“Aku bosan,” keluh Elarys. Ia menatap ke arah jendela kamarnya, memperhatikan tirai yang bergoyang pelan tertiup angin. Rasa jenuh yang sejak tadi menghantui dadanya membuatnya menghela napas panjang. Lalu, tiba-tiba. DUAARRR! “Ah!” teriak Elarys sambil menutup kedua telinganya. Suara ledakan yang begitu besar mengguncang mansion. Dinding bergetar, kaca jendela berderak keras, bahkan beberapa benda di meja riasnya jatuh berhamburan ke lantai. Tubuh Elarys gemetar hebat, napasnya tercekat. “A-apa itu?” gumamnya dengan suara bergetar. Belum sempat ia bergerak, terdengar suara langkah kaki berlari di lorong, disusul teriakan para penjaga. “Semua siaga! Ada serangan!” “Elarys!” suara Caelum menggema dari balik pintu. Pintu kamar terbuka kasar. Caelum masuk dengan wajah tegang, senjat

