Bab 10

1613 Kata

Abraham membuka pintu besar dengan cat warna abu tua. Yasmin berhenti di depan pintu itu, ia cukup tau diri untuk tidak sembarangan masuk ke kamar tuannya. "Mengapa Kau diam disitu? Masuk!" titah Abraham. Yasmin tampak ragu, tetapi tatapan Abraham memaksanya untuk ikut masuk ke dalam. "Kau tak perlu ragu seperti itu. Toh kamar ini juga menjadi tanggung jawab mu setiap hari," terang Abraham santai, sosoknya menghilang di balik tembok. Yasmin duduk pada sofa di samping pintu. Ia menghembuskan nafas berat, saking gugupnya ia lupa kalau lantai dua adalah area yang harus ia bersihkan juga. Sembari menunggu Abraham yang sibuk di ruangan lain, Yasmin kembali teringat pada sekelebat memori yang baru saja terlintas di kepalanya. Tangan besar yang membelai kedua lengannya, hembusan nafas hanga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN