CIIITTTT!!!
Aurel membanting setirnya agar mobil yang ia kendarai berbelok dengan tajam. Jessica berpegangan pada kursi dan seatbelt, sementara hatinya terus saja mengumpat hebat akan kelakuan Aurel yang kumat, jika sudah berada di ujung tanduk. Waktu hampir menunjukkan pukul tujuh malam, ketika Aurel akhirnya berhasil memarkirkan mobilnya di halaman rumah Keluarga Xavier.
"Ah, akhirnya kita sampai juga. Bagaimana, Jess? Seru, bukan?" tanya Aurel, lega.
"Seru, katamu?" Jessica balik bertanya dengan suara yang gemetar, "apa kau tidak lihat, kalau nyawaku hampir terlepas dari tubuh ini?"
Aurel menatapnya dengan seksama.
"Oh, begitukah?" tanyanya, seakan tak merasa bersalah sama sekali.
"Lain kali, bisakah kita tidak datang ke sini dengan waktu yang begitu, genting? Jantungku ini bisa saja berhenti kapan pun, Aurel. Jadi tolong..., jika kau menyayangiku maka berikanlah pengertianmu pada, jantungku," pinta Jessica, sambil membuka seatbelt-nya.
Aurel terkekeh pelan, sambil menarik rem tangan sekaligus membuka seatbelt.
"Oh, ayolah Jess. Kapan lagi kita bisa berpacu gila-gilaan di jalan raya seperti, tadi? Jika kita menikah suatu saat nanti, percayalah, kau dan aku tidak akan lagi bisa merasakannya. Kita akan terikat pada kewajiban menjadi seorang istri," sanggah Aurel.
Jessica menujukkan ekspresi sebalnya ke arah Aurel tanpa ragu-ragu.
"Justru untuk bisa menikah dengan seseorang, maka aku meminta demikian padamu. Aku harus tetap hidup untuk bisa memakai gaun pengantin, dan berdiri di pelaminan," balas Jessica, setengah merajuk.
"Oke..., oke..., oke...! Lain kali aku akan membawa mobil ini dengan sangat pelan," janji Aurel.
"Hah! Tampangmu sama tidak meyakinkannya dengan jawabanmu! Aku tak akan percaya hal, itu," sinis Jessica.
Jessica pun turun dari mobil tersebut, setelah pertemuan dengan keempat sahabat mereka, tadi siang. Beberapa barang yang mereka bawa dari rumah pribadi Aurel dikeluarkan dari bagasi. Malam itu langit terlihat cerah, bintang-bintang berkilauan tanpa cela. Mereka berdua berjalan memasuki kediaman utama Keluarga Xavier untuk makan malam bersama, seperti biasanya.
"Aku belum sempat menghubungi Aura, untuk bicara dengan Russ," ujar Aurel.
Jessica menatapnya, sambil tetap berjalan dengan anggun di samping Aurel.
"Tenang saja, Aura pasti akan membuat Russ tertidur lebih lama dengan ramuan obatnya," balas Jessica.
"Atau dengan nostalgia yang akan diceritakannya, mengenai petualangan ketika dia menggantikan posisiku, disaat aku sakit," tambah Aurel.
Jessica terkikik geli setelah mendengar apa yang Aurel pikirkan dalam benaknya. Bagi Jessica, Aurel adalah wanita yang isi pikirannya tidak mudah ditebak. Selalu ada saja pikiran wanita itu yang membuatnya terkejut dan terkagum-kagum.
"Tampaknya kau akan banyak memberi penjelasan pada Russ, jika dia kembali ke kehidupan normalnya, nanti," ujar Jessica.
"Ya, dan bahkan mungkin aku harus meluangkan waktu khusus untuk melakukan hal tersebut bersama, Russel," balas Aurel, sambil memutar kedua bola matanya dengan malas.
Pintu rumah utama itu terbuka lebar, ketika para pelayan melihat kedatangan mereka berdua. Mereka pun segera masuk ke dalam, lebih tepatnya ke arah ruang keluarga, sebelum makan malam siap dihidangkan.
"Jessi..., Aurel..., kenapa kalian tidak mengatakan apapun mengenai pemakaman Russel Abraham pada, kami?" tanya Joe Xavier - Ayah Aurel.
Aurel dan Jessica menatap semua putra dan putri Keluarga Abraham, yang tampaknya sengaja datang ke rumah itu. Mereka pun kini balas menatap ke arah Aurel dan Jessica.
"Aku sengaja tak mengatakannya. Russ tidak pernah ingin merepotkan siapapun di dunia ini, termasuk ketika dia sudah wafat," jawab Aurel, dingin.
Semua orang terdiam tak percaya saat mendengar jawaban dari bibir wanita itu. Bahkan Joe Xavier yang sangat berwibawa pun tak bisa membalas jawabannya.
"Naiklah ke atas dan ganti baju kalian berdua, sebentar lagi makan malam akan segera selesai dihidangkan," perintah Joe, seraya berlalu menuju ruang kerjanya.
"Aku akan memaki-maki Kenzie malam ini, juga," gumam Aurel, dengan sangat jelas di telinga para tamu dari Keluarga Abraham.
Jessica hanya bisa terkekeh melihat sahabatnya yang sudah siap meledak. Arhoz menatap ke arah Miranda dan Arnold.
"Kenzie akan habis malam ini, jika Aurel benar-benar marah besar," ujar Arhoz.
"Seseram itukah, Adikmu? Kenapa kau tak pernah memperkenalkannya pada, kami?" tanya Arnold.
"Karena...," Adriana turun dari tangga bagian lain di rumah itu, "dia tidak suka diperkenalkan dengan siapapun. Dia hanya ingin mengenal orang-orang yang dipilihnya sendiri. Jika kau berasal dari luar lingkup pilihannya, maka jangan harap kau akan bisa masuk ke dalam hidupnya dengan bebas. Jujur saja, Kenzie dan Russel adalah orang-orang yang sangat beruntung karena bisa masuk ke dalam hidup Aurel," jelasnya, sambil menatap Ben dengan penuh ejekan.
Ben balas menatap Adriana dengan wajah penuh lumpur bernama 'terhina', di hadapan wanita itu. Kejadian yang pernah terjadi di antara Ben dan Adriana membuat segalanya menjadi runyam, dan tak pantas sama sekali untuk diingat-ingat.
"Damn! Kenapa aku tak bisa ada di posisi Kenzie," ucap Ben.
Joseph melirik ke arah Ben dengan santai.
"Karena kau adalah Serigala, yang harus dia jauhi," sahut Joseph, dingin.
HAHAHAHAHAHA!!!
Adriana tertawa lepas penuh kepuasan, membuat Ben kembali menatapnya dengan sinis.
"Bahkan sepupumu saja sangat tahu siapa dirimu, Ben Abraham!" ejek Adriana.
Makan malam telah tersaji di atas meja makan Keluarga Xavier. Para pelayan di rumah itu bekerja dengan cekatan, karena tak ingin membuat semua anggota Keluarga Xavier kecewa dengan hasil kerja mereka. Tak lama kemudian, semua putra dan putri Keluarga Xavier telah muncul dari semua penjuru rumah, kecuali Aurel dan Jessica.
"Perkenalkan, yang ini adalah Mitha Yohana Xavier, putriku yang nomor empat. Di sampingnya ada Cinthya Harper Xavier, putriku yang nomor lima, dan putra bungsuku Yvander Ziano Xavier," ujar Joe memperkenalkan semuanya.
"Kemana Aurel, Tuan Xavier? Bukankah tidak sopan, jika dia tidak hadir dalam makan malam kali ini bersama, kami?" tanya Miranda.
"Tunggu saja, dia akan turun bersama Jessi, jika Kenzie sudah hadir di sini bersama kita," jawab Joe.
Ben terkekeh pelan.
"Kenzie sudah kukuncikan di kamarnya, dia tidak akan hadir di sini," bisiknya.
Seorang pelayan mendekat dari arah ruang tamu.
"Tuan Kenzie Abraham sudah tiba di sini, Tuan Besar," lapornya.
"Suruh masuk!" perintah Aurel, yang sedang berjalan menuruni tangga bersama Jessi dalam balutan dress berwarna perak yang penuh kilau.
Pelayan itu pun menjemput Kenzie, untuk segera bergabung dengan yang lainnya di ruang makan. Ben sangat tidak percaya saat sosok Kenzie benar-benar muncul di rumah Keluarga Xavier dengan sangat santai seperti di rumahnya sendiri.
Jessica memeluknya lebih dulu seperti tadi siang, lalu disusul dengan Aurel yang ikut memeluknya sangat lama, disertai sebuah kecupan hangat di pipi pria itu.
"Kau hampir, terlambat!" tegur Aurel, sangat hangat.
* * *