"Ini sangat gila!"
Hangyul mengerang frustasi, Ayana harus tau satu hal penting mengenai janin yang ada didalam kandungannya. Kalau sampai Ayana tidak tau, Akan ada bahaya besar yang terjadi.
"Kenapa kau tidak memberitahukannya pada pimpinan Ayana?" Hangyul bertanya lirih.
Ayana tertegun, "A-aku sudah dilupakan." Jawab Ayana. Ingatan menyakitkan itu kembali berputar didalam kepalanya.
"Bagaimana bisa?" Hangyul mengusap wajahnya kasar.
"A-aku tidak tau, Seungwoo hanya membutuhkanku untuk ujian pemimpinnya." Cicit Ayana yang kini menutup diri dengan mantel hangatnya.
Hangyul menghela nafasnya lelah, Suara jangkrik malam yang beradu tampak membuat pria tanpa atasan itu berpikir keras.
"Janin itu tidak akan hidup lama." Hangyul memutuskan untuk memberitahukan hal ini kepada Ayana. Karena sejatinya wanita itu harus tau apa yang sebenarnya.
"Apa?!"
Ayana menatap dengan terkejut setelah mendengar ucapan Hangyul. "Aku serius."
"Bagaimana bisa?"
Hangyul memilih diam, Suara lolongan serigala yang terdengar mengharuskannya segera kembali ke tempat.
"Aku harus berperang Ayana, Kembalilah ke kontrakan, aku akan menceritakan yang sebenarnya setelah aku kembali." Ungkap Hangyul.
Ayana berjalan memasuki rumah dengan lesu. Diliriknya kearah ruang tamu dimana nenek kim sedang duduk di kursi kesayangannya sembari menonton televisi.
Mungkin karena terlalu sibuk dengan acara TV itu Nenek Kim tidak mengetahui keberadaan Ayana yang sekarang sudah naik keatas kamarnya.
"Ya tuhan apalagi ini?" Ayana terduduk lesu diatas ranjang. Pikirannya berkelana ketika ucapan Hangyul kembali terngiang-ngiang dikepalanya.
Ayana menunduk untuk meraba perut yang masih belum terlihat seperti orang hamil pada umumnya itu. Dia tidak mengerti, kenapa Hangyul tiba-tiba mengatakan hal yang membuatnya sedikit ragu untuk mempertahankan, bayinya.
Karena lelah, Ayana memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya. Hingga pagi menjelang, dia belum juga menemukan keberadaan Hangyul, pria itu memang akan datang padanya setiap pukul 08.00 pagi. Namun hari ini, dia tidak mendapat tanda-tanda kedatangan, Hangyul.
"Kak Ayana, apa yang sedang kamu lihat?" Ayana melirik kearah Eunha, gadis yang baru saja kembali dari rumah orang tuanya.
Eunha adalah anak rantau yang kuliah di Universitas Taewan dan mendapat beasiswa. Dia bekerja sebagai orang yang membantu Ayana di toko.
"Eunha, kapan kamu sampai disini?"
Gadis berambut panjang sebahu itu meletakkan tas selempang yang dia bawa, kemudian mengambil celemek untuk dia pakai.
"Kemarin malam, dan sekarang aku harus bekerja agar dapat membeli perawatan wajah yang mahal itu."
Ayana mengangguk kecil kemudian menjauh dari Eunha, entah kenapa dia merasa kalau aroma tubuh Eunha mengganggunya saat ini.
"Kak Ayana, apa hari ini ada menu baru?" Tanya Eunha dengan senyuman khasnya.
"Tidak ada, dan lagi, Eunha apa kau belum mandi?"
Eunha menyengir lebar kemudian mencium aroma tubuhnya sendiri, "Yah, kok Kak Ayana tau sih? Seharusnya kan Kak Ayana gak masalah. Biasanya juga kan aku jarang mandi kalau pagi, dingin soalnya."
Mendengar ucapan Eunha, Ayana kembali berpikir karena apa yang dikatakan oleh Eunha memang sepenuhnya benar. Biasanya juga gadis itu akan datang sebelum dia mandi.
Mengingat toko roti kecil yang dikelolanya buka pukul setengah enam pagi. Terkadang, Eunha juga akan menumpang mandi di kontrakan sewa, Ayana.
"Tidak ada, mungkin kamu terlalu bau saat ini."
Gadis di hadapannya ini cemberut, "Kak Ayana lagi sensi ya, padahal aku gak sebau itu sih."
Ayana segera menggeleng, "Gak! Kamu itu bau, nanti mandi dulu. Aku gak tahan sama bau badan kamu."
Eunha menghela nafas, namun setelahnya tersenyum, "Sabun mukanya boleh minta kan?"
"Pake aja."
***
Pria dengan perawakan gagah dan tegas itu tampak memicing tajam kearah semua prajuritnya, "Sudah aku katakan sebelumnya, jangan pernah membiarkan siapapun lolos. Tangkap dan bawa dia ke hadapanku untuk kalian eksekusi."
Suara itu terdengar sangat tegas dan dingin. Sampai tidak ada seorangpun yang berani menatap kearah pemimpin mereka. Sang pemimpin serigala yang memang terkenal kejam dan bengis.
"Lapor Tuanku, Hamba sudah mencoba menjaga perbatasan dengan baik. Namun kemarin, hampir saja manusia masuk kedalam hutan ini."
PRANG!
Mereka semua kembali membeku, apalagi setelah mendengar suara pecahan gelas kaca yang berisi anggur itu.
"Kalian para penjaga, tidak bisa melakukan tugas dengan baik. Jika hal ini sampai terulang, maka kepala kalian akan menjadi gantinya."
Auwwww
Lolongan serigala menjadi tanda kesepakatan yang terjadi diantara mereka. Setelah pertemuan itu, Kaki Hangyul mendadak lemas.
Kalau saja waktu itu Ayana tidak berhasil dia tarik untuk bersembunyi, bisa gawat. Apalagi Hangyul baru tahu kalau tetangganya malah lagi hamil anak raja serigala yang galak dan kejam itu.
"Hangyul!"
Pria itu refleks menoleh kearah gadis dengan rambut pendek sebahu, yabg berdiri tepat di depannya.
Mendadak ada gejolak aneh yang Hangyul rasakan, kemudian mendekat kearah gadis itu dan tersenyum.
"Sudah pulang?"
Eunha mengangguk, "Sudah dong, Kalau belum, memangnya siapa yang sedang berdiri di depanmu sekarang?" Hangyul menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf."
Eunha terkekeh, "Tidak apa-apa, santai saja. Kenapa muka kamu tegang sekali, oh iya! Kamu tau, ada yang aneh dengan Kak Ayana saat ini."
Hangyul mengernyit, "Apa yang aneh?"
"Dia menutup kedua lubang hidungnya dengan potongan kapas."
"Hah?"
Eunha mengangguk dengan serius, "Dia mendadak pusing dan mual-mual, dan dia terlihat menyukai daging. Sayang, Kak Ayana harus hemat jika ingin makan daging."
Hangyul menghela nafas, "Baik, sekarang bagaimana kalau aku mengantarkanmu pulang, setelah itu baru aku akan menemui Ayana."
Eunha menggeleng, "Tidak perlu, lagipula aku harus ke perpustakaan kota hari ini. Tugas kuliah menanti, apa kamu tidak sibuk?"
Hangyul menggeleng, "Tidak juga."
"Baiklah, aku pamit ya!"
Setelah Eunha pergi barulah Hangyul berjalan dengan cepat ke kontrakan. Saat dia masuk dia bisa melihat Ayana yang duduk di atas sofa, ditemani Nenek Kim yang kini memberikan sedikit pijatan pada bahunya.
"Apa yang terjadi padamu, Ayana?" Tanya Hangyul heran.
"Aku membenci bau daging, dan kenapa baunya begitu menyengat!" Tukas Ayana kesal.
Nenek kim menggeleng pelan, "Kamu aneh sekali Ayana, seperti orang hamil saja."
Hangyul dan Ayana saling pandang, kemudian Hangyul berdehem pelan, "Kamu tidak tertarik untuk istirahat di kamarmu, Ayana?"
Mendengar ucapan Hangyul, Ayana berdecak dan segera membuka selimut, lalu bangkit, "Terimakasih atas selimutnya Nek, tapi aku akan tetap menggunakan kapas ini!"
"Baiklah, Hangyul antarkan Ayana masuk ke dalam kamarnya. Dia butuh istirahat untuk ini."
Hangyul mengangguk.
Sesampainya mereka berdua di kamar Ayana, wanita itu sudah memberikannya tatapan tajam.
"Kamu dari mana saja?" Tanya Ayana.
Hangyul menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Maaf, kemarin karena kamu mencoba memasuki hutan, pimpinan dan seluruh prajurit dipanggil oleh Ketua."
"Dan ... Apa yang membuatmu mengenakan dua potongan kapas di lubang hidungmu?"
Ayana mendengus, "Indra penciumanku menajam. Aku bahkan bisa mencium aroma rebusan daging dari rumah sebelah."
Hangyul tampak terkejut, "Wah! Ini sangat gila, aku tidak pernah melihat Manusia serigala dan Manusia bersatu dan akan memiliki keturunan seperti ini."
Ayana melipat tangannya di d**a, "Jadi, jelaskan padaku. Apa maksud ucapan mu kemarin malam?!"