"Aku t'lah tahu kita memang tak mungki, tapi mengapa kita selalu bertemu? Aku t'lah tahu hati ini harus menghindar. Namun kenyataan kutakbisa, maafkan aku, terlanjur mencinta." *** Tak ada yang lebih meneduhkan di dunia ini bagi seorang Satria, ketimbang memandangi wajah Farin. Tertidur di salah satu meja pelanggan sambil ileran karena menunggu Senna yang tak kunjung mengiyakan permintaannya, ternyata justru membuat pesona gadis itu jutaan kali lebih menawan di mata Satria. Pria itu ikut duduk di kursi seberang, ikut meletakkan kepala di atas dengan posisi berhadapan dengan wajah Farin, lalu tangannya terulur dan mengusap rambut kusut kekasihnya. “Faaa,” panggilnya lembut, tapi yang dipanggil sama sekali tidak mengubris. Hanya dengkuran halus yang terdengar, dan membuat Satria tertawa
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


