Rencana

1422 Kata

Santi tersenyum tipis. Ia harus bicara dengan kedua orang tua Kanaya. Bahkan peristiwa sepenting itu terlupakan. Santi menatap Max prihatin. Tergambar jelas raut wajah kekecewaan. Max merasa tidak berarti dalam hidup Kanaya. Hanya dirinya yang terlupakan. Max tersenyum getir lalu pergi setelah pamit pada Santi dan Kanaya. Ia butuh sendiri sekarang. “Nat, lo nggak bohong sama gue, ‘kan?” tanya Santi setelah Max pergi. Kanaya memejamkan matanya sejenak. Bagaimana ia bisa berbohong pada sahabat sendiri. “Lo tidak percaya sama gue?” Kanaya menghela napas. “Kita sudah bersahabat sejak kecil. Aku rasa kamu bisa menilai sendiri.” Kanaya tidur menyamping memunggungi Santi. “Gue mau tidur.” Santi menatap punggung Kanaya lalu matanya tertuju pada boneka dan sebuket bunga. Bahkan Max hanya meleta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN