Prolog
My Electric Love, Hana
Ada sebuah kala di mana seseorang merindukan laki—laki yang masih membekas di hatinya. Ada sebuah kala di mana seseorang masih menyimpan rasa cinta pada laki—laki yang pernah membersamainya.
Itu dirasakan oleh Hanaca Aurelie, gadis berusia 23 tahun yang kini masih kuliah di semester 5 itu sudah lama memutuskan untuk membohongi dirinya.
Masa lalunya dan laki—laki yang dulu begitu dicintainya seolah hal yang harus dilupakannya. Meskipun kenyataannya ia tetap merindu dan tetap menyimpan rasa cinta.
"Hanaaaaaa!" suara Inggrid terdengar. Ia menyapa Hana dari kejauhan, membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.
Hana yang sejak tadi berjalan lurus melewati koridor pun akhirnya berhenti berjalan. Ia menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan Inggrid, teman satu jurusan Sastranya itu menghampiri. Setelah beberapa saat, mereka pun berjalan bersama menuju kelas.
"Han, habis balik dari kampus anterin gue yuk?" tanya Inggrid.
"Ke mana?" tanya Hana. Ia harus tahu tujuan kepergiannya.
"Ke kostannya Bang Fadli," kata Inggrid lagi.
"Oh ke kostan kakak lo," kata Hana. Hana sudah berteman Inggrid sejak semester satu, ia juga beberapa kali sudah bertemu dengan kakak Inggrid yang tampan, bernama Bang Fadli. Beberapa kali juga Hana ikut dengan Inggrid ke tempat kost kakaknya itu. "Oke deh."
Inggrid pun tersenyum. Ia merasa puas dengan kerelaan dari teman sekampusnya itu. Mereka berjalan bersama hingga akhirnya sampai ke kelas yang akan mereka hadiri. Namun baru saja duduk, ponsel Hana berdering.
Wanita itu melihat ponselnya dan mendapati pesan dari Naoki. Laki—laki yang sejak ia masuk dunia perkuliahan menjadi kekasihnya. Laki—laki yang begitu tulus padanya dan juga mencintainya, tapi sampai saat ini ... ia hanya bisa berpura—pura menerima cintanya dan terus mencoba untuk balas mencintainya.
"Sebentar, Grid! Naoki telepon gue," kata Hana pada temannya, Inggrid.
Inggrid menganggukkan kepala dan melanjutkan untuk membuka tas ransel yang dibawanya. Gadis itu tahu soal Naoki. Yang jelas, Naoki adalah pacar temannya itu. Mereka sudah cukup lama berpacaran, sejak keduanya masuk dunia perkuliahan di semester satu. Yang Inggrid tahu pun, bahkan Naoki seorang mahasiswa dengan lulus cumlaude. Sekarang ia bekerja di salah satu perusahaan multinasional.
"Halo, Nok," sapa Hana setelah mengklik ikon berwarna hijau di layar.
"Halo, Han. Udah masuk kelas belum?" tanya Naoki.
"Udah, tapi dosen belum masuk sih. Kenapa?"
"Oh udah di kelas," kata Naoki lagi. "Pulang jam berapa?"
"Jam setengah 3, Nok," balas Hana.
"Pulang nanti aku jemput ya kalau gitu," kata Naoki membuat Hana serba salah. Pasalnya ia sudah mengiyakan permintaan Inggrid untuk mengantarnya ke kostan kakaknya sepulang ngampus.
"Kenapa diam aja?" tanya Naoki lagi. "Kamu nggak bisa ketemuan?"
"Aku udah ngeiyain buat nemenin Inggrid ke kostan kakaknya, Nok. Emang penting banget ya? Gimana kalau balik dari kostan kakaknya aja kita ketemuan?" tanya Hana balik. Menawarkan dan bernegosiasi pada pacarnya.
Naoki diam sejenak. "Ya udah nanti lagi aja kalau gitu," kata Naoki akhirnya. "Aku niatnya mau ajak kamu jalan. Kita kan udah lama nggak jalan bareng. Sejak aku mulai kerja, kita bahkan jarang ketemuan."
"Iya juga sih," gumam Hana tak enak hati. "Kamu emangnya lagi ada waktu sampai ngajakin aku ketemuan kek gini?"
"Ya. Maka karena aku ada waktu, jadi aku ajak kamu ketemuan."
Hana menghela napasnya sejenak. "Ya udah deh kalau gitu, nanti aku coba ngomong ke Inggrid kalau harus ketemuan sama pacar dulu."
"Maaf ya, Han...."
"Huft! Iya, iya," kata Hana dengan senyum tipis. "Udah dulu ya. Dosen aku udah datang, Nok. Lanjut chatting aja ya," katanya lagi lalu buru—buru mematikan panggilan telepon dari Naoki.
Hana balik badan dan segera masuk ke dalam kelas.
***
Naoki baru saja selesai menerima telepon saat seseorang menyentuh pundaknya. Ia menoleh dan mendapati Lio sedang menatapnya dengan senyum tipis. "Hana bisa ikut?"
"Dia usahain. Katanya dia udah ada janji sama temennya sepulang ngampus."
Lio mengedikkan bahunya lalu mendahului Naoki menuju meja makan. Di atas meja makan, laki—laki lain sudah menunggu. Yang satu ayah kandung Hana, dan yang satu lagi kakak kandung, Lio. Mereka bertemu secara tidak sengaja dan akhirnya makan siang bersama di restoran milik keluarga Lio dan June.
Naoki duduk di kursi makan yang kosong lalu menatap June dengan sopan. Ia bahkan tersenyum ramah pada laki—laki yang pernah menjadi mantan suaminya tersebut.
"Naoki, gimana?" tanya Marco pada pacar anaknya itu.
Naoki menatap Marco beberapa saat kemudian lalu menjawab, "Kata Hana, dia usahain bisa, Om. Tapi aku juga belum tahu soalnya habis pulang ngampus nanti Hana mau ada perlu dengan teman sekampusnya."
Marco menganggukkan kepala.
Sebenarnya mereka sedang membahas soal anak—anak Hana dan June yang kini berada di Jakarta. June sudah lama tak bertemu dengan kedua anaknya dan meminta waktu untuk bertemu dengan mereka. Si sulung Ditto dan si bungsu Jayden.
Pertemuan June dengan kedua anaknya pun sudah terjadi kemarin. Sepanjang hari Ditto dan Jayden bahkan tinggal dan diasuh oleh ayah kandungnya. Namun sekarang, Marco datang bersama istrinya. Keduanya hendak mempertemukan kedua anak dengan ibunya juga sebelum akhirnya membawa kedua balita itu kembali ke tempat mereka menetap di Bali.
Terhitung sejak masuk kuliah, Hana memang tinggal di Jakarta. Satu kota dengan June tapi tak pernah saling bertemu. Keduanya saling menghindar satu sama lain meskipun memiliki rindu yang sama.
"Maaf ya, Naoki," kata Marco tiba—tiba. "Kamu berhubungan dengan Hana berarti kamu juga harus tahu masa lalunya."
"Nggak papa kok, Om. Lagian aku memang sudah tahu soal Hana dan Om June."
June yang disebut hanya terdiam sambil meminum jus miliknya. Begitu pun Lio, sang adik. Laki—laki yang masih berpacaran dengan Naomi itu berhasil menghabiskan minumannya.
"Bang, gue ke luar dulu ya! Mau ngerokok," kata Lio sambil berjalan ke luar dari restoran. Setelah mendapat persetujuan dari kakaknya, ia pun ke luar dari restoran. Melakukan apa yang diinginkannya, apalagi ketika selesai makan.
June tahu kalau adiknya itu berbohong. Namun, di depan Marco ia tetap menyetujui. Lagipula Lio lebih baik tidak berada di antaranya dan Marco.
"Om, apa nggak lebih baik misal pertemuan nanti nggak di sini?" tanya Naoki membuat Marco dan June menoleh.
"Kenapa kamu yang keberatan?" tanya June dengan ketus. Matanya menyorot tajam pada Naoki. Sejak tadi, ia tidak melakukan apapun karena keberadaan adiknya. Bagaimana pun juga June menghargai Naoki karena dia adalah saudara kembar dari gadis yang kini dipacari adiknya selama beberapa tahun ke belakang.
"Maksud saya...."
"Om juga berpikir begitu sebenarnya," kata Marco membuat June nyaris menggeram kesal. "Nggak baik buat June dan Hana untuk saling bertemu. Kamu punya usul?"
Noaki diam sejenak. "Mungkin sekalian ke taman bermain saja, Om."
Marco mengangguk setuju.
"Kamu masih ngelarang aku untuk ketemu Hana?" tanya June pada Marco dengan kesal. "Kami bahkan sudah 2 tahun lebih berpisah."
"Bukannya lebih baik begitu? Ini juga untuk kebaikan Hana. Jangan buat terapinya selama ini ke psikolog hancur karena pertemuan kalian!"
Naoki diam mendengarkan dua laki—laki yang usianya jauh di atasnya. Generasi yang berbeda dengannya. "Om, jam makan siang saya sudah habis! Saya permisi kalau begitu!"
Naoki yang bangkit berdiri setelah pamit untuk pergi membuat Marco dan June menatapnya.
"Oh ya, oke. Nanti kamu hubungi Om saja atau Tante kalau sudah bersama Hana ya, Naoki?"
"Baik, Om," kata Naoki sambil menganggukkan kepala. Setelahnya ia pun meninggalkan meja makan. Berjalan ke arah pintu ke luar restoran begitu saja, siang ini ia ditraktir oleh ayah kandung Hana tersebut.
Ke luar dari pintu depan, Naoki berpapasan dengan Lio. Cowok itu kelihatan hendak masuk kembali ke dalam restoran sambil berjalan bersama seseorang.
Melewatinya begitu saja, Naoki pun kembali berjalan menuju mobil miliknya. Ia memasukinya lalu menghela napas lega. Rasanya sesak sekali berada di dekat June. Laki—laki seolah terus mengintimidasi dari tatapan dan nada suaranya.
Bukan hanya June, tapi juga Marco, kedua laki—laki berusia 40—an itu jelas punya kharisma yang berbeda. Mereka nampak berbeda.
Marco, seorang kepala lawyer di firma hukumnya di Bali. Satu profesi dengan Marco, June pun seorang lawyer yang setahun lalu masih mengelola restoran bersama adiknya, Aprilio. Setelah restoran yang dikelola keduanya berjalan dengan normal, Lio memutuskan untuk mengelolanya tanpa campur tangan sang kakak. June pun kembali menjadi lawyer dari ajakan rekan lamanya.
Naoki selalu tahu soal June dan Lio karena Lio memiliki hubungan asmara dengan saudara kembarnya. Hidup memang begitu sempit. Orang—orang yang berada di sekitarnya saling mengenal satu sama lain.
Setelah menyalakan mobilnya, Naoki pun mulai melajukan kendaraan berroda empatnya itu ke luar dari parkiran restoran.
***
"Jangan pernah mencoba masuk lagi kehidupan Hana, Jun!" kata Marco dengan tegas. "Aku sudah bermurah hati membawa Ditto dan Jayden ke mari karena bagaimana pun juga kamu ayahnya."
"Bukannya seharusnya kedua anakku berada di bawah hak asuhku jika ibunya bahkan tidak mengurusnya sama sekali!" June sangat kesal pada Marco. Sudah dua tahun berlalu tapi kesalahannya seolah masih begitu besar dan tak termaafkan.
"Jangan membuat segala sesuatunya menjadi rumit! Kamu bahkan tak memiliki seseorang untuk mengurus anak kalian! Kamu sekarang kembali bekerja sebagai lawyer kan?"
June diam beberapa saat. Kembali bekerja sebagai lawyer sudah cukup membuatnya kehilangan waktu bersantai. Namun ini lebih baik, karena ia bisa makin melupakan Hana. June bahkan sudah mencoba untuk bisa kembali dekat dengan wanita—wanita yang mencoba menggodanya. Ini bisa dibilang kemajuan untuknya setelah beberapa waktu terakhir, ia tidak punya selera barang sedikit pun untuk tergoda oleh wanita.
Kenangannya bersama Hana membuatnya terluka dan takut untuk memulai sebuah hubungan. Yang lebih membuatnya jengah adalah bagaimana ia masih tetap merindukan Hana dari hari ke hari.
"Bagaimana kabar Hana sekarang?" tanya June mengalihkan pembicaraannya.
Marco tersenyum miring. "Kamu pasti sudah tahu dari Lio. Kenapa harus menanyakannya padaku?"
Mendapat jawaban begitu dingin, June pun hanya bisa terkekeh. Ia memahami bagaimana Marco yang bersikap menyebalkan. "Obrolan kita sepertinya tidak akan berjalan dengan lancar!"
"Nikahi lah wanita lain secepatnya! Sudah 2 tahun kamu melajang sejak berpisah dengan Hana," kata Marco penuh muslihat. "Kamu mau kuperkenalkan dengan seseorang?"
June tersenyum miring. Tawanya sudah hilang. "Aku nggak butuh mak comblang. Aku masih bisa menghangatkan diriku dengan wanita malam yang kutemui."
Kini giliran Marco yang tertawa. "Kamu sudah berubah rupanya," kata Marco merasa lucu. "Kamu berpacaran dengan gadis bar?"
"Just one more sex."
"Kamu memang tidak bisa mengubah kebiasaan yang sudah lama tinggal di dirimu!" kata Marco. "Sekarang alih—alih bergonta ganti pasangan, kamu lebih suka berhubungan satu malam dengan wanita bar?"
"Terserah kamu mau bilang apa, Marc!" June tahu memang ini adalah kelemahannya. Ia punya kebutuhan biologis yang harus ditunaikannya. Sudah cukup lama, ia menahan diri hingga suatu malam, saat ia mabuk, ia berakhir bersama wanita yang menggodanya di bar. Mereka melakukan hubungan satu malam lalu saling tak berkabar. June jelaslah yang menghilang dan tak sudi lagi melakukan hubungan satu malam dengan wanita—wanita yang sudah ditemuinya itu.
Marco mendadak diam. Ia dulu sangat dekat dengan June bahkan pernah menganggapnya adik sendiri. Sayangnya justru orang yang menyakitinya adalah orang terdekatnya, June. Ia menyakitinya dengan cara menyakiti sang anak. Membuatnya begitu kecewa.
"Sekali lagi aku peringatkan, Jun!" kata Marco lagi dengan nadanya yang serius. "Jangan temui Hana atau berkontak langsung dengannya! Bahkan meskipun dia yang mencoba menemuimu, jangan temui Hana, Jun!"
Mendengar perkataan Marco, perasaannya jadi tak baik—baik saja. Ia ingin menolak tapi melihat mata Marco yang serius dan penuh luka membuatnya mengerjapkan mata sambil menganggukkan kepala. "Ya, aku nggak akan pernah bertemu dengan Hana!"
Marco menghela napasnya dengan lega. "Aku hanya tidak ingin Hana kembali terluka. Hidupnya sedang membaik. Dia punya teman dan kehidupan sebagaimana anak seusianya."
June mengaduk minumannya menggunakan sedotan yang ada di gelas.
"Saat tahu Hana hamil dulu, rasanya hidupku cukup hancur. Aku sudah menjerumuskannya untuk tinggal bersamaku. Kukira dengan tinggal denganku, Hana akan lebih aman. Tapi aku lupa bahwa aku memiliki teman seorang srigala yang kapan saja bersiap mengeksploitasinya."
Dada June tertohok mendengar perkataan Marco yang tengah menyindirnya. Mengatakan soal eksploitasi mengingatkannya pada hal yang sudah dilakukannya dulu dengan terus menerus memperkosa Hana.
"Ketika aku mulai luluh. Aku mulai pasrah dengan keadaan kalian. Aku bahkan sampai lebih menginginkan Hana untuk menikah denganmu karena kondisi kehamilannya yang membesar. Semua rasanya seolah mimpi dan kuteruskan. Aku harap setidaknya pernikahan kalian langgeng, tapi siapa sangka kalau kamu yang mengaku begitu mencintai Hana, justru kamu lah yang sudah mengkhianatinya dengan kembali dengan mantan tunangan kamu dulu."
Marco tersenyum miring. "Ternyata sudah banyak hal terjadi selama ini," katanya lalu menghela napas dengan berat.
"Aku minta maaf dengan hal buruk yang sudah kulakukan pada Hana," kata June dengan sadar. Diingatkan kembali soal masa lalu membuatnya malu. Ia ikut menghela napasnya karena dadanya terasa sesak bukan main.
Marco merasakan ponsel miliknya berdering dan bergetar. Ia mengecek dan menemukan panggilan dari istrinya. "Halo," sapa Marco hangat.
Mendengar Marco yang sedang menerima telepon, June kembali banyak merenungi kesalahannya. Ia terus merasa menyesal dengan kebodohan yang sudah dilakukannya hingga membuat rumah tangganya berantakan.
Penyesalan memang selalu datang di waktu terakhir.[]
***