa, seperti seorang narapidana yang baru keluar dari penjara. Siang itu Edgar menghabiskan waktunya hanya untuk Yasmin. Pertama-tama Edgar membawa Yasmin untuk berbelanja beberapa stel pakaian di butik. Setelah itu mereka mampir ke pasar rakyat, mencoba berbagai makanan receh yang mampu memanjakan lidah keduanya. Sorenya, Edgar membawa Yasmin ke pantai. Keduanya duduk di atas pasir menikmati indahnya sunset. "Terimakasih, Dokter.. Maaf, untuk saat ini hanya kata ini yang bisa aku berikan untuk membalas semua kebaikanmu.." kata Yasmin. Edgar menoleh. Ia tersenyum menatap wanita cantik bermata coklat itu dari samping. "Kau tak perlu mengatakan hal itu lagi, Yasmin. Aku tak mengharapkan Kau untuk membalasnya." Edgar kembali memandang langit yang mulai menjingga. Ia tersenyum mengingat kembali kata-katanya dua bulan yang lalu. "..Jika Kau tak mengenal kata terimakasih, setidaknya Kau harus mengerti apa itu kata maaf, Nona!" Edgar memang sempat kesal pada Yasmin karena pertemuan mereka yang kurang menyenangkan. Namun, perasaan kesal itu tak ada lagi. Edgar tak menyangka justru wanita itulah yang selama dua bulan ini selalu membuatnya khawatir. Edgar mencuri pandang, menatap dengan seksama pada wanita di sampingnya. Bulu mata lentik menghias indah di atas matanya yang terpejam. Pahatan hidung yang sempurna serta senyum yang begitu indah membuat jantung Edgar berdegup tak menentu. Edgar tahu betul, paras Yasmin sebelum operasi pun nyaris sempurna. Namun, kecelakaan mengharuskan Edgar untuk mengubah bagian hidung, bibir, dan rahang Yasmin. Edgar tak peduli jika harus dibilang egois, jauh di dasar hatinya, ia berharap ingatan Yasmin tak segera kembali agar ia bisa lebih lama menatap senyum manis itu. "Dokter Edgar?" Edgar mengerjap ketika mendengar suara Yasmin. Ia tak menyadari wanita itu kini sudah balik menatapnya. "Apa yang Kau pikirkan?" tanyanya lagi. Edgar menghindari mata Yasmin yang menusuk ke dalam hatinya, membuat getaran tak karuan di dalam sana. "Aku-- Umm.. tak ada. Tak ada yang aku pikirkan," jawabnya segera. Edgar menekuk lutut menghindari kecanggungan yang ia rasakan sendiri. Yasmin melengkungkan bibir bawahnya seakan belum puas dengan jawaban yang Edgar berikan. "Oh ya.. Jangan panggil aku dokter lagi. Panggil saja Edgar. Begitu lebih baik," kata Edgar kemudian. Yasmin mengangguk lalu tersenyum. Keduanya kembali menikmati sunset. Berbincang ringan sambil sesekali melempar candaan, saling mendorong lalu merapat, kemudian tersipu layaknya sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta. Matahari telah tenggelam sepenuhnya menyisakan semburat ungu yang perlahan berubah gelap. Langit cerah sepanjang hari tiba-tiba berubah gelap. Rintik gerimis semakin deras hanya dalam hitungan detik. Semua orang berlari mencari perlindungan. Edgar melepas jaket kulit kemudian menutupkan di atas kepalanya dan Yasmin. Keduanya berlari mencari tempat untuk berteduh. Mereka mencapai salah satu bangunan di bibir pantai. Di siang hari, bangunan kayu beratap jerami tanpa pintu tersebut sepertinya adalah sebuah warung makan. Pondok itu memiliki alas berbentuk panggung dengan tinggi setengah meter dari permukaan tanah. Lantainya terbuat dari papan kayu. "Duduklah.." kata Edgar pada Yasmin setelah membersihkan debu pasir di atas lantai. Yasmin duduk bersebelahan dengan Edgar. Keduanya saling menatap kemudian tertawa. "Lucu ya. Cuaca yang cerah tiba-tiba menjadi seperti ini," kata Yasmin, kepalanya menengadah menatap langit gelap yang sedang memuntahkan isinya. Edgar memandangi pakaian Yasmin yang basah disana sini. "Seharusnya aku tadi membawa mobil," sesalnya. Yasmin menoleh, menatap Edgar dengan seksama. "Hai!! jangan bicara begitu, Edgar. Kau tak perlu menyesal. Hari ini aku saaangat bahagia. Kalau Kau membawa mobil, aku tak akan bisa menikmati segarnya angin, teriknya matahari, dan guyuran hujan seperti ini!!" serunya antusias. Senyum mengembang di bibir Edgar. Yasmin tidak berbohong, rona kebahagiaan terukir jelas dari wajahnya. DUARR!!! "Akh!!" Yasmin memekik keras ketika petir menggelegar membelah langit. Spontan ia memeluk lengan Edgar dengan kuat. Ia menunduk dan bersembunyi pada tubuh pria di sampingnya. Waktu seakan berhenti berputar selama sepersekian detik. Edgar terpaku menatap Yasmin yang memeluk erat lengannya. Perlahan wanita itu mendongak. Mata keduanya saling bertemu. Udara dingin di sekitar mereka tak lantas memadamkan sensasi hangat yang menjalari aliran darah. Pandangan keduanya masih saling beradu, menusuk dan mengunci bersama debaran jantung yang tak menentu. Tangan Edgar menyentuh dagu Yasmin, matanya beralih menatapi bibir ranum yang begitu menggoda. Naluri kelaki-lakiannya perlahan mulai terpancing. Edgar menunduk, menyentuh bibir dingin Yasmin dengan bibirnya. Belum bisa dikatakan sebuah ciuman sebab Edgar hanya menyentuhnya tipis, tanpa tekanan seolah menunggu respon dari pemiliknya. Ketika tak ada penolakan, Edgar memberikan sedikit tekanan halus, mengecup lebih dalam, dan menghisap kecil bagian bawah bibir Yasmin. Kedua mata mereka terpejam seakan menikmati alunan musik tanpa suara. Tangan Edgar menyentuh punggung Yasmin, menahannya dengan usapan lembut. Sentuhan Edgar mengaktifkan adrenalin di tubuh Yasmin. Ketika ia membuka bibirnya untuk membalas ciuman pria itu, sebuah ingatan berkelebat di matanya. Dalam bayangannya, seorang pria baru saja menciumnya. Yasmin memang tak melihat seluruh wajah pria tersebut, tetapi ia dapat memastikan dengan jelas bahwa pria itu memiliki rahang tegas dengan jambang menutupi dagu. ".. Aku mencintaimu, Sayang..." ucap pria itu sambil tersenyum. Yasmin tersentak mendengar suara berat yang bergema di telinganya. Sontak ia membuka mata, mendorong tubuh Edgar menjauh darinya. Tubuh Yasmin bergetar, ia mencengkeram dadanya dengan nafas tersengal. "Ingatan apa itu tadi??" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN