Senna kecil masih sangat polos di usianya yang masih belum genap delapan tahun. Dia tidak suka ketika tiba-tiba seorang bernama Rayhan masuk ke kehidupan damainya bersama sang mama dan hendak menjadi papa. Tidak, Senna tidak pernah melihat seperti apa wajah papa kandungnya, bahkan cerita tentang orang itu saja dia tidak pernah mendengar sedikit pun. Baginya, tidak mempunyai papa jauh legih baik ketimbang harus memanggil orang itu dengan sebutan yang sakral. “Mas, apa kamu yakin akan membawaku untuk bertemu orang tuamu?” tanya Syakila pada pria yang tengah fokus pada kemudi. Putra kecilnya yang berada di pangkuan, hanya merapatkan jaket dan kembali memejamkan mata meski tidak tidur sama sekali. Senna tidak suka mendengar obrolan mereka, apalagi saat orang bernama Rayhan seolah berusaha m

